Raisha berjalan cepat kala keluar dari ruangan Dokter Clarissa. Ia berjalan tanpa mengatakan apapun. “Sayang tunggu!” seru Revan mencekal lengan Raisha. “Ada apa?” tanya Revan. Ia cukup kaget melihat air mata di pelupuk mata Raisha. “Aku butuh waktu sendirian,” jawab Raisha memalingkan pandangannya. “Lihat aku. Ada apa, sayang?” tanya Revan menangkup kedua pipi Raisha hingga tatapan mereka bertemu satu sama lain. “Aku hanya belum siap melakukan operasi,” jawab Raisha dengan lirih. “Tapi kenapa? Kalau tetap di biarkan, kanker itu bisa menyebar ke bagian organ lain,” seru Revan. “Aku tau.” Raisha menghela nafasnya perlahan. “Aku hanya berharap, sedikit berharap siapa tau aku masih bisa hamil,” jawab Raisha air matanya jatuh membasahi pipinya. “Sebelumnya aku sudah pernah hamil. Siap

