Nine

2058 Kata
Kebahagiaan yang diciptakan oleh orang lain dimasa lalu, akan selalu membuat kita bahagia ketika kita mengingatnya. *** Sudah hampir satu setengah jam yang lalu Bianca siuman dari pingsan nya dan selama itu pula ia dan Arwanda hanya saling diam satu sama lain. "Ehem..." Bianca berdehem. Ia berusaha menarik perhatian Arwanda yang masih diam dengan sorot mata fokus menatap perutnya. Arwanda menatap Bianca. "Apa kau haus? Biar kuambilkan minum." "Tidak, tidak usah. Aku sedang tidak haus." ucap Bianca mencegah Arwanda yang ingin mengambilkannya air. Bianca merasa kalau hubungannya dan Arwanda kian menjauh. Arwanda-nya tidak seperti dulu. Arwanda yang sekarang seperti membangun tembok untuk menghindarinya. Tanpa sadar air mata Bianca kembali menetes. Hatinya sangat nyeri ketika membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada hubungannya dan Arwanda. "Mengapa kau menangis?" tanya Arwanda ketika melihat air mata Bianca menetes membasahi pipi tirus-nya. Ia merasa bahwa saat ini Bianca jauh lebih kurus ketimbang beberapa hari yang lalu. Apa ini karna dirinya? Bianca menggeleng. "Aku tidak apa-apa. Aku hanya kelilipan." kilah Bianca cepat menghapus air matanya. Arwanda tersenyum dan mengelus pipi Bianca. "Kau tidak pintar berbohong Bie." Bianca memejamkan matanya menikmati elusan tangan Arwanda pada pipinya. Ia begitu merindukan sentuhan pria-nya itu, sampai jantungnya sedari tadi tidak berhenti berdetak. "Kau semakin kurus, apa kau tidak makan selama ini, heum?" tanya Arwanda yang kini tangannya telah berpindah ke perut Bianca. "Aku khawatir kalau berat badanmu tetap seperti ini dia akan sakit." "Tenanglah dia tidak akan apa-apa, karena dia kuat sama seperti Mommy-nya." jawab Bianca tersenyum bangga. "Apalagi kalau Daddy-nya juga menyayangi Mommy-nya yang cantik ini." ucap Bianca, berusaha memberi kode bahwa ia membutuhkan pria itu disampingnya. "Sayang, sepertinya Mommy-mu sedang merindukan kasih sayang Daddy." kata Arwanda berbicara dengan calon anaknya. Bianca terkekeh melihat Arwanda berbicara dengan babynya. Pria itu masih mengelus perutnya dengan kasih. Apa itu artinya Arwanda telah menerima anaknya? Kalau iya maka ia begitu bersyukur. "Apa dia bisa mendengar ucapan Daddy-nya, Mommy?" tanya Arwanda menatap Bianca. "Tapi kenapa dia tidak menendang?" tanya Arwanda lagi. Bianca tersenyum mendengar pertanyaan Arwanda. Tangannya terangkat mengelus rambut lebat Arwanda. "Dia masih dalam proses pertumbuhan Daddy, dan dia akan memberikan reaksi ketika usianya menginjak 16 minggu." jelas Bianca. Hati Arwanda terasa hangat ketika Bianca menyebutnya Daddy. "Benarkah? kalau begitu, Daddy-mu masih harus menunggu lama ya Mommy? Biar baby-nya menendang-nendang." Bianca mengangguk. "Wan?" "Heum?" "Apa kau menerimanya?" tanya Bianca. "Aku tidak punya alasan untuk menolaknya Mommy." "Benarkah? Berarti kita sudah damai?" tanya Bianca girang. Hatinya benar-benar sangat lega mendengar jawaban Arwanda yang sudah menerima anaknya. Kecemasan dan kegundahan dihatinya menguap begitu saja. Arwanda mengangguk dan meraih tangan Bianca untuk dikecupnya. "Aku mencintaimu bahkan sangat-sangat mencintaimu." aku Arwanda kalau ia masih sangat mencintai Bianca. "Ditambah dengan adanya dia aku harap hubungan kita akan semakin kuat." Bianca menangis terharu, ia memberi isyarat kepada Arwanda untuk memeluknya dan dengan senang hati Arwanda memeluk Bianca. Ia sangat merindukan pelukan hangat Bianca. "Aku mencintaimu Mommy." bisik Arwanda. *** "Aku tidak percaya dia seperti itu beb." kata Maya menatap serius kearah Jack yang sedang berbaring disampingnya. Usai pergulatan panas mereka Maya kembali menuntut penjelasan dari Jack, dan dengan malas-malasan Jack menceritakan semua informasi yang ia dapat dari penyelidikannya. "Jack jangan tidur, kau masih harus mendengarkan aku." gerutu Maya ketika ia melihat Jack sudah tertidur pulas di sampingnya. Dengan perasaan dongkol ia mengguncang tubuh Jack, tapi yang dasarnya kebo pria itu masih tetap terlelap tanpa merasa terganggu dengan gangguan yang diberikan Maya. Karena tidak mendapat respons dari Jack, akhirnya Maya memilih untuk ikut berbaring dan memejamkan mata. Tapi tetap saja Maya tidak bisa tidur. Pikirannya masih berkelana dengan sosok yang dikenalnya baik tapi ternyata memiliki tujuan terselubung dibalik sifat baiknya. "Ahk sudahlah." kata Maya pada dirinya sendiri. Dia benar-benar lelah memikirkan tentang itu. Maya membalikkan tubuhnya dan menatap wajah sendu Jack yang sedang tertidur pulas. Ia tidak tau apa hubungannya dengan Jack akan tetap berlanjut atau tidak. Jack itu adalah anak tunggal dari konglomerat. Keluarga Jack memiliki perusahaan tekstil terbesar di Eropa. Dan karena hal itu jugalah banyak konflik yang terjadi di hubungan mereka. Mulai dari penolakan orang tua Jack secara terang-terangan dan bagaimana bisa ia dan Jack menghasilkan keturunan. Maya mencintai Jack, pria itu adalah pria yang berhasil mengobati luka masa lalunya. Jack berhasil membuatnya merasakan cinta untuk yang kedua kalinya. Walau ia tau hubungan mereka sangat terlarang, namun karena Jack yang selalu memberinya perkataan semangat maka ia siap untuk menjalin suatu komitmen dengan Jack. Ya, setelah Bianca menikah, Maya dan Jack juga akan meresmikan hubungan mereka ke dalam pernikahan yang sakral. Dan dalam lubuk hatinya yang paling dalam,  ia berharap kedua orang tua Jack bisa menerimanya sebagai kekasih Jack. *** "Daddy please..." Bianca menatap Arwanda memohon. Dan lagi-lagi Arwanda tetap menggeleng.  Bagaimana bisa Bianca menyuruhnya untuk memangkas seluruh rambutnya hingga botak. Itu benar-benar gila. Dan Arwanda tidak akan pernah melakukan itu. "Jangan meminta yang aneh-aneh Bie." Bianca menatap Arwanda dengan air mata yang siap menetes. Ia benar-benar ingin melihat Arwanda botak. "Tapi ini permintaan anakmu Wan. Kau mau anakmu nanti ngences?" tanya Bianca parau. "Ngences?" "Iya anakmu akan ngences. Dia akan selalu mengeluarkan air liurnya dari mulutnya. Kau mau anakmu seperti itu?" tanya Bianca sengit. "Aku tidak pernah mendengar istilah seperti yang kau ucapkan itu." "Itu bukan istilah tapi kenyataan Wan. Di Indonesia kalau seorang ibu sedang mengandung dan menginginkan sesuatu suaminya wajib menurutinya agar Baby-nya tidak ngences atau ileran." jelas Bianca panjang lebar. Nasib punya kekasih bule, membuatnya harus siap menjelaskan panjang lebar tentang ileran. Arwanda menghela nafas gusar. "Baiklah, akan kulakukan. Aku tidak pernah menyangka kalau di negaramu ada hal semacam itu." sungut Arwanda kesal. "Dan ingat jangan meminta yang aneh-aneh lagi.'' "Siap Daddy." *** Arwanda menatap dirinya didepan cermin. Penampilannya benar-benar mengerikan dengan kepala yang tidak ditumbuhi sehelai rambut pun. "Hahaha... kau benar-benar tampan dengan kepala botak." kata Axel tertawa terbahak. "Diam kau!!" bentak Arwanda frustrasi. Ada rasa menyesal, karena ia meminta agar Axel menemaninya ke salon. "Ayo, antar aku ke rumah sakit." Axel mengangguk dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya. Ia tidak pernah menyangka kalau seorang Arwanda Anggara bisa menjadi sangat penurut hanya karena seorang gadis kecil-Bianca Zamora. *** Ketika Arwanda dan Axel berjalan kearah parkiran, tiba-tiba langkahnya terhenti ketika ia melihat sosok gadis masa lalunya berdiri disana menatapnya dengan tatapan yang sulit Arwanda artikan. Hatinya masih bergetar sama kencangnya seperti dulu ketika ia berdekatan dengan gadis itu. Ya, jauh dari dalam lubuk hatinya dia masih mengharapkan wanita itu untuk kembali ke sisinya. Tapi itu sepertinya mustahil mengingat Bianca sekarang sedang mengandung babynya dan rasa benci akan wanita itu masih ada hingga sekarang. Axel mengernyit menatap Arwanda yang tiba-tiba berhenti dan menatap lurus ke depan. Karena penasaran, Axel mengikuti arah pandang Arwanda. Dan benar saja kini Axel juga sama dengan Arwanda, terdiam terpaku menatap sosok gadis masa lalu Arwanda berdiri menatap Arwanda. Bahkan kini gadis itu berjalan mendekat kearah mereka. "Hai. Wan." Sapa gadis itu. "Mau apa lagi kau jalang!" bentak Axel ketika ia melihat gadis itu dengan tidak malunya menyapa Arwanda, setelah apa yang dia lakukan kepada Arwanda beberapa tahun lalu. Dia adalah Callysta Lee, mantan kekasih Arwanda yang telah pergi meninggalkan Arwanda hanya demi pria lain. "Wann.." 'Pergilah! Jangan pernah perlihatkan wajahmu didepanku." lirih Arwanda dingin dan melangkah pergi meninggalkan Callysta yang menangis. Axel tersenyum sinis dan mengikuti langkah Arwanda. *** Bianca bergerak gelisah diatas ranjang rumah sakit, sesekali matanya beralih melirik jam. Sudah hampir 4 jam Arwanda pergi, dan selama itu pula perasaan Bianca benar-benar kacau. Dadanya bergemuruh sesak ketika ia kembali mengingat foto yang dikirim tadi siang kepadanya. Apa yang dilakukan Arwanda disana? Dan siapa wanita itu? Berbagai pertanyaan timbul di dalam benak Bianca. "Bie..." Bianca memejamkan matanya mendengar suara yang memanggilnya. Itu adalah suara terakhir yang ingin dia dengar sepanjang hidupnya untuk saat ini. "Bie. Aku datang untuk meminta maaf." lirih Arka. Ia benar-benar menyesal telah menyakiti wanita yang paling ia cintai setelah mamanya. "Aku menyesal." Bianca menyingkirkan tangan Arka yang telah menggenggam tangannya. "Pergilah." Usir Bianca dingin. Saat ini dia benar-benar sedang tidak mood untuk berbicara dengan Arka. Dia sangat membenci pria itu. kalau tidak karena perbuatan gila Arka, hubungannya dan Arwanda mungkin masih baik-baik saja. Ya walau sekarang pun telah baik-baik saja. "Apa tidak ada lagi kata maaf untukku Bie?" tanya Arka dengan wajah sendu. "Apa begitu bencinya kau denganku, hingga hanya untuk memaafkan begitu susah bagimu?" tanya Arka lagi. Hatinya benar-benar sakit mengetahui Bianca begitu membencinya, hingga untuk menatapnya saja Bianca jijik. "Ntahlah!!!" jawab Bianca ketus. Mood-nya benara-benar hancur dan ia sama sekali belum bisa untuk memutuskan akan memaafkan Arka apa nggak. Karena bagaimanapun dia bukan wanita yang hatinya sebaik malaikat yang dengan gampang memaafkan orang yang hampir saja berhasil merusak hubungannya dengan Arwanda. 'Tap___ "Pergilah!!! Kau tau  kalau aku bisa melukai diriku kalau kau masih ada di sini. Karena aku lebih memilih mati ketimbang melihat orang yang ku benci berdiri di hadapanku." triak Bianca frustrasi karena Arka masih saja tidak mau pergi. Dia butuh sendiri untuk saat ini. "Baiklah aku akan pergi Bie, tapi aku akan kembali lagi kesini." kata Arka sebelum pergi. Seperginya Arka Bianca kembali menangis, dia menyayangi Arka tapi kebenciannya kepada Arka masih bisa mengalahkan rasa sayang itu. *** "Apa kita masih Bisa kembali lagi seperti dulu Wan." tanya Callysta lagi dengan penuh harap. "Tidak!!" jawab Arwanda dingin. "Kenapa? Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi? Atau kau telah menemukan penggantiku?" tanya Callysta dengan suara serak. "Ya, aku sudah tidak mencintaimu lagi, karena aku telah memiliki kekasih yang sangat aku cintai." jawab Arwanda yakin. Dia tidak bisa membiarkan hatinya terjebak lagi ke dalam pesona Callysta. Karena bagaimanapun sekarang dia telah memiliki Bianca yang telah mengandung anaknya. Jadi tidak ada alasan Arwanda untuk tetap membiarkan Callysta kembali dalam hidupnya dan pergi meninggalkan Bianca. "Aa...aapaa...hiksss...Itut..idak mungkin Wan.." jerit Callysta tidak terima. Ia tidak terima bahwa Arwanda telah menemukan penggantinya. "Hiksss...katakan Wan kalau kau masih mencintaiku." pinta Callysta berdiri dan berlutut kearah Arwanda. Ia menatap Arwanda dengan air mata yang berlinang. Ia tidak peduli kalau sekarang dia telah menjadi bahan cemoohan dari pengunjung cafe. Arwanda menatap Callysta acuh, dengan tangan mengepal. Bagaimanapun Callysta pernah menjadi wanita nomor satu dihatinya, wanita yang begitu ia puja setelah ibunya. Maka jangan salahkan kalau hati Arwanda sedikit luluh melihat Callysta yang berlutut terisak didepannya. Callysta yang terkenal dengan kesombongan nya rela merendahkan diri hanya demi dirinya. Hal itu membuat hatinya sedikit menghangat mengetahui kalau Callysta masih mengharapkannya. Lalu apa yang sekarang dia lakukan? Menerima? Atau menolak? Tapi jangan lupakan satu fakta Arwanda kalau Callysta pernah pergi meninggalkanmu dengan demi pria lain. ‘Apa kamu masih berharap dengan dia nak? Kamu tak akan bisa memilikinya. Dan walaupun kamu bisa memilikinya, itu artinya kamu harus merebut dia dari tangan orang lain dan itu juga artinya kamu tak ada bedanya dengan dia . apa kamu tega berbuat seperti itu? Jangan pernah mengambil sesuatu yang bukan untukmu. Percayalah, kamu akan mendapat pengganti yang jauh lebih baik, yang lebih setia, yang lebih bisa berkomitmen. Tuhan sudah mempersiapkan seseorang yang memang pantas untukmu.’ Ucapan Ibunya, ketika saat ia terpuruk kembali terdengar. Benar kata ibunya dia tidak bisa lagi mengharapkan Callysta karena wanita itu bukan untuk-nya dan sekarang dia telah memiliki wanita yang jauh lebih sempurna ketimbang Callysta. Maka tidak ada alasannya untuk tetap mempertahankan Callysta dan pergi meninggalkan Bianca-kekasih hatinya. Arwanda berdiri, ia mencoba mati-matian menahan diri ketika hatinya menjerit untuk merengkuh tubuh Callysta ke dalam pelukannya. "Berdirilah," kata Arwanda menarik Callysta berdiri. "Jangan permalukan dirimu dan cobalah untuk menerima kenyataan kalau aku telah memiliki kekasih." kata Arwanda sebelum berlalu meninggalkan Callysta yang menjerit memanggil namanya dengan tangis pilunya yang membuat hati Arwanda teriris pilu. *** "Apa yang kau lakukan di dalam sana begitu lama?" tanya Axel jengkel. Sudah hampir satu jam Arwanda dan Callysta di dalam cafe dan itu benar-benar berhasil membuat mood Axel hancur seketika. "Kau memang b******k!!! Kekasihmu lagi dirumah sakit dan kau, di sini enak-enakkan bernostalgia dengan mantan kekasihmu." ketus Axel dan berlalu masuk ke dalam mobil. Ia benar-benar jengkel dibuat sepupunya yang satu ini, bagaimana bisa Arwanda masih mau mengobrol dengan wanita yang jelas-jelas telah mencampakkannya. Arwanda hanya diam mendengar omelan Axel. Toh dia memang salah, jadi tidak ada alasan bagi Arwanda untuk marah dengan Axel. *** Arwanda menggenggam telapak tangan Bianca yang terasa dingin, hatinya semakin terasa nyeri ketika melihat bekas air mata yang mengering dipipih pucat Bianca. Dia memang pria b******k!! Bagaimana bisa terbesit dalam pikirannya untuk meninggalkan wanita yang benar-benar mencintainya. Dan mungkin diapun mulai mencintai wanita ini. Hatinya terasah hangat ketika berada disisi Bianca dan begitu hampa ketika berjauhan dengannya. Kebahagiaan yang diciptakan oleh orang lain dimasa lalu, akan selalu membuat kita kembali bahagia ketika kita mengingatnya. Namun kadang kita bersedih karena kadang kita berpikir, mengapa kebahagiaan itu menjadi masa lalu dan tidak berulang dimasa sekarang? Tapi, biarkan itu berlalu, karena tak akan bisa diulang. Hidup kita selanjutnya ada didepan, bukan di belakang. Cukuplah sudah kita mengenang masa lalu. Karena hanya kenangan yang bisa kita bawa untuk pelajaran dan untuk pengalaman. Batin Arwanda menasihati dirinya sendiri.  *** #tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN