Malam itu, Maya tidak tidur. Bukan karena dia tidak bisa—kesadaran-nya masih bisa melayang antara sadar dan tidak sadar, antara bermimpi dan terjaga. Tapi karena dia takut. Takut akan mimpi yang mungkin datang, takut akan keheningan yang terlalu keras, takut akan kenyataan yang sudah mulai terbentuk di pikirannya.
Sari.
Nama itu bergema dalam kepalanya seperti lagu yang tidak bisa berhenti. Bukan nama yang asing—nama yang common, nama yang friendly. Nama yang tidak mengancam jika diucapkan dalam konteks lain. Tapi sekarang nama itu terasa seperti mantra yang mengubah segalanya.
Maya mencoba membayangkan wajah di balik suara itu. Suara yang lembut tapi tegas, suara yang terlatih untuk menenangkan orang-orang dalam kondisi sulit. Perawat, kata Arya. Seseorang yang pekerjaannya adalah menyembuhkan, merawat, mengasuh. Seseorang yang terlatih untuk memberikan kenyamanan yang tidak bisa Maya berikan.
Ironi yang menyakitkan.
Jam tiga pagi, Maya mendengar langkah kaki perawat shift malam yang melakukan ronda. Langkah yang familiar, rutinitas yang sudah dia hafal. Tapi malam ini, bahkan suara-suara yang familiar terasa asing. Seolah dunianya sudah bergeser sedikit dari porosnya, dan semuanya tidak lagi berada di tempat yang seharusnya.
Maya berpikir tentang tiga bulan terakhir dengan perspektif baru. Semua perubahan kecil dalam perilaku Arya yang dia atributkan pada kelelahan atau stress pekerjaan. Ternyata ada explanasi yang lebih sederhana dan lebih menyakitkan: ada seseorang yang membuat Arya ingin pulang lebih cepat, seseorang yang membuat ponselnya berdering dengan nada berbeda, seseorang yang membuat langkahnya lebih ringan ketika dia meninggalkan rumah sakit.
Coffee shop dekat kantorku, kata Arya kemarin. Tiga bulan yang lalu.
Maya mengingat hari-hari yang lalu. Apakah Arya pernah bercerita tentang coffee shop baru yang dia temukan? bercerita tentang kopinya yang enak? tentang bagaimana dia mulai rutin mampir di sana? Maya sama sekali tidak tahu bahwa di coffee shop itu, Arya bertemu dengan seseorang yang akan mengubah segalanya.
Setelah shift malam, tambah Sari kemarin.
Arya dan Sari bertemu di pagi hari, ketika satu sedang memulai hari dan yang lain sedang mengakhiri shift malam. Keduanya mungkin lelah dengan caranya masing-masing—Arya dengan beban mentalnya, Sari dengan kelelahan fisik setelah bekerja seharian di rumah sakit. Dan dalam kelelahan itulah mereka menemukan kenyamanan pada satu sama lain.
Maya bisa membayangkan pertemuan pertama mereka. Arya yang memesan kopi dengan cara yang sama seperti yang selalu dia lakukan—double shot espresso, no sugar, sedikit s**u. Sari yang mungkin memesan sesuatu yang menghangatkan, sesuatu yang bisa membantunya relax setelah shift yang panjang. Mereka mungkin mulai dengan small talk—tentang cuaca, tentang kopi, tentang betapa lelahnya mereka berdua.
Lalu, mungkin, Arya menyebutkan tentang istrinya yang sedang koma. Mungkin dia membutuhkan seseorang untuk diajak bicara, seseorang yang tidak kenal kisah mereka, seseorang yang bisa mendengar tanpa pengakiman atau belas kasihan yang biasa dia dapatkan dari keluarga dan teman lama.
Dan Sari, dengan profesinya sebagai perawat, mungkin menjadi pendengar yang sempurna. Dia dilatih untuk berempati, dilatih untuk memberikan kenyamanan, dilatih untuk tidak memberikan nasihat yang tidak diminta tetapi hanya memberikan kehadiran yang mendukung.
Dari situ, mungkin, semuanya berkembang secara natural. Coffee shop meetings yang menjadi lebih sering. Percakapan yang menjadi lebih dalam. Emotional connection yang mungkin tidak mereka sadari sedang terbentuk sampai terlambat untuk dihentikan.
Maya tidak bisa menyalahkan mereka. Itu yang membuatnya semakin frustasi.
Jika Sari adalah tipe wanita yang manipulatif, yang sengaja mengincar pria menikah yang rentan, Maya bisa membencinya dengan kebencian murni. Jika Arya adalah tipe pria yang mudah bersembunyi, yang sengaja mencari pelarian dari situasi sulit, Maya bisa marah dengan kemarahan yang wajar.
Tapi dari percakapan kemarin, Maya tahu bahwa keduanya adalah orang baik yang terjebak dalam situasi rumit. Sari tidak mencoba merebut Arya—dia bahkan menyarankan Arya untuk tidak merasa bersalah, yang ironis membuat Maya lebih sulit untuk membencinya. Arya tidak mencari perselingkuhan—dia bergulat dengan rasa bersalah dan kesetiaan, yang menunjukkan bahwa dia masih peduli dengan Maya dan pernikahan mereka.
Tapi kepedulian tidak selalu cukup untuk melawan kesepian yang mendalam.
Maya mengingat kata-kata Sari: "Perasaan bukan pengkhianatan, Arya. Kamu manusia. Kamu punya hak untuk bahagia."
Secara logis, Maya tahu bahwa Sari benar. Arya sudah mengorbankan tujuh tahun hidupnya untuk menunggu Maya. Dia berhak untuk mencari kebahagiaan, berhak untuk merasakan cinta lagi, berhak untuk memiliki kehidupan yang normal.
Tapi secara emosional, Maya merasa seperti sedang dirobek hidup-hidup.
Dia mencintai Arya. Masih mencintainya dengan intensitas yang sama seperti hari terakhir sebelum kecelakaan. Dan cinta itu tidak berkurang hanya karena dia tidak bisa menyalurkannya. Jika ada, cinta itu menjadi lebih terkonsentrasi, lebih murni, karena itu adalah satu-satunya hal yang masih berfungsi dengan sempurna di dalam tubuh yang rusak.
Tapi cinta yang tidak bisa dibalas, cinta yang tidak bisa diekspresikan, cinta yang hanya bisa dirasakan tanpa bisa dibagi—apakah itu masih cinta, atau sudah menjadi bentuk penyiksaan?
Jam lima pagi, Maya mendengar suara hujan mulai turun. Derai lembut di jendela yang biasanya membuatnya terasa damai. Tapi pagi ini, hujan terdengar seperti soundtrack untuk kesedihan yang tidak bisa dia tangisi.
Maya berpikir tentang masa depan. Tentang kemungkinan bahwa Arya akan semakin jarang datang. Tentang kemungkinan bahwa suatu hari Arya akan datang untuk mengatakan selamat tinggal, bahwa dia sudah menemukan kebahagiaan di tempat lain. Tentang kemungkinan bahwa Maya akan menghabiskan sisa hidupnya—entah berapa lama itu—terjebak dalam tubuh yang tidak berfungsi, dengan memori tentang cinta yang sudah tidak ada lagi.
Atau lebih buruk lagi: kemungkinan bahwa Arya akan tetap datang karena rasa bersalah, akan tetap mengunjunginya karena kewajiban, tapi tidak lagi karena cinta. Maya akan menjadi beban moral yang harus dia tanggung, pengingat tentang kehidupan yang tidak bisa dia tinggalkan sepenuhnya tapi juga tidak bisa dia jalani lagi.
Maya tidak tahu mana yang lebih menyakitkan: ditinggalkan atau dijadikan burden.
Pagi berganti siang tanpa Arya datang. Maya tidak tahu apakah dia sedang dengan Sari, atau sedang bekerja, atau sedang mencoba mengurutkan perasaannya. Yang Maya tahu adalah bahwa ketiadaan Arya terasa lebih berat hari ini, karena sekarang dia tahu alasan di balik absence itu.
Sore hari, Maya mendengar suara ponsel berdering—ponsel yang biasanya hanya berdering untuk alarm obat atau call dari dokter. Tapi kali ini ringtone-nya berbeda. Seseorang menelpon
Suara langkah perawat yang mendekat, kemudian suara tombol yang ditekan.
"Halo? Ini dari rumah sakit, siapa ya?"
"Oh, halo. Ini Arya, suami pasien Maya Sari. Apa saya bisa bicara dengan dokter yang menangani istri saya?"
Monitor detak jantung Maya mulai berbunyi bip lebih cepat. Arya menelepon, tapi tidak datang. Ada urgensi dalam suaranya yang membuat Maya gugup.
"Baik, pak. Sebentar saya sambungkan ke dokter Sari."
Menunggu. Maya bisa merasakan kecemasannya meningkat. Kenapa Arya tidak datang langsung? Kenapa dia harus menelepon dokter? Ada apa?
"Halo, pak Arya? Ini dokter Nirmala. Ada yang bisa saya bantu?"
"Dok, saya ingin menanyakan tentang kemungkinan pemulihan Maya. Secara realistis, berapa persen kemungkinan dia bisa... bisa kembali normal?"
Pertanyaan yang Maya takut untuk mendengar jawabannya.
"Pak Arya, seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, kondisi Maya memang... challenging. Ada kemajuan dalam responsif neurologis, tapi untuk pemulihan motorik dan verbal... kemungkinannya memang kecil. Mungkin 15-20 persen dalam kondisi terbaik."
15-20 persen.
Maya merasakan sesuatu yang hancur di dalam dadanya. Selama ini dia berharap tanpa mengetahui odds yang sebenarnya. Sekarang dia tahu: kemungkinan dia akan kembali normal sangat kecil. Kemungkinan dia akan selamanya terjebak dalam kondisi seperti ini sangat besar.
"Dan jika... jika dia tidak pulih, berapa lama biasanya pasien dalam kondisi seperti ini bisa...?"
"Bisa hidup? Dengan perawatan yang tepat, bisa bertahun-tahun, pak. Bahkan dekade. Tubuhnya secara fisik masih kuat."
Dekade. Maya bisa hidup dalam kondisi seperti ini selama dekade.
Dan Arya... Arya tidak bisa menunggu selama itu.
"Terima kasih, dok. Itu... itu informasi yang saya butuhkan."
Panggilan berakhir. Dan Maya tahu, dengan kepastian yang menakutkan, bahwa Arya baru saja yang mengambil keputusan.
Keputusan untuk tidak menunggu lagi.
Keputusan untuk mulai membangun kehidupan baru.
Keputusan untuk meninggalkan.
Dan Maya, terjebak dalam tubuhnya yang tidak berfungsi, tidak bisa melakukan apapun selain mendengar, merasakan, dan menerima secara perlahan bahwa cinta terkadang tidak cukup untuk melawan kenyataan yang terlalu berat untuk ditanggung sendiri.