Kabar Buruk ( 2 )

1218 Kata
Petugas itu masih diam dan menatap Nicko dengan pandangan yang sulit di artikan. Jantung Nicko berdegup kencang, apalagi Riska sudah di bawa pergi menjauh dari tempat itu. Ada apa ini ? batin Nicko. " Mari ikut kami. " petugas itu pun akhirnya bersuara. " Ke-kemana pak ? " tanya Nicko gugup. Jauh di sudut hatinya merasa khawatir jika mereka berniat buruk. " Mari, ikut saja. " jawabnya sambil berjalan keluar mendahului Nicko. Nicko diam tidak mengikutinya. Namun dia sangat khawatir dengan keselamatan Riska yang sudah di bawa pergi terlebih dahulu. Hatinya pun bimbang. Petugas itu berhenti di depan pintu, membalikkan badannya dan menatap Nicko dengan kesal. " Cepat ! Sudah tidak ada waktu lagi. " serunya. Pada akhirnya kaki Nicko pun melangkah membawanya pergi mengikuti kemana para petugas itu pergi. Mereka memasuki sebuah mobil sedan. Bukan mobil kepolisian tapi di sudut dashboard ada sebuah lampu kelap kelip dan alat pengeras suara di bawah kemudi. Nicko duduk berdampingan dengan Riska yang sudah mulai sadar. Matanya mengerjap pelan dan melihat ke sekelilingnya dengan heran. " Kita mau kemana mas ? " " Entahlah. Mereka mengajak kita pergi. Di ikuti saja. " jawab Nicko pelan. Riska pun diam dan menatap ke depan. Tibalah mereka di sebuah rumah sakit. Mereka segera turun dan petugas itu mengiringi Nicko dan Riska untuk masuk ke dalamnya. Hati Nicko bertanya - tanya. Begitu juga dengan Riska yang malah sudah meneteskan air mata. Tomi sudah menunggu mereka di lobby dengan wajah cemas. Terlihat gugup saat Nicko dan Riska berjalan menghampirinya. " Tugas sudah di laksanakan pak ! " salah satu petugas memberi hormat dan melapor. Sementara petugas yang satunya berdiri diam di sebelahnya, hanya memberi hormat. Tomi membalas sikap hormat mereka. " Terima kasih. Tetap berjagalah di sini. Tunggu sampai kami selesai di dalam. " titahnya. Kedua petugas itu pun berdiri siaga di depan lobby. Tomi segera mengajak Nicko dan Riska masuk ke dalam. " Sebenarnya ada apa pak Tomi ? Kenapa kami di bawa kesini ? " Nicko bertanya, semakin keheranan saat melihat beberapa petugas terluka dan sedang antri untuk di periksa di salah satu ruangan khusus. " Apakah papa baik - baik saja ? " tanya Riska cemas dan langsung ke intinya membuat hati Tomi semakin mencelos mendengarnya. Tomi memikirkan kata - kata yang baik untuk menyampaikan sesuatu yang saat ini kondisinya sangat mendesak. " Kita bicara di sana ya.. " ucapnya saat hampir sampai di depan IGD. IGD ?? Pasti ada hubungannya dengan papa. Semoga tidak terjadi sesuatu yang serius dengan papa.. Ya Tuhan, ku mohon.. batin Nicko. Sementara Riska melongo menatap tulisan besar di atas pintu ruang IGD. Wajahnya langsung pias. Air matanya kembali menetes tak tertahankan. Tomi mengajak mereka berdua untuk duduk di dekatnya. Sembari menghela nafas panjang Tomi mencoba memulai apa yang harus di sampaikan olehnya. " Sebenarnya begini.., saya minta maaf sebelumnya. " Tomi berdehem kecil. Dadanya terasa sesak. " Pak Hendrawan terluka pada saat menjalankan tugas. " ucapnya pelan dan hati - hati. Takut dengan reaksi keduanya. Melihat Riska yang menangis Tomi memaksa untuk menguatkan hatinya. Riska semakin terisak mendengar penuturan Tomi. Nicko menenangkan diri. " Bagaimana kondisi papa saat ini ? " tanya Nicko lirih. " Saat ini beliau sedang di tangani di ruang ini. " jawabnya sembari menunjuk ruang IGD dengan dagunya. Sementara kedua tangannya mengepal, menguatkan hati. " Dan.. " lanjut Tomi. " Pak Hendrawan terkena racun yang mematikan dari sebuah belati yang di gunakan musuh untuk melumpuhkan beliau. " jelasnya singkat. " Musuh ? " tanya Nicko. Tomi sudah hampir menjawab pertanyaan Nicko namun urung ketika tiba - tiba tubuh Riska lunglai dan terjatuh dari kursi, pingsan. Tomi pun memanggil perawat untuk membawa Riska ke ruang perawatan. Riska sedang di tangani oleh dokter dan perawat yang secara khusus di minta oleh Tomi. Nicko bersama Tomi