Saat ini Raisha dan Marwan sudah berada di cafeteria. “Ada apa?” tanya Marwan. Raisha menatap Marwan yang terlihat khawatir kepadanya.‘Haruskah aku menceritakannya pada Kak Marwan?’ batin Raisha. “Ada apa Icha? Katakan saja segalanya jangan kamu pendam,” seru Marwan memanggil nama kecil Raisha. “Kak, aku-“ air matanya kembali luruh. Rasanya tenggorokannya terhalang sesuatu yang berduri. Dadanya terasa begitu sesak. “Jangan hanya diam, katakan segalanya Icha.” Marwan terlihat begitu khawatir. Ia sangat penasaran dengan apa yang terjadi dengan Raisha. “Apa kamu bertengkar dengan Revan?” tanya Marwan kembali karena Raisha tak kunjung juga membuka suaranya. Raisha menggelengkan kepalanya. “Kakak, aku wanita yang tidak sempurna,” seru Raisha. “Apa maksud kamu?” tanya Marwan. Kemudia

