Eight

2224 Kata
Oh, won't you stay with me? Cause you're all I need, This ain't love it's clear to see, But darling, stay with me   Arwanda mengepal kedua tangannya. Bayangan Bianca dan suara isak tangis Bianca membuat dadanya sesak. Apa dia salah memperlakukan Bianca seperti itu? Dia hanya tidak bisa menerima ketika Bianca melakukan hubungan badan dengan pria lain. Bugh..bugh.. Arwanda memukul dinding didepannya. Mengapa bisa dia selalu menyukai wanita yang salah? Apa semua wanita itu memang hobby berselingkuh? Apa yang kurang dengan dirinya? Dia memiliki semuanya tapi kenapa mereka tetap saja pergi meninggalkan dia. "Stupid boy." Arwanda menoleh ke asal sumber suara yang menurutnya sangat menyebalkan. "Diamlah kau!!! " Axel terkekeh. "Bagaimana aku bisa diam, sementara Tuhan menganugerahkan aku mulut untuk berbicara." Arwanda mengeram kesal. "Diamlah!! Atau kubakar mulut sialanmu itu!!" bentak Arwanda. Axel terkekeh lalu menepuk pundak Arwanda pelan. "Kau terlalu egois bro, kau sendiri begitu marah ketika wanita-mu bersama pria lain, tapi kau tidak berkaca dengan perlakuanmu selama ini. " Arwanda diam. Dia membenarkan setiap kata yang diucapkan oleh Axel. Selama ini Bianca juga sering mendapatinya sedang melakukan hubungan badan dengan wanita lain dan Bianca juga dengan senang hati selalu memaafkannya. Lalu kenapa dia tidak? Apakah seharusnya dia juga maafkan Bianca dan memberikan wanita itu kesempatan untuk menjelaskan semuanya? Tidak. tidak. Arwanda menggelengkan kepalanya. Dia tidak akan maafkan wanita yang berselingkuh, karena menurutnya wanita yang berselingkuh itu jauh lebih murahan ketimbang p*****r. "Sebaiknya kau keluar dan temui dia. Biarkan dia menjelaskan apa alasan yang membuat dia mengkhianatimu boy." ucap Axel memukul pelan pundak Arwanda. "Setiap orang pantas menerima kesempatan kedua." Arwanda menatap nanar kepergian Axel. Hatinya sama sekali belum bisa memaafkan Bianca, ditambah ia melihat sendiri dengan mata kepalanya apa yang Bianca lakukan dengan pria sialan itu. Seketika tangan Arwanda mengepal disisi tubuhnya. Dia membenci hidupnya. Mengapa tidak ada satu pun wanita yang sama sepeti ibunya-Ruth? Awalnya Bianca mengira bahwa Bianca adalah jelmaan Ibunya, lebih tepatnya kembaran ibunya. Mengingat Bianca memiliki beberapa kesamaan dengan Ruth. Mulai dari yang suka mengomelinya, merajuk bahkan cara berbicara nya pun sama persis. Mungkin itu yang menyebabkan Arwanda begitu gampang jatuh ke dalam pesona seorang Bianca Zamora. Namun sepertinya besar bencinya kepada Bianca masih bisa mengalahkan rasa cintanya kepada wanita itu. Maka jangan salahkan kalau Arwanda menolak untuk memberikan wanita itu kesempatan. *** Axel menatap tubuh rapuh Bianca yang sedang menangis sesugukan di taman samping rumah Arwanda. Ada rasa iba dalam hati Axel ketika melihat wanita itu menangis. Namun mau bagaimana lagi, ini semua terjadi akibat kesalahannya. Andai saja dia bisa menolak hawa nafsunya untuk tidak melakukan hubungan dengan pria lain mungkin Bianca tidak akan mendapat perlakuan seperti ini dari Arwanda. Axel tau betul kalau Arwanda itu sebenarnya adalah sosok pria yang lembut dan penuh perhatian, namun karna rasa sakit hati dan kecewa ia bisa berubah menjadi pria yang tak punya hati. "Pulanglah. Aku lelah mendengar isak tangismu." ketus Axel mengusir Bianca. Bianca mendongakkan kepalanya. "Tolong biarkan aku menangis sebentar lagi, aku janji setelah aku puas menangis aku akan pergi." jawab Bianca memohon. Hatinya benar-benar sakit menerima penolakan dari pria yang amat dia cintai. "Berapa lama aku harus menunggumu, heum? Sampai telingaku meledak karena tidak tahan mendengar isak tangismu yang menyedihkan itu?" ketus Axel. "Hei Tuan, setauku suara tangisku tidak begitu berisik, sehingga telingamu harus meledak!" ketus Bianca menghapus air matanya. Pria didepannya ini tidak jauh berbeda dengan Arwanda. Suka ngatur dan asal ngomong. Axel menghembuskan nafas gusar. "Ya ya ya... Terserahmu saja." Bianca mengamati wajah Axel, sampai tatapannya berhenti pada kumis tipis milik pria itu. Tidak tau kenapa tiba-tiba Bianca ingin menarik kumis tipis itu dengan tangannya. Axel menaikkan sebelah alisnya. " Apa yang sedang kau lihat di wajahku?" "Kumismu." jawab Bianca cepat. "Apakah aku boleh menyentuhnya?" tanya Bianca dengan penuh harap. Axel mencibir sifat aneh Bianca. Bagaimana bisa sepupunya itu menyukai wanita aneh sepeti ini? Apakah wanita ini telah memelet sepupunya atau.. "Bolehkah?" tanya Bianca lagi dengan penuh harap. Matanya berbinar menatap kearah kumis tipis Axel. "Kau mungkin sudah gila karena Arwanda tidak memaafkanmu." ucap Axel menyindir Bianca yang telah bersikap aneh kepadanya. "Terserahmu, tapi kumohon ijin kan aku menyentuh kumismu itu." mohon Bianca sekali lagi. Kali ini matanya kembali memperlihatkan ciri-ciri akan menangis. Dia sendiri pun bingung kenapa begitu menginginkan menyentuh kumis tipis Axel. Baginya saat ini kumis Axel bagaikan permen gulali yang sangat-sangat lezat sampai Bianca tidak ingin melewatkannya. Axel menghela nafas, lalu mengangguk pasrah. Melihat itu Bianca bersorak senang. Rasa sedihnya akibat penolakan Arwanda hilang begitu saja ketika ia melihat dan akan menyentuh kumis tipis Axel. "Tapi ingat cuma menyentuh dan itupun hanya dalam waktu sebentar." ingat Axel. Dan dengan semangat Bianca mengangguk lalau menyentuh kumis tipis Axel. Bianca terkikik geli ketika tangannya berhasil menyentuh kumis tipis Axel. "Aww..." ringis Axel kesakitan ketika Bianca tidak sadar telah menarik kumis tipis Axel. "Kau!!!" tunjuk Axel kesal melihat Bianca yang telah berani beraninya menarik kumis miliknya. Bianca menunduk takut. "maaf." lirih Bianca berasalah. Axel menghiraukan permintaan maafkan Bianca. Ia berlalu dan pergi meninggalkan Bianca yang masih diam. Bianca memicingkan matanya melihat apakah Axel telah pergi atau belum. Setelah memastikan Axel telah pergi dia menghela nafas lega. Dia menatap nanar kearah mansion keluarga Anggara. Matanya kembali lagi memanas merasakan air mata itu akan kembali menetes lagi. Hatinya kembali lagi sesak ketika ia mengingat penolakan Arwanda. Mungkin memang pria itu tidak pernah mencintainya. Dengan langkah lemas Bianca pergi meninggalkan mansion itu. Dia memutuskan akan kembali ke negara asalnya. Dia akan membesarkan anaknya seorang diri ada ataupun tanpa Arwanda disisinya. *** "Apa yang sedang kau pikirkan dikepala cantikmu itu, hon?"Tanya Maya geram, ketika ia menemukan Bianca memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper besar. "Apalagi yang harus ku lakukan sekarang selain pulang ke keluargaku May? Disana mungkin mereka akan dengan senang hati menerimaku" Bianca memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya secara perlahan. "Dan bahkan mungkin mereka akan dengan senang hati menerima kehadiran anakku." Maya mengeram kesal, ia mencengkeram tangan Bianca. "Apa yang kau katakan? Kau seolah-olah mengatakan aku sama sekali tidak menginginkan anakmu." bentak Maya kesal. Bianca meringis kesakitan. "Kau menyakitiku May." Maya melepaskan cengkeramannya dan menangkup kedua pipi Bianca. "Aku ada di sini bersamamu hon, aku akan membantumu untuk memperjuangkan hak anakmu. Bagaimanapun dia tidak boleh lahir dan tumbuh dirahimmu tanpa kasih sayang seorang ayah." maya menatap tepat dimanik mata Bianca. "Arwanda pantas marah dan belum mau menerima penjelasanmu, mengingat dia melihat pria berengsek itu menyentuhmu." "Tapi aku tidak menghendaki itu terjadi May." kata Bianca terisak menangis memeluk Maya. "Aku sangat mencintainya May, dan bagaimana bisa aku berselingkuh darinya." Arwanda pria yang dicintainya, pria pertamanya, pria yang mampu membuatnya untuk merasakan arti cinta yang sesungguhnya. Bianca mengaku salah karna pernah meragukan perasaan apa yang dia rasakan kepada Arwanda. Saat itu dia hanya sedang bingung sama yang dia rasakan. Dia sangat senang bisa bertemu dengan Arka sahabat sekaligus cinta pertamanya, hal itu mengakibatkan perasaannya dilema dia mengira bahwa rasa senang dan haru itu adalah rasa cintanya kepada Arka. Namun setelah ucapan cinta dari Arwanda malam itu mengakibatkan getaran itu hadir dan dia baru menyadari bahwa sejak saat itu dia tidak mencintai Arka lagi, melainkan dia telah menjatuhkan hatinya dan seluruh cintanya kepada pria-keduanya. Maya mengelus punggung Bianca dengan kasih. Dia begitu menyayangi Bianca, dia telah menganggap Bianca seperti adik baginya bahkan dia rela mempertaruhkan nyawanya untuk Bianca. "Sssstt, udahlah jangan menangis. Ada aku di sini." Bianca mendongakkan wajahnya menatap Maya. Pria itu benar-benar seperti super hero baginya. Dia telah mengenal Maya hampir 8 tahun, dan selama itu pula dia berhasil menemukan sosok saudara yang diidam-idamkannya selama ini. Dia sangat menyayangi Maya, walau kadang dia harus makan hati akibat menghadapi sifat aneh bin ajaib ala Maya, dan kelainan seks yang diderita Maya tidak membuatnya untuk tidak berteman dengan Maya. "Jadi ikutlah denganku untuk menemui Arwanda. Aku akan menjelaskan semuanya kepadanya dan kalau nanti dia tidak menerimamu maka aku akan menikahimu." ucap Maya serius. Bianca melotot tidak percaya. "Serius? Apa kau tidak sedang bercanda May?" tanya Maya masih tidak percaya dengan ucapan Maya. Maya menggenggam tangan Bianca. "Aku serius hon, aku akan menikahimu dan memberikan anakmu status." "Ta..tapi kenapa May?" "Karena aku menyayangimu dan aku tidak ingin anakmu merasakan apa yang aku rasakan dulu." jelas Maya menerawang ke kehidupannya yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah seumur hidupnya. Dia selalu menatap iri teman-temannya yang pergi dan pulang sekolah selalu bersama ayahnya. "Tapi bukan begini caranya May, aku tau kau terpaksa melakukan ini dan aku tidak suka itu. Lagian kau itu memiliki kekasih yang kau cintai." ucap Bianca panjang lebar, dia berharap Maya mengerti apa yang dia jelaskan. Dia tidak ingin Maya mengorbankan kebahagiaan nya demi dirinya dan anaknya. "Aku tidak mencintainya lebih darimu hon, oh lagian lupakanlah. Kalau kau tak ingin aku melakukan ini setidaknya berjuanglah bersamaku untuk anakmu." ucap Maya menggenggam tangan Bianca. "Aku akan pastikan anakmu akan dapat haknya." janji Maya yang mendapat anggukan dari Bianca. Bianca memeluk Maya dan mengucapkan beribu terima kasih beribu-ribu kali kepada Maya. *** "Ma.." Arwanda menangis dalam diamnya. Hatinya saat ini benar-benar dilema. Hatinya ingin memaafkan Bianca tapi akal pikirannya menolak untuk melakukan itu. "Bu. Maaf aku udah lama tidak mengunjungi Ibu. Tapi percayalah Bu, aku selalu mengirimkan doa aku untuk Inu." Arwanda menghapus air matanya. "Aku kangen Bu, aku benar-benar butuh Ibu untuk saat ini. Aku bingung Bu, apakah aku harus memaafkan dia atau aku harus melupakannya. Aku sangat mencintainya Bu. Tapi dia mengkhianatiku sama seperti yang Callysta lakukan." ucap Arwanda panjang lebar. Kisah cintanya dan Bianca ia ceritakan dimakam Ruth." Apa aku harus memaafkannya Bu?" tanya Arwanda tertunduk. Saat ini dia berada di permakaman keluarga Anggara. Lebih tepatnya saat ini dia mengunjungi makam Mamanya-Ruth. Awalnya dia ingin menemui papanya di tempat penitipan orang tua, tapi niat itu dia urungkan mengingat hubungannya dengan sang papah tidak terlalu baik. "Bu.. Aku pamit pulang dulu." pamit Arwanda pulang. Ia tidak tahan harus berlama-lama dimakam ini. Walau begitu hatinya sedikit lega, setidaknya dia bisa melepas rindu kepada Ruth dan berbagi bebannya kepada Ruth. Tadinya Arwanda berniat berada dimakam Ruth sampai petang, tapi bayang papanya dan Bianca terus berputar dikepalanya membuat dia tidak tahan berlama-lama dimakam Ruth. Dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya sama sekali belum bisa meluluhkan hatinya untuk mendapat kata maaf dari bibirnya. Arwanda sangat membenci Papanya hingga saat ini. Itu semua karena papanya yang selalu menyakiti Ruth dan menelantarkan dirinya demi wanita lain. Dan sekarang pun dia membenci Bianca karena alasan yang sama. Cinta benar-benar berhasil menghancurkannya, bahkan selama hidupnya dia selalu merasakan sakitnya pengkhianatan Cinta. *** "May, aku takut." lirih Bianca cemas. Ia menggenggam erat tangan Maya. "Semuanya akan baik-baik saja, hon." ucap Maya menenangkan Bianca yang kini tampak begitu cemas. "Aku ada di sini, dan itu artinya kau tidak sedang sendirian hon." Bianca mengangguk lalu mengikuti langkah Maya. Saat ini ia dan Maya berada tepat didepan pintu Mansion keluarga Anggara. "Semuanya akan baik-baik saja, hon.". Bisik Maya lembut dan mulai menekan bel. Tak lama kemudian pintu itu terbuka dan menampakkan sosok Axel. "Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Axel tak suka ketika melihat Bianca dan Maya berada didepan rumahnya. "Apa yang harus kami lakukan di sini bukan urusanmu." Jawab Maya ketus. "Dan tolong panggilkan Arwanda Anggara." "Dia sedang tidak dirumah." "Jadi kemana di__ "Apa yang kalian lakukan di sini?" Mendengar suara itu membuat Bianca menoleh ke belakang. Disana berdiri sosok yang membuatnya merasakan arti dicampakkan dan ditolak. Arwanda berdiri dengan wajah coolnya. Dia menatap Bianca dan Maya dengan tatapan dingin dan tak suka. "Pergilah! Aku sedang tidak ingin membahas hal yang tak penting." Maya mengeram. "Tak penting katamu? Hal apa yang jauh lebih penting dari pada kekasihmu dan anakmu, b*****t!!" Bentak Maya kesal. Tangannya menggenggam erat tangan Bianca. Bianca menunduk. Sementara Axel dan Arwanda terdiam terpaku mendengar ucapan Maya. Anak? Apa Bianca mengandung anakku? Tidak, tidak. Bisa saja anak yang dikandung Bianca adalah anak pria lain. Batin Arwanda. "Anak? Apa maksudmu dengan kata itu?" tanya Axel penasaran. "Akan aku jelaskan. Tapi setidaknya kau ijin kan dulu aku dan Bianca masuk  ke dalam." pinta Maya yang masih menggenggam erat tangan Bianca. "Baiklah, silakan masuk." Axel mempersilahkan Bianca dan Maya masuk. Seorang suasana semakin menegangkan. Arwanda sibuk dengan pikirannya, Axel sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan dibenaknya dan sementara Bianca sibuk mengontrol rasa takutnya. "Jadi begini Tuan Arwa__ "Jangan bertele-tele, langsung saja ke intinya." sela Arwanda cepat memotong perkataan Maya. "Bianca mengandung anakmu, dan usianya sudah menginjak 5 minggu." Maya menjeda penjelasannya. Ia ingin menatap reaksi yang diberikan Arwanda, namun pria itu hanya dia dengan wajah datarnya. "Dan aku tau kau sekarang mempertanyakan apa itu anakmu atau bukan? Mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Tapi percayalah bahwa anak yang dikandung Bianca adalah anakmu." ucap Maya yakin. "Yakin sekali kau? Apa kau bisa membuktikan kalau anak yang dikandung Bianca adalah anak Arwanda." komentar Axel. Maya mengangguk pasti. "Aku sangat yakin 100% bahwa anak yang dikandung Bianca adalah anak Arwanda, dan untuk membuktikan itu kita bisa melakukan tes DNA." "Tidak akan ada test DNA. Karena aku juga yakin bahwa anak itu bukan anakku. Bisa saja anak itu anak pria selingkuhannya." ucap Arwanda seperti tanpa beban. Sementara Maya sudah sangat ingin memberikan bogem mentahnya di wajah Arwanda. Tapi Bianca menahan tangannya dan menggeleng dengan wajah berlinang air mata. "Aku tau aku salah, tapi setidaknya berikan aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya kepadamu." mohon Bianca. "Ak... aku tidak ada niat sedikit pun untuk mengkhianatimu." "Tapi kau telah mengkhianatiku!!" "Aku tidak mengkhianatimu!! Dia melecehkanku!!" ucap Bianca lantang. "Dia melecehkanku karena aku menolak untuk menikah dengannya. Dia itu Arka sahabat masa kecil sekaligus cinta pertamaku." jelas Bianca terisak. "Aku menolak lamarannya karena dirimu!! Karena aku mencintaimu Arwanda Anggaar." Arwanda diam, ia mencerna setiap kata yang dilontarkan Bianca. Benarkah bahwa dirinya diperkosa? Atau semua itu hanya karangan. "Aku mencintaimu." lirih Bianca lemah dan langsung jatuh pingsan. Melihat Bianca pingsan, sontak Arwanda dan Maya panik. "Axel siapkan mobil!!!" triak Arwanda membuyarkan lamunan Axel. Melihat kondisi Bianca, seketika rasa panik menghampirinya. Dia langsung berlari keluar. *** #tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN