Tengah malam buta
Paksa raga membuka mata
Denting malam tetiba bersuara
Waktunya menjumpa lampu terang-NYA
Alat masak tertata
Pisau dan tangan meraba
Adonan sayur dan kentang tercipta
Pengisi perut sebelum mulai berdoa
Tak lupa kacang hijau di gelas
Penguat kaki lelah tak membekas
Sebentar lagi alas beradu batu cadas
Angin malam dari kemiringan menghempas
Persiapan usai
Semua bersiap memulai
Membentuk lingkaran tengah api
Mendoa untuk keselamatan diri
Jejak langkah menyeruak
Meninggalkan rumput liar berserak
Tatapan mata menggambar bait sajak
Sementara kaki melantunkan irama penuh isak
Desah dedaunan memggores lengan
Embun menampakkan senyum di tangan
Serupa kaca kilaunya melukis cermin harapan
Memeluk guratan penanda waktu yang diam
Memberi isyarat supaya tetap melangkah
Lampu amaterazu tak kan sanggup menunggu
Putaran batu menderu seiring ranting dahan membeku
Harus segera melaju, sebelum kilauan emasnya berlalu
Pohon pergi ilalang undur diri
Lautan pasir terhampar mengelilingi
Udara pagi yang dingin terus membayangi
Sejenak duduk seraya mengelus sepatu, siap maju?
Sorot tajam mata meminta
Raga supaya berhenti merana
Sebelum kaki menapak batu di ujung rasa
Tangan menghempas pasir menengadah ke udara
Berkejaran dengan batu karam
Di kemiringan empat-puluh-lima yang tajam
Sesekali menengok ke belakang tuk pastikan
Semua terjaga, dengan sebenar aman
Puncak seakan terlupakan
Pijakan langkah ini seberat titian
Langit hitam berganti awan kuning keemasan
Tanpa terasa raga mendekati tiang penuh tulisan
Yeah!
Lengkap sudah
Setelah sejuta langkah
Kepala dan tangan menengadah
Menghampiri wewarna surya
Lampu mahameru terasa terangnya
Kilaunya memimpi asa dalam pejam mata
Menghangatkan raga di atas puncak tertinggi jawa
#
Mahameru - 3676 mdpl
Mt. Semeru (3676 mdpl)
Lumajang, Jawa Timur, Indonesia