Pagi ini, Iluvia sudah siap dengan seragam sekolah nya. Alga juga sudah siap dengan style anak kampus. Alzee juga sudah siap dengan pakaian kantornya.
Setelah sarapan dan segala macam embel-embel dipagi ini, Iluvia, Alga, serta Alzee segera berpamutan kepada Irla untuk berangkat ke tujuan masing-masing.
Untuk soal mata Iluvia yang sudah pasti masih sembab, seluruh anggota keluarganya sudah mempertanyakan hal itu pada Iluvia, namun Iluvia memberi alasan bahwa ia menangis semalaman karena teman dekatnya saat SMP dulu baru saja pindah ke luar negeri, jadi temannya itu telah meninggalkan Iluvia dan Iluvia sedih lalu menangis bombay semalaman. Sungguh, kebohongan yang sangat haqiqi.
Sebenarnya Iluvia sangat malas untuk sekolah hari ini. Tapi berhubung ia tidak ingin ketinggalan pelajarannya Bu Emili, guru bahasa inggris yang super duper galak, jadi ia harus masuk sekolah untuk menghindari amarah dari Bu Emili. Kalau sampai ada murid yang tidak masuk pelajarannya dengan alasan izin atau sakit, padahal sudah mengirim surat atau memberi kabar, tetapi dia akan tetap marah. Katanya; "Why must it be during my lesson?" Oke, Guru Maha Benar.
Alga segera menancap gas menuju SMA Taruna Negara. Iluvia berusaha terlihat biasa saja didepan Alga agar Abangnya itu tidak curiga kalau sekarang ia sedang galau berat.
"Luv dinner semalem gimana?" tiba-tiba Alga menanyakan hal memuakam itu pada Iluvia.
"Kepo deh, kaya Dora." jawab Iluvia.
"Udah jadian kan lo pada?"
"Mata lu jadian!" Iluvia memutar bola matanya malas.
"Udah, jujur aja ah sama Abang sendiri juga."
"Enggak, Bang. Gak jadian." kata Iluvia dengan nada malas.
"Terus gimana?" ucap Alga lagi.
"Apanya yang gimana sih Bang?" Iluvia mengendus kesal.
Oke, Alga cukup mengerti sekarang. Keadaan Iluvia pasti sedang kacau, dan alasan yang diberikan Iluvia tentang pertanyaan mengapa matanya sembab begitu sepertinya bukanlah itu alasan sesungguhnya. Alga mulai mencurigai soal makan malam antara Adiknya dengan Arkan kemarin. Ada apa sebenarnya?
Akhirnya, mobil sport hitam dof milik Alga sampai didepan gerbang Taruna Negara. Setelah pamit pada Alga, Iluvia segera turun dari mobil, tapi sebelumnya Alga bilang:
"Belajar yang bener! Gak usah maen aja kerjaan lo. Disekolah waktunya lo fokus pada pelajaran, bukan pada masalah pribadi lo. Oke?"
Oke deh,
Oke.
Iluvia memasuki gerbang sekolah, menelusuri koridor untuk kemudian ia sampai ke kelasnya.
Iluvia menghembuskan napas kasar. Ia benar-benar tak tahu lagi bagaimana jadinya nanti kalau ia sampai bertemu dengan Arkan dan Lia yang nantinya hanya akan membuatnya menjadi sakit hati lebih dalam lagi.
Setelah gadis itu sampai dikelasnya, ia segera duduk dibangkunya. Tas ransel yang biasanya Lia kenakan belum ada dibangkunya, biasanya Lia akan datang lebih dulu dari Iluvia. Lalu, kemana Lia? Ah, biarkan saja.
Iluvia berusaha untuk tampil biasa saja ketika didepan Lia nanti, ia tak boleh marah atau apapun itu. Karena bagaimanapun Lia tidak salah, tidak sama sekali. Ini salahnya Iluvia, dia terlalu perasa.
Lamunan Iluvia tiba-tiba buyar saat ia mendengar suara Lia dari depan pintu kelas yang terbuka.
Lia,
Arkan.
Mereka ada disana. Didepan pintu kelas yang terbuka lebar sampai Iluvia dapat melihat dengan jelas keberadaan mereka disana.
Mereka sedang mengobrol, entah apa topiknya. Tapi yang jelasnya, Lia diantar oleh Arkan kekelas.
Oke, Iluvia, sabar. Dia tak boleh panas, jangan Iluvia jangan.
Huh, oke.
Iluvia mencoba mengalihkan pandangannya dari sana dengan cara menyibukkan diri dengan ponselnya. Sampai akhirnya, suara Lia membuatnya berhenti melakukan aktivitasnya itu.
"Serius amat sih." kata Lia terkekeh, lalu duduk disamping Iluvia.
Iluvia melihat sebentar wajah sahabatnya itu, lalu ia tersenyum simpul.
"Pulang sekolah anterin gue ke Gramed yuk, ada yang mau gue beli." kata Lia lalu melepaskan tas ransel dari punggungnya.
"Nggak bisa kayanya." sahut Iluvia masih tetap pada ponselnya.
"Yailah, ayuk lah..."
"Gimana ya,"
"Luv?"
Iluvia melihat kearah Lia yang sedang memasang jurusnya, puppy eyes. "Please." rengeknya.
"Sorry ya Ia, gue nggak bisa." kata Iluvia lalu fokus lagi pada ponselnya.
Lia menghela napas berat. "Seriusan nih lo tega liat gue pergi sendirian?"
Sendirian? Sebentar... Bukankah Lia tidak jomblo lagi sekarang, lalu mengapa dia tidak pergi bersama pacarnya saja? Bukankah hal itu lebih etis untuk kaum-kaum macamnya yang notabenenya memiliki seorang pacar? Iya tidak?
"Luv..." Lia merengek lagi pada Iluvia.
Jika begini, Iluvia menjadi tak tega melihat Lia seperti itu. Lagian kan bukannya Iluvia sudah berjanji untuk bersikap biasa saja kepada Lia dengan apa yang sudah terjadi dengan semuanya? Lalu mengapa sekarang ia bersikap seperti orang tidak kenal dengan sahabatnya sendiri? Oke maaf kalau begitu, Iluvia terlalu terbawa perasaan berarti.
"Mau ya Luv ya?"
"Yaudah iya." kata Iluvia lalu memutar bola matanya malas.
"Nah, gitu dong." lalu Lia menyengir lebar memamerkan deretan gigi putihnya.
~~~
Ketika jam istirahat, Iluvia dan Lia pergi kekantin untuk memenuhi kemauan perut mereka. Mereka duduk dibangku kantin paling pojok karena memang hanya disitu yang tersisa.
Kantin itu jika sudah jam istirahat sangatlah ramai, bahkan secepat kilat. Jadi yang datangnya tidak tepat waktu, siap-siap saja untuk tidak kebagian tempat. Padahal area kantin cukup luas, namun nampaknya masih kurang luas saja kalau dipikir-pikir karena mayoritas murid yang jika istirahat pada memilih untuk langsung menempatkan diri dikantin. Perpustakaan mah kosong, itu dinomorduakan oleh mereka. Eh tidak, perpustakaan juga selalu ramai karena jaringan wifi yang sangat kencang.
Jadi jika mereka betah dikantin karena kantin adalah gudangnya makanan, lalu mereka juga betah diperpustakaan karena adanya jaringan wifi yang kencang, mendukung secara antusias untuk semua murid bermain internet diponselnya dengan sesuka-suka hati mereka, gratis tis tis tis.
"Luv?" ucap Lia saat mereka sudah menikmati jajanan kantin mereka masing-masing.
Iluvia menoleh ke Lia, "Ya?" katanya lalu meminum es bubble nya.
"Arkan sama Dirga dimana ya?"
Pertanyaan itu langsung membuat nafsu makan Iluvia menjadi hilang seketika. Bakso dihadapannya jadi terlihat seperti batu krikil sekarang.
"Nggak tau." kata Iluvia seadanya lalu berdiri dari duduknya, "Gue mau bayar bakso dulu."
"Eh eh, Luv!" Lia berseru.
"Kenapa?"
"Gue aja yang bayarin, itung-itung gue nraktir lo deh!" katanya lalu Lia beranjak pergi ke stand Bakso Kang Ari.
Iluvia duduk lagi dibangku kantin dengan perasaan yang sangat amat tersesak.
Lia menraktir Iluvia? Ya. Jadi apa artinya? Itu dianggap sebagai Pajak Jadian antara Lia dan Arkan untuk Iluvia. Sip sekali, hati Iluvia teriris.
Tak lama Lia kembali lagi. "Yuk," katanya lalu Iluvia pun berdiri.
Mereka berjalan keluar kantin, menelusuri koridor menuju kelasnya.
"Kekelas Arkan yuk?" ucap Lia ditengah perjalanan.
Iluvia seolah diajak untuk terjun kejurang yang sangat dalam rasanya. Mau apa mengajak Iluvia kekelas Arkan? Memanas-manasinya?
"Ngapain?" kata Iluvia.
"Ya nggak, udah lama kita nggak kumpul berempat. Terakhir waktu kita main hujanan itu,"
Iluvia jadi teringat hari itu. Hari dimana ia merasa menjadi orang yang asing dimata Arkan karena Arkan marah besar kepadanya. Namun sekarang kondisi itu nampaknya telah kembali padanya. Ia kembali menjadi orang asing bagi Arkan, dengan alasan; Arkan sudah milik sahabatnya, dan Iluvia harus menjauh dan harus mengubur perasaannya dalam-dalam. Ia tak mau harus menanggung sakit yang lebih menggebu lagi dari ini. Sudah, cukup ia tak sanggup.
"Lo aja deh ya, gue capek pengen dikelas aja." kata Iluvia dengan raut wajah malas.
"Yaudah deh, nggak jadi."