Episode 10

2692 Kata
“Sayang, kamu baru pulang?” tanya Revan saat Raisha baru saja memasuki kamar mereka. “Apa lancar di jalan? Kenapa kamu menolak aku menjemputmu sih. Kamu tau, aku sangat khawatir. Kamu bahkan tidak mengaktifkan handphone mu. Menaiki taxi di malam hari itu tidak aman untuk seorang perempuan,” seru Revan terlihat jelas kekhawatiran di mata elangnya. Raisha tak mampu untuk berkata-kata lagi, ia langsung memeluk Revan. Merebahkan kepalanya di d**a bidang milik suaminya itu. “Ada apa?” tanya Revan terlihat kebingungan. “Biarkan seperti ini beberapa saat, aku ingin merasakan kehangatan ini,” gumam Raisha. Revan membalas pelukan Raisha dan mengecup puncak kepalanya. “Ada apa? Apa kamu sakit?” tanya Revan. “Tidak. Aku hanya Lelah saja,” seru Raisha memejamkan matanya. Sebenarnya bukan fisiknya yang Lelah melainkan mentalnya. Berhadapan dengan mertua yang tidak menyukainya itu sangatlah sulit. Ia memejamkan matanya dan memeluk tubuh Revan dengan sangat erat seakan tidak ingin terlepas dan menjauh. Revan sebenarnya bertanya-tanya dan curiga kalau terjadi sesuatu dengan istrinya ini. Tetapi ia tidak akan bertanya, biarkan istrinya merasa tenang lebih dulu. ♥ Malam menjelang, Revan menatap wajah terlelap Raisha di sampingnya. Setelah tadi saling berpelukan, Raisha kemudian memilih mandi tanpa berkata apapun dan langsung tidur. “Sebenarnya apa yang membuatmu sedih,” gumam Revan membelai wajah cantik Raisha. Revan terus menatap dan meneliti wajah Raisha tanpa ingin membangunkannya. “Apa ini karena Mama lagi?” gumam Revan. ♥ Raisha baru saja sampai di rumah sakit. Ia berjalan memasuki lobby rumah sakit. Revan tengah memarkirkan mobil. Raisha terpaksa turun lebih dulu di lobby karena ada jadwal pemeriksaan pasien yang cukup darurat. “Ah!” pekik seseorang membuat Raisha menoleh ke sumber suara. Semua orang heboh saat seorang wanita tua jatuh pingsan dan sempat kejang. Ia bahkan memuntahkan cairan kuning dari mulutnya. Raisha bergegas menghampiri wanita yang di biarkan tergeletak itu di lantai. Semua orang hanya menonton saja. Raisha berusaha menyelamatkan orang itu dengan melakukan CPR. “Dokter Raisha!” pekik Rico yang baru sampai di sana dengan beberapa orang suster. “Dokter Rico?” “Bawa pasien ini kembali ke ruang isolasi,” perintah Rico membuat empat orang perawat dengan berpakaian serba tertutup mendekati Raisha dan pasien itu. Mereka pun kemudian membawa pasiennya dengan menaikkannya ke atas brankar. Mereka pun membawa pergi pasien itu. “Dokter Raisha, bisakah kamu ikut denganku,” seru Rico. Raisha seakan baru saja menangkap sesuatu hal yang janggal dan membuatnya gelisah. “Baik.” ---- Rico membawa Raisha ke dalam ruang isolasi, dimana sekeliling ruangan itu adalah kaca. Di dalam sana terdapat brankar dan beberapa alat medis. Bahkan cukup banyak dan terlihat untuk penanganan yang berat. “Kamu tidak bertanya kenapa aku membawamu kemari?” seru Rico. “Aku melihat kalian menangani pasien tadi. Apa penyakitnya cukup parah?” tanya Raisha. “Ya. Kamu juga tau, penularan ini akan sangat berbahaya. Untuk sementara kamu jangan meninggalkan ruangan ini,” seru Rico. “Apa penyakitnya?” tanya Raisha saat Rico mencoba mengambil sampel darah darinya. “Belum jelas. Tetapi itu karena bakteri, menyebar ke otak dan jantung. Bakteri ini cukup berbahaya, dia berkembang biak di dalam darah kita. Kamu tadi sudah bersentuhan dengan pasien itu,” seru Rico mulai mengambil sampel darah Raisha. “Kemungkinan besar aku tertular,” seru Raisha. “Tidak, itu-“ “Aku paham kok. Kamu jangan terlalu khawatr,” goda Raisha membuat Rico tersenyum kecil. “Kakak ipar tidak merasa takut,” seru Rico. “Untuk apa. Ini kan belum jelas, aku juga belum melakukan tes apapun,” jawab Raisha. “Ah benar juga,” kekeh Rico mengusap tengkuknya. “Hasilnya akan keluar 2 jam lagi,” seru Rico memasukkan kembali peralatan medis ke dalam kotak berbentuk persegi itu. Ia beranjak pergi meninggalkan Raisha seorang diri. Raisha menghela nafasnya dan mengusap wajahnya gusar. Bagaimana ini bisa terjadi pada dirinya. Ia tidak tau kalau pasien tadi memiliki penyakit langka yang menular. Bahkan sampai detik ini belum ada obat untuk mengobatinya selain melakukan isolasi dan mengkonsumsi beberapa antibiotic. Bahkan gejalanya cukup menyiksa dan membuat sang pasien harus berendam di air yang dingin hanya untuk menahan virus itu semakin menyebar ke jaringan lain. Virus ini menyebar dengan sangat cepat melalui darah dan membuat organ vital mengalami kelumpuhan atau pembekuan secara tiba-tiba. Dapat terhitung beberapa pasien yang meninggal karena penyakit langka ini. Menurut keterangan, virus ini terdapat dari binatang melata. Tap tap tap Terdengar suara langkah cepat mendekati ruangan. Raisha tersadar dari lamunannya dan menoleh ke sumber suara. Di luar ruangan itu terlihat Revan datang dengan ekspresi wajah sangat khawatir. “Raisha!” panggil Revan mengetuk-ngetuk pintu kaca itu. Revan terlihat berusaha menekan tombol di sana untuk membuka pintu ruangan itu. “Sialan! Buka pintunya!” amuk Revan menendang pintu itu. Raisha berdiri dari duduknya. Ia menatap Revan dengan tatapan sedih. “Buka pintunya!” amuk Revan meneriaki suster yang berjaga di sana. Tak lama terlihat Rico datang menghampiri Revan. “Van, tenangkan diri lu,” seru Rico. “Buka pintunya, sialan!” “Gak bisa. Raisha sedang di isolasi. Dia tidak bisa melakukan kontak dengan yang lain, sebelum hasil laboratoriumnya keluar,” seru Rico. “Dia tidak sakit!” pekik Revan. “Van, hentikan,” seru Raisha yang sudah berdiri di depannya walau terhalang dinding kaca. “Sayang,” seru Revan menatap Raisha dengan tatapan penuh kekhawatiran. “Aku baik-baik saja. Kamu tenangkan diri kamu,” seru Raisha. “Tapi-“ “Aku sungguh baik-baik saja, Sayang. Kita ikuti procedure yang ada,” seru Raisha membuat Revan terdiam dan memilih mengalah. Melihat Revan sudah tenang, Rico dan suster pun berlalu pergi meninggalkan kedua sejoli itu di sana. “Kenapa kamu harus menolongnya,” seru Revan terlihat sangat sedih. Bagaimana pun Revan mengetahui dengan jelas kasus penyakit langka ini, bagaimana gejala dan rasa sakitnya yang menyerang pernafasannya. “Aku tidak tau kalau wanita itu memiliki penyakit ini. Kamu jangan sedih, aku sungguh baik-baik saja,” seru Raisha tersenyum manis, seakan menenangkan suaminya. Revan hanya bisa menghela nafasnya seraya menatap istri yang sangat ia cintai. ♥ Setelah berada di dalam ruang isolasi semalaman, Raisha akhirnya boleh keluar karena hasilnya negative. “Sayang!” Revan langsung memeluk istrinya itu dengan perasaan lega. Setelah semalaman ia berada di dalam ruangannya dengan kondisi gelisah. Ia beberapa kali mengontrol Raisha yang terlelap di ruang isolasi. Revan bahkan memilih tidak pulang karena tidak bisa meninggalkan Raisha seorang diri. “Revan,” gumam Raisha membalas pelukan