Riska tersadar dari pingsannya. Matanya melihat sekeliling ruangan tempatnya berbaring. Di lihatnya seorang perawat sedang mencuci sesuatu di atas wastafel tidak jauh dari kamar mandi pasien.
Riska bangkit perlahan. Melihat ke kursi di sebelahnya namun tidak menemukan apa yang dia cari. Riska pun berdiri dan berjalan ke luar kamarnya.
" Oh..Anda sudah sadar ? Jangan kemana - mana dulu. Tubuh Anda masih lemas. " ujar perawat yang tadi sembari meletakkan sesuatu di atas wastafel dan berlari menghampiri Riska.
Perawat itu memegang lengan Riska dan menuntunnya kembali ke pembaringan. Namun Riska menolak.
" Saya mau ke IGD. Kira - kira di sebelah mana ? "
Perawat itu sedikit tercekat. Karena dia baru saja mendapat informasi bahwa ayah gadis itu meninggal dunia di ruang IGD. Hatinya seketika cemas melihat kondisi Riska yang masih lemas jika mendengar kabar itu.
" Tidak jauh dari sini. " jawabnya singkat saja. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Jika berbohong gadis itu pasti akan tetap berkeras untuk pergi ke sana.
" Bisa tolong antarkan saya ? "
DEG ! Bagaimana ini ? Batin perawat itu.
" Baiklah. " akhirnya hanya kata itu yang keluar dari mulutnya. Dia pun pasrah.
Mereka berjalan beriringan ke ruang IGD. Dari kejauhan terlihat Nicko yang sedang berlutut dan Tomi yang sedang berbicara dengan dokter.
Riska berlari menghampiri mereka, sementara perawat itu tetap mengikutinya, berjaga - jaga jika terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan.
" Apa yang terjadi ? " tanya Riska mengagetkan Tomi, saat melihat Nicko berlutut sambil menangis sesenggukan. Baru kali ini dirinya melihat Nicko menangis seperti itu. Hatinya langsung was - was seketika.
Tomi lagi - lagi menelan saliva dengan susah payah. Sementara dokter yang menangani Hendrawan hanya diam menatapnya iba.
" Tolong jawab. Ada apa sebenarnya ? " desak Riska. Kedua netranya menatap tajam ke arah Tomi dan dokter itu bergantian.
Nicko mendongak menatap Riska. Kedua matanya merah dan berair. Sejurus kemudian dia pun bangkit dan menghambur memeluk Riska dengan erat. Riska ternganga dan semakin keheranan.
" Papa ris.. " lirih Nicko di dekat telinganya.
Perawat yang mengikuti Riska memandang wajah dokter dan mendekati Riska. Berjaga - jaga di sampingnya.
" Papa kenapa ?? " tanya Riska tidak sabar. Tak sadar air matanya pun langsung berderai saat melihat air mata Nicko. Sejenak dia menduga - duga tentang kondisi ayahnya namun dengan cepat dia menggeleng menolak bayangannya sendiri.
" Papa sudah pergi.. " jawab Nicko sangat pelan. Suaranya bergetar. Isak tangisnya perlahan mereda, ya..dia harus kuat agar Riska tidak lemah.
Riska melepas pelukan Nicko dan menatapnya tajam sambil menggelengkan kepala kuat - kuat.
" Tidak ! Tidak mas..! " ucapnya pelan.
" Iya Ris.., papa sudah tiada. " jawab Nicko meyakinkan.
Riska membeku. Kedua matanya membola, semakin lama kian memerah. Sejurus kemudian dia tertawa dengan suaranya yang serak menahan tangis.
" Kamu jangan bercanda mas ! " serunya diantara gelak tawanya yang terdengar pilu. " Dokter.., papa baik - baik saja kan ? " Riska berbalik menatap dokter dan mengguncang bahunya dengan keras sembari berteriak histeris. Nicko memegangi pundaknya.
Dokter itu hanya diam dan menatap Riska iba.
" Tenanglah riska.. " lirih Nicko. Suaranya tercekat.
Tomi tidak kuat menyaksikan hal itu. Dia pun berlalu pergi sembari mengusap tetesan air mata di pipinya. Hatinya pun terluka karena telah kehilangan seseorang yang sangat dia hormati. Hendrawan telah banyak membantu hidupnya selama ini.
Dia baru menghentikan langkahnya tidak jauh dari tempat Nicko dan Riska. Masih ada beberapa hal yang harus dia selesaikan terkait Hendrawan dan anaknya. Kedua matanya menatap air terjun di taman lalu menghembuskan nafas panjang. Melepaskan segala kepenatan hatinya.
******
Suasana duka terlihat begitu kental menyelimuti kediaman Hendrawan. Terlihat Nicko sedang sibuk berbicara dengan beberapa petugas kepolisian, mempersiapkan upacara pemakaman untuk ayah angkatnya.
Sementara Riska duduk di dalam bersama para ibu - ibu yang lain, yang datang untuk memberi ucapan berduka cita.
Tidak tampak satupun sanak saudara Hendrawan yang hadir. Hanya ada seorang pria, utusan dari kakaknya yang mewakili untuk datang dan menemani Nicko.
Namun setelah upacara pemakaman selesai, utusan itupun mendekati Nicko dan Riska, menyampaikan pesan dari atasannya perihal hutang Hendrawan yang harus segera di lunasi.
Nicko dan Riska sangat terkejut. Bagaimana tidak, selama ini ayah mereka tidak pernah bercerita apapun tentang hal itu. Semuanya terlihat baik - baik saja. Mereka sangat sedih apalagi saat ini masih dalam suasana duka.
" Anda jangan berbohong. Untuk apa papa meminjam uang sama pakde ? " tanya Nicko memastikan.Matanya menatap pria itu dengan penuh selidik.
Pria itu tersenyum sembari mengeluarkan berkas di dalam map dari dalam tas jinjingnya lalu menyerahkan berkas itu ke hadapan Nicko dan Riska.
" Semuanya tertulis di situ. Pak Hendrawan meminjam uang kepada kakaknya untuk tuntutan biaya ganti rugi kepada seseorang karena salah tangkap. Jumlahnya lumayan banyak, sekitar seratus tiga puluh lima juta kekurangannya. " jelasnya.
" Sebelumnya saya minta maaf karena sudah mengganggu dan mengingat ini masih dalam suasana duka. Namun saya hanya menjalankan tugas dari beliau. " imbuhnya meminta maaf dengan raut wajah menyesal.
Nicko menghela nafas kasar. Diambilnya berkas itu dan membaca isinya satu persatu. Riska mendekat untuk ikut membacanya lalu kembali terisak.
Kenapa papa tidak pernah cerita tentang masalah ini ? batin Nicko dan Riska. Keduanya saling tatap beberapa saat.
" Baik pak. Saya akan mengusahakan untuk membayarnya. Tolong beri kami waktu. " Nicko menjawabnya tenang. Berusaha untuk melanjutkan tanggung jawab ayah angkatnya. Riska memegang lengannya dengan keras.
" Bagaimana cara kita membayarnya ? " bisiknya pelan di telinga Nicko yang di jawab dengan anggukan kepala dan senyum menenangkan dari bibir Nicko.
" Berkas ini kami simpan. Dan tolong beri kami waktu, semoga bulan depan kami bisa membayarnya. " ujar Nicko mencoba untuk menawar.
" Melunasinya ya.. Maaf, bukan lagi mengangsur tapi kalian harus segera melunasinya. Begitu yang beliau sampaikan sebelum saya berangkat ke sini. " jawan pria itu dengan tegas.
Nicko berdecak kesal. Begitu juga dengan Riska. Kejam. Begitu yang mereka rasakan tentang paman mereka itu.
Pria itu diam menunggu jawaban dari Nicko.
" Baiklah. Kami usahakan bulan depan untuk melunasinya. " jawab Nicko lemah.
Pria itu mengambil ponsel dari sakunya dan menghubungi seseorang. Tak lama kemudian dia menutup pembicaraan lalu menatap Nicko dan Riska bergantian.
" Beliau memberi waktu satu minggu saja. " ujarnya kemudian. " Satu minggu ke depan saya akan kembali kesini untuk mengambil pelunasannya. " lanjutnya sebentar tanpa menunggu jawaban dari Nicko, lalu segera berlalu pergi begitu saja dari kediaman Hendrawan. Meninggalkan Nicko dan Riska yang tertunduk sedih.
Nicko menatap Riska yang terisak. Sungguh dunia sedang tidak berpihak pada mereka saat ini. Bagaikan jatuh tertimpa tangga, kesedihan karena kehilangan masih di tambah dengan kesedihan karena tagihan hutang yang terasa mencekik leher.
Padahal sang peminjam masih terhitung saudara, tetapi begitulah sifat manusia jika menyangkut tentang harta benda duniawi.
Kepala Nicko pening memikirkan semuanya. Belum lagi harus menjaga dan menenangkan Riska. Padahal hatinya sendiri sedang hancur. Tapi mau bagaimana lagi semua sudah menjadi tanggung jawabnya saat ini.
KLING !!
Sebuah suara notifikasi pesan masuk terdengar dari ponsel Nicko yang bergetar sesaat.
Nicko segera membuka dan membaca pesan itu. Dari nomor tidak di kenal.
" Hutangmu lunas jika kau mau bekerja sama dengan kami. "