menunggu di depan ruang perawatan. " Pak, pertanyaan saya tadi masih belum terjawab. " " Oh iya. Maaf.. " Tomi berdehem lagi. " Musuh. Seseorang yang sudah mengirim pesan ancaman ke pak Hendra. Beliau bilang nyawa kalian sedang dalam bahaya dan dalam incaran orang itu. " " Memangnya kenapa dia mengincar kami ? " tanya Nicko penasaran. Tomi diam sesaat lalu mengangguk memutuskan jawaban untuk Nicko. Dalam pikirannya Nicko sudah cukup dewasa untuk menerima informasi itu. " Mereka melakukan itu untuk mengancam pak Hendra agar tidak melanjutkan penyelidikannya. " " Papa menyelidiki kasus apa ? " tanya Nicko lebih mendesak. Tomi menelan saliva dengan susah payah. " Pak Hendra menyelidiki kasus kematian orang tua kandungmu. " jawabnya pelan. Nicko tersentak kaget. Tidak menyangka jika ayah angkatnya itu begitu penasaran dengan kematian orang tuanya. " Bukankah mereka kecelakaan ? " tanya Nicko lagi. " Betul. Waktu itu awalnya memang di anggap kecelakaan. Tapi pak Hendra menemukan keganjilan dan beberapa bukti yang terkait kecelakaan itu. Dan tadi saat kami mengepungnya kami baru tahu bahwa pelakunya adalah seorang penjahat internasional. " jawab Tomi panjang lebar. " Maksudnya apakah memang mereka mengincar orang tuaku ? " " Benar. Dari bukti yang kami temukan ada beberapa orang yang menanyakan perihat data lengkap orang tuamu ke beberapa petugas di bandara. Tidak hanya satu orang yang bertanya hal yang sama tetapi empat orang. Dan kami mendapat rekaman cctv nya. Entah kenapa mereka sangat ketakutan saat kami menyimpan rekaman itu. Sepertinya ada sesuatu yang mereka sembunyikan dan terlihat di sana. " Tomi menghela nafas pelan dan melanjutkan penjelasannya. " Kami masih belum sempat memeriksa dengan teliti rekaman itu. Pak Hendra keburu kritis kondisinya. " " Kritis ? " pekik Nicko panik. Dia pun segera berlari ke ruang IGD. Tomi yang menyadari sudah keceplosan bicara langsung berlari mengejar Nicko. Nicko menggedor pintu IGD dan berteriak memanggil papanya. Hal itu membuat seorang perawat membuka pintu dan keluar dengan marah. Tomi segera menarik tubuh Nicko dan meminta maaf. " Sabar dulu. Biar pak Hendra di tangani dengan baik. Jangan menganggu. Kita berdoa saja agar beliau baik - baik saja. " Nicko pun langsung lemas dan menjatuhkan tubuhnya di atas kursi. Kepalanya menunduk di topang oleh kedua tangannya yang menutupi wajahnya. Dia menangis dalam diam. Tuhan.. Aku tidak mau kehilangan lagi.. Tolong selamatkan papa. Tak lama kemudian pintu ruang IGD terbuka. Seorang dokter keluar dengan wajah pucat. Tomi berlari mendekatinya berbarengan dengan Nicko. " Bagaimana dok..? " tanya mereka bersamaan. Dokter itu terlihat sedang menelan saliva dengan susah payah. Keringat memenuhi dahinya yang lebar. " Maaf, kami sudah berusaha sebaik mungkin, tapi takdir Tuhan berkata lain.., beliau tidak dapat di selamatkan. " jawabnya lemah. Tubuh Nicko seketika lemas dan jatuh berlutut di lantai, bibir keringnya meraung memanggil papanya. Tomi diam terpekur. Menunduk menatap kakinya. Hatinya panas oleh dendam karena atasan yang sangat di hormatinya telah wafat akibat ulah Janson. Dan dirinya datang terlambat. Penyesalan begitu besar muncul dalam hatinya. Wajahnya memerah matanya pun juga. " Kondisi beliau di perparah dengan adanya racun berbahaya dari luka sabetan belati di lengan kirinya. Dan tembakan itu tepat mengenai sisi jantungnya bagian dalam, membuat beliau tidak kuat bertahan terlalu lama. " Jelas dokter itu dengan wajah penuh penyesalan. Hati Nicko luluh lantak. Lagi - lagi dia kehilangan seseorang yang sangat dia sayangi. Dirinya tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Riska saat mendengar kabar ini. Air mata Nicko berderai membasahi wajahnya yang pucat. Kejadian saat kehilangan orang tua kandungnya pun berkelebat semakin memperparah luka di hatinya. Tuhan.., kenapa Kau begitu tega mengambil semua orang yang ku sayangi ??
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN