" Riskaaa..!!! " Aku berteriak panik. Kulihat mata Riska nyalang menatap ke depan tepat dimana truk itu juga sedang melaju dengan kencang. Hanya tinggal sekitar lima puluh meter saja kami akan menabraknya. Beberapa motor di depan kami terlihat menyingkir dengan cepat melihat laju mobil kami. Teriakan demi teriakan lalu lalang di pendengaranku di iringi tatapan marah dari semua mata yang melihat kami. Dengan segera kutarik sebelah tanganku dari kemudi agar tangan Riska juga ikut melepasnya. Kedua tangan dan kakiku bekerja keras untuk mengurangi kecepatan dan mengendalikan kemudi, menghindari tabrakan. Dan akhirnya laju mobil kami pun menjadi pelan dan normal. Riska kembali duduk di tempatnya. Kedua tangannya menutup wajah. Ku lihat bahunya bergerak naik turun, aku mengerti, dia menan