suaminya itu. “Aku merasa sangat lega. Akhirnya kamu keluar juga,” seru Revan. Revan melepaskan pelukannya dan menangkup wajah istrinya. “Jangan pernah membuatku ketakutan lagi. Kamu harus selalu sehat,” seru Revan. “Aku sangat ketakutan saat mengetahui kamu tertular.” Raisha tersenyum, dan itu berhasil menenangkan Revan. Apapun yang di lakukan Raisha seperti mantra bagi Revan. “Syukurlah Kakak ipar tidak tertular,” seru Rico yang baru saja datang menghampiri mereka. “Terimakasih Dr. Rico,” seru Raisha tersenyum manis. “Ck, untuk apa kamu berterimakasih sama landak ini,” seru Evan sedikit kesal. Rico memang di panggil landak oleh para sahabatnya karena model rambutnya yang seperti landak di bagian belakangnya. “Ck, Abang tamvan begitu aja marah,” goda Rico mencolek Revan. “Ck, diem ah!” “Gue ada kabar yang bisa bikin lu gak cemberut lagi,” seru Rico tersenyum misterius. “Kabar apa?” tanya Raisha. “Kalian pasti sangat penasaran, bukan.” “Tidak!” jawab Revan dengan tegas. “Sayang, berhenti merajuk. Ayo dengarkan kabar dari Dokter Rico,” seru Raisha. “Kakak iparku ini memang the best,” seru Rico tersenyum puas. “Berhenti berbasa basi. Sekarang katakan apa berita baiknya,” seru Revan. “Ini,” Rico menyerahkan amplop berlogo rumahsakit Horison kepada mereka. “Apa ini,” tanya Revan mengambil surat itu dan membuka amplopnya. Ia bergegas membuka lipatan kertas dengan sedikit tidak sabaran. Raisha ikut membaca surat yang ada dalam pegangan Revan. “Ya Allah!” Raisha menutup mulutnya karena sangat kaget. “Revan, ini-“ Raisha tak mampu berkata apa-apa, ia hanya menutup mulutnya, dan mata yang berkaca-kaca. “Sayang selamat!” Revan langsung memeluk Raisha dengan rasa bahagia juga haru. “Alhamdulillah ya Allah.” Rico tersenyum melihat pasangan sejoli di hadapan mereka. ♥ Spoiler Revan baru saja sampai di rumahnya. Ia bergegas menuju ke kamar untuk melihat kondisi istrinya. “Assalamu’alaikum…” Revan memasuki kamar dan Raisha terlihat terlelap di atas ranjang dengan posisi meringkuk seperti bayi. Revan tersenyum dan berjalan memasuki kamar mandi untuk mencuci kedua tangannya. Setelahnya ia berjalan menuju ranjang dan mendekati istrinya. “Sayang,” seru Revan membelai kening Raisha membuat Raisha mengerang kecil dan perlahan membukanya. “Emm kamu sudah pulang,” gumam Raisha beranjak bangun seraya mengucek kedua matanya. “Aduh,” ia meringis saat pening menyerang dan rasanya ruangan di sana berputar membuatnya tak kuat untuk bangun. Melihat Raisha yang oleng, segera Revan menahan kedua pundaknya dan membantu Raisha untuk duduk bersandar ke kepala ranjang. Revan menyentuh kening Raisha dan demamnya semakin tinggi. Ia mengambil tas kerjanya dan mengeluarkan stetoscop dan alat tensi darah manual. Revan segera melakukan pemeriksaan kepada Raisha. “Kondisimu kenapa malah semakin drop. Kamu sudah makan dan minum obatnya, bukan?” tanya Revan membuat Raisha melihat ke arahnya. “Sudah tadi. Aku tertidur setelah meminum obat,” jawab Raisha. Revan menatap Raisha dengan tatapan menyidik. “Ada apa dengan matamu, kamu habis menangis?” tanya Revan khawatir. Raisha hanya diam dan tidak menjawabnya. “Sayang,” panggil Revan dan saat itu juga air mata Raisha jatuh membasahi pipinya membuat Revan kaget. “Ada apa? Apa yang sakit?” tanya Revan khawatir. “Apa kepalamu sakit atau bagian lain?” “Van,” seru Raisha dengan nada lemah. “Kenapa sayang? Kalau kamu merasa kesakitan, kita ke rumah sakit aja yah,” seru Revan. “Dengerin aku dulu, Van,” seru Raisha saat Revan hendak beranjak dari duduknya. Mendengar seruan dari Raisha, Revan pun kembali duduk dan menatap istrinya dengan seksama. “Ada apa sayang,” seru Revan. “Berapa biaya operasi Sisil yang tak bisa di cover asuransi?” tanya Raisha. “Kenapa kamu menanyakan hal itu?” tanya Revan. “Semuanya sudah selesai.” “Aku akan mengganti uangmu. Aku akan transfer sekarang juga. Berapa jumlahnya?” tanya Raisha. “Kamu ini apa-apaan sih. Aku kan sudah bilang biar aku yang membayarnya. Aku ikhlas membantunya,” seru Revan. “Kalau kamu ikhlas, kenapa harus ngomong sama Mama kamu!” seru Raisha dengan nada kesal. “Ngomong sama Mama? Apa maksud kamu?” tanya Revan kebingungan. “Hentikan semua sandiwaramu, Revan. Cepat katakan berapa jumlahnya, aku akan trasnfer sekarang juga,” seru Raisha seraya mengambil handphone nya dari dalam laci. “Jelaskan dulu ada apa. Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal itu,” tanya Revan. “Aku akan transfer 100juta ke rekening kamu,” seru Raisha mengotak atik handphonenya dan saat itu juga Revan merebut handphone Raisha. “Kamu ini kenapa sih?” tanya Revan. “Kembalikan handphoneku!” seru Raisha sedikit meninggikan suaranya. “Kamu berani meninggikan suara padaku?” seru Revan mengernyitkan dahinya. Entah ada apa dengan istrinya itu. Ia cukup kaget melihat Raisha berani meninggikan suara padanya. Raisha memalingkan wajahnya. Ia berusaha menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia berusaha menekan emosinya dan tidak ingin sampai melewati batasnya sebagai seorang istri. “Sayang, katakan sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Revan masih berusaha tenang dan berkata dengan nada pelan. “Kalau kamu memang ikhlas, kenapa kamu cerita ke Mama kamu kalau kamu membiayai operasi pasienku,” seru Raisha melihat ke arah Revan dengan air mata yang berderai. “Hah? Apa maksud kamu?” tanya Revan sangat bingung. “Aku sama sekali tidak mengatakan apapun pada Mama. Untuk apa aku mengatakan hal itu,” seru Revan. “Kemarin kamu bertemu dengan mamamu, bukan.” “Iya aku memang ketemu dengannya. Lalu apa? Kamu menuduhku? Kamu pikir aku ini suami macam apa, untuk apa aku melaporkan hal seperti itu sama Mama,” seru Revan tak terima karena di fitnah. “Lalu Mama mu tau darimana, hmm? Tadi pagi mamamu datang kemari dan memarahiku. Aku di hina dan di sudutkan karena hanya bisa menghabiskan uang kamu dan tidak berguna menjadi seorang istri! Aku tidak tau apa yang mama kamu inginkan. Kenapa dia terus saja mencari-cari kesalahanku dan memojokkanku?” seru Raisha sangat emosi diiringi isakan tangisnya. “Mama datang kemari? Apa yang dia katakan?” tanya Revan. “Katakan kenapa kamu mengadu pada mamamu?” seru Raisha terlihat emosional. “Aku tidak mengatakan apapun pada Mama. Kenapa kamu menuduhku seperti itu,” seru Revan. “Lalu mama tau dari siapa, hah?” Revan terdiam sesaat. “Apa mungkin Laura yang mengatakan semuanya pada Mama,” gumam Revan. “Apa? Laura? Kenapa kamu mengatakan bahwa itu adalah Laura? Memang kapan Mama bertemu Laura dan darimana kamu tau?” tanya Raisha semakin bertanya-tanya. Revan tak ada pilihan lain selain jujur dan mengatakan segalanya. “Sebenarnya kemarin Mama makan malam bersama Laura dan putrinya,” seru Revan. “A-apa?” “Maafkan aku karena tidak jujur. Aku hanya tidak ingin kamu terluka,” seru Revan. “Tapi ini lebih menyakitkan. Kamu membohongi aku dan mengatakan kalau kalian makan malam dengan kenalan lama Mamamu. Ternyata kamu makan bersama Laura dan putrinya, layaknya keluarga bahagia,” seru Raisha dengan sinis. “Jaga ucapan kamu,” seru Revan. “Kenapa? Kenapa aku tidak boleh berkomentar?” seru Raisha menatap mata tajam Revan. “Kenyataannya Mamamu lebih memilih dan menyukai Laura di bandingkan aku. Bahkan sekarang terang-terangan mengajakmu untuk makan malam bersama Laura dan putrinya. Mungkin Mama kamu ingin menjodohkan kamu dengan Laura. Dan perasaan kamu akan kembali tumbuh pada Laura. Suatu saat kamu akan kembali bersama Laura. Dan-“ “RAISHA!” kali ini bentakan Revan membuat Raisha terdiam. Hatinya hancur lebur dan semakin perih kala di bentak oleh suaminya. Raisha memalingkan wajahnya dengan air mata yang terus berderai. “Kenapa kamu ngomong asal begitu sih. Dengerin penjelasanku dulu, aku juga punya alasan kenapa menyembunyikan hal itu dari kamu,” seru Revan. “Mama punya hutang makan malam pada Laura. Dia ingin memenuhinya tetapi Papa gak bisa nemenin. Jadi Mama ngajakin aku karena menurut dia Laura adalah rekan kerjaku. Dan saat makan malam pun Mama gak ada ngebahas hal yang tidak masuk akal apalagi sampai berniat menjodohkanku dengan Laura. Aku sudah menikah dan punya istri, orangtuaku tidak mungkin melakukan hal yang tidak masuk akal seperti itu. Kamu gak boleh menilai Mama seenaknya seperti itu,” seru Revan. “Memang sifat Mama selalu tidak menyenangkan dan buat kesinggung. Itu alasan aku membawamu pindah ke rumah ini, aku ingin membuatmu lebih tenang dan bahagia tanpa mendengar omongan Mama yang kadang nyakitin. Tapi bagaimanapun juga kamu tidak boleh seenaknya menilai Mama seperti itu. Alasan aku tidak berkata jujur karena aku melihat kamu sedang sakit dan aku tidak ingin menambah beban pikiran kamu. Toh aku juga tidak melakukan hal hal yang salah di luar sana,” seru Revan. “Aku ingin sendirian,” seru Raisha. “Raisha, kamu mendengarkan ucapanku, bukan?” tanya Revan. “Kalau kamu mau di sini, aku yang akan keluar,” seru Raisha berangsur menuruni ranjang. “Baiklah aku yang keluar. Kamu tetap di sini,” seru Revan. Raisha pun memilih duduk di sisi ranjang dengan posisi memunggungi Revan. “Maafkan aku karena tadi sempat membentakmu,” seru Revan. “Tolong keluar!” Revan pun beranjak pergi. Sebelum memegang knop pintu, Revan kembali menoleh ke arah Raisha yang masih duduk memunggunginya. Revan pun keluar dari kamar dan kembali menutup pintu kamar. Mendengar suara pintu tertutup, Raisha menundukkan kepalanya dan menangis dengan membekap mulutnya. Hatinya hancur berkeping-keping. Ini pertama kalinya Revan membentaknya, di tambah lagi dia berbohong. Bagaimanapun Revan tetap membela Ibunya, walau Ibunya sudah begitu keterlaluan. Raisha merasa sendiri sekarang dan tak ada yang mendukungnya. Ia pikir suaminya benar-benar berada di pihaknya tetapi ternyata dia tetap membela Ibunya. --- Di sisi lain Revan berdiri di balkon. Ia menatap ke langit gelap dan kembali mengingat perdebatannya dengan Raisha tadi. Ini pertama kalinya mereka berdebat dan bertengkar. Revan tadi benar-benar kelepasan dan spontan membentaknya karena Raisha terus ngomong yang tak masuk akal. Revan mengusap wajahnya gusar. Sebenarnya ia sangat khawatir dengan istrinya itu, di tambah lagi Raisha sedang sakit. Demamnya cukup tinggi. ♥
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN