“Cind,” suara Noah memecah pikiran Cind tentang kebodohannya sendiri. “Emm—itu milik Olivia. Ya, Olivia.” Dustanya. “Kenapa ada di meja riasmu?” “Tadi Olivia masuk ke kamarku dan mungkin dia lupa membawa kembali bunganya.” Dustanya lagi. Noah mengangguk-nganggukan kepala dengan mata menunduk seakan menahan sesuatu. Dia kemudian kembali menatap istrinya lembut sekaligus tajam. Cara Noah menatapnya cukup membuat seluruh tulang-tulang ditubuh Cind lemas. “Kau pasti lelah, isirahatlah.” Saran Cind yang membuat hati Noah berbunga. Bentuk perhatian yang—biasa saja, tapi bagi Noah itu cukup luar biasa karena perhatian itu meluncur dari bibir Cind. “Terima kasih, Cind.” Bibirnya melengkung manis. “Oh ya, Mom meminta kita makan malam di rumahnya malam ini. Aku sudah bilang pada Olivia kalau m

