Siap Survei

852 Kata
Esok harinya, Leara bangun jam 4 dini hari, langsung ke kamar mandi ambil wudhu, siap-siap Tahajud dan sholat Hajat. Leara mau berdoa biar tugas survei berjalan lancar dan rekapan hasil survei juga lancar, tak ada kendala apapun. Terdengar adzan subuh, sekalian Leara juga melaksanakan sholat Subuh. Habis itu Leara mandi. Usai mandi, Leara lihat Ibu Rahmi sedang masak. Gak enak juga kalau gak bantuin. Akhirnya Leara bantuin masak buat sarapan. Sayur pecel sama goreng ikan asin. Jepara memang dekat pantai, jadi banyak ikan laut sama rumput laut. Udah kelar masak, Leara masuk kamar mau siap-siap. Baju kebesaran yang memang beneran kebesaran sudah Leara siapkan. Leara lebih nyaman pakai gamis yang gombrong plus kerudung kotak besar. Ciri khasnya tu, gamisnya warna polos kerudungnya yang motif. Biru navy warna favorit banget. Soalnya bisa menyamarkan badan yang berisi. Dah siap, kemon let's go. "Makan dulu Leara, lagian Nak Gigih masih mandi. Ditunggu aja dulu sambil sarapan.", kata Ibu Rahmi. "Iya Bu. Ndak usah ditunggu juga ndak papa Bu. Karena kemarin udah sepakat, saya sama Gigih beda RW biar lebih cepet selesai surveinya.", jawab Leara. "Ya kan bagusnya berangkat bareng.", kata Bu Rahmi lagi. "Ya Bu, kalau gitu saya tunggu sambil sarapan.", jawab Leara. "Nah gitu. Kompak.", ujar Bu Rahmi. *** Leara sudah selesai sarapan. Sudah cuci piring. Lalu menunggu Gigih sambil duduk-duduk di ruang tamu. Bawaannya sudah dicek semia. Alat tulis, lembar survei, HP buat foto, minuman botol, roti, P3K, tissue, termos, mie kemasan. Sudah siap di ranselnya. Baju dia tinggal di kamar. Sebenarnya bisa aja sih, makan siang jajan di warung, tapi Leara belum tahu daerah sini. Jadi gak tau warung mana yang enak dan bersih. Soalnya Leara gak mau kena diare. Perutnya agak sensitif kalau makan ditempat baru. Ini anak lama banget sih. Biasa kan cowok simpel, gak pakai lama. Ini mandi lama, siap-siap lama, belum juga sarapan. Batin Leara. *** "Sori ya aku lama, soalnya aku harus telpon temen dulu, aku lupa kalau hari ini ada rapat senat. Terpaksa koordinasi via telpon karena aku udah terlanjur sampai sini. Bisa aja balik ke Semarang sekarang, tapi aku gak tega ninggalin kamu survei sendirian.", terang Gigih. "Sebenarnya gak papa juga kalau memang agenda rapatmu itu penting. Terus terang, buat aku gak masalah survei sendirian. Aku berani kok.", kata Leara tegas. "Aku bukan tipe orang yang seenaknya minta tolong orang lain mengerjakan kewajibanku. Apalagi kamu perempuan, sendirian di tempat asing. Mana tega aku. Lagian udah ada yang handle kok rapatnya. Tenang aja. Yuk kita berangkat, udah jam 07.30. Target hari ini 50 sampel, besok 50 lagi. Pas 100 sampel. Kalau pada gak di rumah, kita samperin sekolah atau kantor kepala desa saja.", tukas Gigih. "Tanggung jawab juga ini anak dan solutif. Baguslah aku satu tim sama dia.", batin Leara. *** Sudah kesepakatan kalau mereka berangkat naik motor sendiri-sendiri. Karena sudah bagi-bagi tugas di RW yang berbeda, biar cepat selesai. Lagian memang strategi Leara juga, biar gak boncengan. Bukan muhrim. Bersyukur Bapak bolehin aku bawa motor. Sejauh ini sangat bermanfaat sekali. Kemana-mana gak susah. Meskipun motor tua, tapi tangguh dia. Leara dan Gigih berangkat menuju Desa Gedangan, iring-iringan motor. Gak nyampai seperempat jam udah ada gapura selamat datang Desa Gedangan. "Mendingan kita ke Kantor Kepala Desa dulu deh. Minta ijin. Ntar dikira kita petugas abal-abal minta pungli lagi.", kata Gigih. "Iya aku setuju.", jawab Leara. Leara dan Gigih menyusuri jalan utama desa Gedangan, tak berapa lama di sisi kiri jalan ada tulisan Kantor Kepala Desa Gedangan. Pas jam delapan pagi, sudah masuk jam kerja kantor pemerintahan. Mereka memarkir motor di halaman balai desa. "Balai Desa masih sepi. Coba kita cek ke kantornya, siapa tau udah ada yang datang.", kata Gigih. Baru beberapa langkah menuju pintu masuk Kantor Kepala Desa Gedangan, terdengar suara teriakan dari belakang. Seorang Bapak paruh baya, memakai seragam coklat khaki dan berpeci. "Siapa ya? Ada keperluan apa pagi-pagi datang ke kantor Kepala Desa?" "Maaf Pak, kami anggota survei dari Semarang. Maksud kedatangan kami mau memohon ijin untuk diperbolehkan melakukan survei di desa ini. Ini tanda pengenal kami Pak.", jawab Gigih. " Survei tentang apa ya?" " Survei tentang dampak HP terhadap anak-anak di desa ini Pak. Juga peran serta orang tua dalam mengontrol penggunaan hp pada anak-anak. Tahu sendiri kan Pak, sekarang anak kecil aja nangisnya minta HP.", jawab Gigih lagi. "Oh boleh kalau gitu." "Maaf sebelumnya Pak, kalau Bapak ini siapa ya?", tanya Gigih. "Perkenalkan saya Kepala Desa Gedangan, Bapak Haji Saifuddin. Saya selalu datang pagi untuk keliling desa dulu sebelum berangkat ke Balai Desa. Sekalian ngecek lapangan." "Wah, senang sekali bisa bertemu langsung dengan Bapak Kepala Desa Gedangan. Sebuah kehormatan bagi kami. Kalau begitu sekalian kami pamit untuk memulai survei kami hari ini dan besok ya Pak. Kami butuh 100 warga untuk kami survei. Oh ya ini Pak Kades, minta tolong ditandatangani di blangko permohonan ijin survei Pak. Sama kami juga mohon diijinkan minta data warga yang memiliki anak usia dibawah 13 tahun Pak.", kata Gigih. "Tanda tangan ya. Baik, mana blangkonya, disini ya. Untuk data warga nanti minta ke Ketua RW masing-masing. Lebih gampang nyarinya. Ya sudah silakan kalau mau langsung survey. Semoga lancar tugas surveinya.". kata Pak Kades.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN