bc

Guruku adalah Ayah Tiriku

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
family
drama
mystery
single daddy
campus
mythology
small town
high-tech world
rebirth/reborn
like
intro-logo
Uraian

Mira Amara, dulunya dikenal sebagai Raina, memulai hidupnya dari titik yang paling gelap. Sejak usia lima tahun, ia menjadi korban pengkhianatan dan kekejaman: dibuang oleh ibu dan ayah kandungnya, kemudian dijual oleh rentenir ke sebuah keluarga yang penuh kekerasan. Di rumah rentenir itu, Raina kecil hidup dalam penderitaan. Keempat anak sang rentenir mengintimidasi, membully, dan memperlakukannya dengan kejam, sementara dirinya harus menanggung pekerjaan berat dan hinaan setiap hari. Hidup Raina yang seharusnya dipenuhi cinta, justru dipenuhi rasa sakit, kesepian, dan ketakutan yang terus menghantuinya.

Suatu malam hujan menjadi titik balik dalam hidupnya. Saat diminta membeli rokok di jalan, Raina bertemu dengan seorang pemuda berusia 17 tahun bernama Ardan yang terlihat depresi dan duduk sendirian di taman kota. Awalnya Ardan dingin dan sinis, namun perhatian Raina yang polos dan pertanyaan sederhana tentang kehidupan membuatnya membuka diri sedikit demi sedikit. Dalam hujan yang deras, Ardan membuka payung dan duduk di samping Raina, mendengarkan kisah pahitnya. Hubungan mereka, yang lahir dari rasa kesepian dan luka masa lalu, berkembang menjadi ikatan yang tak terduga: Ardan, meski muda dan sendiri, menawarkan perlindungan, keluarga, dan kesempatan hidup baru bagi Raina. Dari pertemuan itu, Raina menerima nama baru: Mira Amara, simbol harapan, kekuatan, dan awal perjalanan menuju kehidupan yang lebih baik.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 : Anak yang Dibuang
Aku duduk di tepi jalan yang berdebu, menggenggam kain lusuh yang menjadi seluruh harta bendaku. Hujan belum turun, tapi langit kelam dan dingin, seperti hatiku. Ayah bilang dia harus pergi. Katanya, aku bukan miliknya lagi. Aku menatap mobil hitam yang bergerak menjauh. Tidak ada ibu di samping ayah, tidak ada pelukan hangat, tidak ada kata manis. Hanya suara deru mesin dan aroma bensin yang menusuk hidungku. Aku masih lima tahun, tapi rasanya dunia sudah menendangku keluar dari rumah sendiri. Tanganku menggenggam kain lusuh erat. Aku ingin berlari, tapi kakiku terasa berat seperti ditarik tanah. Hujan turun pertama kali sebagai tetes kecil yang mendinginkan rambutku. Aku menundukkan kepala, menahan air mata, mencoba tidak menangis. Aku harus kuat. Ayah pergi tanpa melihatku, dan aku merasakan sepi yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Di ujung jalan, aku melihat rumah besar yang menakutkan. Pagar besi berkarat menjulang tinggi, catnya kusam dan mengelupas di beberapa sisi. Ada bau apek yang keluar dari sela-selanya. Hati kecilku berdebar. Aku tahu di sinilah ayah menyerahkan aku pada Reinterner. Seorang pria besar berdiri di depan pintu. Bahunya lebar, matanya tajam, bibirnya tipis menekuk ke bawah. Aku langsung merasa takut. “Kamu bukan anak siapa-siapa,” katanya dingin seperti es. “Kau cuma barang, Raina.” Aku menelan ludah, tapi bibirku menolak bergetar. Aku masih kecil, tapi hatiku keras. “Kalau begitu… aku akan jadi anakku sendiri,” bisikku pelan, hanya untuk diriku sendiri. Reinterner menatapku tanpa senyum. Tangannya besar dan kasar menunjuk ke arah gudang. Aku mengikuti langkahnya, kaki gemetar. Bau rokok menyengat hidungku. Lantai berdebu menggores telapak kaki. Di gudang itu, ada beberapa anak yang lebih tua. Mereka menatapku seperti predator menatap mangsa. Salah satu menertawakan bajuku yang lusuh, rambutku yang kusut, dan wajahku yang basah karena hujan. Aku mencoba tersenyum, tapi suaranya menusuk telinga. Aku ingin lari, tapi pintu terkunci. Gudang itu dingin, gelap, dan lembap. Aku menutup mata, mencoba mengingat rumah lama… tapi yang tersisa hanya bayangan ayah yang menjauh. Hari-hari pertama di rumah Reinterner terasa seperti mimpi buruk yang tak berakhir. Aku disuruh membersihkan lantai berdebu, menyapu ruang tamu besar, mencuci piring yang tak pernah habis, dan mengambil air dari sumur tua. Setiap kesalahan sekecil apa pun diakhiri dengan pukulan atau kata-kata kasar. “Kamu bodoh!” “Barang murahan!” Aku belajar menunduk, diam, dan berharap tidak menarik perhatian. Kadang aku duduk di sudut gudang, menatap cahaya kecil yang menembus jendela retak, dan membayangkan rumah lamaku. Aroma masakan ibu, tawa kakakku, suara ayah membaca buku sebelum tidur, semua terasa seperti kenangan dari dunia lain. Namun, meski semuanya menindas, ada sesuatu yang tumbuh dalam hati kecilku: sebuah tekad. Aku akan bertahan. Aku akan menemukan caraku. Aku masih Raina… tapi aku harus menjadi lebih dari sekadar “barang” bagi dunia ini. Setiap malam, aku berbaring di lantai dingin gudang, menatap langit yang hanya terlihat lewat lubang kecil di atap, dan berbisik pada diri sendiri: “Kalau begitu… aku akan jadi diriku sendiri.” Langit di luar kelam, tapi di dalam hatiku, secercah api kecil menyala. Api itu mungkin tak terlihat oleh siapa pun, tapi aku tahu, itu akan membawaku jauh, bahkan dari rumah neraka ini. Pagi berikutnya, aku terbangun bukan karena cahaya matahari, tapi karena suara teriakan. “Bangun! Dasar pemalas!” Seseorang menendang pintu gudang. Suaranya keras, membuat debu jatuh dari atap. Aku langsung duduk, mengucek mata. Tubuhku masih terasa pegal, tapi aku tahu, jika aku lambat sedikit saja, tangannya akan sampai ke wajahku. Aku bergegas keluar. Udara pagi begitu dingin, menusuk tulang. Tanah becek setelah hujan malam tadi, membuat kakiku basah dan licin. Di halaman belakang, sudah ada ember besar berisi cucian kotor. Aku tahu itu tugasku. Tumpukan pakaian itu berbau keringat, minyak, dan debu. Air sumur terasa dingin seperti es saat mengenai kulit tanganku yang lecet. Aku mencuci pelan, tapi airnya cepat berubah warna jadi abu-abu. Anak-anak Reinterner lewat sambil tertawa. Salah satu melempar kulit pisang ke arahku. “Cepat sedikit, b***k kecil! Atau nanti Papa marah!” Aku hanya menunduk, pura-pura tidak mendengar. Kalau aku menatap, mereka akan makin senang menyakitiku. Kadang, aku ingin berteriak. Aku ingin menanyakan kenapa semua orang begitu membenciku. Tapi kata-kata itu tertelan sendiri. Aku tahu tidak ada yang mau mendengar suaraku. Di rumah ini, suara hanya milik mereka yang lebih kuat. Menjelang siang, aku disuruh mengepel ruang tamu. Bahkan seisi rumah, bau rokok dan alkohol bercampur dengan debu membuatku hampir muntah. Aku melangkah perlahan, membawa ember yang lebih besar dari tubuhku sendiri. Reinterner duduk di kursi besar, memandangi aku seperti benda. “Jangan sampai lantainya masih kotor,” katanya datar, tanpa menatapku. “Kalau kotor, kau tahu akibatnya,” katanya sambil mencekik leherku hingga aku nyaris tak bisa bernapas. Aku mengangguk cepat. Saat itu, aku melihat sebuah foto di dinding: gambar keluarga Reinterner, dengan anak-anaknya yang tersenyum di depan kamera. Aku tidak ada di sana, tentu saja. “Aku adalah anak yang ditinggalkan. Ah, tidak. Tepatnya, aku adalah anak yang dijual oleh orang tuaku.” Tapi pandangan mataku berhenti cukup lama hingga salah satu anaknya memperhatikan. Aku menatap foto itu terlalu lama, hingga salah satu anaknya memperhatikan tatapanku. “Kau iri, ya?” katanya sambil terkekeh. “Kau takkan punya foto seperti itu seumur hidupmu.” Aku tidak menjawab. Aku menahan rasa sakit, dan hanya bisa menunduk. Ya... Aku menunduk lagi, terus mengepel lantai yang seolah tak pernah bersih. Tapi dalam hatiku, ada rasa perih yang aneh. Mungkin aku iri. Mungkin aku rindu sesuatu yang bahkan tak bisa kusebut. Kadang aku bertanya.... ''Apakah keluarga yang aku rindukan, berhak aku rindukan?'' Sore menjelang, aku diberi sisa makanan, nasi dingin yang keras dan ikan asin yang terlalu asin dengan satu tahu goreng yang masih hangat. Aku memakannya di pojok dapur, di atas lantai yang dingin. Tak ada sendok, tak ada piring. Hanya tangan kecilku yang menggenggam butiran nasi seperti benda berharga. Aku makan pelan-pelan, takut makanan itu cepat habis. Setelah makan, aku kembali ke gudang. Udara semakin lembap, bau jamur dan debu menyatu. Aku menarik nafas panjang, mencoba tidak batuk. Aku menatap langit dari celah jendela kecil. Langit mulai gelap. Setiap kali malam datang, rasa takut juga datang bersamanya. Suara langkah kaki berat Reinterner di lorong selalu membuat jantungku berdebar. Kadang dia hanya lewat, kadang berhenti di depan pintu gudang, hanya diam, seolah mendengarkan apakah aku masih hidup. Aku menahan napas setiap kali itu terjadi. Dalam diam, aku berdoa supaya dia tidak membuka pintu. Tapi malam itu berbeda. Ketika aku hampir terlelap, pintu gudang berderit pelan. Aku langsung duduk. Reinterner berdiri di ambang pintu, rokok menyala di tangannya. Asap menari di udara, membuat mataku perih. “Besok malam kau keluar,” katanya singkat. Aku menatapnya bingung. “K-keluar, Tuan?” “Belikan aku rokok di kios ujung jalan. Jangan sampai salah merek. Kalau kau salah, kau tak usah kembali.” Aku mengangguk cepat. Tidak berani bertanya lebih jauh. Setelah dia pergi, aku menatap lantai dalam diam. Keluar rumah? Sudah lama aku tak melihat jalan. Aku bahkan lupa seperti apa langit tanpa atap logam ini. Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku berbaring di lantai, memandangi atap yang bocor di beberapa titik. Setiap tetes air hujan jatuh seperti hitungan waktu. Jantungku berdetak cepat setiap kali aku mengingat kata-kata Reinterner. Keluar rumah. Di luar sana mungkin ada udara segar, mungkin ada cahaya, mungkin ada seseorang yang tidak mengenalku tapi juga tidak menyakitiku. Aku menatap kain lusuh yang selalu kupeluk setiap malam. Kain itu sisa dari baju ibuku dulu yang robek di pinggirnya, tapi masih ada aroma samar yang entah benar atau cuma imajinasiku. Aku mengusapnya pelan dan berbisik: “Ibu… aku masih di sini.” Hujan turun perlahan malam itu, menyapu atap gudang dengan suara yang lembut tapi sepi. Aku menutup mata, memeluk kain itu, dan membayangkan jika esok benar-benar aku keluar, mungkin aku bisa melihat dunia lain. Mungkin aku akan melihat bintang lagi. Dan untuk pertama kalinya sejak hari ayah pergi, aku merasa sesuatu yang menyerupai harapan yang kecil, samar, tapi hangat, mulai tumbuh di dadaku. Aku menarik napas dalam-dalam, membiarkan harapan kecil itu tumbuh di dadaku. Tangan kecilku masih memeluk kain lusuh, dan aku merasa seolah kain itu menjadi satu-satunya pelindungku dari dunia yang keras ini. Aku menutup mata sejenak, membayangkan jalanan basah, lampu yang memantul di genangan air, dan udara malam yang dingin tapi bebas. Tapi rasa takut datang menghantui. Suara langkah berat di lantai atas, deru napas Reinterner di lorong, dan bayangan anak-anaknya yang menertawakanku, semua itu membuatku menahan napas. Aku tahu, besok malam aku harus keluar sendiri. Kaki kecilku gemetar saat membayangkan jarak yang harus kutempuh, dari gudang yang familiar ke dunia yang asing. Aku menekankan lutut ke d**a, menggenggam kain itu lebih erat. Dalam hatiku, aku berbisik, “Aku bisa… aku harus bisa…” Kata-kata itu terasa lemah, tapi setidaknya memberi sedikit keberanian. Aku tidak tahu apakah besok aku akan tersesat, kehujanan, atau ditertawakan, tapi aku tahu satu hal: aku tidak bisa menolak perintah Reinterner. Malam semakin larut. Hujan turun semakin deras, menetes melalui atap bocor seperti ritme waktu yang tak bisa kuubah. Aku menatap cahaya samar dari jendela kecil, membayangkan kalau aku bisa menembus dinding rumah ini, melihat dunia di luar. Dunia yang tak pernah kulihat sejak aku dijual. Aku berulang kali mengulang mantra kecilku sendiri: “Aku akan bertahan… aku akan menemukan jalanku… aku akan tetap menjadi diriku sendiri.” Sekali lagi, suara langkah terdengar. Aku menahan napas, tubuhku kaku. Tapi langkah itu menjauh, meninggalkan kesunyian yang penuh tekanan. Hanya hujan yang tetap jatuh, menampar atap dan lantai, menenangkan sekaligus mengingatkanku bahwa besok semua ini akan nyata. Aku membayangkan diriku berjalan di jalanan basah, kaki kecil menapak tanah yang dingin, tangan memegang dompet uang kecil atau kain lusuh, menahan gigil. Aku membayangkan diriku berjalan di jalanan basah, kaki kecil menapak tanah yang dingin, tangan memegang kain lusuhku, dan menggigil. Aku membayangkan aroma hujan, aroma tanah basah, dan lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. Aku tidak tahu siapa yang akan kulihat di sana. Mungkin tak seorang pun. Mungkin semua akan menatapku seperti aku tak berhak berada di luar. Namun di tengah rasa takut itu, ada satu hal yang kurasa jelas: besok aku akan melangkah keluar. Aku tidak tahu bagaimana caranya, dan aku tidak tahu apa yang menungguku. Tapi aku tahu bahwa aku tidak bisa lagi bersembunyi selamanya. Aku menarik napas panjang, menutup mata, dan menahan tubuhku tetap hangat di lantai dingin gudang. Aku tahu, besok malam akan menjadi ujian pertamaku. Ya pertama kali aku melangkah sendiri ke dunia yang asing, tanpa pelukan, tanpa pengawasan siapa pun, dan tanpa jaminan keselamatan. Dan untuk pertama kalinya, meski takut, aku merasa secercah keberanian muncul. Sebuah rasa kecil, tapi nyata, yang berkata padaku: aku bisa melewati ini. Aku harus melewati ini. Aku masih Raina… dan aku akan tetap menjadi diriku sendiri. ''Tuhan, bolehkah aku memiliki keluarga yang baik?''

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Video Pernikahan Papa

read
12.6K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.8K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
54.2K
bc

Trapped in My Future Boss

read
3.4K
bc

Menyala Istri Sah!

read
4.4K
bc

(Bukan) Cinta yang Diinginkan

read
20.5K
bc

OM DEWA [LENGKAP]

read
8.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook