Waktu di rumah sakit bergerak dengan ritme yang aneh—terlalu lambat namun terlalu cepat sekaligus. Maya mulai mengenali pola-pola kecil yang menandai berjalannya hari: bunyi troli makanan yang berderak di koridor pukul tujuh pagi, pergantian shift perawat yang selalu diiringi bisikan-bisikan singkat, dan suara televisi dari kamar sebelah yang selalu menayangkan drama siang dengan volume terlalu keras.
Tapi yang paling dia kenali adalah langkah kaki Arya.
Setiap pagi, sekitar pukul delapan lewat lima belas menit, Maya akan mendengar suara sepatu kulit yang familiar menyusuri koridor. Langkah itu berbeda dari langkah-langkah lain—sdikit terseret, seolah kakinya terlalu berat untuk diangkat. Kadang langkah itu berhenti di depan pintu, diam selama beberapa detik, sebelum akhirnya masuk.
Maya pernah mendengar perawat pagi, berbisik pada rekannya tentang "suami yang setia itu." Katanya, Arya selalu datang dengan wajah yang sudah lelah sejak pagi, mata yang sedikit bengkak, seolah dia tidak tidur dengan nyenyak lagi. "Kasihan sekali," bisik Suster Rina. "Sudah tujuh tahun, tapi dia masih datang setiap hari."
"Selamat pagi, sayang."
Kata 'sayang' itu selalu diucapkan dengan nada yang sama—lembut, tapi ada keraguan di dalamnya. Seperti seseorang yang tidak yakin apakah dia masih berhak menggunakan kata itu. Maya ingin menjawab, ingin berkata bahwa dia selalu menunggu sapaan itu, bahwa itu adalah hal pertama yang membuatnya merasa hidup setiap pagi.
Hari ini, seperti hari-hari sebelumnya, Arya menarik kursi yang sama ke samping tempat tidur Maya. Suara gesekan kaki kursi di lantai sudah menjadi soundtrack yang familiar. Maya bisa membayangkan gesture-gesture kecilnya: cara Arya meletakkan tas kerjanya di lantai, cara dia menggulung lengan kemejanya, cara dia menyandarkan punggung ke kursi dengan napas yang sedikit berat.
"Aku membawa sesuatu hari ini."
Maya mendengar suara kertas yang dibuka. Aroma yang familiar menguar—kopi dan sesuatu yang manis.
"Croissant dari toko roti dekat kantor. Yang biasa kita beli setiap Sabtu pagi dulu. Aku tahu kamu tidak bisa makan, tapi aromanya... mungkin kamu masih ingat."
Aku ingat. Maya ingin berteriak. Aku ingat Sabtu pagi kita. Aku ingat bagaimana kamu selalu memesan dua croissant meskipun aku selalu bilang satu sudah cukup. Aku ingat bagaimana kamu mencuri gigitan dari punyaku sambil bilang 'cuma nyicip'.
Aroma croissant itu membawadengan sendirinya kenangan-kenangan hangat yang menyakitkan. Maya mengingat bagaimana mereka dulu akan duduk di meja kecil dekat jendela toko roti itu, Arya dengan sketsa-sketsanya yang berantakan, Maya dengan novel yang selalu dibacanya sambil sesekali mencuri pandang pada suaminya yang sedang menggambar.
"Proyek kantor sudah selesai minggu lalu," lanjut Arya, mengunyah pelan. "Rumah tinggal tiga lantai di Kemang. Klien sangat puas. Mereka bilang desainnya persis seperti yang mereka impikan, tapi lebih baik."
Maya suka mendengar Arya bercerita tentang pekerjaannya. Suaranya berubah ketika dia bicara tentang arsitektur—lebih hidup, lebih bersemangat. Seperti versi lama dari dirinya yang Maya ingat. Tapi hari ini, bahkan dalam cerita tentang kesuksesan proyeknya, ada kelelahan yang tidak bisa disembunyikan.
"Tapi kamu tahu yang lucu? Ketika aku menggambar ruang tamu mereka, aku teringat ruang tamu kita. Bagaimana kita berdebat soal warna sofa—kamu maunya biru laut, aku maunya abu-abu. Akhirnya kita ambil yang biru, dan ternyata kamu benar. Seperti biasa."
Tawa kecil. Pahit.
Maya mengingat perdebatan itu. Mereka menghabiskan satu sore penuh di toko furniture, berargumen dengan sengit tentang pilihan warna. Pada akhirnya, Arya menyerah dengan dramatis, bilang "Baiklah, tapi kalau sofa ini tidak cocok dengan dekorasi lain, aku akan mengingatkanmu setiap hari." Tentu saja dia tidak pernah melakukannya. Sofa biru laut itu menjadi favorit mereka—tempat menonton film, tempat Arya membaca sketsa, tempat Maya menggulung diri dengan buku di sore hari.
"Kadang aku masih pulang ke rumah dan berharap melihatmu di sofa itu," suara Arya pelan sekarang. "Berharap kamu akan menyambut dengan komplen tentang harimu, atau cerita tentang buku yang sedang kamu baca. Bahkan setelah tujuh tahun, aku masih kadang lupa bahwa kamu tidak ada di sana."
Keheningan yang panjang. Maya bisa mendengar suara Arya menarik napas yang dalam, tersendat-sendat. Dia juga mulai menyadari bahwa napas Arya akhir-akhir ini sering seperti itu—tidak tenang, seolah dia selalu kehabisan udara.
Aku di sini, teriak Maya dalam hatinya. Aku ada di sini, hanya tidak bisa pulang ke rumah. Tapi aku masih ada.
"Dokter Nirmala bilang kemajuanmu cukup baik. Fungsi otak sepenuhnya normal, hanya koneksi ke sistem motorik yang masih bermasalah. Dia bilang dengan terapi yang tepat, mungkin ada kemungkinan pemulihan bertahap."
Dokter Nirmala lagi. Maya mencatat nama itu, meskipun dia belum pernah mendengar suara dokter wanita itu lagi sejak hari pertama dia sadar.
"Aku sudah cari referensi tentang terapi untuk kondisi seperti kamu. Ada beberapa teknik baru, teknologi terbaru. Mungkin kita bisa coba kalau kondisi keuangan memungkinkan."
Kata 'kalau kondisi keuangan memungkinkan' itu menohok Maya. Dia baru menyadari bahwa selama tujuh tahun ini, Arya pasti telah menghabiskan banyak uang untuk perawatannya. Biaya rumah sakit, dokter, perawatan—semuanya pasti tidak murah. Dan sekarang dia harus memikirkan biaya tambahan untuk terapi yang mungkin tidak akan berhasil.
Maya merasakan sesuatu yang hangat sekaligus menyakitkan di dadanya. Arya masih berpikir tentang masa depan mereka, masih merencanakan. Tapi ada nada lelah dalam suaranya yang tidak bisa disembunyikan.
Pagi berganti siang. Maya mendengar Arya kadang tertidur di kursi—napasnya berubah menjadi lebih dalam, teratur. Kadang dia terbangun dengan sedikit terkejut, bergumam "Maaf" meskipun tidak ada yang mendengar selain Maya.
Dalam tidurnya yang ringan itu, Arya kadang bergumam. Maya pernah mendengarnya menyebut namanya dengan suara yang putus asa, "Maya... jangan pergi lagi..." Suara itu begitu hancur, begitu rapuh, sampai Maya merasakan sesuatu yang seperti air mata mengalir di dalam hatinya.
Maya tahu bahwa usia Arya sudah tiga puluh lima. Ketika kecelakaan itu terjadi, dia masih berusia dua puluh delapan—muda, energik, penuh mimpi. Sekarang, tujuh tahun kemudian, Maya bisa mendengar kelelahan yang mengendap dalam setiap kata yang diucapkannya.
Maya ingin mengatakan padanya untuk pulang lebih awal, untuk istirahat yang cukup, untuk tidak memaksakan diri datang setiap hari kalau dia terlalu lelah. Tapi dia juga takut kalau Arya benar-benar mengurangi kunjungannya. Kehadiran suaminya adalah satu-satunya jangkar yang menghubungkannya dengan dunia luar.
"Kadang aku bermimpi kamu sudah sembuh," lanjut Arya. "Kamu bangun, bisa bicara, bisa bergerak. Kita pulang ke rumah bersama, dan semuanya kembali seperti dulu. Tapi ketika aku bangun..." Suaranya terputus.
Maya mendengar suara yang tidak familiar—sedikit bergetar, seperti napas yang ditahan. Kemudian dia menyadari: Arya sedang menangis.
Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, Maya mendengar suaminya menangis.
Bukan tangisan yang keras atau dramatis. Hanya isakan kecil yang ditahan, seperti seseorang yang sudah terlalu lama berusaha kuat dan akhirnya tidak sanggup lagi. Maya merasakan dadanya sesak mendengar suara itu. Suara seorang pria yang telah menanggung beban terlalu berat untuk terlalu lama.
"Maafkan aku, Maya," bisiknya. "Maafkan aku karena tidak cukup kuat untuk situasi ini."
Kata-kata itu menusuk jantung Maya lebih dalam dari rasa sakit fisik apapun yang pernah dia rasakan. Bukan karena dia marah pada Arya—dia mengerti. Dia mengerti bahwa mencintai seseorang yang tidak bisa mencintai balik adalah jenis penyiksaan yang paling kejam.
"Aku mencintaimu, tapi aku juga membencimu," lanjut Arya dengan suara parau. "Aku membenci kamu karena meninggalkanku sendirian selama tujuh tahun. Aku membenci kamu karena kembali tapi tidak sepenuhnya. Dan aku membenci diriku sendiri karena merasakan hal-hal ini."
Maya ingin memeluknya. Ingin mengatakan bahwa dia tidak perlu merasa bersalah, bahwa marah adalah hal yang wajar, bahwa dia juga kadang membenci situasi mereka. Ingin mengatakan bahwa dia mencintai Arya dengan cara yang sama—dengan cinta yang tercampur rasa bersalah, dengan cinta yang menyakitkan karena tidak bisa diungkapkan.
Tapi yang bisa dia lakukan hanya berbaring diam, mendengar pria yang dicintainya hancur sedikit demi sedikit.
"Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Maya. Aku sudah mencoba bertahan, tapi aku lelah. Sangat lelah."
Dalam tangisan itu, Maya mendengar sesuatu yang membuatnya ketakutan—suara seseorang yang hampir menyerah. Suara seseorang yang sudah di ujung batas kemampuannya. Dan Maya menyadari bahwa dia mungkin akan kehilangan Arya, bukan karena dia tidak mencintainya lagi, tapi karena cinta itu sudah terlalu menyakitkan untuk ditanggung.
Tangisan itu berlangsung sampai matahari tenggelam. Maya menghitung setiap isakan, menyimpan setiap kata penyesalan yang diucapkan Arya dalam memorinya. Dan ketika suaminya akhirnya pulang dengan langkah yang lebih berat dari biasanya, Maya terjaga sendirian dengan beban baru di dadanya.
Beban karena menyadari bahwa kehadirannya yang setengah-setengah ini mungkin lebih menyakitkan daripada ketidakhadirannya sama sekali. Beban karena menyadari bahwa cinta kadang tidak cukup untuk menyelamatkan seseorang dari kehancuran. Dan beban karena menyadari bahwa dia mungkin harus merelakan orang yang paling dicintainya pergi, bukan demi kebahagiaannya sendiri, tapi demi kebaikan Arya.
Malam itu, Maya menangis untuk pertama kalinya sejak dia sadar—menangis tanpa air mata, menangis dengan hati yang hancur, menangis untuk kehilangan yang belum terjadi tapi sudah terasa nyata.