Aku tak Bermaksud

801 Kata
Leara dan Gigih berpencar sesuai dengan area RW masing-masing. Mendatangi rumah demi rumah dengan kriteria rumah tangga dengan anak usia dibawah 13 tahun tidaklah sulit di desa ini. Pertanyaan dalam kuesioner juga tak ada kendala untuk dijawab. Masalahnya, rumah yang dituju sepi karena sedang pergi bekerja. Memang anak-anak yang usianya dibawah 5 tahun ada dirumah, karena mereka belum sekolah. Tapi kan sasaran yang dituju orang tua dan anak. Sudahlah tak mengapa, survei yang ada saja dulu, sambil menunggu yang belum bisa ditemui itu pulang ke rumah. Dari info penduduk yang tadi sudah berhasil dijadikan sampel, mereka ada d irumah dhuhur. Sekalian pulang makan siang. Sudah ada 20 sampel, kurang 5 sampel lagi. Nanti dilanjutkan habis dhuhur. Lebih baik nunggu di masjid desa saja. Sekalian istirahat, makan, terus solat. Sampai juga di masjid Nurul Falah. Parkir motor dulu, lalu berjalan menuju teras masjid bagian perempuan. Sebaiknya makan dululah, nanti pas sudah selesai makan, sepertinya pas mau adzan Dhuhur, jadi bisa langsung sholat dan cuss berangkat survei lagi. Buka tas ransel, keluarin termos dan mie kemasan. Seduh air panas. Sambil nunggu mie siap santap, bengong sebentar plus sandaran di tembok masjid. Angin sepoi-sepoi bikin ngantuk. Merem bentar, gak salah kan. Ini enak banget, suasana mendukung. Plookk "Whuuuaaa" Leara teriak terkaget-kaget, sambil tangannya nonjok tak terkendali ke segala arah. Beneran kaget, karena udah mak seerr ketiduran, tiba-tiba ada yang nimpuk kepala tanpa sebab dan aba-aba. Yang ada di otaknya ya langsung bela diri sambil nonjok. "Woi sabar-sabar, ini aku. Lagian ini orang enak-enak tidur di mesjid padahal lagi bertugas. Aku timpuk aja kepalamu biar bangun.", tukas Gigih tanpa rasa bersalah. "Kami mau aku celaka ya. Kalau aku punya sakit jantung gimana coba. Aku kaget terus pingsan, terus nafasku sesak. Emang kamu bisa nyelametin. Ini beneran gak lucu. Gak ada cara lain yang lebih elegan buat bangunin orang tidur ya.", sabar-sabar Leara. Karena terbangun, ya udah Leara lanjut makan. Tanpa nawarin, Leara langsung makan mie yang udah siap seduh. Habis itu minum air putih, habis itu kenyang, habis itu emosinya udah stabil, habis itu kemasin sampah dan beranjak mau ambil wudlu. Belum beranjak, Leara sekilas melihat ada muka mengenaskan dan sepertinya lapar banget. Gak tega, tapi masih kesel karena bekas timpukan tadi masih nyut-nyutan di kepalanya. Tapi kayaknya memang lapar beneran. "Iya-iya aku kasih. Alhamdulillah aku bawa cadangan dan aku juga baik, jadi aku kasih buat kamu.", Leara memang baik. Diseduhnya mie kemasan satu lagi buat Gigih. Habis itu, baru Leara beranjak ambil wudhu. Alhamdulillah airnya seger banget. Coba tadi dia bisa nambah tidur beberapa menit lagi, pasti tambah lebih fresh. Leara kembali ke tempat dia duduk. Sambil nunggu adzan Dhuhur. Itu anak udah melahap mienya. " Leara, mending kita selesaikan masing-masing 50 sampel hari ini. Jadi nanti sore bisa langsung balik ke Semarang. Soalnya Jumat aku ada kuliah penting. Gimana?" tanya Gigih. "Aku baru dapat 20, berarti aku kurang 30 lagi dong. Bisa gak ya, selesai sore ini?" Leara nanya balik. "Nanti aku bantuin kalau aku dah beres 50 sampel. Sampai siang ini aku dapat 30 sampel. Tadi emak-emak pada duduk di teras dan anak-anaknya pada main bareng, ya udah aku langsung tanya-tanya aja. Lumayan kan satu rumah, tiga empat lima sampel terlampaui. Hehehe.... Eh minumnya mana, aku lupa gak bawa. Dehidrasi nih." "Ya dah aku usahakan selesai hari ini. Nih minum botol buatmu. Maaf tadi lupa gak sekalian ngasih, kupikir tadi gak butuh minum, siapa tau sudah disuguhin minum sama emak-emak.", kata Leara. "Tadi juga ditawari makan sama minum sama emak-emak. Tapi aku tolak. Aku udah rencana mau ajak kamu makan siang. Tapi gak jadi. Jadinya malah makan mie. Hehehe.", jawab Gigih sambil cengengesan. "Alah alesan. Paling emak-emak pada belum masak, jadi gak nawarin makan sama minum. Kasihan deh Lo.", goda Leara. *** Adzan dhuhur sudah berkumandang. Leara pun bersiap melaksanakan sholat. "Kamu sholat ndak?", tanya Leara "Iya dong.", jawab Gigih. Selesai sholat, Leara mengemasi bawaannya. Lumayan lebih enteng setelah berkurang mie dua bungkus, minum dua botol, air panas di termos juga berkurang. Dia harus bersegera. Tiga puluh sampel kan lumayan banyak. Semoga saja sudah di rumah semua orang-orang yang mau disurvei. "Aku duluan ya, aku masih kurang banyak nih. Biar segera kelar.", kata Leara setelah melihat Gigih sudah selesai sholat. "Gak mau nunggu aku?", tanya Gigih. "Ndak lah. Kamu cuma tinggal 20 lagi, bisa lebih santai.", jawab Leara. Leara segera bergegas. Anak ini memang punya komitmen yang tinggi. Kalau dikasih tugas ataupun amanah pasti Leara akan berusaha melaksanakan sebaik mungkin. Dan tak mau ada kesalahan sedikitpun. Si perfeksionis. Tapi Leara orangnya sangat tidak peka. Dia tidak mengerti apa arti dari pertanyaan Gigih soal "Gak mau nunggu aku". Bahkan raut muka kecewa dari Gigih-pun tak terbaca oleh Leara setelah mendengar jawaban Leara. Polosnya Leara, bahwa dia tak bermaksud membuat Gigih kecewa. Pliss Gigih kamu harus mengerti kalau Leara tidak salah dengan jawabannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN