"Mereka nantangin kita lagi?" Keyla berdiri dari tempat duduk nya dengan perasaan kesal.
"Iya! Siang ini mereka ngajak kita kumpul di belakang sekolah. Kalo kita nggak dateng, tembok tembok sekolah kita bakal di pilox semua sama mereka." ucap Damian.
"Cuma pilox doang, ntar di cat lagi kan bisa." ucap Arvin.
"Bukan cuma masalah itu, Vin. Kalo nanti kita nggak dateng, malu lah. Mau di taroh mana muka gue ntar?" Damian kembali mengangkat suara.
"Yee, muka lo ya tetep di sini. Masa pindah ke p****t?" Keyla menempelkan telapak tangan nya tepat di wajah Damian.
"Iya sih." ucap Damian sambil menyingkirkan tangan Keyla dari wajah nya.
"Tapi lo semua mau reputasi kita hancur cuma gara gara nggak dateng ketemu sama mereka? Mau?" tanya Damian.
"Nggak lah!" ucap Keyla, Arvin dan teman teman yang lain.
"Bagus!" ucap Damian.
"Yaudah, nunggu apa lagi? Ayo!" Keyla berjalan mendahului teman teman nya sambil menggulung lengan seragam serta melepas dasi yang ia kenakan.
Keyla juga telah membawa satu balok kayu yang tidak sengaja ia temukan di jalan. Keyla menyeret balok kayu itu sambil mengunyah permen karet nya sesekali tersenyum sinis.
"Noh, contoh ibu bos kalian. Kalian semua yang cowok kok malah pada kendor." ucap Damian.
Mendengar ucapan Damian, Arvin dan teman teman yang lain sontak langsung berdiri dan langsung menyusul Keyla dari belakang dengan gaya cool mereka.
"Kalo nggak di gituin pada nggak bakal jalan, haha." Damian terkekeh kecil dan kemudian ikut menyusul mereka.
"Mana? Mereka belom dateng juga?" tanya ketua geng di SMA sebelah. Dia adalah Reno, musuh Keyla dan teman teman nya.
"Apa gue bilang, mereka semua itu cuma pengecut!!" teriak Reno sambil tertawa remeh.
"Siapa yang lo bilang pengecut?!" teriak Keyla dari sebrang sana. Keyla kemudian berjalan menuju ke arah Reno.
Reno terbelalak ketika melihat balok kayu yang Keyla bawa.
"Takut bilang aja kali." ucap Keyla.
"Gue nggak takut. Yang dateng cuma lo doang? Yang lain mana?" tanya Reno.
"Tuh." Keyla menunjuk ke arah belakang menampilkan segerombolan teman teman nya sedang berjalan ke arah nya.
Mereka semua tidak datang dengan tangan kosong. Di antara mereka ada yang membawa balok kayu juga seperti Keyla, ada yang membawa tongkat baseball, ada juga yang membawa tongkat pel, tongkat sapu dan yang paling parah ada yang membawa raket nyamuk.
"Haha, mau ngapain lo bawa raket nyamuk?" ledek Reno kepada Aksa yang membawa raket nyamuk.
"Haha, nggak tau dia. Tunjukin, Key!" Aksa memberikan raket nyamuk itu kepada Keyla. Keyla menyipitkan mata ke arah Aksa dan langsung mengambil raket nyamuk itu.
"Buat apa coba? Nggak guna." ucap Reno sambil bersedekap tangan.
"Buat apa? Buat ini!!" Keyla menempelkan raket nyamuk itu di pipi Reno, alhasil pipi Reno tersetrum.
"Akh! Sialan." umpat Reno yang merasa terkejut.
"Masih mau ngeremehin raket nyamuk?" tanya Keyla sambil memberikan raket nyamuk itu kepada Aksa.
"Hajar mereka semua!!" teriak Reno. Teman teman Reno dan teman teman Keyla langsung saling serang menyerang.
"Ayo! Lo lawan gue." ucap Keyla sambil menodongkan balok kayu nya ke arah Reno.
"Lo lawan gue? Haha." dibalik tawa remeh nya, sebenarnya Reno agak takut melawan Keyla. Karena Reno tau jika Keyla bukanlah cewek sembarangan.
"Nggak usah banyak bacot." Keyla kemudian menendang tulang kering Reno membuat Reno meringis kesakitan.
Reno ganti menyerang dan memukul Keyla, namun pukulan nya melesat.
Bugh
Keyla berhasil memukul pundak Reno menggunakan balok kayu nya. Saat Keyla ingin memukul Reno lagi, Reno dengan gesit menghindar dan melemparkan balok kayu yang Keyla bawa.
Perkelahian itu terus terjadi selama beberapa menit, hingga akhirnya datang seorang guru dari masing masing pihak SMA untuk melerai anak didik nya.
Prittttt
Pak Didi selaku guru olahraga menghentikan perkelahian itu dengan meniup peluit nya. Dan hal tersebut membuat mereka semua berhenti berkelahi.
"Keyla! Arvin! Damian! Aksa! Dan yang lain, ikut saya sekarang juga!!" perintah Pak Didi.
"Urusan kita belom selesai." ucap Damian kepada Reno.
"Semua alat alat yang kalian bawa cepat buang!" ucap Pak Didi.
Keyla dan yang lain kemudian membuang alat alat yang mereka bawa, kecuali Aksa, Rizky dan Aldo.
"Aksa, Rizky, Aldo, ayo buang!" ucap Pak Didi.
"Aduh, jangan pak, ini tongkat pel nya saya pinjem adek kelas." ucap Rizky.
"Sama pak, saya tadi juga pinjem sapu dari adek kelas." ucap Aldo.
"Kalo raket nyamuk nya, saya pinjem dari ibu kantin, pak. Jangan di buang, udah dua hari saya pinjem." ucap Aksa.
"Saya mau tanya, kalian kerjaan nya tawuran terus sama murid SMA sebelah emang ada gunanya? Kan bapak sudah bilang, jangan tawuran! Kalian mau nama baik sekolah kita rusak gara gara kalian?!"
"Enggak, pak!!" ucap Keyla dan yang lain.
"Kalau kalian nggak mau, yasudah. Jangan tawuran lagi sama murid SMA sebelah!"
"Ta-" ucapan Damian terputus.
"Tidak usah tapi tapian! Untuk hukuman nya, kalian harus keliling lapangan sepuluh kali putaran!"
"Iya pak!"
"Kalian jangan coba coba kabur, saya akan ngawasin kalian dari sana."
Keyla dan teman teman nya mengangguk, mereka kemudian mulai berlari mengelilingi lapangan.
"Key, capek?" tanya Damian.
"Nggak." ucap Keyla.
"Baru aja berantem, masa disuruh lari. Mana kaki gue nyeri semua lagi." gerutu Arvin.
"Sabar, Vin. Tinggal sembilan putaran lagi." ucap Keyla.
"Gila aja gue mah!" Arvin berhenti berlari dan langsung tiduran di tengah lapangan.
"Eh! Itu kenapa Arvin tiduran di situ?" tanya Pak Didi sambil berlari kecil ke arah Arvin.
"Saya pingsan, Pak!" ucap Arvin.
"Jadi cowok lemah banget kamu." ucap Pak Didi.
"Terserah bapak deh mau ngomong apa, yang jelas kaki saya sakit nggak bisa lari. Tadi kaki saya kena tendang, pak." ucap Arvin.
"Makanya jangan ikut tawuran, lihat kan akibat nya." ucap Pak Didi.
"Ya ampun, pak. Kaki saya lagi sakit malah di ceramahin. Bantu berdiri dong, Pak."
"Yasudah sini, kamu istirahat di UKS aja."
Pak Didi memapah Arvin berjalan menuju Uks. Sementara itu Keyla dan yang lain sebentar lagi akan menyelesaikan hukuman nya. Kurang satu putaran lagi.
"Buset, Keyla lari nya cepet banget." ucap Rizky.
"Ayo guys, satu putaran lagi!" teriak Keyla menyemangati.
Dua menit kemudian mereka telah menyelesaikan putaran terakhir mereka. Mereka kemudian menyusul Arvin ke Uks dan ikut tiduran di sana.
"Capek banget gue." dengan nafas terengah-engah Damian duduk di atas lantai Uks yang dingin.
Melihat ada satu kardus minuman di pojok ruangan Uks, mereka langsung mengambil nya. Di sana juga ada pisang, entah itu pisang milik siapa.
Keyla mengambil satu pisang dan satu botol minum. Keyla meneguk minuman nya hingga tersisa setengah.
"Gue cabut dulu ya." ucap Keyla.
"Mau kemana lo?" tanya Aksa.
"Ke kelas." ucap Keyla.
Keyla kemudian pergi dan membiarkan pintu Uks terbuka agar teman teman nya di dalam tidak merasa pengap.
Dia memakan buah pisang nya sambil berjalan menuju kelas. Setelah pisang nya habis, Keyla melempar kulit pisang nya secara sembarangan.
Di tengah tengah jalan Keyla berhenti untuk mengambil dasi dari saku rok nya. Keyla kemudian langsung memakai dasi nya.
Sebelum melanjutkan perjalanan nya, Keyla melihat Bu Rika yang tengah berjalan. Gawat nya, Bu Rika akan menginjak kulit pisang yang tadi ia buang.
"Bu Rika, awas!!" teriak Keyla.
Bruk
"Aduh, gawat." gumam Keyla.
"Keyla!!!" teriak bu Rika mengema keras di seluruh koridor sekolah.
"Bu Rika sih, jalan nggak lihat lihat ke bawah, nah jatoh kan? Sakit nggak bu? Hehe." Keyla menghampiri bu Rika yang tengah terpeleset.
"Ini kulit pisang nya siapa?!" tanya bu Rika sambil mencoba untuk berdiri.
"Mau Keyla bantu berdiri?" tawar Keyla.
"Nggak usah saya bisa sendiri. Ini kulit pisang kamu kan?" tanya bu Rika lagi.
"Bukan punya Keyla bu, lagian kalo itu puya Keyla kenapa Keyla buang?"
"Maksud saya, tadi kamu kan yang buang kulit pisang sembarangan di sini?" bu Rika menunjukkan dua kulit pisang yang telah membuat diri nya terpeleset kepada Keyla.
"Nah kalo itu baru bener bu, saya yang buang kulit pisang nya."
"Keyla!!"
"Iya bu, saya di sini."
"Saya nyerah ngadepin kamu." bu Rika memijit pelipis nya.
"Kok nyerah? Semangat dong bu! Kayak Keyla nih tiap hari semangat." Keyla mengepal kan tangan nya ke atas bermaksud untuk menyemangati bu Rika.
"Gimana mau semangat kalo ngadepin orang kayak kamu."
"Jiwa anak muda emang beda sama jiwa yang rada tuaan." ucap Keyla sambil berdecak.
"Jadi, kamu bilang saya sudah tua?" bu Rika bersedekap tangan.
"Bukan Keyla loh yang ngomong, bu Rika sendiri tadi yang ngomong." ucap Keyla dengan wajah polos nya.
"Kamu nih ya polos polos tapi ngeselin." ucap bu Rika.
"Saya? Polos? Ah, masa sih bu? Hehe"
"Ikut saya ke ruang Bk sekarang, kamu akan saya skors!"
"Skors? Yah, oke deh." Keyla mengacungkan ibu jari nya.
"Keyla!!"
"Tau ah, bodo amat gue." guman Keyla.
***
"Mom, hehe.." Keyla berjalan ke arah Dania dengan menampilkan cengiran nya.
"Apaan?" tanya Dania, Mommy Keyla.
"Aduh, bilang nggak ya? Bilang, enggak, bilang, enggak. Bilang aja deh." batin Keyla.
"Mommy hari ini cantik banget deh kayak budidari, eh bidadari." Keyla menepuk bibir nya pelan karena salah menyebut bidadari menjadi budidari. Seluruh tubuh Keyla terasa panas dingin ketika melihat tatapan Dania.
"Tips biar cantik dong, mom. Hehe.." ucap Keyla lagi sambil menggaruk tengkuknya nya tak gatal.
Hening, tidak ada jawaban. Dania terus saja memasang tatapan tajam nya ke arah Keyla. Keyla hanya diam menatap Dania dengan tatapan watados.
Hingga lima menit berlalu...
"Kamu mau tips biar cantik kayak Mommy?" tanya Dania dengan senyum lebar nya, tapi malah terlihat menakutkan bagi Keyla.
"Mommy Fake smile ini mah." batin Keyla.
"I-iya mom, kasih tau dong. Sekali kali lah mom, bagi bagi tips biar pahala Mommy tambah gede."
"Bentar, Mommy ambilin sesuatu dulu buat kamu." ucap Dania sambil bangkit dari tempat duduk nya lalu berjalan ke arah dapur.
"Wah, mommy mau ngasih Keyla apa nih? Jangan jangan, Mommy mau ngasih Keyla cupcake? Baik banget sih mommy!"
"Tutup mata dulu dong, biar surprise." ucap Dania.
"Oke, mom." Keyla menutupi mata nya menggunakan telapak tangan nya.
"Nih, tips biar cantik. Di oles oles, di tap tap biar wajah jadi putih mulus kayak adonan ayam goreng." Dania mengoleskan tepung yang sudah ia campurkan dengan air ke wajah Keyla.
Senyum Keyla langsung sirna begitu saja ketika merasakan sesuatu yang tidak beres di wajah nya.
"Mom, ini apa mom?" tanya Keyla sambil meraba raba wajah nya.
"Tepung." ucap Dania.
Keyla membuka mata nya dengan ekspresi wajah terkejut.
"Hahaha!" tawa Aron, abang Keyla yang baru saja pulang dari sekolah.
"Apa lo ketawa ketawa?!" teriak Keyla.
"Udah cantik kan sekarang? Mau di tambah lagi?" tanya Dania.
"Nggak mom, nggak. Keyla nggak mau ih." Keyla mengusap wajah nya dengan menggunakan tisu.
"Kenapa kamu bisa di skors lagi?" tanya Dania sambil bersedekap tangan.
"Ha? Kok Mommy bisa tau?" tanya Keyla.
"Kenapa kamu bisa di skors? Kalo Mommy nanya di jawab dulu." ucap Dania.
"Mampus lo." bisik Aron sambil terkekeh.
"Aron, kamu bisa diem nggak? Sana pergi ke kamar kamu." ucap Dania.
"Mampus lo." ucap Keyla sambil menyikut perut Aron.
"Iya mom." ucap Aron.
"Keyla, kamu kenapa bisa di skors lagi, hah?" ucap Dania sambil menjewer telinga Keyla.
"Ya lagian sih bu Rika kalo jalan nggak lihat lihat, kan jadi nya kepleset sama kulit pisang yang Keyla buang."
"Buang sampah itu di tempat sampah, jangan di tengah jalan." ucap Mommy Keyla.
"Keyla nggak buang di tengah jalan kok Mom, Keyla cuma buang kulit pisang nya di tengah koridor sekolah doang."
"Sama aja anakku." gemas Dania, Mommy Keyla.
"Beda lah Mom."
Keyla PoV
"Kamu di skors lagi?" tanya Daddy gue.
"Iya nih, Dad."
Daddy menghela nafas panjang, sepanjang rel kereta, hahaha.
"Daddy nggak habis pikir sama kamu. Udah berapa kali kamu di skors, Daddy tanya?"
"Baru tujuh kali, Dad."
"Baru tujuh kali kamu bilang? Kamu itu anak cewek, Keyla. Nggak pantes lah kalo kelakuan kamu kayak gitu."
"Maaf, Dad."
"Keyla terima kok kalo Daddy mau hukum Keyla. Daddy mau pindahin Keyla ke asrama juga nggak papa kok, Dad."
"Iya, emang itu kemauan Daddy."
Gue cuma ngelihatin wajah Daddy gue cengo. Lah, beneran gue mau di masukin asrama.
"Daddy serius mau pindahin Keyla ke asrama?" tanya gue.
"Awal nya sih gitu, tapi Daddy nggak tega sama kamu."
"Daddy sudah membuat keputusan, kamu Daddy masukin di SMA Hemsworth."
"SMA Hemsworth? Keyla mau pindah sekolah tapi Keyla nggak mau pindah sekolah disana."
"Kenapa? Di sana kan ada abang kamu. Itu juga sekolah punya Daddy, lebih enak dong kalo kamu sekolah di sana."
"Keyla nggak mau, Dad. Yang lain aja ya."
Kalo gue sekolah di sana, gue nggak bakal bisa ngapa ngapain woy. Pasti gue di awasi terus sama Daddy.
"Nggak. Pokok nya kamu harus pindah sekolah di sana. Kalo di sekolah lama kamu, bisa bisa kamu malah ikut tawuran terus sama anak cowok yang lain. Daddy nggak mau kayak gitu." ucap Daddy.
"Keyla nggak bakal ikut tawuran lagi kok. Kalau Keyla di ajak, keyla bakal bilang gini ' nggak mau. Gue nggak di bayar, buat apa gue ikutan' nah, Keyla ngomong gitu Dad."
"Tidak bisa."
Daddy menggoyangkan jari telunjuk nya ke samping kanan dan kiri.
"Daddy mah nggak seru. Ntar kalo Keyla nggak ada temen main disana, gimana?"
"Ya kan ada abang kamu." ucap Daddy.
"Keyla ajak temen temen Keyla boleh nggak? Fara, Lala sama Aira."
"Terserah." ucap Daddy.
"Yaudah deh, Keyla mau. Ntar Keyla bakal ajak temen temen Keyla."
"Bagus, besok kamu tinggal masuk dan langsung pergi ke ruang kepsek, nanti Daddy bakal urus semuanya."
"Oke, tapi uang jajan Keyla ditambahin ya." ucap Gue.
"Kalo Daddy nggak mau?" ujar Daddy sambil melipat tangannya.
"Ya harus mau." ucap gue.
"Dih, maksain." cibir Daddy.
"O iya Dad, emang bener ya di sekolah nya Daddy ada yang korupsi?" tanya gue.
"Korupsi?" tanya Mommy dan abang gue.
"Bener, Dad?" tanya abang gue.
"Iya, seperti nya ada yang korupsi. Kamu tau dari mana, Key?"
"Kemaren Keyla nggak sengaja denger obrolan Daddy sama orang di telfon." ucap gue.
"Lo nguping ya?" tanya abang gue.
"Enggak, gue nggak nguping. Gue cuma nggak sengaja denger doang."
"Gimana? Apa kamu udah punya solusi nya?" tanya Mommy.
Daddy hanya mengendikkan bahu dan menggeleng.
"Itu Dad, coba aja lihat di cctv. Kerjaan nya orang dalem pasti." ucap abang gue.
"Nah justru itu, cctv nya di rusak." ucap Daddy.
"Badass." ucap gue.
Entah kenapa, tiba tiba saja ada sebuah ide yang melintas cepat di benak gue buat nyamar jadi nerd.
"Gimana kalo Keyla nyamar aja? Kebetulan juga Keyla kan besok baru pertama sekolah. Terus kalo Keyla nyamar kan Keyla bisa selidiki masalah keuangan Daddy. Yes! Akhirnya gue bisa jadi detektif." ucap gue dengan girang nya.
"Oke, emang lo mau nyamar jadi apaan? Lo mau nyamar jadi power rangers yang kayak di tipi tipi gitu?" tanya abang gue. Gue memutar bola mata malas.
"Ya nggak gitu juga kali bang, ya kali gue harus nyamar jadi Power Rangers, emang gue udah gila apa? Gini ya gue mau nyamar jadi nerd aja deh." ucap gue.
"Apa? Kamu mau jadi nerd? Haha." ledek Mommy gue.
"Iya jadi Nerd! Asik, gue jadi nerd!" ucap gue seneng.
"Mau jadi nerd aja seneng lo, jadi babu gue aja ya? Hehe." canda abang gue.
"Ogah!!" ucap gue nggak terima.
"Kali aja mau, haha."
"Lo tau nerd kan?" tanya abang gue.
"Tau lah, nerd kan kayak cupu gitu."
"Serius kamu mau jadi nerd? Jaman sekarang tuh lagi marak nya kasus pembullyan, ntar kalo kamu dibully gimana?" tanya mommy gue yang merasa kawatir dan di balas anggukan kepala Daddy.
"Santai, kayak nggak tau Keyla aja. Kan ada bang Aron, Keyla juga mau ngajak temen Keyla jadi nerd." ucap gue.
"Ngajak jadi nerd? Emang mereka mau?" tanya abang gue.
"Ya pasti mau lah." balas gue sambil tersenyum.
"Pede banget lo." cibir abang gue.
"Karena ada abang kamu, jadi Daddy bolehin jadi nerd." ucap Daddy gue
"Santai Key, gue bakal jadi hero lo." ucap abang gue.
"Alay lo ah." ujar gue asal dan di balas sebuah tonyoran yang mendarat mulus di kepala gue.
"Santai aja kali bang, maen nonyor nonyor kepala gue segala. Yaudah gue mau balik ke kamar dulu mau mandi, bhay!" ucap gue sambil berjalan ke kamar.
Grup lambe Turah
KeylaRn : P
KeylaRn : P
KeylaRn : P
KeylaRn : P
KeylaRn : Woii
KeylaRn : Digidaw
KeylaRn : Cuii
FaraBalrd : ada apa zeyeng?
LalaDelard : Nyepam njir
AiraDalbert : Ada apaan oe?
KeylaRn : Jadi nerd yok
LalaDelard : Ha? Buat apaan dah Key??
AiraDalbert : Yok Yok Yok
FaraBalrd : Mau ngapain lo jadi nerd? Oh gue tau, lo pasti mau cari cinta sejatihh, ye kan?
KeylaRn : Sini aja ke rumah gue, biar gue kasih tau
AiraDalbert : Otwehh
FaraBalrd : Oke otiway
LalaDelard : Asiyap, gue otw
Waktu gue keluar kamar, gue lihat di ruang tamu ada abang gue yang lagi main game.
"Bang, lo pindah aja gih jangan disini." ucap gue.
"Lah kenapa emang? Tega amat lo ngusir gue."
"Ya gue bukan nya ngusir sih. Tapi ntar temen temen gue mau kesini, ntar lo ganggu lagi."
"Iya iya gue pindah." ucap abang gue seraya berdiri dari sofa.
"Hehe, gitu kan cakep." ucap gue sambil terkekeh.
"Huu dasar." ucap abang gue.
Ting Tong
"Nah cepet banget udah nyampek." ucap gue.
Gue pun bergegas membuka kan pintu untuk sahabat sahabat gue.
"Keyla!" sapa Fara, Lala dan Aira.
"Iya, sini duduk dulu." ucap gue.
"Key, lo tadi di skors sama Bu Rika ya?" tanya Fara.
"Iya." ucap gue.
"Terus, tadi lo juga ikut tawuran sama anak anak cowok?" tanya Lala.
"Iya." ucap gue.
"Lo kok cuma iya iya aja sih." protes Fara.
"Ya terus gue mau ngomong apa lagi? Kan emang bener, gue di skors Bu Rika sama ikut tawuran tadi."
"O iya, lo kenapa tiba tiba pengen ngrubah penampilan jadi nerd?" tanya Fara setelah duduk di samping gue.
"Di sekolah Daddy gue ada yang korupsi. Maka nya gue mau nyamar jadi nerd buat cari bukti. Kalian mau nggak nih bantuin gue?"
"Santai, gue mau kok. Kita kan bespren poreper. Susah bareng, seneng bareng." ucap Aira sambil tersenyum lebar.
"Oke gue mau bantuin lo. Sekali kali ngrasain jadi nerd juga deh gue." ucap Fara sambil tersenyum.
"Maulah. Gue juga penasaran jadi nerd itu kayak gimana?" ucap Lala.
"Oke. Kalo gitu sekarang kita langsung berangkat beli peralatan yang kita butuhin buat besok nanti." ajak gue.
Semua peralatan nerd yang nanti nya gue butuhin
- Kacamata bulat tebal✓
- Tas ransel✓
- kaus kaki panjang✓
- Seragam longgar✓
- Rok 10 cm di bawah lutut✓
- Sepatu fantaufel hitam✓
Selelah semua peralatan terbeli kita semua memutuskan untuk pulang kerumah masing masing.