Si Pahit Lidah

2210 Kata
Awalnya aku mengenal sosok Putri sebagai siswa “nakal” yang tabu untuk didekati. Namun kemudian di akhir masa kelas XI atau lebih tepatnya sebelum UAS, Putri tiba-tiba menjadi teman sekaligus pengikut Milia yang setia. Ia selalu membantu Milia menyingkirkan musuh-musuhnya dan memberikan ide-ide negatif yang merusak. Putri termasuk sosok yang dominan terutama dengan kata-katanya yang kasar dan blak-blakan. Di kehidupan pertamaku, aku pernah dijebak oleh Milia hingga harus bersinggungan dengan Putri. Gara-gara jebakan Milia, sepanjang akhir kelas XII, aku bahkan harus menundukkan pandanganku setiap bertemu Putri. Tapi kini Putri mendekatiku terlebih dahulu. Apakah ini karena butterfly effect setelah membalikkan waktu ke masa lalu? Kemudian pesanan kami datang, selanjutnya para dayang menjauh seraya mengamankan lokasi sekitar kami agar tidak ada orang yang menguping pembicaraan aku dan Putri. “Bagaimana jika kita bekerjasama? Ku rasa itu bukan pilihan buruk bagimu. Kita memiliki musuh yang sama” dengan entengnya, Putri menawarkan aliansi denganku. Padahal ia tahu bahwa aku dikenal sebagai saudara tiri Milia sekaligus babysitternya. Sebenarnya apa yang direncanakan Putri? Aku perlu menggali informasi lagi. “Kenapa kamu mengajakku? Dengar… Meskipun hubungan kami berdua bukan yang terbaik, tapi bukan berarti aku memusuhinya.” Ku gelengkan kepala untuk menolak ajakannya. Putri terlihat kecewa. “Tapi aku melihatnya…” Ujarnya. “Apa maksudmu?” tanyaku. Apa yang dilihat putri, sampai bisa menyimpulkan bahwa aku memusuhi Milia? Padahal ini pertama kalinya aku dan Putri berbincang. Putri memang terkenal tidak banyak bicara tetapi sekali ia bicara selalu menyakiti hati lawannya. Karena itu ia mendapat julukan si Pahit Lidah. “Kemarin siang ketika kamu kembali ke kelas dan kejadian yang baru saja terjadi di kantin. Aku melihat api kebencian berkobar dari cahaya matamu. Kamu membenci saudarimu itu sampai tercermin ke dalam jiwamu. Kamu tak bisa membohongi seluruh orang di sekolah ini dengan akting burukmu itu” Ungkapnya sambil menatapku dengan serius. Tak kusangka Putri Si Pahit Lidah merupakan sosok yang memperhatikan hal sedetail itu. Ini juga berarti aku harus lebih melatih kemampuan aktingku lagi. Lalu apa yang harus ku lakukan sekarang? Sebenarnya, membentuk aliansi dengan Putri merupakan aset yang bagus. Namun sayangnya, aku belum tahu apa yang membuat Putri di kehidupan pertamaku akhirnya berubah jadi b***k setia Milia. Aku harus lebih berhati-hati, jangan sampai nantinya Putri justru menusukku dari belakang dan menghancurkanku. “Mungkin aktingku memang buruk, tetapi saat ini aku belum punya cukup alasan untuk memusuhinya. Bagaimana denganmu, apa yang membuatmu memusuhinya?” Tanyaku untuk menggali informasi lebih dalam mengenai penyebab Putri tidak suka pada Milia. “Jawabannya cukup simpel. Aku melihat dia di sekolah selalu berakting sebagai Innocent Angel padahal jiwanya penuh kebencian. Bagiku dia lebih cocok dikatakan sebagai Scheming Devil” Ucapan Putri membuatku terkejut. Julukan itu memang paling tepat dinobatkan pada Milia. Ternyata bukan hanya aku saja yang memikirkan julukan yang cocok untuk Milia. Putri memiliki kepekaan yang cukup tinggi hingga bisa melihat sisi sebenarnya dari Milia. Aku jadi kagum padanya. Andaikan dia bukan siswa bermasalah di sekolah, mungkin kami bisa menjadi teman akrab. Mengingat perkataan Putri tadi, membuatku menahan tawa. “Pfft. Ternyata kita memikirkan julukan yang sama. Tapi pendapatku masih belum berubah. Aku masih tak punya alasan untuk memusuhinya di sekolah” Aku biarkan Putri berfikir sejenak. Jika ia benar-benar menginginkanku untuk menjadi bagian dari aliansinya dalam melawan Milia, maka ia harus berusaha lebih untuk meyakinkanku. Sembari menunggu Putri berfikir, aku menayantap bakso yang daritadi sudah seperti melambai-lambaikan aromanya karena ingin dimakan olehku. Putri melihatku makan bakso dengan lahap, aku tak peduli karena aku sudah lapar daritadi. “Baiklah… mungkin belum saatnya kita membentuk aliansi. Perkiraanku salah, kupikir kamu sudah siap untuk memusuhi Milia. Aku berikan kamu cukup waktu untuk memikirkannya. Kamu bisa menemuiku jika nanti ternyata berubah pikiran” Putri berdiri dari kursinya, disusul oleh para dayang yang langsung mengerumuninya. “Aku pergi dulu. Pikirkanlah baik-baik. Aku punya harapan lebih padamu.” Ia tersenyum padaku. Aku masih tak tahu ada masalah apa antara Milia dan Putri, hingga ia perlu melibatkanku dalam hal itu. Kurasa inilah jalan yang terbaik, posisiku masih bisa netral. Setidaknya sampai aku mendapatkan lebih banyak informasi . Putri dan para dayangnya sudah menjauh, keadaan kantinpun menjadi ramai kembali. Beberapa siswa melirik penasaran padaku tapi tak berani bertanya lebih jauh mengenai kejadian tadi. Aku acuhkan saja mereka yang tak berarti di hidupku lalu aku fokus menghabiskan baksoku sebelum nanti dingin. “Luna!” Teriak Danis memanggil namaku dari kejauhan. Aku menoleh padanya. “Yo! Kenapa lo lama sekali sih, Nis. Bakso gue sudah mau habis nih. Buruan lo pesan makan sebelum waktu istirahat kita habis” Tanggapku santai. Begitu Danis mendekat, ia duduk di sampingku dan menggoyangkan badanku “Gue dengar lo dilabrak Putri! Apa yang terjadi sih, Na?” Danis terdengar sedikit panik. Aku tahu kekhawatirannya. Bahkan Danis yang berkedudukan sebagai seorang wakil ketua OSIS pun tak mungkin sanggup menentang Putri. “Lo salah paham. Nanti gue ceritakan. Lo pesen makan dulu aja, Nis” Balasku sambil kembali menyantap bakso yang tinggal tersisa beberapa suap lagi. “Ah! Lo santai banget sih, Na! Yang lo lawan itu Putri! Putri yang itu kan? Kok bisa-bisanya lo sesantai ini sih? Gue gak habis pikir sama lo” Danis menggaruk-garuk kepalanya karena stres mengkhawatirkanku. Aku jadi tersenyum melihat tingkah sahabatku yang sedang mengkhawatirkan keselamatanku ini. Aku menepuk pundak Danis yang terasa kaku karena cemas. “Tenang aja, Nis. Yang lo dengar itu hanya gosip. Putri memang datang menemuiku tadi. Kami hanya berbincang biasa, tidak ada pertikaian diantara kami. Apalagi dikatakan melabrak” “Beneran?” Tanya Danis yang masih tak percaya. “Beneran” Aku mengangguk lalu tersenyum padanya. Danis langsung lemas. Ia mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya. “Ih, lo bikin gue khawatir setengah mati. Tadi, begitu ada info itu masuk ke ruang OSIS, gue langsung meluncur ke sini dengan kecepatan 200 Km per jam” Candanya. “Halah lebay sekali sih lo. Cepat lo pesan makanan, gue yang traktir” Setidaknya dengan cara ditraktir makanan, pikiran Danis pasti akan menjadi lebih tenang. “Serius lo? Jangan tarik kata-kata lo barusan ya. Gue pesen sekarang, lo nanti yang bayar. Deal?” Ucapnya. Ia terdengar sumringah karena akan dapat traktiran dariku. “Tenang saja, gue yang bayar. Cepat pesan, sebentar lagi jam istirahat habis nih. Sekalian pesankan gue 1 bakso lagi. Semangkuk bakso segini, masih belum cukup di perut gue” Satu porsi bakso sudah habis ku santap tapi perutku tetap meminta tumbal makanan berikutnya. Sekalian saja ku minta Danis memesankan satu lagi untukku. “Okay, tunggu disini ya. Nanti gue juga mau dengar cerita kejadian sebenarnya dari lo” Danis beranjak dari kursi untuk memesankan bakso. Ia begitu bersemangat. “Ya. Cepat sana, enggak pakai lama ya” Ku pikir tidak masalah jika aku memberitahukan masalah tadi dengan Danis. Barangkali ia memiliki saran yang bagus. Setelah Danis kembali ke meja kami dengan membawa dua mangkok bakso, aku memutuskan untuk menceritakan kejadian sebelumnya dengan Milia dan Putri. Hasilnya seperti dugaan awal, Danis terkejut karena tak habis pikir dengan semua itu. “Terus, apa yang akan lo lakuin selanjutnya, Na?” Tanya Danis sedikit cemas. “Mengalir saja. Kalau tidak ada yang membuat masalah dengan gue, gue enggak perlu berbuat apapun. Ya, tapi itu juga tergantung situasinya sih” jawabku santai. “Iya, semoga aja enggak terjadi hal yang buruk” Danis memegang keningnya, tak habis pikir dengan kejadian itu. “Terus…bagaimana hasil pencarianmu di OSIS tadi?” Tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan kami. “Gue nemu beberapa kandidat yang sesuai kriteria lo. Sayangnya data mereka gue tinggal di kantor, gara-gara gue kesini setelah denger kasus di kantin tadi. Lain kali gue tunjukin foto-foto mereka deh” Ucap Danis yang kembali bersemangat. “Siapa saja, Nis? Coba sebutkan yang lo ingat” sahutku spontan yang tak sabar mendengar informasi darinya. “OK. Pertama Fajar Kurniawan dari kelas IPA 2. Dia tampan, tinggi dan kaya, punya banyak fans cewek di sekolah ini. Ayahnya bekerja di Duta besar Amerika. Gimana?” Danis menjelaskan dengan menggebu-gebu. “Pass! Yang ku cari bukan dia, gue tahu Fajar. Semester lalu dia pernah nembak gue menggunakan serangkaian bunga yang terbuat dari uang 100 ribuan. Menurut gue itu norak sih. Jadi gue tolak” Jawabku. “Lo sudah gila ya? Itu namanya romantis borjuis, Maemunah!” Danis mencubit lenganku karena gemas. “Seharusnya waktu itu lo terima uangnya terus berikan ke gue” Lanjutnya. “Haha. Mana bisa begitu, Dodol! Paling total uangnya hanya 1 jutaan saja. Lagi pula gue dengar dia itu seorang playboy. Ayo lanjut yang lainnya?” Di tambah lagi, berdasarkan informasi dari kehidupan pertamaku, Fajar tiba-tiba jatuh miskin setelah KPK menangkap ayahnya yang ternyata seorang koruptor kelas kakap. Setelah kejadian itu kehidupannya bisa dikatakan kacau. “Oke-oke. Selanjutnya Ahmad Febrianto dari kelas IPS 1. Dia seorang atlet basket sekaligus model majalah. Badannya bagus dan wajahnya tampan seperti artis Korea. Ku dengar ayahnya seorang pengusaha kayu yang sukses hingga menggaet pasar internasional.” Danis menggaruk-garuk keningnya. “Tapi tahun lalu kedua orangtuanya bercerai. Semenjak itu, dia jadi mudah emosi bahkan pernah dipanggil BK karena berkelahi dengan teman satu tim. Gue sih enggak menyarankan dia ke lo tapi…” Ucapan Danis terhenti, kemudian ia menatapku seraya berkata semoga yang dicari bukan orang ini. “Tenang, Nis. Yang gue cari bukan dia juga. Pria yang gue maksud itu sangat gentle dan memiliki karismatik yang membuat jantung berdebar-debar bila berada di dekatnya” Aku pasti akan menemukan dirinya selama masih ada di sekolah ini. Tak peduli meskipun nantinya aku harus memasuki tiap kelas satu persatu. “Syukurlah. Masih ada beberapa kandidat sih, tapi sebentar lagi sudah waktunya masuk kelas. Lanjut nanti lagi aja ya, Na?” Danis berdiri. Hanya tinggal beberapa orang yang masih ada di kantin. Aku mengangguk kemudian pergi ke kelas bersama Danis setelah membayar ke ibu kantin. Teeet! Bel masuk pelajaran kedua berbunyi nyaring. Aku dan Danis berjalan santai karena setelah ini pelajaran Bahasa Inggris Bu Rahma yang ramah dan tak pernah marah meskipun siswanya terlambat masuk kelas. Aku baru ingat mau menanyakan sesuatu ke Danis meskipun ku rasa ini tak terlalu penting. “Oh iya, Nis. Lo kenal yang namanya Rian dari kelas IPA? Gue enggak tahu dia IPA berapa. Yang jelas bukan Rian di IPA 1 kita loh.” Di sudut hatiku yang paling dalam, tergelitik untuk mencari tahu siapa Rian. Meskipun aku yakin dia bukan siapa-siapa karena aku tak memiliki memori tentangnya di kehidupan pertamaku. “Rian? Ada banyak yang namanya Rian. Setahu gue di angkatan kita yang namanya Rian ada 4. Tiga siswa dari IPA, satunya IPS. Apa ada ciri tertentu? Nanti gue cari tahu” Danis memang sahabat yang terbaik, bahkan mengajukan diri sebelum ku minta. Nama Rian memang termasuk nama pasaran di sekolah kami. “Ya. Sebenarnya dia enggak terlalu penting sih. Dia itu korban bully yang pernah gue tolong.” Ku yakin hubungan kami memang hanya sebatas itu saja. Tapi entah mengapa rasanya kemisteriusannya membuatku penasaran saja. “Owh. Okay. Dia jadi prioritas yang kesekian. Nanti gue bantu mencarinya berdasarkan urutan ya” Ucap Danis. “Sip. Terimakasih bestie gue yang paling cantik. Hehe” Aku merangkul Danis sambil jalan menuju kelas. Begitu masuk ke dalam kelas, wajah Milia berubah cemberut ketika melihatku. Memangnya kenapa? Aku sudah tidak peduli padamu. Jangan harap aku untuk meminta maaf seperti ketika di kehidupan pertamaku. Sudah cukup aku mengalah pada keegoisanmu yang tak berujung itu, Milia. Pelajaran di hari jumat memang biasa berakhir lebih cepat daripada hari lainnya. Saatnya aku pulang ke rumah dan menyiapkan berbagai hal untuk berinvestasi saham sesuai rencana. “Luna, gue duluan ya, ada rapat OSIS. Baru saja gue di SMS ketua” Ucap Danis yang sudah bersiap pergi. “Okay. Nanti kabar-kabar gue kalau ada info lebih lanjut ya” Aku mengangkat tangan kananku ke udara. Danis segera menepuk tanganku “Siap bestie” Danis keluar kelas bersama teman OSISnya yang sudah menunggu di depan kelas. Giliranku keluar kelas. Tiba-tiba dari belakang, Milia menyeretku ke lorong sebelah kelas. “Luna, apa yang tadi kamu bicarakan dengan Putri saat di kantin?” Ternyata hal ini yang membuatnya terlihat kesal daritadi. “Memangnya apa urusannya denganmu?” Tanyaku balik. “Kamu harusnya tahu kalau aku dan Putri dari dulu tidak ada kecocokan. Awas kalau kamu sampai lebih membela dia” Ancam Milia padaku dengan tatapan serius. Memangnya dia siapa, sampai berani mengancamku. “Kamu ada masalah apa sih sama Putri?” Ku coba menggali info lebih jauh, misteri Milia dan Putri yang saling benci. “Itu urusanku. Gara-gara kamu, aku harus mempercepat rencanaku” Milia menggigit ujung kuku jempolnya. Itu dilakukannya setiap kali ia merasa cemas. “Rencana? Heh! Apa yang sebenarnya kamu rencanakan?” Aku balik mendesak Milia. Ku remas kerah bajunya. Ia terkejut dan berusaha melepaskan diri dariku. Seketika HP Milia berbunyi, ia kemudian terlihat pucat. “Ka-kamu enggak perlu tahu. Kamu pulang lebih dulu saja. Aku ada acara ekstrakulikuler PMI. Nanti aku pulang pakai taksi.” Setelah mengatakan itu, ia segera pergi. Mencurigakan. Rencana apa yang dimaksud Milia tadi? Aku putuskan untuk mengikutinya dari belakang secara diam-diam. Milia berjalan ke gedung belakang sekolah yang sangat sepi. Di lorong itu, terlihat segerombolan pria dewasa layaknya preman. Apa yang sebenarnya akan dilakukan Milia dengan para preman itu? Sempat samar terdengar suara Milia, “Target kalian bernama Putri. Ini fotonya.” Gila! Apa yang mau dilakukan Milia pada Putri dengan meminta tolong pada segerombolan preman berwajah menyeramkan itu? Jangan-jangan…?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN