Tepat pukul 5 subuh, Revan baru saja sampai di rumahnya. Ia sempat kaget melihat Raisha terlelap di sofa yang ada di ruang tamu. Langkah lebar Revan bergerak mendekati Raisha yang masih terlelap. Ia terduduk di dekat kepala Raisha. Tangannya terulur untuk membelai kepala Raisha. “Sayang,” panggil Revan membuat Raisha mengerjapkan matanya dan perlahan membukanya. “Revan?” gumam Raisha. “Kenapa kamu tidur di sini?” tanya Revan. “Aku menunggu kamu,” gumam Raisha sedikit meringis saat rasa pening di kepalanya menyerang. Revan membantu Raisha untuk bersandar kesandaran sofa. Dan kini ia sudah berpindah menjadi duduk di samping Raisha. “Maafkan aku Sayang. Ada sedikit masalah di kantor. Aku lembur dengan anak-anak,” seru Revan. “Kenapa nomormu tidak aktif. Kenapa tidak memberi kabar,” se

