Bab 4: Perubahan Halus

1373 Kata
Perubahan datang seperti kabut—begitu halus sehingga Maya hampir tidak menyadarinya pada awalnya. Hari Senin, Arya datang sepuluh menit lebih telat dari biasanya. Tidak masalah besar, Maya pikir. Mungkin macet atau ada meeting pagi di kantor. Tapi ketika dia datang, ada sesuatu yang berbeda dalam caranya menarik kursi, dalam cara dia meletakkan tasnya. Gerakan-gerakannya sedikit lebih cepat, kurang hati-hati, seperti seseorang yang sedang terburu-buru. Maya sudah hafal ritme langkah kaki Arya—biasanya mantap dan tidak tergesa. Hari ini ada ketukan yang berbeda, seperti seseorang yang pikirannya berada di tempat lain. "Maaf telat, sayang. Ada... ada beberapa hal yang harus diselesaikan pagi ini." Suaranya normal, tapi Maya mendengar sesuatu—nada yang sedikit lebih tinggi, seperti seseorang yang sedang berbohong kecil. Dia sudah mengenal Arya cukup lama untuk mengenali tanda-tanda ini. Jeda yang terlalu panjang sebelum kata "beberapa", infleksi yang naik di akhir kalimat. "Proyek baru mulai minggu depan. Rumah mewah di Pondok Indah. Klien yang agak... menantang. Tipe yang sudah punya gambaran jelas tapi tetap mau konsultasi arsitek." Arya bercerita seperti biasa, tapi ada yang kurang. Biasanya dia akan menjelaskan detail-detail kecil, mengeluh dengan nada jenaka tentang klien yang sulit, atau bahkan menggambar sketsa kecil di udara dengan tangannya ketika menjelaskan konsep. Hari ini ceritanya terasa terburu-buru, seperti seseorang yang sedang mengisi waktu kosong. Dulu Maya selalu bisa membayangkan gerakan tangan Arya meskipun tidak bisa melihat—cara dia membentuk garis-garis imajiner di udara. Kini, semua detail itu hilang dari ceritanya. Selasa, dia datang lima belas menit telat. Rabu, hampir dua puluh menit. "Traffic parah hari ini," alasannya. Tapi Maya tahu rute dari kantor Arya ke rumah sakit. Bahkan di jam sibuk, tidak akan sampai membuat keterlambatan sebesar itu. Maya hafal setiap tikungan jalan yang Arya lalui—dulu dia sering ikut survey lokasi proyek. Perhitungan waktu yang akurat itu sekarang menjadi penghakiman yang menyakitkan. Yang lebih mengganggunya adalah perubahan dalam durasi kunjungan. Biasanya Arya akan tinggal sampai sore, kadang bahkan sampai malam. Sekarang dia mulai bersiap pulang setelah sejam atau dua jam. Maya bisa mendengar tanda-tanda kegelisahan: kaki yang mulai bergerak-gerak, suara kertas yang diremas. "Aku harus balik ke kantor. Ada deadline yang ketat untuk proyek ini." Maya tidak bodoh. Arya sudah bekerja sebagai arsitek selama bertahun-tahun, dan Maya tahu pola kerja suaminya. Deadline yang benar-benar ketat memang ada, tapi tidak setiap hari selama seminggu berturut-turut. Dulu, ketika ada proyek besar, Arya akan menjadikan Maya sebagai pendengar sekaligus konselor. Kini semua cerita itu hilang, digantikan alasan-alasan singkat dan kepergian yang terburu-buru. Kamis sore, Maya mendengar suara yang belum pernah dia dengar selama kunjungan Arya: suara ponsel yang berdering. Selama ini, Arya selalu mematikan ponselnya ketika berada di kamar Maya. "Waktu kita berdua," dia pernah bilang. Tapi hari ini, dering itu nyaring dan Arya bahkan tidak tersentak—seolah sudah mengharapkannya. "Maaf, aku harus angkat ini sebentar." Arya bangkit dari kursi, melangkah beberapa langkah menjauh. Tapi akustik ruang rumah sakit membuat Maya masih bisa mendengar percakapannya. "Halo... Iya, aku masih di rumah sakit... Bentar lagi selesai... Iya, aku ingat... Oke, sampai jumpa nanti." Suaranya berbeda. Lebih lembut, lebih... familiar. Bukan nada bicara dengan rekan kerja atau klien. Ada kehangatan di dalamnya yang membuat sesuatu di perut Maya berputar tidak nyaman—kehangatan yang pernah hanya dia rasakan ketika Arya berbicara dengannya. "Sampai jumpa nanti." Ada janji di dalamnya, antisipasi. Kapan terakhir kali ada nada menanti dalam suaranya ketika pamit dari kamar ini? "Siapa yang telpon?" Maya ingin bertanya. Tapi tentu saja dia tidak bisa. Arya kembali ke kursi, tapi sekarang dia terlihat gelisah. Maya bisa mendengar kakinya mengetuk-ngetuk lantai—kebiasaan lama ketika dia sedang tidak sabar atau ingin pergi. "Aku rasa aku harus pulang sekarang. Ada... eh... ada hal yang harus diurus di rumah." Kebohongan lain. Maya merasakannya seperti pisau tumpul yang perlahan merobek sesuatu di dadanya. "Eh" itu adalah jeda seseorang yang mencari alasan yang tidak sepenuhnya benar. Jumat, pola yang sama terulang. Arya datang telat, berbicara lebih pendek, dan ponselnya berdering lagi. Kali ini dia langsung keluar dari ruangan untuk menjawab, tapi Maya masih bisa mendengar gumaman suaranya dari koridor. Ada sesuatu dalam intonasi Arya yang bocor masuk—nada yang lebih hidup, lebih bersemangat daripada ketika berbicara dengan Maya. Ketika dia kembali, wajahnya—meskipun Maya tidak bisa melihat—terasa berbeda dari nada suaranya. Ada semacam... kepuasan? Kebahagiaan yang ditahan? "Maya, aku... aku mungkin akan mulai datang tidak setiap hari. Maksudku, kondisimu sudah stabil, dan dokter bilang rutinitas yang terlalu kaku mungkin tidak baik juga..." Tidak. Maya berteriak dalam hatinya. Jangan kurangi kunjunganmu. Jangan tinggalkan aku sendirian lebih lama. "Mungkin tiga atau empat kali seminggu. Aku tetap akan datang teratur, cuma... aku butuh waktu untuk mengurus hal-hal lain juga." Hal-hal lain. Maya bertanya-tanya apa maksudnya. Dulu, sebelum kecelakaan, dia adalah prioritas utama Arya. Pekerjaan penting, tapi Maya selalu datang pertama. Sekarang sepertinya ada 'hal-hal lain' yang lebih mendesak dari kunjungan ke rumah sakit. Sabtu, Arya tidak datang sama sekali. Maya menghabiskan hari itu mendengarkan suara-suara rumah sakit dengan perasaan cemas yang tidak bisa dijelaskan. Setiap langkah kaki di koridor membuatnya berharap itu adalah Arya. Setiap suara yang familiar membuatnya menunggu suara "Selamat pagi, sayang" yang tidak pernah datang. Hari Sabtu biasanya istimewa—Arya tidak ada kerjaan, jadi bisa datang lebih pagi dan tinggal lebih lama. Hari ini, ritual itu digantikan suara kosong. Sore hari, seorang perawat masuk untuk check routine. "Suaminya tidak datang hari ini ya?" tanya perawat itu pada rekannya. "Biasanya dia selalu ada setiap hari." "Mungkin ada keperluan penting. Kasihan juga sih, udah tujuh tahun setia nunggu." Tujuh tahun setia nunggu. Kalimat itu bergema dalam kepala Maya. Apakah kesetiaan punya batas waktu? Apakah cinta punya tanggal kedaluwarsa? Maya mulai menghitung: tujuh tahun, berapa ribu kali Arya datang ke rumah sakit ini, duduk di kursi yang sama, bercerita pada seseorang yang tidak bisa merespons? Minggu sore, Arya akhirnya datang. Tapi sesuatu sudah berubah secara fundamental. Maya bisa merasakannya bahkan sebelum Arya membuka mulut. "Hai, Maya. Maaf aku tidak datang kemarin. Ada... ada beberapa hal yang harus diselesaikan." Lagi-lagi alasan yang samar. Maya mulai merasa seperti orang asing di dalam hubungannya sendiri. "Kamu tahu, aku sudah berpikir banyak akhir-akhir ini. Tentang kita, tentang situasi ini, tentang... masa depan." Nada suaranya serius. Maya merasakan sesuatu yang dingin menyebar di perutnya. "Aku pikir mungkin sudah saatnya aku mulai... membuka diri untuk kemungkinan-kemungkinan lain. Maksudku, aku akan tetap ada untuk kamu, tetap mengurus semua keperluan medismu, tapi..." Tapi. Kata yang paling menakutkan dalam kalimat apapun. "Tapi aku juga perlu mulai memikirkan kebahagiaan diriku sendiri. Aku berharap kamu bisa mengerti." Maya mengerti. Terlalu mengerti. Dan itu yang membuatnya semakin sakit. Ponsel Arya berdering lagi. Kali ini dia tidak minta maaf, langsung saja mengangkat. "Halo, Sari... Iya, aku masih di sini... Bentar lagi selesai... Oke, tunggu ya..." Sari. Nama itu jatuh ke telinga Maya seperti petir di malam yang jernih. Orang yang membuat nada suara Arya berubah menjadi hangat dan lembut. Nama yang simpel, tiga huruf, tapi terasa begitu berat dalam imajinasi Maya. Siapa dia? Sejak kapan? Apakah dia tahu tentang Maya? "Maya, aku harus pergi sekarang. Ada... ada seseorang yang menunggu." Seseorang yang menunggu. Bukan 'pekerjaan yang harus diselesaikan' atau 'hal-hal yang harus diurus'. Seseorang. Seseorang yang membuat Arya rela memotong kunjungannya, seseorang yang membuat Arya datang terlambat, seseorang yang membuat ponsel Arya berdering dengan nada yang berbeda. "Aku akan datang lagi... mungkin Rabu atau Kamis. Aku akan kabari kamu." Langkah kaki itu menjauh dengan tempo yang lebih cepat dari biasanya. Ada semangat di dalamnya, energi yang tidak pernah Maya dengar lagi selama kunjungan-kunjungan sebelumnya. Dan Maya terjaga sendirian dalam keheningan yang tiba-tiba terasa lebih dingin dari sebelumnya. Keheningan yang tidak lagi hanya berwarna putih atau biru, tapi mulai diwarnai oleh sesuatu yang lebih gelap. Warna kecurigaan. Warna ketakutan. Warna kecemburuan yang tidak bisa diungkapkan. Untuk pertama kalinya sejak dia sadar, Maya berharap dia masih dalam koma. Setidaknya dalam ketidaksadaran, dia tidak harus merasakan sakit hati karena mendengar orang yang dicintainya perlahan-lahan menjauh, bergerak menuju kehidupan baru yang tidak melibatkannya. Malam itu, Maya bermimpi tentang nama Sari. Bermimpi tentang suara yang belum pernah dia dengar, wajah yang belum pernah dia lihat, tapi yang sudah mulai mengambil tempat di hati suaminya. Dan ketika dia bangun—jika bisa disebut bangun—Maya menyadari bahwa penderitaan yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN