Menepis Rasa

758 Kata
Senin pagi pukul 07.30 Leara sudah sampai di rektorat. Semua berkas kuesioner dan rekapan data sudah lengkap, dia bawa. Doanya, Timnya dapat giliran pertama. Soalnya mau lanjut ke kampus, ada kuliah. Gigih datang tepat waktu bahkan kurang dari jam 08.00. Dia tahu kalau Leara tipe orang yang duluan datang sebelum jamnya janjian. Jadi dia udah siap berangkat dari jam enam pagi sebenarnya. Dan gak sabar menunggu jam delapan. Mereka jalan ke ruangan tempat dosen pembina survei. Isi absen yang sudah disiapkan. Alhamdulillah ontime petugasnya. Alhamdulillah juga, beneran jadi Tim pertama. Leara bilang ke Gigih, kalau habis ini dia buru-buru karena ada kuliah. Leara gak mau nilainya jelek. Asisten dosen pembina survei bilang kalau bisa langsung lapor tanpa menunggu dosen pembina. Tanpa ba bi bu, Leara dan Gigih langsung masuk biar cepet kelar. Akhirnya, selesai juga kegiatan survei. Terima honornya langsung, gak pakai jeda. Habis laporan hasil, tanda tangan tanda terima honor survei. Ah, senangnya. Uang teh pelangsing udah langsung lunas, masih pakai kembalian. "Makasih banyak ya udah mau jadi partner Tim. Maafkan kalau aku ada salah selama kita bekerja sama. Aku ijin ke kampus, keburu mulai kuliahnya.", kata Leara sambil tersenyum bahagia. Bahagia karena habis dapat honor. "Iya sama-sama. Ati-ati, gak usah ngebut. Orang kampusmu juga udah tinggal nyebrang.", kata Gigih. **** Leara udah sampai kampus MIPA. Langsung parkir, langsung lari ke ruang kuliah. Kuliah udah dimulai. Permisi ijin telat sama dosennya. Alhamdulillah sedang good mood, jadi langsung dibolehin duduk. Mita udah gesrek sana gesrek sini, pasti tu anak dah gak sabar cerita tentang Pangeran Kodok. Tapi Leara pilih duduk di kursi paling depan, biar jelas. Mata kuliah Geometri kesukaannya, jadi harus konsentrasi penuh. Kan malu, kalau nilainya jelek padahal bilangnya kesukaan. **** Selesai kuliah Geometri, ada jeda setengah jam menuju kuliah berikut. "Leara, sini dululah. Kamu gak pengen tau tentang ceritaku kemarin.", rayu Mita. "Nggak ah. Paling cuman mau pamer kalau kemarin dianterin pulang ama Pangeran Kodok." jawab Leara sekenanya. "Ih kok kamu tau sih. Beneran kamu tuh ya, sahabat kepompong ku.", kata Mita. Hah bener. Padahal gak sengaja lo. Batin Leara. Wah tanda-tanda bahaya mulai mendekat nih. Soalnya takutnya Mita bakalan kena yang namanya penyakit, ketemu jadi 'demam', gak ketemu jadi 'bisul'. Harus ditangkal sebelum kejadian. "Mita sayang, sebaiknya dirimu fokus kuliah aja. Kalau mau kegiatan luar ya kegiatan aja. Gak usah pakai jatuh cinta, naksir-naksir senior yunior sebaya. Repot nanti nyembuhinnya. Kalau masih anget, lagi sayang-sayangnya sih bahagia, nanti kalau udah muncul drama berseri plus bumbu penyedapnya siap-siap tissue yang banyak. Sakit hati, sedih, marah, kecewa, putus asa. Aku gak mau, Mita bersedih. Gak mau liat Mita nangis-nangis. Belum lagi dapat dosa zina mata, zina hati.", nasehat Leara panjang lebar. "Baru bahagia sebentar, dah langsung terhempas aku. Aku tau kok. Lagian ini cuma buat penyemangat aku aja. Biar seru gitu. Palingan Pangeran Kodok juga gak bakalan mau sama aku." kata Mita. "Yang penting Mita harus jaga hati baik-baik. Jangan sampai kita terkena penyakit hati. Aku lebih suka Mita yang polos dan lugu dan apa adanya. Belum tercemar sama yang namanya cari perhatian ke lawan jenis. Kita kan sudah saling berikrar akan menjaga diri dari godaan cowok dan menggoda cowok selama kuliah dan harus berhasil lulus dengan nilai bagus. Jaga harkat dan martabat muslimah solihah.", kata Leara serius. "Iya Insyaa Allah aku akan selalu menjaga nama baik muslimah solihah. Makasih ya sahabat kepompongku.", kata Mita sambil meluk erat Leara. Wah lega rasanya, Mita mengerti. Kita harus saling menjaga dan mengingatkan selalu ya sobat. "Oh iya gimana kabarnya partnermu itu?", tanya Mita. "Kenapa tiba-tiba kamu nanya gitu?Dia baik-baik saja kok. Barusan tadi pagi barengan ngumpulin berkas survei.", jawab Leara. "Eh tapi ya, aku yakin dia ada rasa sama kamu, Leara. Kata orang-orang, kalau cowok suka sama seseorang bisa dilihat dari matanya.", kata Mita. "Masalahnya selama aku ngobrol sama dia, aku gak mandang mukanya, apalagi matanya.", jawab Leara. "Tapi aku yang mandang matanya, waktu kalian berdua ketemu dan ngobrol di warung makan. Dan tatapannya tu tajam tapi lembut. Ah, gimana ya. Pokoknya bedalah.", terang Mita. "Kenapa jadi bahas dia sih. mending kita masuk ke ruang kuliah deh, daripada tambah ngaco ngobrolnya. Barusan aja, saling menasehati masalah menjaga harkat dan martabat muslimah. Malah bahas ginian.", elak Leara sambil gandeng Mita jalan menuju ruang kuliah. Leara gak mau memikirkan dan membahas hal kayak gini. Dia ingin fokus kuliah, segera lulus dengan nilai bagus, ssgera dapat pekerjaan biar bisa ngasih-ngasih sesuatu ke orang tua. Meskipun mungkin Leara juga merasa tersanjung diperlakukan baik dan istimewa. Tapi dia tak mau terlalu PD. Siapa tau memang semua diperlakukan baik, gak cuma ke dirinya aja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN