Kabar Buruk

1242 Kata
Nicko berdiri dengan gelisah. Hatinya benar - benar tidak tenang saat ini. Dalam benaknya penuh dengan bayangan papanya yang sedang kesulitan. Kecemasan yang mendalam tampak jelas di wajahnya. Riska yang sedang membuka galeri foto pada ponselnya sesekali melihat ekspresi wajah Nicko yang berubah - ubah namun terlihat sedang mencemaskan sesuatu. " Kenapa mas ? " Nicko terkesiap mendengar suara Riska. " Mmm..tidak apa - apa. Aku hanya bosan disini. " jawabnya berbohong. " Aku juga bosan. " gumam Riska. Ponsel di tangannya pun langsung di letakkan begitu saja di atas sofa. Seseorang datang membawa dua gelas teh hangat dan beberapa makanan ringan di atas nampan lalu meletakkannya di atas meja. Setelah selesai dia pun langsung berlalu pergi dari tempat itu. Riska menelan saliva. Sedari tadi mereka sama sekali belum makan. Di lihatnya bebrapa bungkus roti keju diatas piring, serta merta diapun langsung mengambil dan melahapnya. Nicko yang melihat hal itu langsung tersenyum menyadari bahwa dirinya juga lapar. Nicko mengikuti Riska. Diambilnya juga sebungkus roti, membukanya dan langsung melahap dengan rakus. Melihat hal itu Riska pun tertawa karena wajah Nicko terlihat lucu saat kedua pipinya menggembung menyimpan makanan di baliknya. Nicko tersenyum menatap Riska. " Gitu dong.. Dari tadi manyun mulu. " ucapnya dengan perkataan yang tidak jelas karena sedang mengunyah roti. " Kamu nggak makan berapa lama sih mas ? Langsung di lahap abis tuh roti. Kasihan loh.., masih belum sempat pamitan sama temennya. " goda Riska. Nicko tertawa. " Laper banget. Dari tadi belum makan. " jawabnya lirih. Riska tertawa mengusap bibir Nicko yang berlepotan keju. Membuat d**a Nicko langsung berdesir. " Iih.., makin gede bukannya dewasa, malah kayak anak kecil. " gumam Riska tepat di sebelah telinga Nicko. " Biarin. Sekali - kali kan nggak apa - apa. Kenapa ? Masalah ? " goda Nicko semberi melebarkan matanya mendekat ke wajah Riska. Riska menggelengkan kepala sambil tetap tertawa. Rotinya sudah habis diapun langsung meraih gelas dan meminum tehnya sembari tersenyum dan melirik Nicko yang masih melotot padanya. Saat Riska hendak mengembalikan gelas tiba - tiba gelas itu jatuh dan pecah di dekat kakinya. Riska pun terperanjat kaget. Entah kenapa tiba - tiba hatinya begitu cemas dan merasakan kesedihan yang mendalam. Ingatannya langsung berlari ke sosok papanya. " Papa.. " teriaknya pelan. Nicko bergegas membungkuk, memunguti pecahan gelas yang berserak di bawah kaki Riska. Khawatir jika Riska menginjaknya. " Mas, papa mas.. " teriak Riska sambil menggoyangkan pundak Nicko. " Kenapa papa ? " tanya Nicko bingung lalu mengedarkan pandangan ke arah pintu, mengira kalau papanya datang ke tempat itu. " Papa mas.. Firasatku tiba - tiba nggak enak. " lirih Riska. Kedua matanya memerah dan sudah berair. " Ssstttt.. Papa nggak kenapa - kenapa. Papa baik - baik saja. Jangan berpikir yang tidak - tidak Ris. Kamu membuatku takut. " " Tapi mas.. Hatiku bener - bener merasa nggak enak banget. " Nicko pun terdiam sembari mengelus pundak Riska lembut. Tak urung hatinya pun semakin cemas. Dari luar terdengar kasak kusuk para petugas kepolisian yang sedang berkerumun di depan ruangan mereka. " Terluka ? Gawat.. Lalu gimana, kita menyusul kesana ? " " Jangan dulu. Kita tunggu intruksi dari pak Tomi. " Lamat - lamat Nicko mendengar percakapan itu. " Bom ? Apa ? Sepuluh menit ?? " Terdengar dering panggilan dari salah satu ponsel mereka. " Iya pak. Siap ! Baik, kami akan membawa ambulans kesana. Berapa orang ? Oh..siap ! Kami segera ke TKP ! " Tiba - tiba kerumunan itu pun buyar dan terdengar kegaduhan di sana sini. Beberapa orang terlihat berlarian keluar dengan senjata lengkap. Dua petugas yang berjaga masih tetap tegak berdiri di depan pintu, menjaga Nicko dan Riska. " Kalian tetap disini. Kalau ada sesuatu lekas hubungi saya ! " titah seseorang. " Siap !! " jawab mereka serempak. Tak lama kemudian suasana menjadi sunyi setelah deru mobil telah berlalu dari markas pusat kepolisian. Nicko semakin cemas setelah mendengar percakapan mereka. Dirinya terkejut saat mendapati Riska telah berbaring lemas di sebelahnya, pingsan. Pasti dia juga mendengarnya. Batin Nicko. ***** Tomi berlari mendahului dan mencarikan jalan yang bisa di lalui dengan nyaman oleh petugas yang sedang membopong tubuh Hendrawan yang terluka. Satu tangannya memegang ponsel memberikan informasi dan beberapa intruksi untuk para rekannya di kantor pusat. Hendrawan semakin pucat dan lemah. Tidak ada waktu lagi untuk beristirahat ataupun bergantian untuk membopong tubuh Hendrawan. Mereka semua berlari dengan cepat dan harus segera menjauh dari gedung itu. Tomi mengingat saat Janson pergi menggunakan helikopter. Dia sempat melihat sang pilot dari helikopter itu adalah sosok wanita. Terlihat dari rambutnya yang tergerai panjang ditiup angin, di sela - sela helm yang dia kenakan. Wanita itu menatap tajam padanya. Tomi menghela nafas lega saat mereka sudah berhasil turun ke lantai dasar. " Kita tunggu ambulans di seberang sana ! Jangan disini berbahaya. Cepat..Cepat !! " serunya sembari ikut memegangi tubuh Hendrawan yang terguncang karena dibopong dengan berlari kencang. Begitu sampai di seberang terdengar ledakan yang sangat keras. Pecahan bangunan terlempar jauh. Beberapa di antaranya mengenai Tomi dan pasukannya. Bangunan itu pun langsung hancur berantakan hampir rata dengan tanah. Tubuh Hendrawan terlempar dan jatuh dengan posisi tengkurap. Di sisa - sisa kesadarannya berkelebat bayangan Riska dan Nicko. Hendrawan menghembuskan nafas pelan lalu terpejam. " Pak !! Pak Hendra !! Sadar pak.. Tetap kuat. Sebentar lagi ambulans datang. " seru Tomi sembari membenahi posisi tubuh Hendrawan dan mengusap wajahnya yang penuh debu akibat ledakan itu. " T-tomi.. " lirih Hendrawan. " A-ku sudah ti-dak kuat la--gi.. Luka di lenganku mengandung ra--cun dari belati. A-aku.. " " Sudahlah pak. Tenang dulu.. Tetap kuat ya pak. " pinta Tomi sembari menggosok pelan tangan Hendrawan. Beberapa saat kemudian ambulans pun datang bersama dengan pasukan petugas kepolisian. Mereka segera mengangkat tubuh Hendrawan dan membawanya ke rumah sakit. ***** " Apa yang sebenarnya terjadi pak ? Tolong jelaskan. " pinta Nicko, memohon pada kedua petugas yang menjaganya. Mereka tetap bergeming dan tidak menghiraukan pertanyaan Nicko. " Pak. Tolong.. Ini menyangkut nyawa ayah kami. " lirihnya kembali memohon. Sementara Riska masih pingsan dan terbaring di atas sofa. Kedua petugas itu saling berpandangan. Lalu salah satu diantara mereka menganggukkan kepala. " Begini, pak Hendrawan di kabarkan terluka saat dalam pengejaran. Beliau berhasil menemukan markas mereka namun harus segera pergi karena menurut informasi kemungkinan di sana sudah di pasangi peledak. " jelas salah satu petugas itu dengan singkat. " Papa terluka ? Apa dia baik - baik saja ? " " Maaf. Hanya itu saja yang bisa kami sampaikan. Tolong tetap tenang dan menunggu di sini. " jawabnya dengan sopan. " Tidak bisa !! Aku tidak bisa tenang, papaku terluka.. Aku harus segera kesana ! " teriak Nicko panik sembari berusaha untuk berlari keluar dari tempat itu. Kedua petugas itu dengan sigap memegangi kedua pergelangan tangan Nicko dan menahannya. " Maaf. Lebih baik mas Nicko tetap disini dan itu perintah. Kami tidak akan membiarkan jika sesuatu terjadi pada Anda dan putri pak Hendra. " katanya tegas sembari membawa Nicko duduk kembali di atas sofa. Ponsel petugas itu berbunyi. " Halo pak, siap ! " serunya lantang menjawab panggilan ponsel. "...................... " " Baik pak, siap laksanakan !! " Setelah menutup panggilan dan menyimpan ponselnya ke dalam saku dia pun mengajak rekannya untuk membawa Nicko dan Riska pergi dari tempat itu. Nicko menatap mereka keheranan. Tanpa banyak bicara salah satu diantara petugas itu langsung mengangkat tubuh Riska dan menggendongnya keluar dari situ. Satu petugas lagi yang berdiri di hadapan Nicko menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan. Jantung Nicko berdegup kencang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN