Tubuh Raisha ambruk ke lantai dan ia menangis sejadi-jadinya. "Hikzzz..... kenapa?" isaknya memegang perutnya. "Kenapa harus seperti ini? hikzzz...." Bukan hanya Raisha yang menangis. Revan juga masih berdiri di balik pintu kamar yang tertutup, bersandar ke daun pintu dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Air matanya luruh membasahi pipi tanpa mampu di tahan lagi. Hatinya juga terluka, dan sangat sedih, tetapi ia tak bisa menunjukkannya di hadapan Raisha. Mendengar isakan memilukan dari Raisha sungguh membuat hatinya terasa di remas-remas oleh tangan tak kasat mata. Ingin sekali ia memeluk Raisha dan berusaha menenangkannya, tetapi saat ini emosinya sedang tak stabil. Mereka butuh waktu untuk sendiri. --- Revan turun ke bawah menemui teman-temannya yang tengah ber

