Dinginnya malam mencekam
Menahan mata supaya tak terpejam
Jaket tebal berpolar tak ubahnya kolam
Tubuh masih merasa menggigil lebam
Pasir berdesir, mengucap selamay datang
Pada jiwa-jiwa yang hilang, dari asmara karang
Kepala terbawa ke angkasa
Mengukur raga menggapai asa di atas sana
Sejenak melamun, antara ragu dan diam membisu
Duduk bersimpuh di antara lutut yang mulai mengeluh
Di balik batu kuarsa yang tak tahu datangnya dari mana
Berdoa, tuk kembalikan rona menggelora di dada
Badan kembali hangat, waktunya berangkat
Kaki mulai mentatah pasir tanpa wajah
Naik tiga langkah, turun lima jengkal ke bawah
Begitu seterusnya, menghajar kaki hingga lelah
Rupanya pasir ini tengah berbisik
Menyuarakan diri dalam atiran matematika klasik
Supaya pendaki menghitung langkah
Menghemat napas terengah dan jarum jam setengah
Kepala terus merunduk
Mengamati sepatu langkah menanduk
Mencari pijakan di sela pasir dan batu sambil membungkuk
Supaya tak terperosok jatuh meringkuk
Sesekali terhenti, menghela napas supaya segar kembali
Mengistirahatkan raga supaya siap berlari
Sambil makan coklat yang dibawa sedari tadi
Menikmati kerlip lampu kota malam hari
Tak boleh terlalu lama berdiam diri
Otak bisa membeku tak mampu berpikir lagi
Ayo bangkit! Pekik dalam hati
Tak terasa sang surya mulai membuka mata
Diperlihatkan selimutnya yang putih merona
Ah...! Samudera awan!
Negeri halimun penuh taman
Sejenak mata terpesona
Melihat kabut bergulung mengombak di udara
Lelah semakin tak dirasa
Seperti hilang tiba-tiba
Debu mahameru memanggil tuk kembali berseteru
Terik mentari mengaba kaki supaya melangkah lagi
Puncak tinggal beberapa puluh inci
Entah benar atau halusinasi, tetap mendaki!
#
Summit Attack, Mahameru - 3676 mdpl
Mt. Semeru (3676 mdpl)
Lumajang, Jawa Timur, Indonesia