LIMA

751 Kata
1 bulan kemudian. Sudah sebulan ini Aretha tidak pernah lagi menginjakkan kaki di club malam. Bahkan akhir-akhir ini, Aretha lebih menyibukkan dirinya untuk bekerja. Dan hal itu membuat semua orang terdekatnya bertanya-tanya, terutama Liam. Tapi Aretha selalu memberi penjelasan yang logis, sehingga Liam percaya. "Ross tolong buatkan jus jeruk." pinta Aretha yang sudah duduk dimeja makan. Hari ini adalah hari Minggu, dan Aretha akan memanfaatkan hari ini untuk beristirahat. Sedangkan semuanya sedang pergi berlibur, tentu Aretha di ajak. Tapi Aretha menolak dengan alasan ingin istirahat. "Ini." Ross menyerahkan segelas jus jeruk. Entahlah akhir-akhir ini Aretha ingin makanan atau minuman yang belum pernah Aretha coba. Biasanya Aretha paling anti dengan meminum jus jeruk. Tapi hari ini rasanya ia ingin menghabiskan satu gelas jus jeruk. "Ross aku akan pergi. Nanti jika aunty atau Daddy menelfon, bilang saja aku pergi." pesan Aretha sebelum beranjak dari tempat duduknya. "Iya akan saya laksanakan." Aretha berjalan dengan lemas menuju kamarnya, ia ingin pergi ke mall. Untuk menghilangkan penat. Ia hanya memakai tank top hitam, dengan kardigan putih yang membalutnya. Dipadukan dengan celana pendek diatas lutut. Hanya riasan tipis yang dikenakan Aretha. Setelahnya keluar dan menuju mobilnya. Kali ini Aretha tidak menyetir sendiri, melainkan ada bodyguard yang mengemudikan mobilnya. Jalanan cukup padat karena sudah semakin siang. Sesekali Aretha mengecek ponselnya, tapi tidak ada panggilan atau pesan yang masuk. Perlahan jalanan semakin lenggang, dan mobil yang Aretha tumpangi melaju dengan kecepatan sedang. Tiba didepan mall, Aretha langsung turun. Dan berpesan jangan menunggu dirinya, kepada sang bodyguard. "Cukup ramai." gumam Aretha sambil berjalan memasuki mall. Tanpa Aretha sadari, sedari tadi Aretha tengah diikuti seseorang dari belakang. Orang itu semakin dekat dengan Aretha. Tangannya tiba-tiba merengkuh pinggang Aretha. Membuat Aretha memekik keras karena terkejut. Batapa terkejutnya Aretha ketika melihat siapa yang merengkuh pinggangnya. Orang itu, dia adalah pria yang mengambil keperawanannya. Lebih tepatnya pria yang memperkosa Aretha. Dengan segera Aretha berjalan meninggalkan pria itu. Tapi hanya seberapa langkah saja, pria itu kini kembali merengkuh pinggang Aretha. "Jangan coba menghindar dariku." peringat David dengan nada tak suka. "Lepaskan." desis Aretha mencoba melepaskan rengkuhan David. "Jangan memberontak atau kau akan menanggung akibatnya." ucap David dan menarik lengan Aretha. Agar mengikutinya. Aretha diam menunggu apa yang akan dilakukan pria didepannya ini. Ia sungguh muak menatap wajah pria itu. Ingin rasanya Aretha memaki, tapi ia tak melakukannya. Jika ia memaki pria itu ditempat umum, yang ada malah image Aretha rusak. Ternyata David membawanya ke toilet. Memaksa Aretha untuk masuk. Aretha memberontak tapi lagi dan lagi, kekuatannya tak sebanding dengan David. David mengunci pintu toilet, dan mengurung Aretha diantara tangan kanan dan kirinya. "Mau apa kau b******n. Menyingkir dari tubuhku." tangan Aretha mendorong d**a David. Tapi David masih tetap berdiri tanpa pergerakan sedikitpun. "Jangan coba-coba kau menghindar dari diriku lagi. Sudah cukup sebulan aku memberimu waktu menyendiri. Tanpa aku mengganggumu." kata David tepat dihadapan wajah Aretha. Sehingga deruh nafas David terasa oleh Aretha. "Apa maksudmu. Aku tak mengerti, lebih baik kau menyingkir." "Tidak. Kau harus ikut denganku, sekarang!" mata Aretha membelak tak mengerti apa maksud David. David merogoh saku celananya, dan mengambil benda pipih. Mengetikkan sesuatu dan menyerahkan itu kepada Aretha. Aretha bingung, ia menerima ponsel itu dan menatap layarnya. Batapa terkejut dan hancurnya hati Aretha. Ponsel itu memutarkan vedeo dimana ia dan David si pria b******n ini b******a. Vedeo itu lebih dominan ke Aretha. Di vedeo itu Aretha tengah tertidur dengan keadaan t*******g bulat, dan lebih parahnya lagi gaya tidur Aretha terkesan menggoda. Sepertinya David yang merencanakan semuanya. "Kau..." air mata Aretha turun membasahi pipinya. "Lakukanlah apa yang aku perintahkan. Jika kau tidak mau vedeo ini sampai dilihat Daddy dan aunty, serta semua orang terdekatmu." David membelai pipi Aretha lembut. Mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Aretha. Aretha masih diam, ia seperti orang bodoh. "Apa yang harus aku lakukan?" tanya Aretha setelah terdiam cukup lama. "Ikut aku ke Britania Raya. Tinggalkan semua orang terdekatmu." "Tidak tidak bisa. Aku masih memiliki banyak tanggungan disini, aku harus mengurus perusahaan papa ku." tolak Aretha dengan sorot mata menyiratkan kebencian. "Entahlah, apa alasan mu kepada mereka. Yang terpenting besok siang kau ikut denganku ke Britania Raya." seperti tak bisa terbantahkan. "Jika kau tak menuruti. Bisa dipastikan vedeo t*******g mu akan menyebar." bisik David s*****l. Dan meninggalkan Aretha sendiri yang masih diam. "Arghhhhh...papa mama." "Kenapa aku harus bertemu pria b******n seperti dirinya?" Aretha keluar toilet dengan keadaan frustasi. Keinginan belanjanya seketika hilang. Aretha langsung keluar dari mall, dan menyetop taxi. "Pak antar ke alamat ini." pinta Aretha dan supir itu mengangguk. Tapi tiba-tiba kepala Aretha terasa pening, tak lama kegelapan menyerangnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN