Part 7 (Parangtritis)

1432 Kata
Aku dan Darren datang ke tempat pemakaman Reynita dengan diantar Pak Anton. Aku memilih turun untuk menemani Darren menuju makam istrinya. Tak lupa kubantu bawakan setangkai bunga mawar yang nanti akan kami taburkan di atas makam Reynita. Tanah pemakaman ini sangat luas. Aku cukup terkejut ketika Darren masuk ke dalam area pemakaman khusus orang muslim. Dan sekarang aku tahu siapa sebenarnya Reynita. Rupanya ia seorang muslim, sama sepertiku. Dan ia menikah dengan seorang pria yang memiliki agama berbeda dengannya. Akh, tidak bisa dibayangkan bagaimana rumitnya hubungan mereka. Menurut pandanganku, menikah dengan yang berbeda agama itu jelas tidak boleh alias harus dihindari. Bagaimana mungkin, kedua insan yang saling mencintai kemudian memutuskan bersatu untuk membina rumah tangga, nyatanya menjalani kehidupan dengan kondisi keyakinan yang berbeda? Bagaimana cara seorang suami menjadi imam bagi istrinya jika urusan keyakinan pun bertentangan? Nanti kalau punya anak, kira-kira mau memeluk agama yang mana? Ya ampun, hal rumit itu jangan sampai terjadi padaku. Semoga suatu saat aku akan dipertemukan dengan laki-laki yang seiman, soleh, dan tentunya setia. Darren berhenti di salah satu makam yang tertulis jelas nama 'Reynita Maharani' di papan nama. Aku lalu melakukan tugasku menaburkan bunga-bunga di atas makam tersebut. Terlihat Darren sudah bersimpuh di samping pusara sang istri. Ia terlihat tengah berdoa. Aku pun ikut berdoa dalam hati untuk mendiang Reynita. Darren mulai mengusap papan nama milik istrinya. Entah kenapa hatiku terasa sesak ketika isak tangis Darren mulai terdengar lagi. Aku seolah-olah bisa merasakan sakitnya menjadi Darren. Memang, kehilangan orang yang sangat kita cintai untuk selama-lamanya itu memang cobaan yang berat. Tapi, apakah seumur hidup kita harus hidup dengan kondisi rapuh begini? Belajar ikhlas memang tidaklah gampang. Namun, aku sendiri sangat yakin, kalau kita ikhlas, maka Allah akan memberikan kebahagiaan yang tak terkira sebagai gantinya. "Rey ...." Darren mulai berbicara pada makam istrinya. "Baik-baik ya di sana. Aku selalu berusaha untuk menerima, tapi semua terasa berat, Rey. Aku ... aku selalu dihantui rasa bersalah. Aku merasa aku bukanlah laki-laki yang tepat untuk kamu." Suara Darren terdengar lirih dan parau. Ia seperti seorang lelaki yang benar-benar menyesal karena tidak bisa menjaga wanitanya dengan baik. Tanpa sadar tangan ini bergerak mengusap-usap punggung pria itu. Niatku hanya ingin menenangkannya. Tapi entah kenapa aku jadi seberani ini. "Aku ke sini nggak sendiri loh, Rey. Aku ke sini sama Kayla. Dia cewek yang hobi ceramahin aku setiap saat," adu Darren. Aku sempat dibuat kesal bercampur ngakak setelah mendengar Darren memperkenalkan aku pada istrinya dengan cara konyol seperti itu. Sepertinya Darren sudah mantap menyebutku sebagai orang yang cerewet. Huh, terserah dia saja lah. Yang penting di sini aku kerja dan dapat duit. Pusing-pusing amat mikirin omongan dia. "Saya akan rajin ceramahin Tuan, dua puluh empat jam nonstop kalau perlu, selagi Tuan masih bandel dan nggak mau nurut apa kata saya," sahutku. Darren hanya menatapku sekilas. Tatapannya terlihat beda. Seperti tatapan orang yang tengah merajuk. Selesai mengunjungi Reynita di pemakaman, kami bergegas kembali ke mobil. Dan roda empat berwarna putih itu kembali Pak Anton jalankan. "Kita mau langsung pulang, Mba?" tanya Pak Anton. "Eum, saya bosen di rumah terus, Pak." Aih, jawaban macam apa ini? Jelas-jelas di sini aku bekerja. Pakai acara bilang bosan di rumah terus. Lancang benar aku ini. "Kalau bosan, ya mending jalan-jalan dulu, Mba. Sekalian Tuan Darren diajak. Sejauh ini, Tuan Muda keluar rumah kalau mau menemui psikiater saja, selebihnya tidak sama sekali," jelas Pak Anton. Aku sempat terkejut kalau Darren hanya boleh keluar saat ingin mengunjungi psikiater saja. Apa mungkin keluarganya takut Darren berbuat yang aneh-aneh saat berada di luar rumah? Justru kalau berada di rumah terus malah jadi bosan bin suntuk. Menurutku, asal Darren ada yang menemani dan menjaga, ia tidak akan membuat masalah. "Eum, Tuan. Tuan mau ikut saya ke pantai?" Entah kenapa aku mendadak ingin ke pantai saat ini. Rasanya sudah lama sekali aku tidak ke sana. Darren beralih menatapku dan tampaknya ia tengah berpikir. Seketika, lelaki itu menganggukkan kepala. Aku pun tersenyum simpul menanggapi persetujuannya. "Ayo, Pak, kita ke Parangtritis," ajakku riang pada Pak Anton. "Sip, Mba Kay." Pak Anton pun sepertinya sangat antusias menanggapi ajakanku. *** Parangtritis, salah satu pantai yang lokasinya berada di daerah Bantul. Waktu zaman kuliah, aku sering ke sini. Tempat ini biasa aku jadikan tempat untuk membuang suntuk. Meski di pantai ini menyimpan banyak kenangan bersama orang yang dulu pernah kusayang. Tidak perlu aku ceritakan lagi kan ya? Orang yang dulu pernah kusayang dan kugilai tentunya si Ikhsan buaya darat itu. Siapa lagi kalau bukan dia. Aku bukan tipikal perempuan yang rajin gonta-ganti pacar. Kalau pun dulu Ikhsan tidak main serong dengan si tikus got alias Tika, mungkin sampai sekarang hubungan kami berdua masih awet-awet saja. Sebenci-bencinya aku pada Ikhsan, biar bagaimana pun dulu aku pernah jatuh cinta padanya. Sebenarnya, Ikhsan adalah pribadi yang baik, penyayang, penyabar, tapi sayang, ia bukan tipikal pria yang benar-benar bisa menjaga kesetiaan dengan baik. Kami sudah pacaran sejak zaman SMA. Hampir sepuluh tahun hubungan ini kami bina. Namun, semua itu harus kandas begitu saja saat kami sudah sama-sama bekerja. Ikhsan ketahuan selingkuh dengan Tika saat kami bekerja baru satu tahun di perusahaan yang dulu pernah kukerjai. Menurut pengakuannya, ia baru beberapa bulan mengencani Tika. Dan pengakuan itu benar-benar membuatku syok berat. Sangat-sangat tidak menyangka bukan kalau seorang pacar yang sudah bertahun-tahun ada bersama kita, rupanya diam-diam main serong di belakang dengan teman kerja sendiri. Waktu itu, Sarah tak sengaja melihat Ikhsan masuk ke dalam kamar kos Tika. Kebetulan Sarah dan Tika satu tempat kos. Ia lalu menghubungiku dan dari situlah aku tahu kalau Ikhsan sudah tega menduakanku selama ini. Aku memergoki Ikhsan keluar dari kamar kos Tika dalam keadaan bertelanjang d**a setelah kugedor-gedor pintu kamar perempuan itu. Rasa-rasanya hatiku benar-benar remuk. Seorang lelaki yang sehari-harinya selalu kukagumi rupanya sudah sering menjamah tubuh wanita lain tanpa sepengetahuanku. Sejauh ini, aku memiliki prinsip untuk berpacaran secara sehat. Tak ada hubungan seks bahkan untuk berciuman pun, aku masih belum mau. Aku sadar diri aku ini seorang muslim. Di agamaku sangat melarang keras para umatnya berpacaran. Dan terbesit rasa menyesal karena selama ini aku telah berpacaran cukup lama. Meski pacaran kami sebatas gandengan tangan dan pelukan, tapi dalam Islam itu tetap tidak boleh. Aku sempat memantapkan hati, untuk ke depannya jika aku dekat dengan seorang pria lagi, aku malah tak mau pakai acara pacar-pacaran segala. Dalam Islam ada istilah ta'aruf. Dan aku ingin suatu saat bisa ber-ta'aruf dengan pria yang tepat. Saat ini masih terbilang pagi. Baru pukul sepuluh pagi, tetapi cuaca hari ini cukup mendung. Asyiknya udara di pantai makin terasa sejuk saja. Sebenarnya waktu yang tepat untuk datang ke sini bagusnya itu sore hari. Kalau sore kita dapat melihat pemandangan sunset yang menurutku indahnya tidak ada duanya. Aku mengajak Darren berjalan-jalan di atas pasir dengan sengaja tak memakai alas kaki. Di jauh sana Pak Anton juga tengah berjalan-jalan seperti kami. Sepertinya beliau juga sama-sama suntuk bekerja menyopir terus setiap hari. Sekali-kali lah yang namanya orang itu berwisata ke pantai atau ke mana demi menghilangkan rasa jenuh dan suntuk. "Tuan suka kan saya ajak ke sini? Sebelumnya Tuan pernah ke sini?" Aku memerhatikan Darren yang kelihatannya tengah asyik menatap ombak bergulung-gulung di jauh sana. "Tempat ini indah, Kay." Darren sepertinya tidak mendengar pertanyaanku. Jawabannya keluar dari topik. OOT jadinya. "Yang namanya pantai pasti indah, Tuan. Tuan mau ke sana?" ajakku sambil menunjuk ke arah bibir pantai. Darren menggeleng ragu. Sepertinya ia rada takut kalau nanti terkena cipratan air pantai di sana. "Ayolah, ombak di sana sedang menunggu kita." Aku sedikit memaksa. "Eum, baiklah kalau kamu memaksa." Pria itu akhirnya setuju. Entah siapa yang memulai dulu, tahu-tahu kami sudah bergandengan tangan, dan detik ini kami tengah berlari kecil menuju bibir pantai. Aku melihat Darren sangat berbeda sekarang ini. Ia tampak bahagia dilihat dari raut wajahnya. Detik ini kami tengah menikmati dinginnya air pantai yang sejak tadi membasahi kaki kami. Bahkan ujung celana kami sama-sama sudah basah karena kecipratan air ombak. "Jangan maju terus, Tuan. Nanti kalau ombaknya gede, Tuan bisa keseret ombak." Aku bergerak menarik Darren untuk mundur menjauhi ombak yang sebentar lagi datang menghampiri kami. "Aku suka pemandangan di sini, Kay, indah," pujinya. "Kalau saya besok-besok ajak Tuan ke sini lagi, Tuan mau?" tawarku. Darren beralih menatapku. Aku sempat tak percaya kali ini. Lelaki itu tiba-tiba tersenyum. Senyum yang kulihat seperti sebuah senyuman penuh rasa haru. "Asal kamu yang ajak, aku pasti mau," jawabnya kemudian. Aku tidak mengerti kenapa ia menjawab seperti itu. Pun jawabannya justru membuat dadaku berdebar tak seperti biasanya. **********
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN