TUJUH PULUH ENAM

963 Kata

Tengah malam terasa sangat dingin bagi Aretha. Selimut tebal yang membungkus tubuhnya seakan-akan adalah kain transparan yang tipis, karena selimut saja masih belum bisa membuat tubuh Aretha hangat. "Ehgg...ya Tuhan dingin sekali." gumam Aretha, suaranya teredam selimut tebalnya. Perlahan-lahan Aretha membuka matanya. Tiba-tiba saja rasa haus menderanya, ditengah malam yang dingin. Dengan sedikit kesusahan Aretha mencoba mendudukkan dirinya, dan melihat teko air diatas nakas. "Airnya habis." gerutu Aretha. Ia mau tak mau harus turun kebawah dan mengambil air. Dengan sangat terpaksa, Aretha turun dari ranjang dan mengambil teko kosong yang berada di atas nakas. Aretha keluar dari dalam kamar dan melihat ke sekelilingnya. Dan matanya tertuju pada cahaya yang berasal dari ruang tamu. Si

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN