Episode 9

2096 Kata
Saat ini semua keluarga berkumpul di meja makan dan menikmati makan malam bersama. “Bagaimana pekerjaanmu, Van?” tanya pak Eddy. “Semuanya lancar Pa,” seru Revan. “Oh Iya Raisha, apa belum ada tanda-tanda kehamilan? Kalian sudah menikah 3 bulan, lho,” seru Hany membuat tubuh Raisha menegang seketika. “Belum Ma, doakan saja semoga segera di berikan amanah sama Allah,” seru Revan membantu menjawab. “Kalian kan sudah menikah selama 3 bulan, masa belum ada tanda-tanda apapun.” Seru Hany dengan sarkasis. “Coba kamu periksa kondisi kamu, Raisha. Takutnya ada masalah dengan kamu.” “Iya Ma,” jawab Raisha pelan dan hanya bisa menundukkan kepalanya dan fokus memakan makanannya. Air matanya sudah penuh di pelupuk matanya, ingin sekali ia menangis. Andai saja dia sehat dan bisa memberikan anak untuk Revan. “Sabar Ma. Aku yakin nanti juga Raisha akan hamil. Mungkin sekarang belum di kasih amanah sama Allah,” seru Revan menggenggam tangan Raisha membuat Raisha menoleh ke arahnya dengan tatapan haru. Revan memberikan senyumannya seakan memberi kekuatan untuk Raisha. “Mama dan Papa hanya ingin cepat cepat menimang cucu,” jawab Hany dengan nada ketus. “Makanya jangan kerja terus, ambil cutilah untuk program anak.” “Doakan saja semoga aku dan Raisha segera di percaya sama Allah,” ucap Revan membuat Hany bungkam. ♥ Revan tengah membaca berkas berisi hasil medis pasien. Kemudian ia melihat layar besar di depannya yang menampilkan organ tubuh manusia. “Sepertinya ini akan cukup beresiko,” gumamnya memperhatikan layar itu dengan seksama seraya memijat pangkal hidungnya. Revan mengambil handphone dari dalam saku jas dokternya, kemudian ia mengotak atiknya dan menempelkan handphone ke telinganya. “Hallo Dokter Arya, bisa ke ruangan saya segera dan perintahkan anggota team operasi untuk ikut hadir.” “.....” “Ya, kita akan briefing.” Setelah mendapat jawaban dari sebrang sana, Revan memutuskan sambungan telponnya. Ia kemudian berjalan menuju kursi kebesarannya, menunggu para anggota teamnya datang. Selang 15 menit, empat orang datang. Tiga di antara mereka memakai jas dokter dan satu orang lagi memakai pakaian suster. Dokter Arya adalah wakil ketua atau asisten Revan saat melakukan operasi, Dokter Sani adalah seorang Dokter Anestesi dan Dokter Harun adalah seorang Dokter spesialis paru-paru dan Jantung. Terakhir adalah suster Nana. “Selamat siang Dokter Revan,” sapa mereka semua. “Silahkan duduk.” Revan mempersilahkan mereka berempat untuk duduk di sofa yang ada di dalam ruangannya. Di depan mereka adalah layar besar tadi yang masih memperlihatkan organ tubuh manusia. “Lihatlah gambar ini,” seru Revan yang kini berdiri di dekat layar itu. “Kanker paru-paru yang di derita pasien sudah semakin membesar. Bahkan kankernya sudah mencangkup setengah dari paru-paru pasien. Jika melakukan operasi, kalian semua akan paham resikonya,” jelas Revan. “Emm.. apa sebaiknya tidak perlu di operasi dan hanya melakukan kemoterapi saja?” tanya dokter Harun. “Aku juga tidak menyarankan itu, kalian tau efek samping dari kemoterapi. Aku takut pasien tidak akan mampu menahan lagi,” seru Revan. “Apa tidak ada jalan lain?” tanya dokter Sani. “Bukankah dengan jalan operasi juga masih memiliki peluang, Dok?” tanya Arya. “Kamu benar Dokter Arya, tetapi peluangnya sangat