Tomi dan beberapa anak buahnya yang menyusul Hendrawan terjebak kemacetan di sebuah jalan pintas yang mereka lalui. Berniat agar bisa lebih cepat menyusul Hendrawan ternyata malah terhalang macet dan berhenti lumayan lama di tempat itu.
Alhasil akhirnya Tomi meminta beberapa rekannya yang mengendarai motor segera mendahului dan menyusul Hendrawan ke lokasi.
Sementara itu Nicko sedang menenangkan Riska yang masih menangis. Mereka duduk berdua di atas sofa tanpa menghiraukan barang bawaan mereka masih tergeletak begitu saja di dekat pintu.
Beberapa petugas kepolisian terlihat lalu lalang di depan ruangan tempat Nicko dan Riska berada. Sedangkan dua orang petugas terlihat berdiri siaga dengan senjata lengkap, menjaga dua remaja itu.
" Aku khawatir banget sama papa mas. " lirih Riska sambil terisak.
" Ssstttt.. Tenanglah. Papa baik - baik saja. " ucap Nicko menenangkan. Direngkuhnya tubuh Riska ke dalam pelukan. Tangannya mengusap lembut rambut gadis itu.
Tiba - tiba terdengar suara notifikasi pesan masuk dari ponsel Nicko.
Nicko segera melepaskan pelukannya dan beringsut mengambil ponsel di atas meja. Membuka layar dan membaca pesan yang masuk.
Dari papa. Foto apa ini ?
Nicko memperhatikan kiriman foto dari Hendrawan. Terlihat disana dua orang pria yang sedang berdiri berhadapan dengan wajah tegang. Seseorang yang membelakangi kamera memakai jaket dan bertopi. Nicko seperti pernah melihat sosok itu.
Di bawah foto Hendrawan menuliskan pesan.
Tom, ini sasaran utamanya. Yang bertopi adalah pria yang ikut menyusup dalam penyerangan di asrama. Dari dia aku tahu markas mereka.
Cepat selidiki kedua orang itu dan lekas kesini bantu aku. Kerahkan semuanya untuk mengepung tempat ini !
Saat itu juga Nicko segera ingat pria itu adalah penyusup yang dilihatnya ikut menyerang asrama.
Jantung Nicko berdegup kencang membaca pesan itu. Sepertinya Hendrawan telah salah mengirim pesan ke nomor Nicko padahal tujuan sebenarnya adalah Tomi.
Dengan cepat Nicko pun segera mengirimkan pesan itu ke nomor Tomi yang di dapatnya saat Tomi ke rumah sakit mengambil sketsa hasil gambaran papanya dan menanyakan keterangan tentang peristiwa waktu itu. Mereka saling menukar nomor ponsel untuk mempermudah komunikasi.
" Pesan dari papa ? " tanya Riska curiga saat Nicko membaca pesan itu dan terkesan menyembunyikan dari Riska.
Nicko terdiam beberapa saat memikirkan jawaban apa yang harus di sampaikan pada Riska. Jujur saja Nicko tidak tega jika harus memberi tahu Riska kalau saat ini papa mereka dalam kondisi yang berbahaya.
" Dari Rangga. Dia menanyakan alamat kita tinggal. " jawab Nicko akhirnya, menemukan jawaban yang pas karena sebelumnya memang Rangga mengirimnya pesan menanyakan hal itu.
Riska kembali terdiam lalu duduk terpekur di atas sofa. Kepalanya menunduk sedih. Kedua tangannya memeluk lutut dengan erat. Seperti sedang ketakutan.
Nicko semakin tidak tega melihat Riska. Namun mau bagaimana lagi. Semua memang tugas papa mereka untuk menangkap orang itu. Nicko menghela nafas pelan. Cemas memikirkan papanya.
Semoga papa baik - baik saja.
****
Tomi baru saja terbebas dari kemacetan saat ponselnya berbunyi. Di lihatnya pada layar ponsel sebuah notifikasi pesan masuk.
Dengan cepat diambilnya ponsel itu dan membaca pesan dan kemudian ekspresi wajahnya terlihat cemas.
Pak Hendrawan dalam bahaya aku harus cepat.
" Tambah kecepatan mobil ini. Kita harus secepatnya membantu pak Hendrawan. Beliau dalam situasi bahaya sekarang ! " titahnya pada sang sopir.
" Siap ! "
Tomi memasang lampu di atas kap mobil dan membunyikan sirine agar semua kendaraan bisa menepi untuk memperlancar perjalanannya yang sempat tertunda agak lama tadi.
Sebelumnya Hendrawan melarang mereka membunyikan sirine karena khawatir mereka mengetahui jika di buntuti oleh polisi. Dan kini keadaan sudah berbeda. Hendrawan dalam bahaya.
Tomi pun segera mengirim foto dari Hendrawan ke salah satu rekannya di bagian data dan IT. Berharap data diri mereka yang ada di foto dari Hendrawan segera di ketahui.
Sementara itu di sebuah gedung bertingkat yang terbengkalai;
" Bodoh !! Gara - gara kamu ceroboh dia bisa berada disini !! " teriak pria itu sambil menatap Sam dengan garang. Sesekali dia melihat ke arah Hendrawan yang saat itu berdiri siaga menatapnya dengan intens.
Jantung Hendrawan berdegup kencang memperhitungkan kemungkinan bahwa anak buah pria itu ada lebih banyak di banding yang sekarang ada di hadapannya. Mungkin mereka sedang bersembunyi di suatu tempat di sisi lain gedung ini.
Namun pikiran itu segera di tepisnya saat melihat raut cemas tampak dari wajah pria itu.
Sam hanya berdiri diam. Kepalanya tertunduk takut. Sementara empat orang anak buah pria itu bersiap untuk menyerang Hendrawan sewaktu - waktu.
" Maafkan saya bos. " lirih Sam.
Pria itu menendang kaki Sam dengan keras sampai tubuh pria itu limbung ke depan dengan teriakan tertahan.
" Enak saja minta maaf !!! " seru pria itu.
Hendrawan masih tetap diam dan melihat semuanya dengan geram.
" Kalau berani hadapilah aku. Jangan dia yang terlihat lemah itu ! " seru Hendrawan dengan tetap tenang.
Pria itu menatap Hendrawan dengan tajam. Matanya nyalang melihat sosok Hendrawan dari atas ke bawah lalu tersenyum mengejek.
" Dengan kekuatan apa kau melawanku ? "
" Aku tidak sendiri. " jawab Hendrawan santai. Namun jauh di sudut hatinya berdebar, harap - harap cemas menunggu kedatangan semua anak buahnya.
Seketika pria itu menyuruh salah satu anak buahnya untuk memeriksa di sekitar markas mereka. Raut wajahnya terlihat semakin cemas.
Tak lama kemudian terdengan suara raungan beberapa motor datang mendekati tempat itu. Lalu di susul dengan suara sirine mobil kepolisian. Hendrawan yakin Tomi dan anak buahnya yang lain sudah datang.
" Kalian sudah terkepung. " ucapnya tenang. Kini hatinya sudah benar - benar tenang karena bala bantuan sudah tiba.
Pria itu mengeluarkan belati dari balik baju yang di pakainya. Menatap sangar wajah Hendrawan yang saat itu terlihat sangat menyebalkan di matanya.
Hendrawan mengambil pistol kecil dari tas pinggangnya. Dan mengarahkan moncongnya ke hadapan pria itu.
Sontak saja ke empat anak buahnya segera bersiap menyerang Hendrawan namun di cegah oleh pria itu dengan mengangkat satu tangannya.
" Satu lawan satu. " ujarnya sambil menyeringai licik.
" Baik. Siapa takut. " jawab Hendrawan yang langsung memasukkan kembali pistolnya ke dalam tas pinggang. Sementara pria itu melemparkan belati ke salah satu anak buahnya.
Hendrawan menatap pria itu dengan siaga. Sesekali melirik ke arah pintu, berjaga - jaga apabila ada kemungkinan jika ada lebih banyak anak buah pria itu yang berdatangan. Karena terlihat pria itu sedang mengulur waktu.
Sementara terdengar suara teriakan dari bawah. Tomi berteriak menggunakan alat pengeras suara dari salah satu mobil polisi, menerintahkan mereka untuk keluar.
" Menyerahlah !! Kalin benar - benar sudah terkepung ! " ujar Hendrawan sambil menyeringai menatap wajah pria itu yang semakin pias.
" Diam !! Sam, panggil mereka semua !! " teriaknya ke arah Sam yang saat itu melihat ke bawah dari jendela.
Sam pun berlari keluar memanggil semua teman - temannya di sisi lain gedung itu.
" Hhhaaarrggghhh !!! Sial !! Kau curang.. !! "
Terdengar sebuah teriakan di iringi suara berdebum seperti sebuah benda besar yang terjatuh.