Situasi Genting

1107 Kata
Hendrawan tersungkur ke depan dan jatuh dengan begitu keras. Sam menghajarnya dengan keras dari arah belakang tubuhnya. Rupanya dia berputar dan masuk lagi melewati tangga di belakang Hendrawan. Pria itu tertawa keras melihatnya jatuh. Hendrawan geram lalu bangkit berdiri seraya melayangkan pukulan ke wajah pria itu tepat mengenai rahang kirinya. Melihat hal itu empat orang anak buahnya langsung bertindak dan mengeroyok Hendrawan. Begitu juga dengan Sam yang langsung berlari membantu bosnya. Perkelahian tidak seimbang tidak dapat di elakkan. Bertepatan dengan itu Tomi mendapat pesan masuk dari rekannya di bagian data dan IT. Ternyata pria yang berdiri di hadapan Sam adalah Janson Quarte. Asal Amerika yang ternyata adalah target pencarian polisi internasional. Tomi semakin cemas dan mengarahkan anak buahnya untuk segera menyerbu masuk membantu Hendrawan bersama dirinya. Hendrawan terdesak melawan enam orang sekaligus. Tenaganya sudah terkuras saat melayangkan pukulan dan tendangan untuk mereka. Saat melihat celah, Janson segera pergi keluar dari ruangan itu, melarikan diri. Hendrawan melihatnya namun tidak bisa berbuat apa - apa karena masih berkutat dengan lima orang. Beberapa anggota polisi berdatangan. Mereka segera merangsek masuk dan melawan lima orang yang bersama atasannya. Salah satu petugas kepolisian menjauhkan Hendrawan dari perkelahian itu karena melihat wajahnya yang terluka. Namun Hendrawan tetap berkeras untuk ikut melawan. " Tom ! Urus mereka. Aku kejar satu orang yang melarikan diri ! " teriak Hendrawan saat melihat Tomi berlari masuk. " Siap ! Hati - hati pak, dia Janson Quarte. DPO interpol. " jawab Tomi saat melihat diantara lima orang yang berada di situ tidak ada sosok Janson di antaranya. Hendrawan mengangguk paham dan langsung berlari mengejar Janson. Tomi yang merasa cemas saat melihat wajah Hendrawan terluka segera berlari menyusul setelah menyerahkan sisanya kepada anak buahnya yang lain. Tomi bersama dua orang anggotanya berpencar mencari Hendrawan dan Janson. Di semua ruang yang kosong mereka tidak menemukannya. Sampai pada akhirnya mereka kembali pada satu titik yang sama. Tomi semakin cemas. Sementara itu Hendrawan yang melihat bayangan Janson berlari ke arah atas segera mengejarnya ke rooftop gedung terbengkalai itu. Nafasnya berat dan terengah - engah. Hampir semua tenaganya sudah benar - benar terkuras namun Hendrawan tetap berkeras mengejar Janson. Sesampainya di atas Hendrawan mencari sosok Janson yang dikiranya sedang bersembunyi di antara kardus - kardus bekas di bagian ujung tempat itu. Dengan pelan dan hati - hati Hendrawan mengeluarkan pistol kecil kesayangannya dari dalam tas pinggang yang masih di bawanya. Beruntung tadi saat akan berkelahi menghadapi Janson dirinya tak serta merta melempar pistolnya seperti yang di lakukan oleh Janson dengan belatinya. Hendawan tidak berani berspekulasi bahwa Janson tidak membawa senjata. Apalagi dirinya sudah melihat banyaknya senjata di dalam kotak dan Janson sempat berdiri di sebelahnya. Mungkin saja dia tadi masih sempat menyambar beberapa senjata saat akan melarikan diri. Janson bersembunyi di balik galon air yang besar tidak jauh dari kardus - kardus bekas. Bibirnya menyeringai saat pandangan Hendrawan mengarah pada tumpukan kardus belas. Secepat kilat Janson melempar belati ke tubuh Hendrawan yang saat itu berdiri menyamping menatap tumpukan kardus di depannya. " Aarrgghhh...!!! " Belati itu tepat menancap di lengan kiri Hendrawan. Refleks tangan kanan Hendrawan begerak memegangi luka di lengan kirinya, pistol pun terlepas. Janson keluar dari persembunyiannya dengan tertawa keras. Memang tadi dirinya melempar belati ke anak buahnya, namun dia masih menyimpan beberapa lagi yang di selipkan di balik bajunya. Dan salah satunya kini menancap di lengan kiri Hendrawan yang sudah bersimbah darah karenanya. Hendrawan tersadar bahwa pistolnya terlepas. Dengan sigap dia pun membungkuk hendak mengambil pistol di bawahnya, namun sayang, Janson sudah berlari mendahuluinya. Hendrawan menggeram kesal. Janson mengarahkan moncong pistol itu ke wajah Hendrawan. Bibirnya tetap menunjukkan senyum smirk, matanya menatap wajah Hendrawan dengan nyalang. Kesan bengis dan kejam begitu kentara terlihat. " Hidupmu hanya tinggal beberapa menit saja sebelum jemputanku datang. " teriaknya. Hendrawan terkesiap. " Jemputan ? " Janson tertawa keras. " Apa kau kira aku ini bodoh ? Aku sudah mengirim pesan. Sebentar lagi mereka semua akan menghancurkan tempat ini. Kalian hanya mempunyai waktu sepuluh menit untuk menyelamatkan diri. " Janson selesai menyampaikan semuanya. Bersamaan dengan itu terdengar suara berisik dari belakang tubuh Janson. Senyumnya semakin merekah, sementara pandangan mata Hendrawan semakin gelap dan berkabut. Nyeri pada luka di lengan kirinya masih di tambah dengan nyeri yang tiba - tiba menyerang kepalanya. Sial !! Belatinya beracun ! Tidak jauh dari tempat itu Tomi melihat tetesan darah di tangga dia pun segera berlari ke atas sembari memegang pistol di tangan kanannya kuat - kiat. Dua anggotanya mengikuti di belakang, lengkap dengan senjata yang merrka bawa. Saat hampir sampai ke rooftop Tomi mendengar suara tembakan dan juga deru helikopter yang berputar - putar di atasnya. Wajahnya seketika pias. " Cepat !! " serunya. Tomi sampai terlebih dahulu. Dari tempat yang agak jauh dia melihat ujung pistol di tangan Janson masih mengepulkan asap. Dia mengenal bahwa pistol itu adalah milik Hendrawan. Janson tertawa keras lalu melempar pistol begitu saja itu di dekat tubuh Hendrawan yang terbaring lemah, meringis kesakitan. Dadanya terluka terkena tembakan dari Janson. Darah mengucur dengan deras. " Pak !! " Tomi berlari mendekati Hendrawan dan melihat Janson berdiri menatapnya. Tangan kanannya memegang belati yang siap untuk di lempar ke arahnya. DOOOORRRR !!! Belati itu terlempar saat Tomi dengan sigap membalikkan tubuhnya dan mengarahkan tembakan ke ujung tangan Janson tepat mengenai belatinya. Janson terkesiap. Tidak menyangka akan tembakan jitu itu. Dia pun segera berlari ke ujung rooftop dan menunggu helikopter itu mendekatinya. Seseorang mengeluarkan tangga dari tali dan mendekatkan ke rubuh Janson. Melihat hal itu Tomi kembali mengarahkan pistolnya ke arah kaki Janson. " Bawa pak Hendrawan ke rumah sakit !! " teriaknya kepada dua orang anggotanya yang baru sampai. " Siap ! " Mereka pun dengan hati - hati membopong tubuh Hendrawan. Beberapa orang pun datang memberi bantuan. Sekilas Tomi melihat wajah Hendrawan begitu pucat. Tomi kembali memusatkan perhatiannya ke arah Janson. Memastikan diri dan mepas satu tembakan. DOORRR !! " Aaarrgghhh !!! Bangs** !! " teriak Janson saat salah satu kakinya terkena tembakan. Namun dia tidak menghiraukannya dan tetap meraih ujung tanggal tali lalu merangkak menaikinya dengan susah payah. " Tom ! Aku mau bicara sebentar. " teriak Hendrawan lemah. Konsentrasi Tomi terpecah mendengar teriakan Hendrawan diantara deru helikopter itu yang bergerak semakin menjauh. " Tom !!! Tidak ada waktu lagi. Biarkan dia.. !! " teriak Hendrawan sekali lagi. Dengan susah payah. Tomi berlari menghampirinya. " Cepat pergi dari sini. Waktu kita tinggal sedikit. Janson bilang hanya tinggal sepuluh menit lagi , dan ini sudah berjalan tiga menit. " jelas Hendrawan sambil melirik arlojinya pada pergelangan tangan kirinya yang menekuk. " Memangnya ada apa pak ? " " Mungkin mereka memasang bom. Cepat.. cepat !!! " seru Hendrawan. Mereka pun bergegas pergi dari tempat itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN