Aretha menggeliat dalam tidurnya, rasanya badannya seperti remuk-remuk.
Aretha berusaha duduk, dan terkejut ketika mengetahui dirinya t*******g bulat. Otak Aretha terus berputar, mencoba mengingat apa yang terjadi semalam.
Tapi semua nihil, Aretha tak ingat apa-apa. Yang diingatnya hanya, ketika pria bernama David itu terus bergrilia di pahanya.
Dari itu semua Aretha bisa menyimpulkan, dan ia yakin bahwa semua ini ulah David.
"Argggggg..." teriak Aretha frustasi. Bagaimana bisa ia melepaskan keperawanannya segampang ini.
"Kau pria laknat, aku membencimu."
Aretha mencoba turun dari ranjang. Tapi belum sempat berdiri, bagian bawahnya terasa sakit dan perih. Hal ini semakin membuat Aretha frustasi. Ditambah ia menemukan secarik kertas dengan cek di sampingnya.
"Sungguh nikmat Aretha, lain kali kita bisa mengulanginya lagi."
Tangis Aretha pecah, ia tak rela keperawanannya diambil. Ia benci David, sangat membencinya.
Dan sekarang yang dipikirkan Aretha adalah. Bagaimana cara memberitahukan semuanya pada Liam dan Catline. Dan keputusan Aretha adalah merahasiakannya, ia hanya berharap kejadian ini tak membuahkan hasil, Aretha takut jika ia hamil. Aretha tak sudi mengandung anak pria b******n dan laknat seperti David.
Ia berharap sangat berharap, agar dirinya tak mengandung anak dari David.
Aretha berusaha berdiri dan berjalan tertatih-tatih menuju kamar mandi, dengan selimut putih yang melilit tubuh polosnya.
Aretha membasahi tubuhnya dibawah shower. Ia melepaskan selimut yang menutupi tubuh indahnya. Aretha berjalan menuju kaca besar, yang ada didalam kamar mandi.
Pantulan dirinya sangat mengenaskan, banyak sekali bercak merah di bagian-bagian yang paling pribadi. Ah hampir semua tubuhnya dipenuhi bercak merah.
Aretha tak lagi menangis, ia sadar jika menangis tak akan mengembalikan keperawanannya.
Setelah dirasa cukup, Aretha keluar kamar mandi dengan keadaan t*******g. Diraihnya baju yang ia pakai semalam. Baju itu sudah robek, dan tak mungkin Aretha memakainya kembali.
Pandangannya tak sengaja menangkap bingkisan di pojok atas kasur. Ia berjalan dan membuka bingkisan yang membuatnya penasaran.
Ternyata didalamnya berisi baju, Aretha mengambil baju itu. Dan betapa terkejutnya Aretha melihat kondisi baju itu.
Baju itu sangat minim, dan berwarna merah menyala. Baju itu lebih terkesan sexy, dari baju-baju koleksi Aretha. Apalagi baju itu sangat tipis.
"Baju macam apa ini." gumam Aretha kesal.
Diambilnya kertas yang ada didalam bungkusan tersebut.
"Oh s**l, ternyata David yang membelikan nya." ingin sekali Aretha berteriak, meluapkan semua emosinya.
Bagaimana bisa David menyediakan baju seminim ini. Apalagi tidak dilengkapi b*a dan celana dalam, Aretha berjalan dengan tertatih-tatih, mencari dalamnya. Tapi nihil sepertinya David telah membuangnya. Karena hanya ada pakaiannya yang telah robek.
"Terpaksa." gumam Aretha mengambil pakaian itu dan memakainya. Batapa malunya nanti jika Aretha keluar dari kamar ini.
Dan tak mungkin bukan, Aretha menelfon Grena untuk membawakan baju yang layak untuknya. Bisa-bisanya Grena bertanya macam-macam.
Hanya butuh waktu lima menit, untuk bersiap-siap. Dan setelah selesai langsung saja Aretha keluar kamar. Batapa malunya ia saat ini. Apalagi sepanjang perjalanan Aretha terus ditatap, dengan tatapan ingin menerjang.
Aretha segera menuju resepsionis hotel, dan segera Check out dari hotel.
Aretha menyetop taxi, dan taxi tersebut langsung meluncur ke alamat yang di berikan Aretha.
Aretha yakin pasti saat ini keadaan mansion sangat sepi. Daddy nya berkerja, aunty nya ke Singapura. Karena kemarin malam, sudah memberitahu Aretha, dan semoga saja sudah berangkat. Sedangkan Grena, ia pasti sedang pemotretan. Dan jangan tanya Greno, pasti dia sudah sibuk dikantor.
Taxi tersebut berhenti didepan gerbang mansion. Aretha menyuruhnya menunggu sebentar dan masuk mansion untuk mengambil uang.
"Ross tolong kau berikan uang kepada supir taxi didepan." perintah Aretha.
Ross hanya menurut dan tak banyak bertanya tentang pakaian yang dipakai Aretha.
Sesampainya di kamar Aretha langsung merebahkan dirinya, dikasur king size miliknya. Batapa sialnya dirinya.
"Semoga ini tak berlanjut." gumam Aretha memejamkan matanya, dan alam mimpi menjemputnya.
****
Pria dengan kemeja putih sedang duduk, dengan segelas sampanye ditangannya.
"Hidup barumu akan dimulai Aretha." seringai David semakin lebar.
Ya, pria itu adalah David. Saat ini ia merasa bahagia, sangat bahagia karena sudah berhasil menjerat Aretha kedalam permainannya.
Dan David berharap benihnya akan tumbuh, ia sangat ingin dan berharap Aretha mengandung anaknya.
"Aku ingin kau hamil Aretha." gumam David dengan senyum tipisnya.
"Kau akan terjerat dalam kehidupan ku, selamanya. Andai saja papa mu tidak meninggal, pasti ia akan merasakan apa itu yang namanya kehilangan." ucap David, sorot matanya menandakan ia sedang emosi.
Ia meminum sampanye nya, tapi ia tiba-tiba menghentikan aktivitas meminumnya. Langsung saja David membuang gelasnya, sehingga menimbulkan suara yang berisik.
"Aku membencimu."