"Mau ikut aku belanja nggak, Kay?" ajak Mba Rara.
Aku tengah menikmati secangkir kopi pahit di ruang makan khusus pembantu. Tadi niatnya mau mengurusi si Tuan Muda dulu. Takutnya ia butuh sesuatu pagi-pagi begini. Tapi setelah aku intip ke kamarnya, rupanya si duda tampan itu masih tidur. Jadi mending aku gunakan waktu untuk bersantai-santai dulu sambil menikmati secangkir kopi.
Sementara Tuan dan Nyonya besar jam delapan tadi sudah otw ke kantor. Mereka memang pasangan yang super sibuk. Apalagi Tuan Dirga, kerjaannya sering bolak-balik keluar kota. Dan semalam kata Mba Rara, si Dara alias adik bungsu Darren katanya sudah pulang dari kegiatan KKN. Tapi aku belum melihat gadis itu muncul pagi ini. Mungkin masih tidur seperti kakaknya.
"Belanjanya memang di mana, Mba?" tanyaku setelah menyomot pisang goreng keju yang sudah tersaji di meja makan. Dan detik ini aku tengah menikmati pisang goreng buatan Bi Asti itu.
"Belanja sayur yo di pasar, to. Masa belanjanya di toko bangunan." Mba Rara malah bergurau.
"Ya, kupikir belanja apaan gitu. Bentar ya, aku mau izin dulu sama Tuan Muda. Takut doi nyariin nanti." Kopi hitamku baru saja kuseruput habis.
"Yo wes, minta izin dulu sana. Takute nanti si bayi besar nyariin kamu, tapi kamu nggak ada, malah ngamuk dia."
"Memang si Tuan Muda sering ngamuk?" Bukannya langsung meluncur ke kamar Darren, aku justru kepo dengan pembahasan Mba Rara kali ini.
"Tuan Darren itu lagi nggak stabil emosinya. Nggak cocok sedikit yo marah, ngamuk. Wes, jangan cari masalah, Kay. Buruan sana izin dulu. Kalau misal nggak boleh, yo wes, aku tak ngajak si Ahmad ae. Aku tunggu yo di depan." Mba Rara pun pamit menungguku di depan. Sementara aku bergegas menuju ke kamar Darren.
Sampai di kamarnya, kondisi kamar pria itu masih tampak agak gelap. Karena tirai belum terbuka, dan masih memakai lampu tidur yang cahayanya temaram.
"Selamat pagi, Tuan," sapaku lirih.
Aku bergerak menghampiri Darren yang rupanya sudah bangun dan detik ini tengah duduk di atas ranjang. Namun, ada yang aneh dari pria itu. Ia tengah duduk dalam kondisi tengah memeluk kaki dan kepala menunduk. Samar-samar terdengar suara isak tangis. Apa jangan-jangan ....
"Tuan ...?! Hei, Tuan menangis?" Aku duduk dengan sigap di tepi ranjang, tepat di depannya. Segera kutangkup wajahnya. Dan ternyata benar, Darren tengah menangis. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Tuan kenapa? Tuan butuh apa? Tuan tinggal bilang sama saya."
Darren tak menjawab pertanyaanku sama sekali. Ia memang menatapku, tatapannya terlihat sendu. Dan ia tiba-tiba memelukku tanpa meminta izin dulu.
Aku tak bisa berkutik sedikit pun saat ini. Aku hanya sanggup mendengar ia menangis dalam dekapanku. Apakah ini ada hubungannya dengan mendiang Reynita? Mungkinkah pria itu kembali teringat dengan mantan istrinya yang sudah meninggal itu?
"Kak Darren."
Aku segera melepas pelukan pria itu ketika terdengar suara seorang perempuan dari arah pintu kamar. Aku dengan cepat menoleh ke belakang, dan rupanya pintu sudah terbuka. Detik ini ada seorang gadis cantik yang tengah melangkah menghampiri kami.
Aku menduga dia adalah Dara, terbukti ia tadi memanggil Darren dengan sebutan kakak.
Aku berniat berdiri untuk menyambut kedatangan Dara, tapi ternyata Darren tiba-tiba menahan lenganku. Kutatap Darren sekilas. Ia seperti ketakutan. Ada yang ingin ia sampaikan sepertinya.
"Kakak kenapa? Ini aku Dara, adik Kakak. Aku kangen sama Kakak." Dara memilih bersimpuh di samping Darren.
"Akh, Non Dara, silakan duduk." Aku memberi ruang untuk Dara agar ia bisa duduk berdekatan dengan kakaknya. Pun sebelumnya aku sudah memberi pengertian lewat tatapan mata supaya Darren mau melepas cekalannya pada lenganku.
"Ini Mba Kayla yang merawat Kak Darren sekarang, ya?" tanya Dara setelah ia duduk di tepi ranjang.
"Akh, iya, Nona. Nama saya Kayla. Saya bertugas untuk merawat Tuan Muda di sini." Aku pun memperkenalkan diri.
"Semoga betah ya, Mba. Mohon maaf kalau nanti Kak Darren sering ngerepotin Mba."
Ya ampun, dia masih gadis tapi wibawa dan sopan sekali, ramah pula. Beda banget sama kakaknya yang terkesan dingin, datar, dan sudah berani mengataiku cewek cerewet semalam.
"Nggak ngerepotin kok, Nona. Tuan Darren ini nurut kok. Dan nggak susah diurusin." Aku pura-pura memuji pria itu di hadapan adiknya.
Perhatianku kembali terfokus pada Darren. Kulihat ia sudah tidak menangis lagi. Tapi Darren memilih diam sambil menunduk daripada berbaur bercakap-cakap bersama kami.
"Kakak gimana kondisinya? Kakak cepat sembuh, dong. Dara udah nggak sabar pengen jalan-jalan sama Kakak lagi." Dara mulai bersikap manja pada kakaknya. Hal ini membuatku rindu saja dengan Kak Afdan.
"Kakak ...." Kulihat Dara berniat meraih tangan Darren, tapi lelaki itu tiba-tiba menepis tangan adiknya. Aku dan Dara sempat dibuat terkejut.
"Kakak, Kakak kenapa?" Suara Dara mulai terdengar panik bercampur bingung.
"Jangan bunuh Reynita," ucap Darren lirih.
Aku dan Dara hanya saling tatap dengan kening berkerut.
"Kakak ...."
"Jangan bunuh Reynita!" teriak Darren. Ia tiba-tiba mendorong adiknya sampai terjatuh ke lantai.
Aku segera mengamankan Dara dari jangkauan Darren. Takut pria itu kehilangan kontrol dan berakhir dengan menyakiti adiknya. Detik ini aku melihat Darren tengah menjambak-jambak rambutnya frustrasi sambil meracau tak jelas. Ia selalu berteriak 'jangan membunuh Reynita' berkali-kali. Membuat aku dan Dara bingung sekaligus takut.
"Kakak kenapa, Kak ...?" Dara nyaris menangis.
"Non Dara sebaiknya keluar dulu. Biar saya tangani Tuan Muda sebentar," pintaku.
"Tapi Dara takut nanti Mba Kayla akan diapa-apain sama Kakak." Dara mulai khawatir akan keadaanku.
"Nona nggak perlu memikirkan saya. Saya bisa tangani Tuan Muda kok."
Gadis itu pun menurut setelah aku membujuknya pelan-pelan. Ia melangkah pergi meninggalkan kamar meski sebenarnya ragu.
Setelah Dara berlalu, aku segera menghampiri Darren yang masih tampak kacau di sana. Kuraih kedua tangan pria itu yang sejak tadi ia gunakan untuk menjambak-jambak rambutnya. Seketika, tatapan kami bertemu. Darren kembali menangis. Ia mulai berani mengadu apa saja yang ia rasa saat ini.
"Ada yang membunuh Reynita. Ada orang yang telah menyakiti Reynita ...," ucap Darren di sela-sela isak tangisnya.
Aku mencoba menangkup kedua pipinya. Kutatap lekat-lekat mata pria itu yang sudah basah karena ulah air matanya. Aku berusaha meyakinkan bahwa yang Darren katakan itu tidak benar. Mungkin itu hanya halusinasi saja. Jelas-jelas, menurut cerita yang lain, Reynita meninggal itu karena kecelakaan mobil. Bukan karena dibunuh atau disakiti orang seperti yang Darren katakan sejak tadi.
"Tuan, apakah Tuan habis mimpi buruk? Apa yang Tuan katakan itu nggak benar. Istri Tuan meninggal karena kecelakaan."
"Tau apa kamu soal Reynita, hah?! Kamu datang baru kemarin, kan? Aku memang bermimpi Reynita dibunuh orang. Ada seseorang berjubah hitam yang mengaku kalau dia membunuh Reynita dan calon anakku. Aku akan bunuh orang itu ... aku akan bunuh b******n itu!" Darren berontak. Ia dengan sekuat tenaga menyingkirkan aku dari dekatnya. Lelaki itu beranjak berdiri dan berniat melangkah. Tetapi tiba-tiba saja Darren mengerang kesakitan sambil memegangi kepalanya. Tubuhnya perlahan terhuyung. Ia nyaris jatuh kalau aku tidak sigap memapahnya.
"Tuan ...!" Aku baru sadar kalau suhu badannya sangat panas. "Tuan demam? Tuan harus istirahat total. Fisik Tuan lemah. Tuan nggak boleh stres dan banyak pikiran." Aku bergerak memapahnya menuju ranjang. Kubantu Darren untuk duduk di tepian tempat tidur.
Kondisi Darren masih tampak kacau. Meski ia sudah tidak menangis lagi, tetapi dari raut wajahnya ia kelihatan seperti gelisah bercampur bingung. Aku yang menghadapinya pun juga tak kalah bingungnya.
"Tuan dengarkan saya. Istri Tuan meninggal karena kecelakaan. Sudah ada bukti yang sangat akurat. Pendapat saya, kenapa Tuan tadi mimpi buruk tentang mendiang Nyonya Muda Reynita, itu karena Tuan belum sepenuhnya ikhlas melepas kepergian beliau. Di agama saya mengajarkan untuk mengikhlaskan seseorang yang sudah meninggal. Kita hanya sanggup mendoakan untuk ketenangan seseorang tersebut di sana. Pada dasarnya, semua manusia pasti akan mati. Kita yang masih memiliki kesempatan untuk hidup, harus tetap menjalani kehidupan, mau seberat apa pun ujian yang sedang kita hadapi."
Dengan hati-hati dan penuh kesabaran aku mencoba menasihatinya. Mudah-mudahan kali ini ia benar luluh. Tanggapan Darren hanya diam. Napasnya terbuang kasar, ia memilih merebahkan diri kemudian menatap langit-langit kamar.
"Hidup itu harus tetap dijalani dan dinikmati, Tuan. Percayalah, mendiang istri Tuan, pasti akan sedih kalau tau Tuan seperti ini terus," kataku menyemangati.
Darren kini beralih menatapku, cukup lama, dan seperti ada yang ingin ia katakan.
"Bisa antarkan aku ke makam Reynita?" pintanya.