Nekat

1445 Kata
Hutangmu lunas jika kau mau bekerja sama dengan kami. Nicko menatap nanar pesan itu. Jantungnya berdegup kencang. Dari siapa ini ? batin Nicko. Dari mana dia tahu nomorku ? Riska bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke kamarnya. " Mau kemana Ris..? " tanya Nicko. " Aku lelah. Aku mau istirahat sebentar di kamar. " jawab Riska lemah. Kedua matanya tampak sembab dan memerah. Nicko menghela nafas panjang melihat Riska yang berjalan gontai ke kamarnya. *** POV NICKO Apa yang sebaiknya ku lakukan untuk melunasi hutang itu ? Pantas saja papa beberapa waktu yang lalu tidak pulang ke rumah dalam waktu yang agak lama saat bertugas. Rupanya sedang tersangkut masalah. Apa aku jual saja rumahku ? Ini sudah empat hari sejak utusan pakde datang kesini. Hanya tinggal tiga hari saja waktuku. Ya, rumahku tidak ada yang menempati. Aku harus segera kesana mengambil semua berkas dan sertifikat rumah itu. Ah.., kenapa aku sampai bisa melupakannya..? Aku tersenyum lega. Empat hari ini aku berkutat dengan kecemasanku. Sudah beberapa tempat ku datangi untuk meminjam uang namun selalu gagal. Setidaknya dari hasil penjualan rumah itu aku bisa segera melunasi hutang papa dan sisanya bisa di gunakan untuk biaya kuliahku dan Riska kelak. Aku bergegas menuju kamar Riska dan mengetuk pintunya. Beberapa hari ini dia lebih sering mengunci diri di kamar. Aku paham dengan kesedihannya. Biarlah.., setelah semua urusan selesai aku akan coba membuatnya bangkit kembali. Setelah agak lama barulah Riska membukakan pintu untukku. " Ada apa ? " Riska bertanya. Kentara sekali raut wajahnya yang begitu enggan untuk di ganggu. " Aku mau pergi sebentar. Kamu baik - baik ya di rumah. Kalau butuh sesuatu ada bu Santi di belakang. " ujarku berpamitan. Ya, bu Santi datang ke rumah kami karena mendengar kabar papa meninggal. Beliau menginap sampai tujuh harinya papa. Bu Santi sudah seperti ibu kami, beliau begitu perduli dengan semua kesusahan kami selama ini. Jika papa sedang keluar kota tak jarang beliau datang meskipun hanya sebentar hanya untuk sekedar berbincang dan membawakan kue - kue kesukaan kami hasil dari jerih payahnya sendiri. Riska menatapku sesaat lalu kembali masuk ke kamar tanpa menutup pintu. Aku kira dia acuh dengan pamitku ternyata tak lama kemudian Riska keluar lagi memakai jaket kesayangannya lalu menggamit lenganku. " Ayo mas. " ajaknya dengan begitu enteng. " Kamu ikut ? " tanyaku heran. Memangnya dia tahu kemana tujuanku saat ini ? " Iya mas. Aku bosan di rumah kalau sendirian. " Aku hanya bisa menghela nafas pelan. Aku tahu bagaimana Riska. Jika sudah menjadi kemauannya tidak akan bisa di cegah atau pun di tolak. " Baiklah ayo. Tapi ada syaratnya. " " Apa sih, kok pake syarat segala ? Mas Nicko mau ke rumah pacarnya ya ? " selidiknya sambil menatap tajam ke arahku. Aku hanya menggeleng dan menjelaskan sedikit padanya. " Aku mau lihat kondisi rumahku. Sudah lama aku tidak kesana. " " Oh. " jawabnya singkat. Membuatku menganga keheranan. " Tetap mau ikut ? " tanyaku mau tahu. " Iyalah. Yuk..buruan. " Riska mendahului langkahku berjalan ke garasi dan berhenti lalu menyandar di mobil papa, masih dengan wajah yang sembab namun sudah tidak sesembab saat awal kami tahu papa sudah meninggal. Hari ini dia sedikit lebih segar. Mungkin dia sudah muali bisa mengikhlaskan semuanya. " Cuci muka dulu gih buruan..Aku tunggu di sini. " pintaku padanya. " Nggak ah, biarin gini aja. " " Ris, aku nggak enak kalau nanti ketemu sama tetangga, mereka melihatmu dengan wajah sembab gitu, kalau mereka tanya kamu kenapa trus apa yang mau mas jawab ntar..? " protesku dengan lembut. Riska diam terlihat berfikir sebentar lalu segera berlari ke arah dalam. Aku menggeleng saja melihat tingkahnya. " Pa.., baik - baik disana. Biar disini aku yang jaga Riska. " gumamku pelan sambil menatap langit, berharap papa melihatku dari sana. Tak kusadari air mata yang menetes perlahan, membuat sedikit hawa dingin menerpa pipiku. Aku mengusapnya perlahan, enggan jika Riska mengetahuinya. Ku lihat Riska kembali berlari ke arahku. Wajahnya sudah terlihat sedikit lebih segar apalagi dia telah memolesnya dengan bedak tipis - tipis. Hmm..tidak mengurangi kecantikannya. Tak ku pungkiri sejak pertama melihatnya aku sudah tertarik dan menyukai gadis itu. Entahlah.., padahal dia adik angkatku. Segera ku tepis lamunanku dan bergegas membukakan pintu mobil untuk Riska. Dia pun segera masuk dan duduk manis di depan. Di sebelah kursi kemudi. Aku segera berjalan memutar dan duduk di sebelahnya, memegang kemudi dan melajukan mobil papa pelan. Sepanjang perjalanan kami banyak diam. Riska dengan kedukaannya karena papa, dan aku dengan semua kenanganku akan rumah itu dan kedua orang tuaku. " Apa kamu berencana untuk kembali tinggal di rumah itu mas ? " tanya Riska pelan. Aku bisa merasakan nada kecemasan dalam suaranya. " Aku mau jual rumahku. " jawabku langsung saja ke pokok intinya. " Dijual ? Untuk apa mas ? " " Untuk melunasi hutang papa, sisanya bisa untuk biaya kuliah kita.. " Riska terdiam sesaat seperti baru menyadari bahwa masih ada tanggungan yang harus segera di lunasi. " Apakah tidak ada cara lain selain menjual rumahmu ? Mestinya ada banyak kenangan di sana. " lirihnya. " Aku sudah mencoba mencari pinjaman ke bank tapi mereka tidak ada yang percaya denganku yang baru lulus dari SMA ini. " jawabku lemah. " Tapi mas.. " " Tidak apa - apa ris.., lagian aku tidak pernah tinggal disana. Rumah itu kosong. Daripada malah rusak tidak terawat, mending dijual saja. " jawabku menenangkannya. Riska mengangguk paham dengan penjelasanku. ***** " Cari siapa mas ? " tanya seorang pria paruh baya saat kami berdiri di depan pagar rumahku yang menjulang tinggi. Pagar rumah itu di kunci. Aku bawa kuncinya dan mencoba membukanya tapi tidak cocok. Ku lihat rumahku sudah berubah. Kelihatan begitu terurus dengan baik. Padahal sudah ku tinggal lumayan lama. Aku melihat bapak itu menatapku dengan heran karena aku hanya diam dan memandangi rumahku. " Aku pemilik rumah ini pak. Bapak siapa ? " " Lho, maaf mas, setahu saya pemilik rumah ini masih bujang, belum punya anak. " jawab pria itu dengan gugup. " Tolong buka pagarnya pak. Aku mau masuk. " pintaku memohon. " Maaf mas. Saya di perintahkan untuk menjaga rumah ini dan siapapun selain Tuan Archales tidak ada yang di perkenankan masuk. " " Tapi rumah ini milik saya pak ! " sentakku keras tidak bisa menahan amarah. Riska langsung mendekat dan memegangi lenganku dengan lembut. " Maaf pak, boleh kami bertemu pemilik rumah ini eum..siapa tadi nama beliau ? " Riska berusaha meminta dengan sangat sopan sembari tetap memegangi lenganku. " Tuan Archales. " jawab pria itu singkat. Ekspresi wajahnya terlihat bingung. " Sebentar mas..mbak, biar saya tanyakan ke beliau ya. " lanjut pria itu sembari mengambil ponsel dari saku celananya dan menghubungi seseorang. Kami menunggu agak lama. Terlihat pria itu mengangguk - angguk meskipun yang diajak bicara di ujung sana tidak dapat melihatnya, dan menutup panggilan ponselnya. " Rumah ini sudah resmi menjadi milik Tuan Archales sejak pemilik lamanya atas nama Tuan Levi meninggal dalam kecelakaan pesawat. " jelas pria itu dari balik pagar di depan kami. " Lho, kenapa bisa ? Saya ini anaknya Tuan Levi pak. Kenapa saat itu tidak menghubungi saya terlebih dulu ? " tanyaku semakin gusar. Pegangan Riska di lenganku semakin erat, takut jika aku berbuat nekat. " Begini.., kata beliau, Tuan Levi ada tanggungan besar di perusahaan, karena beliau meninggal maka segala aset yang dimiliki Tuan Levi otomatis berpindah tangan menjadi milik Tuan Archales. " jelas pria itu dengan sabar. " Begitu tadi yang di jelaskan sama beliau mas. " " Haarrrggghh !!!! " teriakku. Tak urung kaki ku pun refleks menendang pagar dengan keras. Riska memekik pelan ketakutan dengan reasiku. Aku melempar jauh kunci pagar dan kunci rumah. Buat apa lagi ? Sudah tidak berguna. Tanpa berpamitan aku langsung pergi meninggalkan rumah itu dan segera masuk ke dalam mobil. " Maaf pak. Terima kasih atas penjelasannya. Kami pamit dulu. " Aku melihat Riska masih sempat meminta maaf dan berpamitan lalu segera mengejarku lalu ikut masuk ke dalam mobil. Kami segera berlalu dari rumah itu. Aku menggeram kesal. Tanpa sadar aku sudah menginjak pedal gas dengan keras membuat laju mobil begitu kencang di tengah - tengah jalanan yang lumayan padat. Riska berteriak keras memanggil namaku. Berusaha menyadarkan dari emosiku yang begitu meluap. " Mas Nicko. Apa kamu mau kita mati konyol di jalanan ? Baiklah kalau itu maumu. " Tanpa dapat ku cegah Riska ikut memegang kemudi dan mengarahkannya untuk berbelok. Sementara kakinya menekan kakiku diatas pedal gas. Aku segera tersadar dari emosiku saat ku lihat air matanya deras mengalir membasahi pipinya. Wajahnya seketika mengeras. Aku bergidik ngeri di buatnya. Tanpa ku sadari, Riska mengarahkan kemudi ke arah belakang truk. Mobil melaju dengan kencang. Aku terbelalak. " Riskaaa...!!! Jangan nekat !!!! "
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN