Bab 5: Suara Ketiga

1283 Kata
Ada warna baru dalam keheningan hari Selasa. Maya sudah terbiasa dengan simfoni rumah sakit—orkestra peralatan medis yang berdengung, langkah kaki perawat yang berirama, percakapan samar dari koridor yang terasa seperti radio dengan volume rendah. Tapi pagi ini, ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang membuatnya merasa seperti sedang menunggu badai yang belum terlihat di cakrawala. Cahaya matahari pagi masuk melalui tirai setengah terbuka, menciptakan pola-pola geometris di dinding putih. Maya sudah hafal setiap sudut ruangan ini, setiap retakan kecil di langit-langit. Rutinitas yang sama, hari demi hari—sampai hari ini. Arya datang tepat waktu untuk pertama kalinya dalam seminggu. Langkah kakinya terdengar lebih ringan, ada bounce kecil di setiap hentakan sepatunya di lantai keramik. Maya mencoba mengingat kapan terakhir kali dia mendengar Arya berjalan dengan energi seperti itu. "Selamat pagi, sayang." Kata 'sayang' itu masih ada, tapi terasa berbeda. Seperti kebiasaan lama yang diucapkan tanpa beban emosional yang biasa menyertainya. Seperti salam pada tetangga yang sudah lama tidak ditemui—sopan, familiar, tapi distant. "Aku membawa teman hari ini. Dia ingin... eh... dia ingin melihat bagaimana kondisimu." Maya merasakan sesuatu yang dingin merambat di tulang belakangnya. Teman. Dalam tujuh tahun pernikahan mereka, Apakah Arya pernah membawa 'teman' untuk melihat kondisi Maya?. Keluarga, ya. Rekan kerja? mungkin saja, untuk menunjukkan solidaritas. Tapi teman? Dengan nada suara yang sedikit gugup seperti itu? Ada jeda sebelum kata 'teman', seperti Arya sedang mencari kata yang tepat tapi tidak menemukannya. Langkah kaki kedua. Lebih ringan, lebih berhati-hati. Hak sepatu yang tidak terlalu tinggi, tapi cukup untuk menciptakan bunyi klik-klik kecil di lantai. Langkah seorang wanita. Maya bisa merasakan perubahan atmosfer di ruangan. Ada energi baru—feminin, nervous tapi excited. "Maya, ini Sari. Sari, ini Maya... istriku." Istriku. Dua kata yang diucapkan dengan penekanan aneh, seperti seseorang yang sedang mengingatkan dirinya sendiri akan sebuah fakta. "Halo, Maya." Suara itu—lembut, hangat, dengan sedikit tremor yang mengkhianati kegugupan. Suara yang lebih muda dari Maya, mungkin akhir dua puluhan. Ada kualitas musical di dalamnya, nada yang naik turun dengan natural, tidak dibuat-buat. Suara seseorang yang terbiasa berbicara dengan anak-anak atau orang-orang yang membutuhkan ketenangan. Suara yang indah. Maya membenci dirinya sendiri karena mengakui itu. "Arya sudah banyak bercerita tentangmu. Tentang bagaimana kalian dulu... tentang kecelakaan itu..." Maya merasakan sesuatu yang terbakar di dadanya. Arya bercerita tentang mereka? Tentang kecelakaan? Kepada wanita ini? Seorang 'teman' yang bahkan tidak Maya kenal namanya sampai seminggu yang lalu? Detail-detail pribadi mereka, memori-memori yang sakral—semuanya sudah dibagi dengan orang lain. "Kamu cantik sekali." Kalimat itu diucapkan dengan tulus, tanpa kepura-puraan. Dan entah mengapa, justru itu yang membuat Maya semakin sakit. Lebih mudah jika wanita ini terdengar munafik atau jahat. Tapi Sari terdengar... baik. Genuinely baik. "Aku seorang perawat di RS Bunda, tidak jauh dari sini. Aku dan Arya bertemu di... eh..." "Di coffee shop dekat kantorku," sambung Arya cepat. "Tiga bulan yang lalu. Sari sering mampir di sana setelah shift malam." Tiga bulan. Maya mencoba mengingat perubahan-perubahan yang dia rasakan selama ini. Arya yang mulai datang terlambat, yang mulai memendekkan kunjungannya, yang mulai menerima telepon dengan nada berbeda. Semuanya mulai masuk akal sekarang. "Aku harap tidak apa-apa kalau aku datang ke sini," kata Sari dengan suara yang semakin kecil. "Aku tahu ini... agak aneh. Tapi aku peduli pada Arya, dan Arya peduli padamu, jadi aku pikir... aku pikir aku juga harus peduli padamu." Logika yang polos dan menyakitkan sekaligus. Maya tidak tahu harus merasa tersentuh atau marah. "Tidak apa-apa," jawab Arya. "Maya akan mengerti. Dia selalu pengertian dengan teman-temanku." Tapi nada suara Arya ketika mengatakan 'teman' itu tidak meyakinkan. Ada hesitasi di sana, seolah kata itu tidak cukup menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi antara dia dan Sari. Maya mendengar suara kursi yang ditarik—dua kursi. Mereka duduk berdampingan, cukup dekat sehingga Maya bisa mendengar napas mereka berdua. Cukup dekat sehingga Maya bisa merasakan energi yang mengalir di antara mereka—energi yang familiar, yang dulu pernah ada antara dia dan Arya. "Kondisi Maya sudah lebih baik belakangan ini," kata Arya. "Dokter bilang responsnya terhadap stimulus eksternal mulai meningkat. Detak jantungnya berubah ketika aku berbicara dengannya." "Berarti dia bisa mendengar kita?" tanya Sari dengan suara yang penuh perhatian. "Aku tidak terlalu yakin tapi dokter bilang kemungkinan besar. Meskipun tidak bisa merespons secara fisik." Maya ingin berteriak: Aku bisa mendengar kalian! Aku bisa mendengar setiap kata, setiap hembusan napas, setiap detik keheningan yang terasa seperti kekakuan antara kalian berdua! "Aku sering membacakan buku untuknya," lanjut Arya. "Novel-novel yang dulu dia suka. Kadang aku cerita tentang hari-hariku, tentang proyek kantor..." "Tentang aku?" tanya Sari dengan suara yang hampir tidak terdengar. Keheningan yang panjang. Maya bisa merasakan ketegangan di udara, seperti sebuah kabel yang ditarik terlalu kencang. "Belum," jawab Arya akhirnya. "Sekarang aku baru ingin mengatakanya. bahwa aku punya teman baru. Seseorang yang... membuatku merasa sedikit lebih baik tentang hidup." Sedikit lebih baik tentang hidup. Kalimat itu menancap di jantung Maya seperti pecahan kaca. Selama tujuh tahun, dia pikir keberadaannya—meskipun dalam kondisi seperti ini—masih memberikan meaning untuk hidup Arya. Ternyata dia salah. Ternyata yang dibutuhkan Arya adalah seseorang yang bisa membuatnya merasa lebih baik, bukan seseorang yang membuat hidupnya terasa seperti penjara nostalgia. "Arya," suara Sari sekarang lebih dekat. Maya bisa mendengar bunyi fabric yang bergesekan—mungkin Sari sedang menyentuh lengan Arya. "Kamu tidak perlu merasa bersalah. Kamu sudah melakukan lebih dari cukup." "Tapi aku masih merasa seperti... seperti aku mengkhianatinya. Dia ada di sini, terjebak dalam tubuhnya sendiri, dan aku... aku mulai merasakan hal-hal yang tidak seharusnya aku rasakan untuk orang lain." Maya berhenti bernapas—jika bisa disebut bernapas. Arya mengaku. Di depan tubuh Maya yang tak bernyawa, dia mengaku bahwa dia merasakan sesuatu untuk wanita lain. "Perasaan bukan pengkhianatan, Arya," kata Sari dengan suara yang penuh kelembutan. "Kamu manusia. Kamu punya hak untuk bahagia." "Tapi bagaimana dengan Maya? Bagaimana dengan janji yang aku buat di altar? 'Sampai maut memisahkan kita'—tapi maut tidak memisahkan kami. Maut membiarkan kami terjebak di limbo seperti ini." Maya merasakan sesuatu yang panas mengalir di pipinya—sesuatu yang impossible karena dia tidak bisa menangis. Tapi perasaan itu ada, burning dan real. "Mungkin," kata Sari dengan hati-hati, "maut tidak harus berarti kematian fisik. Mungkin maut bisa berarti kematian dari kehidupan yang kalian kenal bersama. Dan mungkin... mungkin Maya ingin kamu bahagia, meskipun tidak bersamanya." Keheningan yang panjang lagi. Maya bisa mendengar jam dinding yang berdetik, suara AC yang berdengung, detak jantungnya sendiri yang tercatat dalam monitor. "Aku tidak tahu bagaimana caranya," bisik Arya. "Aku tidak tahu bagaimana caranya mencintai orang lain tanpa merasa seperti aku membunuh memori Maya." "Kamu tidak akan membunuh memorinya," jawab Sari. "Memori itu akan selalu ada. Tapi kamu juga berhak menciptakan memori baru." Maya mendengar suara yang halus—mungkin Sari menggenggam tangan Arya. Mungkin mereka saling menatap dengan cara yang dulu pernah Maya dan Arya lakukan. Mungkin ada chemistry di antara mereka yang sudah berkembang selama tiga bulan terakhir, chemistry yang Maya tidak bisa lawan karena dia bahkan tidak bisa menggerakkan jari. "Terima kasih," kata Arya dengan suara yang bergetar. "Terima kasih sudah mengerti. Terima kasih sudah... sabar denganku." "Aku akan selalu sabar, Arya. Selama yang kamu butuhkan." Dan Maya tahu, dengan kepastian yang membekukan darahnya, bahwa dia baru saja mendengar dua orang jatuh cinta. Tidak dengan kata-kata grand atau dramatis, tapi dengan cara yang lebih menyakitkan—dengan kelembutan, dengan pengertian, dengan kesabaran yang tidak pernah bisa Maya berikan lagi. Ketika mereka akhirnya pergi—setelah Arya mengucapkan "Sampai jumpa, sayang" dengan nada yang semakin hambar—Maya terjaga sendirian dengan realisasi yang menghancurkan. Dia tidak hanya kehilangan kemampuan untuk bergerak atau berbicara. Mingkun juga dia akan kehilangan suaminya. Dan yang terburuk dari semuanya: dia tidak bisa menyalahkan siapa pun untuk itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN