Tak berselang lama, setelah Deavenny memanggil pelayan, terdengar suara ketukan dari pintu kayu bercat putih itu. Wanita yang tak merasa dirinya menjadi sumber kegelisahan Marvel pun dengan santainya berdiri. Tangannya memegang tiang infusnya. "Jangan kabur, aku hanya ingin membukakan pintu!" perintah Deavenny. Ia pun berlalu pergi dengan mendorong tiang infus, meninggalkan Marvel yang sedang duduk tak manis. Deavenny tak membuka penuh pintunya, karena tak ingin ketahuan jika Marvel sedang berada di dalam kamarnya. "Sudah kau bawakan pesananku?" tanyanya pada pelayan. "Ini, Nona." Pelayan berjenis kelamin wanita itu memberikan sebuah salep yang masih baru. "Apakah Nona sakit? Biar saya yang membantu mengoleskannya," tawarnya sangat sopan. "Tidak perlu, aku bisa sendiri," tolak Deavenny

