Realita

1932 Kata
Arkan segera membawa Iluvia dengan mobil sport kesayangannya ketempat tujuan. Malam ini Arkan memperlakukan Iluvia dengan sangat manis. Mampu membuat Iluvia serasa menjadi Cinderlella, seriusan. Tadi, Arkan membukakan pintu mobil untuk Iluvia masuk dan segera duduk dibangku sebelah pengemudi, lalu Arkan memakaikan seatbelt kspada Iluvia. Setelah sampai disalah satu restoran yang menjadi tujuan Arkan malam itu, mereka segera turun dari mobil dengan catatan; Arkan melepaskan seatbelt Iluvia lagi lalu membukakan pintu mobil untuk Iluvia keluar dari dalam mobil. Iluvia juga tak mengerti mengapa perlakuan Arkan padanya bisa berubah drastis begini. Arkan menyikukan lengannya dengan tujuan agar Iluvia segera merangkulnya.  Oke, Iluvia merangkul lengan Arkan dan dengan secepatnya Arkan memamerkan senyum manisnya pada Iluvia. Mereka berjalan dengan santai kedalam restoran yang terbilang mewah itu. Ketika mereka menginjakkan kaki didalam restoran itu, dengan seketika hampir seluruh pasang mata para pengunjung melihat kearah mereka berdua, mereka menjadi tontonan bagi pengunjung restoran itu dan sukses membuat Iluvia menjadi semakin kikuk berjalan disamping Arkan. Arkan membawa Iluvia menuju taman belakang resto itu. "Kenapa jauh banget ke taman?" tanya Iluvia bingung. "Gue udah nyiapin tempat khusus buat kita dinner malem ini." kata Arkan yang membuat Iluvia seratus persen tercengang. Sahabatnya itu masih masih waras kan? Sesampainya ditaman belakang resto, Iluvia dibuat terbelalak karena langsung disajikan dengan pemandangan yang super duper indah. Taman yang cukup besar itu dihiasi dengan sekumpulan lampu tumblr berwarna kuning keemasan, ditambah lagi ada bunga-bunga bertaburan berbentuk LOVE. Lalu ada satu meja makan berbentuk bulat, dan sepasang kursi dibawah pohon yang rindang. Disudut taman ada ayunan yang cantik sekali karena dihias dengan lampu tumblr berwarna-warni yang terang menyala membuat Iluvia jadi ingin sekali naik diayunan itu. Diatas meja makan bulat itu sudah tersedia 2 porsi makanan dan 2 porsi minuman dan ditengahnya ada lilin berbentuk love. Ya Allah, Arkan lagi kerasukan apaan nih? Setelah beberapa detik Iluvia seolah dibuat kehilangan kesadarannya karena takjub dengan semua ini, akhirnya suara Arkan mengembalikannya kealam sadar. "Eh," "Yuk." Arkan melangkah masuk kedalam taman itu dan duduk dikursi makan. "Gimana? Lo suka?" tanya Arkan setelah mereka berdua sudah duduk sempurna dikursi. Punggung tangan Iluvia ditempelkan kekening Arkan. "Lo gak lagi sakit kan?" katanya setelah itu. "Apaan sih ya enggak lah. Gimana lo suka gak?" kata Arkan setelah terkekeh. "Ya-- suka, banget malah." "Taman ini tuh gue design khusus buat malem ini." ucap Arkan lalu tersenyum. Iluvia mengernyit, "Dalam rangka?" Arkan langsung memegang tangan Iluvia dan mengajaknya berdiri, Arkan tersenyum sebentar lalu membawa Iluvia berjalan ketengah bunga bertaburan yang berbentuk love. Tapi apa ini? Jangan bilang Arkan mau menyatakan cinta pada Iluvia? Ah, yang benar saja. Arkan memegang kedua tangan Iluvia dan menatapnya dengan penuh arti. Iluvia membalas tatapan Arkan dengan grogi, degdegan, sekaligus senang plus bahagia dunia akhirat. "Gue gak tau lagi gimana gue bisa ngejelasin semuanya. Tapi dengan adanya semua ini gue harap lo ngerti." kata Arkan dengan sangat amat lembut nan manis. Kini Iluvia sulit sekali untuk membuka mulutnya. Jangankan membuka mulut, untuk bernapas saja terasa sangat sulit. "Gue suka sama lo, gue sayang sama lo, gue cinta sama lo." ucap Arkan, menatap Iluvia dengan dalam. Iluvia mengembangkan senyumnya dengan perasaan sangat sangat tak menyangka. Ia terkejut, namun bahagia setengah mati. Apakah penantiannya selama ini akan berakhir dengan kebahagiaan? Apakah seluruh perasaan yang ia pendam selama ini akan terbalas? Dan kemungkinan ketiga, apakah ini hanya mimpi diwaktu tidur karena Iluvia terlalu larut dalam kenyenyakan tidurnya? "Lo mau ga jadi pacar gue... Lia?" Tunggu, tunggu... Apa tadi? Lia? "Lia?" dengan ekstra keseluruhan jiwanya, akhirnya Iluvia bisa angkat bicara. "Gimana, Luv?" kata Arkan lalu melepaskan tangan Iluvia. "Hah?" "Iya, gimana? Keren gak?" kata Arkan lagi lalu tersenyum. "Maksudnya apa?" "Ini semua tuh buat Lia. Tadi gue cuma latihan aja, jadi yang mau gue ceritain waktu itu tentang perasaan gue ke Lia, dan gue takut Lia diambil sama gebetannya, jadinya gue beraniin diri buat nembak dia malem ini. Nanti dia dateng." kata Arkan lalu tersenyum, tersenyum tanpa dosa. Ternyata ketiga kemungkinan tadi tidak ada yang tepat. Penantiannya tak berujung bahagia, perasaannya juga tak kunjung berbalas, dan juga ini bukan mimpi. Ini kenyataan, kenyataan yang sangat membuat Iluvia tumbang detik itu juga. Iluvia selama ini salah karena sudah menjatuhkan hatinya kepada Arkan, dia benar-benar salah. Dia benar-benar bodoh sekali selama ini. Mengapa ia tak pernah sadar kalau orang yang ia cinta, orang yang ia sayang, orang yang selalu menjadi cerita antara dia dan Abangnya selama ini ternyata suka dengan sahabatnya sendiri. Sahabat yang dekat sekali dengannya, sahabat yang tak kenal jaim lagi jika sudah bersamanya, sahabat yang jika salah satunya mendapat hukuman lalu keduanya akan menjalankan hukuman itu dengan bersama, sahabat yang selalu cerita tentang semua hal yang sebenarnya tak perlu diceritakan, sahabat yang menjadi salah satu semangatnya untuk pergi ke sekolah, sahabat yang selalu ada, sahabat yang benar-benar real. Arkan suka sama Lia? Lalu mengapa selama ini Iluvia tidak pernah menyadarinya? Ia merasa sudah menjadi orang yang paling bodoh dimuka bumi. Air mata Iluvia pun mulai menetes dengan sendirinya. Iluvia tak tahu harus berusaha bagaimana lagi untuk menahan air matanya agar tak usah keluar, ia benar-benar tak mampu. Iluvia benar-benar tak mampu untuk berkata apa-apa lagi. Iluvia benar-benar tak mampu untuk menatap kedua mata Arkan yang indah itu lagi. Iluvia benar-benar tak mampu lagi untuk tersenyum disuatu keadaan dimana ia sudah mengetahui yang sebenarnya, yang telah membuat hatinya menjadi rapuh serapuh-rapuhnya. Iluvia benar-benar tak mampu lagi untuk menerima. Menerima kenyataan. Kenyataan yang teramat pahit ini. Iluvia tak mampu, dia tak sanggup, dia tak bisa. Sungguh. Cabutlah nyawanya saja, itu lebih baik sepertinya dibandingkan dengan dia harus menerima semua kenyataan ini. Dengan lirih Iluvia menatap Arkan sambil menangis. "Luv, lo kenapa?" Gue benci diri gue sendiri, Arkan. gumamnya pahit. "Luv?" ucap Arkan lagi, memastikan bahwa Iluvia baik-baik saja. Air mata Iluvia malah semakin deras dan gadis itu benar-benar tak tahu malu kali ini. Arkan mengusap air mata Iluvia. "Hey, kenapa?" katanya lembut. "Gue bahagia." kata Iluvia, lalu menepis tangan Arkan dari pipinya. "Gue bahagia lo udah nemuin orang yang lo cari selama ini." katanya lagi lalu tersenyum. Arkan tersenyum lalu sedetik kemudian menarik Iluvia kedalam pelukannya, "Makasih, Luv. Lo emang sahabat terbaik gue." "Gue beruntung banget bisa punya sahabat kaya lo Luv. Makasih ya udah jadi sahabat yang bener-bener ada buat gue. Gue sayang sama lo, Luv." kata Arkan lagi lalu mengeratkan pelukannya. Tapi, tunggu. Coba ulangi? Arkan sayang dengan Iluvia? Ya Iluvia tahu itu, rasa sayang Arkan pada dirinya hanya sekedar sayang sebagai sahabat, tidak lebih dan Iluvia cukup mengerti semua itu. "Gue pulang." kata Iluvia lalu melepaskan pelukan Arkan. "Eh nanti dulu, menurut lo gue bakalan diterima nggak sama Lia?" tanya Arkan. Hati Iluvia terasa teriris detik itu juga. Namun ia mencoba membuat lekukan senyum dibibir tipisnya, "Pasti kok." kata Iluvia dengan senyum palsunya. "Semoga deh. Oh iya, lo balik sama siapa?" kata Arkan. "Bang Alga udah nyuruh gue buat--" "Banyak taxi online." kata Iluvia memotong ucapan Arkan. "Jangan naik taxi, gue telpon Abang aja ya? Atau minta jemput Dirga? Dia ada dirumah kok." kata Arkan lagi. "Gak usah makasih. Gue bisa balik sendiri." kata Iluvia. Iluvia mengelus lengan Arkan dengan lembut, "Semoga sukses ya, Kan!" lalu ia tersenyum pahit, "Doa gue selalu menyertai lo." katanya lalu beranjak melangkah pergi meninggalkan Arkan. Namun belum sempat ia melangkah, tangan Arkan berhasil menarik Iluvia kedalam pelukannya lagi. "Luv, makasih banget ya." katanya lalu mengelus rambut Iluvia. Sungguh, Iluvia sangatlah larut didalam kesedihan ini. Ia menangis samar didalam pelukan Arkan, ia memeluk tubuh lelaki idamannya itu yang beberapa jam lagi akan dimiliki oleh seseorang yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. Dan mungkin ini adalah terakhir kalinya ia bisa berpelukan dengan Arkan. Iluvia melepas pelukan Arkan. Ia tersenyum memandang Arkan yang sudah memancarkan wajah kebahagiaan. "Gue pulang ya." kata Iluvia lalu tersenyum. Arkan menghapus air mata Iluvia, lalu tangannya mengelus puncak kepala Iluvia. "Hati-hati, ya." katanya tersenyum. Kemudian Iluvia berjalan pelan keluar dari taman itu, meninggalkan Arkan yang sedang menunggu kehadiran Cinderlella yang sesungguhnya; Lia. ~~~ Kini semuanya telah berakhir. Semua kepupusan yang Iluvia pikir hanya keputusasaan semata ternyata semuanya terjadi. Iluvia merasa telah menjadi orang yang tak berguna sama sekali, dan bodoh. Bisa bisanya ia bertahun-tahun menyimpan perasaan kepada orang yang dari awal pun ia tahu bahwa sampai kapanpun ia tak akan pernah bisa bersanding dengannya. Iluvia berjalan keluar restoran dengan tiada semangat sama sekali. Ia memesan taxi online dan sudah datang, lalu ia segera naik dan driver pun menjalankan mobilnya menuju rumah Iluvia. Beberapa menit kemudian, mobil taxi itu sudah sampai didepan gerbang rumah Iluvia. Iluvia segera bayar lalu turun. Iluvia berjalan menuju pintu rumahnya yang sudah tertutup, lalu ia membuka pintu dan masuk. Saat ia melintasi ruang TV, langkahnya terhenti akibat suara pekikan dari Alga yang sedang menonton acara bola. "Eh, udah balik. Gimana dinnernya? Apa kesan pesannya?" kata Alga. "Gue capek, mau tidur." kata Iluvia lalu melanjutkan langkahnya menuju kamarnya, tidak menghiraulan Alga sama sekali. Sesampai dikamar, Iluvia langsung duduk ditepi kasur. Ia menangis lagi disana. Iluvia masih ingat jelas kejadian tadi. Sangat sangat menyakitkan untuk dirinya dan untuk siapapun yang sedang atau pernah mengalami kejadian sepertinya. "Lia... Lo beruntung banget bisa dapetin Arkan. Gue ikut seneng kalo kalian bahagia walaupun sebenernya gue rapuh parah. Lia, gue gak marah sama sekali sama lo kalo lo nerima Arkan jadi pacar lo karena memang lo belum tau perasaan gue ke Arkan yang sebenernya gimana. Tapi yang perlu lo tau sekarang, gue gak akan ngusik kebahagiaan kalian berdua sedikitpun. Gak akan." Iluvia bersuara dengan lirih, matanya tak henti mengeluarkan air mata kesedihan. "Selamat berbahagia, Lia." katanya lagi lalu tersenyum pahit. Iluvia beranjak dari duduknya untuk membersihkan badannya lalu mengganti dress kebanggaannya dengan baju tidur. Setelah sudah, ia segera merebahkan tubuhnya dikasur dan menarik selimut tebalnya. Kedua mata Iluvia sudah bengap akibat kebanyakan menangis. Iluvia mencoba untuk tidur, memaksakan untuk memejamkan matanya berkali-kali, tapi tetap ia tak bisa tidur dan tak bisa berhenti menangis. Ia beranjak bangun dari kasurnya, lalu duduk di single sofa kamarnya. Kalau dipikir-pikir, buat apa tadi Iluvia kegirangan saat Arkan mengajaknya dinner? Toh, Arkan mengajaknya hanya untuk latihan untuk dia menyatakan perasaannya pada Lia. Buat apa Iluvia berbelanja mengelilingi mall sampai lama sekali? Buat apa Iluvia pergi kesalon hanya untuk terlihat cantik dihadapan Arkan? Kalau itu semua berujung dengan pahit, sangat pahit. Dia hanya menjadikan Iluvia sebagai bahan untuk dia latihan menyatakan perasaannya pada Lia. Iluvia mengambil buku diary nya didalam laci nakas, berjalan kemeja belajarnya dan menuliskan sesuatu didalam buku curahan hatinya itu. Selasa, 12 Juni 2018. Arkan... Lo tau betapa senengnya gue saat denger lo ngajak gue dinner? Lo tau betapa besarnya usaha gue supaya gue keliatan cantik saat ketemu lo dan dinner sama lo? Lo tau betapa bahagianya hati gue saat gue denger lo nyatain cinta? Lo tau betapa deg degan nya gue saat lo megang erat kedua tangan gue? Lo tau kalo jantung gue mau copot saat lo natap gue dengan amat penuh arti? Dan lo tau betapa rapuhnya gue saat gue denger dikata-kata romantis yang lo kasih ke gue, dan dibagian akhir lo sebut nama (Lia)? Lo tau betapa sakitnya gue saat gue tau ternyata gue cuma dijadiin bahan lo untuk lo latihan buat nembak Lia? Gue juga punya perasaan... Dan mulai detik ini juga, gue akan menjauh dari lo. Gue akan pastiin kalo gue nggak akan pernah ganggu kebahagiaan lo dan Lia, sedikitpun. Terimakasih untuk semua luka. -Iluvia, 2002. ~~~ Hujan turun deras ditengah malam begini. Iluvia yang hanya bisa tiduran bersama selimutnya yang setia membungkus tubuhnya hingga kini. Gadis cantik itu masih belum berhenti menangis sampai detik ini. Hujan, mari... Temani gadis malang itu malam ini. ~~~ "Hujan selalu membuat orang menghindar, tetapi membuat kau menghadir. Aku menatap hujan, kau menetap diingatan. "
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN