Mr. Davidson kedatangan tamu tak diundang. Tamu yang tak seharusnya datang ke kantor hanya untuk membicarakan masalah pribadi. Masalah keluarga yang menyangkut putri semata wayangnya. Apakah perlu gadis itu dicurigai bukan sebagai anaknya sedang dia memiliki fisik yang mirip Anne?
“Aku hanya takut kalau dia bukan anak kandungmu.” entah bagaimana seorang teman Mrs. Davidson memengaruhinya untuk melakukan tes DNA pada anak yang ditemukan di London hanya karena dia bernama Cinderella, sesuai dengan nama yang diberikan Anne.
“Agen FBI tidak mungkin salah dalam membantuku, Kelly. Dia Cinderella, putriku.”
“Kau boleh bilang begitu sekarang, tapi faktanya, kita tidak tahu yang sesungguhnya. Aku hanya takut kalau dia bukan putrimu yang asli lalu dia akan memanfaatkan pernikahannya dengan Noah.” Tampak jelas, Mrs. Davidson tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran dan pikiran buruknya.
“Bisakah kita tidak membahas masalah pernikahan? Cind baru sehari di rumah, dan tiba-tiba kita membahas masalah perjodohan dengannya, itu sungguh keterlulan, Kelly.”
“Aku belum membahas masalah perjodohan dengannya,” sewot Mrs. Davidson.
“Iya, aku tahu. Maksudku, kau tidak perlu membahas perjodohan dan pernikahan sekarang. Beri waktu Cind untuk merasakan menjadi seorang Cinderella Davidson. Dia layak mendapatkan kemewahan dariku sebelum dia mendapatkan kemewahan yang lebih besar.”
Mrs. Davidson mendesah. “Dan yang paling penting adalah tentang perusahaan kita.”
“Aku takut kalau Cinderella menolak perjodohan ini, Kelly.” Akhirnya Davidson menyampaikan ketakutan yang dipendamnya setelah menemukan Cind dan membawa Cind ke New York.
“Aku juga.” sahut Mrs. Davidson.
***
Langit tampak kelabu dan perlahan-lahan menjadi kelam seakan-akan dia berubah menjadi monster hitam. Rey mengerjap-ngerjapkan matanya. Ya, sedari pagi dia menghabiskan waktu dengan Melissa. Memesan makanan cepat saji dan menenggak gin. Mematikan ponsel yang pasti akan menggangu kebersamaannya dengan Melissa. Posisinya sekarang berbaring di atas ranjang hanya dengan memakai pakaian dalam. Dan Melissa, entah kemana wanita itu. Tapi Rey menduga Melissa sedang mandi.
Rey mengambil ponselnya di samping bantal tidurnya. Dia mengaktifkan ponselnya. Dengan mata terbelalak, puluhan panggilan tidak terjawab dan pesan-pesan bernada ancaman menyambutnya. Dan suara Camilla nyaris membuat jantungnya lepas.
CEO t***l!! Cepat datang kalau kau tidak ingin melepas jabatanmu itu! Ayah tirimu itu akan memecatmu bego! Kalau kau dipecat jangan salahkan aku, okay. Karena aku adalah sekretaris ayah tirimu.
Dahi Rey mengernyit, namun seketika dia menyunggingkan senyum sinis. “Ya, memang aku lebih baik dipecat dari perusahaanmu itu, Davidson. Kau mengangkatku sebagai CEO bukan karena kemampuanku tapi karena Kelly adalah istrimu.”
“Siapa itu Rey?” teriak Melissa dari dalam kamar mandi. Salah satu hal yang membuat Rey bingung terhadap Melissaa adalah saat gadis itu mandi, waktu yang digunakan lama sekali. Nyaris 3 jam.
“Camilla, sayang.” Jawab Rey. Melissa sudah tahu cerita tentang teman Rey itu dari Rey sendiri bahkan dia pernah beberapa kali bertemu dengan Camilla.
Tiba-tiba Rey mengingat sesuatu.
“Kalau aku pulang sore, kita akan jalan-jalan.”
Cinderella.
Bukankah dia akan mengajak Cinderella jalan-jalan di sekitar Brooklyn?
Rey bangkit dari ranjang seraya memunguti pakaiannya. Dia memakai baju dan celananya dengan tergesa-gesa. Entah kenapa, tetapi, Rey akan merasa bersalah jika dia tidak jadi mengajak Cind jalan-jalan. Mengingat wajah gadis itu yang tampak kesepian. Rey kasihan. Rey bersimpati padanya.
“Melissa, aku harus pergi sekarang.” Ujar Rey terburu-buru.
“Ya,” sahut Melissa. Entah apa yang dlakukan wanita itu di dalam kamar mandi selama berjam-jam itu.
***