Di dalam ruangannya, Raisha termenung menatap keluar jendela. Ia beberapa kali mengusap perutnya dan memejamkan matanya. Ia sangat berharap memiliki seorang bayi di dalam perutnya. Ia ingin membahagiakan suaminya, di tambah lagi Ibu mertuanya. Akan bagaimana rumah tangga ini ke depannya, apalagi kalau ibu mertua nya tau dirinya akan melakukan operasi pengangkatan rahim dan tidak akan pernah bisa hamil lagi. Tanpa terasa air mata jatuh dari pelupuk matanya. Entah kenapa rasanya sesakit ini. Kenapa harus dirinya, kenapa harus ia yang mengalami semua ujian ini. Hidupnya sudah menderita dari sejak ia kecil. “Cokelat hangat,” seseorang menempelkan cup dengan suhu hangat ke pipi Raisha, membuat Raisha menoleh ke sumber suara. Di sana Revan berdiri di samping Raisha dengan memakai pakaian opera

