Matahari sudah menampakkan wujudnya, meskipun masih setengah dan sinarnya merambat menembus jendela yang tidak tertutup sempurna oleh korden. Perlahan mata wanita itu terbuka dan sedikit menggeliatkan kepalanya, ketika cahaya matahari menerpa wajahnya. Perlahan tapi pasti mata itu sudah menyesuaikan cahaya tangannya merambat kebawah, menyentuh tangan yang sedari tadi memeluk perutnya. Dengan hati-hati Aretha berusaha memindahkan tangan kekar yang memeluknya, tapi belum sempat berhasil. Sang pemilik tangan membuka matannya dan semakin mengeratkan pelukannya. "Kenapa sudah bangun?" tanya David dengan suara serak. "Ini sudah pagi, kau juga harus bangun. Apa kau tidak pergi ke kantor?" Aretha berbalik badan dan menatap David. "Kenapa kau menatapku seperti itu sayang? Apa kau ingin kej

