Raisha tengah duduk termenung di brankar. Ia menatap ke arah jendela kamarnya dan pikirannya melalang buana, ia tertahan dalam pikiran rumah tangganya dan mertuanya yang seperti itu. Entah sampai kapan Raisha harus bersabar dan mengalah menghadapi ibu mertuanya itu. Ia adalah manusia biasa yang juga memiliki emosi dan batas kesabaran. Entah bagaimana rumah tangganya nanti. Raisha hanya berharap kalau rumah tangganya akan bertahan dan hanya maut yang akan memisahkan mereka berdua. “Sayang,” seru Revan menyentuh pundak Raisha membuat Raisha menoleh ke arah Revan. “Mama dan Papa sudah kamu antarkan sampai rumah?” Tanya Raisha. “Tidak. Mereka ikut dengan Laura,” jawab Revan. “Laura? Bagaimana bisa?” Raisha mengernyitkan dahinya. “Iya saat sedang menunggu supir datang, Laura datang dan men