minim,” seru Revan. Semua orang di sana terdiam membisu. “Kita serahkan pada wali pasien saja. Suster Nana tolong kamu siapkan dokumen perjanjian untuk proses operasi yang harus di sepakati pihak keluarga pasien,” seru Revan. “Baik Dok, saya akan segera siapkan.” “Dokter Arya dan Dokter Sani tolong terus awasi kondisi pasien. Catat setiap saat perkembangannya dan laporkan padaku,” seru Revan. “Baik Dok.” “Baiklah, kalian boleh kembali bekerja,” suruh Revan membuat mereka bubar. “Ngomong-ngomong Raisha sedang apa yah, kenapa tidak ada menghubungiku,” gumam Revan mengeluarkan handphone dari dalam saku jas Dokternya dan terlihat tak ada notifikasi masuk. ♥ Raisha baru saja sampai di rumah mertuanya. Hari sudah berganti menjadi malam. Ia yakin Revan pun sudah ada di rumah. “Ck, baru pulang jam segini? Bahkan lebih terlambat dari suamimu,” sindir Hany yang membukakan pintu. “Maaf ma, banyak pekerjaan di rumah sakit,” seru Raisha. “Ck, suamimu juga butuh perhatian dan perlu di layani. Dia menikah untuk memiliki seseorang yang bisa melayaninya dengan sepenuh hati. Dan yang selalu mengutamakannya bukan fokus pada hal lain. Kamu terlalu mengutamakan pekerjaanmu, jadi belum juga hamil.” Hany mulai mengomel. “Bagaimana pun juga Revan menginginkan keturunan, jadi coba pikirin suamimu juga jangan hanya mengutamakan pekerjaanmu saja.” Setelah mengatakan hal itu Hany berlalu pergi meninggalkan Raisha seorang diri. Air mata Raisha sudah menumpuk di pelupuk matanya. Ia ingin menangis tetapi tidak bisa. Ia sudah terbiasa menahan tangisannya dan tidak pernah menunjukkan sisi lemahnya di depan oranglain. Hidupnya sangat sulit dan begitu menderita, tetapi Raisha selalu berlajar menjadi sosok yang kuat dan pantang menyerah. --- “Sayang, kamu baru pulang?” tanya Revan saat Raisha baru saja memasuki kamar mereka. “Apa lancar di jalan? Kenapa kamu menolak aku menjemputmu sih. Kamu tau, aku sangat khawatir. Kamu bahkan tidak mengaktifkan handphone mu. Menaiki taxi di malam hari itu tidak aman untuk seorang perempuan,” seru Revan terlihat jelas kekhawatiran di mata elangnya. Raisha tak mampu untuk berkata-kata lagi, ia langsung memeluk Revan. Merebahkan kepalanya di d**a bidang milik suaminya itu. “Ada apa?” tanya Revan terlihat kebingungan. “Biarkan seperti ini beberapa saat, aku ingin merasakan kehangatan ini,” gumam Raisha. Revan membalas pelukan Raisha dan mengecup puncak kepalanya. “Ada apa? Apa kamu sakit?” tanya Revan. “Tidak. Aku hanya Lelah saja,” seru Raisha memejamkan matanya. Sebenarnya bukan fisiknya yang Lelah melainkan mentalnya. Berhadapan dengan mertua yang tidak menyukainya itu sangatlah sulit. Ia memejamkan matanya dan memeluk tubuh Revan dengan sangat erat seakan tidak ingin terlepas dan menjauh. Revan sebenarnya bertanya-tanya dan curiga kalau terjadi sesuatu dengan istrinya ini. Tetapi ia tidak akan bertanya, biarkan istrinya merasa tenang lebih dulu. ♥ Malam menjelang, Revan menatap wajah terlelap Raisha di sampingnya. Setelah tadi saling berpelukan, Raisha kemudian memilih mandi tanpa berkata apapun dan langsung tidur. “Sebenarnya apa yang membuatmu sedih,” gumam Revan membelai wajah cantik Raisha. Revan terus menatap dan meneliti wajah Raisha tanpa ingin membangunkannya. “Apa ini karena Mama lagi?” gumam Revan. ♥ Spoiler Revan baru saja sampai di rumahnya. Ia memberi salam tetapi tak ada jawaban. Ia pun memutuskan untuk segera masuk ke dalam kamar. Sesampainya di sana, ia melihat Raisha terlelap di atas ranjang. Revan berjalan mendekati Raisha. Revan menatap wajah Raisha yang terlelap. “Maaf yah kamu pasti nungguin aku,” seru Revan. ‘Maaf juga karena aku tidak bisa berkata jujur kalau sebenarnya kenalan Mama itu adalah Laura. Aku tidak ingin membuatmu terluka.’ Batin Revan. Revan mengernyitkan dahinya kala melihat ekspresi tidur Raisha yang terlihat tidak tenang dan terlihat begitu gelisah. Tangannya terulur ke arah Raisha. Ia menyentuh kening Raisha dan sedikit memekik kala merasakan suhu tubuh Raisha yang panas. “Sayang, kamu demam?” seru Revan mengambil duduk di sisi ranjang Raisha seraya membelai pipi Raisha. Raisha mengerjapkan matanya kala merasakan sentuhan di pipinya. Ia membuka matanya dan langsung melihat ke arah Revan. “Revan… kamu sudah pulang?” seru Raisha dengan suara seraknya. “Iya sayang. Aku baru saja pulang. Kamu demam,” seru Revan. “Tidak apa-apa kok. Aku hanya flu biasa,” seru Raisha. “Flu bagaimana. Suara serak begitu, belum lagi demamnya tinggi. Tunggu sebentar, aku bawakan obat dan stetoscop,” seru Revan beranjak dari duduknya. “Van, aku baik-baik saja,” panggil Raisha tetapi Revan mengabaikannya dan terus berjalan tanpa menghiraukan Raisha. Tak lama Revan kembali dengan membawa beberapa peralatan medisnya. Revan mulai melakukan pemeriksaan menggunakan stetoscop, kemudian melakukan pengecekan tensi darah. “Kamu juga anemia,” seru Revan. “Duh pak Dokter kenapa begitu cerewet,” gurau Raisha diiringi batuk. “Berhenti bercanda dan minum obat ini,” seru Revan menyodorkan sendok berisi obat cair. Raisha pun menerima suapan dari Revan. “Akan aku kompres yah, setelah itu kamu istirahat,” seru Revan. “Tidak usah sayang. Kamu baru saja pulang, bahkan belum ke kamar mandi dan ganti baju. Aku baik-baik saja, sekarang pergilah bersih-bersih dan ganti baju,” seru Raisha. “Aku tidak mau. Kamu diam saja dan beristirahatlah,” seru Revan beranjak dari duduknya. Tak lama Revan kembali datang dengan membawa baskom kecil berisi air. Ia pun mulai mengompres kening Raisha. “Sudah makan?” Tanya Revan. “Sudah. Tanya saja bibi,” seru Raisha. “Ya sudah sekarang tidur yah,” seru Revan menyimpan handuk basah di kening Raisha. “Memang siapa teman Mama itu?” Tanya Raisha. Revan terpaku diam mendengar penuturan Raisha itu. Ia tidak mungkin berkata jujur, ia takut akan menciutkan perasaan Raisha. “Sayang,” panggil Raisha seraya membelai pipi Revan hingga membuat Revan tersadar dari lamunannya. “Oh itu teman lama Mama,” jawab Revan. “Papa gak bisa nemenin Mama jadi dia minta aku datang.” “Oh begitu,” jawab Raisha. “Sekarang kamu tidur,” seru Revan membuat Raisha menganggukkan kepalanya. ♥ Keesokan harinya Revan sudah bangun terlebih dulu. Ia melihat ke arah Raisha yang masih terlelap, semalam Raisha diare dan berkali-kali ke kamar mandi hingga membuatnya lelah juga lemas. Revan memeriksa suhu tubuh Raisha yang masih hangat, hanya tidak sepanas semalam. “Eugh… pagi sayang.” Sapa Raisha dengan suara seraknya. “Gimana perasaan kamu sekarang? Ada yang di rasa sakit?” Tanya Revan. “Tidak sayang, aku hanya merasa lemas saja. Tenggorokanku sakit,” seru Raisha. “Sebaiknya kamu jangan dulu pergi bekerja. Istirahatkan dulu sampai benar-benar pulih,” seru Revan. “Lagipula aku tidak ada operasi hari ini. Aku akan pulang cepat, kamu istirahat di sini.” “Emm baiklah,” jawab Raisha. “Kalau begitu aku siap-siap dulu,” seru Revan membelai kepala Raisha dan beranjak meninggalkan Raisha menuju kamar mandi. ♥ Raisha merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Rasanya seluruh tubuhnya rontok juga ngilu. Ia benar-benar lemas dan tak mampu untuk bangun. Walau hanya untuk ke kamar mandi. Rasanya seluruh tubuhnya itu berubah menjadi jeli dan tak sanggup untuk duduk. “Ah ternyata begini kelakuan seorang Ibu rumah tangga!” seruan itu membuat Raisha membuka matanya dan melihat ke arah pintu. “Mama?” seru Raisha sangat kaget melihat kehadiran mertuanya di sana. Padahal kabari dulu kalau mau datang. “Mama, kapan Mama datang?” Tanya Raisha berangsur bangun walau kepalanya masih terasa berputar dan pening. “Mama datang sendiri?” Raisha berjalan perlahan dengan kekuatan penuh untuk bangun dan menghampiri Ibu mertuanya. Ia mencium punggung tangan Hani. “Istri macam apa, jam segini baru bangun. Padahal matahari sudah naik ke atas dan ini masih tidur. Lalu suamimu di paksa untuk terus kerja! Benar-benar tak ada gunanya.” Ucapan Hani sudah jelas menusuk ke relung hatinya. “Maaf Ma. Kebetulan Raisha sedang kurang sehat. Mama butuh apa, biar Raisha buatkan,” seru Raisha. “Tidak perlu. Mama datang hanya ingin menanyakan satu hal sama kamu. Kenapa kamu peras Revan. Kamu memintanya membayar biaya operasi oranglain. Anakku cape banting tulang kerja untuk keluarganya dan kamu malah menghambur-hamburkannya dan tidak menghargainya!” seru Mama Revan tampak kesal. ‘Tau dari mana Mama akan hal itu?’ batin Raisha. “Kenapa? Kamu bertanya-tanya kan kenapa Mama bisa tau. Jangan salah, Mama tuh punya banyak mata-mata. Jadi jangan coba-coba memeras Revan! Kamu kerja, gunakan uangmu sendiri. Kamu tuh hanya memikirkan diri sendiri, dan sengaja memeras fisik dan uang putraku!” Hani terlihat begitu marah. “Bukan begitu Ma. Oho oho oho!” Raisha terbatuk-batuk dan berusaha menjelaskannya. “Revan yang ingin melakukan ini. Aku tidak pernah memintanya juga tak pernah memaksanya,” seru Raisha. “CK, dia bersikap begitu di hadapanmu. Dia berpura-pura baik-baik saja karena dia memang baik hati!” seru Hani. “Aishhh kenapa nasib anakku sial begini sih. Punya istri yang hobby nya molor, bangun siang, masak gak pernah, bisanya Cuma meras suami, menghabiskan dan menghamburkan uang suami! Benar-benar tidak beruntung Revan menikah dengan wanita sepertimu. Benar-benar tak berguna!” seru Hani keluar dari kamar dengan sedikit membanting pintu kamarnya. Kala itu juga tubuh Raisha ambruk ke lantai. Ia memukul dadanya yang terasa sakit juga sesak. Ia hanya bisa menangis terisak. Apa salahnya, kenapa mertuanya harus bersikap seperti itu kepada dirinya. Seberapa bencinya Mama Hani kepada Raisha. Yang dia nilai dan dia lihat hanya negative nya saja. Tak pernah ia menganggap maupun menerima apa yang Raisha berikan dan lakukan. Semua itu tak pernah ada. Hanya kesalahan dan nilai jelek di mata Hani untuk Raisha. “Hikz…..” isak Raisha. ‘Ya Allah… apa aku masih akan sanggup bertahan dengan mertua seperti ini ke depannya?’ batin Raisha. ♥
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN