Part 5 (Cewek Cerewet)

1201 Kata
Memasak adalah hobiku sejak kecil. Aku sempat mempunyai cita-cita untuk memiliki restoran di masa depan nanti, dan aku turut andil sebagai seorang koki yang bisa diandalkan. Tapi, untuk membangun sebuah restoran memang membutuhkan modal yang lumayan. Tak hanya modal keterampilan dan tenaga saja. Modal utamanya adalah uang. Menurutku aku harus bekerja lebih keras lagi untuk bisa membuat sebuah resto impian. Dari kecil, aku sudah terbiasa hidup mandiri. Aku bukan berasal dari keluarga mampu. Orang tuaku dua-duanya tengah merantau ke Yaman. Sudah lama mereka bekerja di sana, semenjak aku masuk SMA kalau tidak salah. Tidak ada kamus dalam hidupku untuk hidup foya-foya dan santai-santai seperti di pantai. Selama aku masih bisa mencari uang sendiri, aku tak mau merepotkan orang lain. Meskipun di sini ada Kak Afdan--yang boleh dibilang ekonominya sudah mapan, tapi rasanya tidak enak saja kalau harus menggantungkan hidup pada beliau. Apalagi Kak Afdan sudah berkeluarga. Sangat-sangat tidak dianjurkan jika aku sudah besar tua begini, tapi masih saja bergantung pada beliau. Dengan diterimanya aku bekerja di sini, aku mulai menata rencana baru untuk masa depanku. Aku sangat bersyukur karena Siska sudah menawariku bekerja di tempat Nyonya Dea ini. Kapan lagi sih dapat pekerjaan dengan gaji lumayan seperti sekarang ini. Jarang banget, apalagi kerjanya cuma ngurusin bayi besar. Menurutku, Darren itu tidak terlalu parah sakitnya. Sebenarnya ia hanya butuh teman saja. Dia seperti benar-benar kesepian dan butuh diperhatikan. Wajar saja dia kesepian, semua keluarganya sama-sama sibuk dengan urusan masing-masing. Harusnya dalam kondisi Darren tengah down begini, dukungan dan perhatian dari keluarga adalah hal yang paling ia butuhkan. Tapi aku tidak berani komentar apa-apa. Nyonya Dea dan Tuan Dirga sama-sama sibuk mengurus perusahaan. Sementara Dara--adiknya Darren, anak seumuran Dara memang sedang semangat-semangatnya belajar. Pun jadwal kegiatan sehari-harinya selalu padat. Sebenarnya kalau dipikir-pikir, Darren sama sepertiku. Aku juga terbiasa sendiri. Cuma bedanya, aku tidak kesepian karena memiliki banyak teman. Menurutku Darren adalah tipikal orang yang pendiam dan tertutup. Dilihat dari gerak-geriknya, ia seperti susah untuk beradaptasi dengan orang asing, terlebih terbuka pada orang-orang sekitar. Masakanku akhirnya matang juga setelah aku memasaknya dengan suka cita. Udang saus tiram ala Chef Kay baru saja terhidang begitu menggoda di atas piring. Segera kutaruh piring berisi makanan favorit sang tuan muda itu di atas meja makan. Aku sudah tidak sabar ingin melihat Darren makan dengan lahap. Dengan langkah pasti, aku bergerak menaiki anak tangga menuju kamar Darren yang berada di lantai dua. Kuketuk pintu kamarnya beberapa kali, tak ada sahutan, aku pun memilih masuk saja. "Tuan Darren, ayo makan. Udang saus tiramnya udah saya buatkan." Kuhampiri lelaki berhidung mancung itu yang tengah duduk di atas sofa. Darren tengah sibuk membaca buku rupanya. "Eum, atau mau saya bawa ke sini makanannya?" tawarku kemudian. "Nggak perlu. Aku ingin makan di bawah," jawabnya dingin. "Akh, iya, mari silakan. Sekalian saya temani." Aku menanti Darren menyambut ajakanku. Dan pria itu lantas berdiri, melangkah mendahuluiku. Sampai di ruang makan, segera kutarik salah satu kursi untuk Darren duduki. Dengan cekatan, kuambilkan nasi untuknya. Lalu mempersilakan Darren untuk mengambil lauk sendiri karena hanya ia yang tahu mau mengambil sedikit atau langsung banyak. "Selamat makan, Tuan," ucapku riang setelah menuangkan air ke dalam gelasnya. Darren menatapku sekilas. Lagi-lagi wajahnya terlihat datar. Seharian ini aku belum melihat ia tersenyum sekali pun. Sepertinya senyumnya itu mahal sekali. Pria itu terlihat melipat tangan sejajar dengan d**a, menundukan kepala, lalu metutup mata. Mulut Darren terlihat bergerak-gerak, sepertinya ia tengah melafalkan doa makan. Menurut penuturan Bi Asti, Darren ini adalah tipikal umat kristiani yang rajin beribadah. Setiap hari Minggu doi rajin banget ke gereja. Tapi, setelah Darren mengalami gangguan depresif seperti sekarang, dia tidak pernah ke gereja lagi. Alasannya karena kondisinya memang sedang tidak memungkinkan. Aku mendapati Darren sudah mulai menikmati hasil masakanku. Diam-diam aku memerhatikan cara makannya. Terlihat lahap, sepertinya ia memang sangat lapar. Entah kenapa ada perasaan senang ketika melihat Darren makan dengan lahap seperti itu. "Enak banget ya masakannya? Tuan suka kan sama masakan saya?" Iseng saja aku bertanya seperti itu. Dan ekspresi wajah Darren terlihat kikuk. Makin ke sini kulihat pipinya agak memerah. Apa mungkin dia malu karena kepergok tengah menikmati masakanku dengan begitu lahap? "Masakannya lumayan enak," jawabnya lirih. Aku tahu ia baru saja memuji masakanku, meski dari intonasi nada suaranya tetap terdengar datar. Tiba-tiba saja aku mendengar suara klakson mobil dari halaman depan. Mba Rara yang kupikir tadi sudah beristirahat di kamarnya tiba-tiba saja datang sambil berlari kecil. Beliau segera membuka pintu utama. Sepertinya akan menyambut kepulangan tuan dan nyonya besar. Benar kan dugaanku, ada Nyonya Dea dan seorang pria paruh baya yang kuduga beliau adalah Tuan Dirga--mereka tengah melangkah menuju ruang makan menghampiri kami. Aku dengan sigap berdiri dan menyambut dengan hormat kepulangan dua majikanku itu. "Selamat malam, Tuan dan Nyonya." Tak lupa senyum ramah kusunggingkan setelah aku menyapa mereka. "Malam, Kayla. Wah, si Tole sedang makan rupanya. Makan apa, Sayang?" Nyonya Dea menarik kursi dan memposisikan diri duduk di sebelah kanan putranya. Kulihat Tuan Dirga juga menyusul duduk di kursi yang letaknya di depan Darren. "Makan apa kamu, Nak? Sepertinya lahap sekali." Tuan Dirga ikut menanyai putranya. "Udang, Pa," jawab Darren singkat. "Sepertinya enak banget, Nak? Mama cobain dikit, ya?" Nyonya Dea meraih sendok makan yang masih bersih di sana, lalu mulai menyicipi hasil masakanku. "Emmm ... enak banget. Ini siapa yang masak, Nak?" tanya Nyonya Dea pada anaknya. Darren perlahan melirikku. Aku justru menundukkan kepala. Merasa malu dan kikuk saja. "Cewek cerewet itu yang masak." Darren kembali melanjutkan makannya tanpa memedulikan ekspresi wajahku yang tengah kaget karena ucapannya. Jadi belum apa-apa dia sudah berani menganggapku sebagai cewek cerewet?! Aku cerewet kan memang sudah dari sononya. Dasar laki-laki dingin! "Hampir semua perempuan pasti cerewet, Ren. Kamu saja yang jadi laki-laki terlalu dingin. Makanya sampai kaget kalau ada perempuan cerewet." Tuan Dirga hanya geleng-geleng kepala menanggapi ucapan anaknya. "Nak Kayla cerewet sama kamu itu wajar, Le. Dia mama tugaskan untuk merawat kamu. Kalau dia cerewet, itu tandanya dia perhatian dan ingin kamu segera sembuh." Nyonya Dea sepertinya satu kubu denganku. Beliau memang majikan yang baik. Darren hanya diam, tak menjawab apa-apa lagi perkataan kedua orang tuanya. Setelah selesai makan, ia pun pamit untuk kembali ke kamarnya. Dan aku sebagai seorang yang ditugaskan untuk merawatnya, mau tidak mau harus mengikutinya ke kamar. Sekadar memastikan kalau Darren tidak berbuat macam-macam di sana. Lagian jam segini sudah waktunya untuk tidur. "Tuan Darren tidur ya, sudah malam." Aku mulai menata bantal untuknya. Dan kulihat Darren baru saja membuka kausnya, kemudian bergerak menuju lemari pakaian. Sepertinya ia akan mengganti kausnya. Aku sempat gerogi berada dalam satu kamar dengan seorang pria apalagi pria itu tengah bertelanjang d**a. Takut kalau dia berbuat macam-macam. Biarpun Darren tengah mengalami gangguan depresif, tapi kan nafsu prianya tidak terganggu. "Aku mau tidur, kenapa kamu bengong di situ? Kamu punya kamar sendiri, kan?" Suara Darren seketika mengagetkan lamunanku. "Akh, i-iya, Tuan. Saya jelas punya kamar sendiri dong. Kamar saya ada di sebelah kamar Tuan persis. Kalau Tuan butuh bantuan saya, tinggal pencet angka 1 di telepon rumah yang ada di meja nakas Tuan, itu langsung tersambung dengan telepon rumah yang berada di kamar saya," jelasku panjang lebar. Darren lagi-lagi tak menjawab ucapanku. Ia mulai merebahkan diri di kasur empuknya. "Saya keluar dulu ya, Tuan. Selamat malam. Sampai bertemu besok pagi." Aku pun pamit undur diri dari kamarnya. ***********
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN