Seven

1933 Kata
"help me to see cause I am blinded by love"   Bianca menggigit bibirnya, saat ini dia benar-benar gugup. Saat ini dia telah berada tepat berada didepan gedung besar menjulang tinggi 'Anggara Company.' terakhir dia datang ke gedung ini kurang lebih dua bulan yang lalu untuk melabrak Arwanda. Namun kali ini dia datang untuk menjelaskan semua kejadian kemarin dan berharap Arwanda mau mendengarkannya. Bianca tidak berharap kalau Arwanda akan menerimanya kembali, tapi setidaknya dia sudah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dia benar-benar mencintai pria itu, dia mengaku salah kalau kemarin dia sempat meragukan apa dia mencintai Arwanda apa tidak, namun sekarang dia benar-benar mengaku bahwa hanya Arwanda-lah pria yang ia cintai saat ini. Lalu bagaimana dengan perasaannya saat ini kepada Arka? Bianca hanya menganggap Arka sahabat, tak lebih. Dan getaran yang ia rasakan kepada Arwanda tidak ia rasakan saat ia bersama dengan Arka. "Permisi mbak, apa saya bisa ketemu dengan Mr.Arwanda Anggara?" tanya Bianca sopan, kepada resepsionis wanita yang wajahnya masih Bianca kenal dengan jelas, ya siapa lagi kalau bukan Winda. Resepsionis yang sama ketika ia datang kesini. "Maaf bu, tapi saat ini Mr.Arwanda sedang tidak masuk kerja. "Jawab Winda sopan. Sontak membuat wajah Bianca menjadi murung. Dia menatap Winda dengan tatapan sendunya. "Kalau begitu saya pamit dulu." Winda mengangguk. Dia tak mengerti mengapa Bianca memasang mimik wajah menyedihkan seperti itu. Bahkan ia juga merasa kalau Bianca Zamora yang ia temui beberapa bulan yang lalau jauh berbeda dengan yang sekarang. "Sudahlah, tak penting juga." lirih Winda sebelum kembali memfokuskan dirinya pada perkerjaannya. *** Bianca mendudukkan dirinya di trotoar didepan kantor Arwanda. Hatinya masih terasa nyeri mengingat tatapan Sendu Arwanda semalam. "Ehemm..." deheman itu, membuyarkan lamunan Bianca. Ia mendongakkan wajahnya menatap tepat ke dalam manik mata seorang pria yang berdiri didepannya dengan setelan kerja formal. "Kau menyakitinya." Bianca mengernyit bingung. "Apa maksudmu?" "Oh, sebelumnya perkenalkan namaku Axel Raimond, sepupu sekaligus sahabat Arwanda." jelas Axel. Ia begitu geram dengan wanita didepannya ini. Setelah dia berhasil menyakiti Arwanda dan sekarang dengan tak tau malunya ia ingin menemui Arwanda. Dia tadi tidak sengaja melihat Bianca duduk menunduk di trotoar. "Apa yang sedang kau lakukan di sini? Apa belum puas kau menyakiti sahabatku?" tanya Axel dengan nada sinis. Bianca menggeleng, air mantan ya kembali mengalir. "Aku hanya ingin meminta maaf." lirih Bianca tulus. Ia menatap tepat dimanik mata Axel, berharap pria itu mengerti apa yang dia rasakan saat ini, dan betapa tersiksa nya dia saat ini. Axel tersenyum miring. "Maaf? Apa dengan kata maafmu maka semuanya akan kembali normal?" Tanya Axel geram. Gimanapun butuh waktu lama untuk bisa membuat sahabatnya itu kembali seperti semula. Saat ini Arwanda masih tampak murung. Tadi ketika Arwanda bangun, pria itu hanya diam dan menatap nanar ke depan, sama seperti saat ia ditinggal pergi oleh Callysta demi pria lain. Bianca semakin terisak. "Aku mohon pertemukan aku dengannya. Aku sungguh sangat menyesal." "Simpan saja penyesalanmu itu, karena saat ini Arwanda sudah tak ingin menemuimu." ucap Axel dengan nada dingin. Lalu ia melangkah pergi meninggalkan Bianca yang semakin terisak. Sebenarnya dia sedikit kasihan melihat Bianca yang menangis terisak seperti itu. Tapi mengingat apa yang sudah dia lakukan terhadap Arwanda, membuatnya berpikir bahwa Bianca pantas mendapatkan itu. *** Bianca merasakan hatinya teramat sakit. Nafasnya terasa begitu sesak, sampai dengan pandangannya yang mulai berkunang-kunang. Kepalanya pusing dan perutnya terasa begitu mual. Bruk Tubuh Bianca limbung terjatuh di trotoar. Hal terakhirnya yang ia lihat adalah beberapa orang yang berdiri mengelilinginya dan menepuk pelan pipinya. *** Bianca mengerjap-ngerjapkan matanya. Dimana dia sekarang? Bukankah terakhir kali dia sedang berada di trotoar kantor Arwanda? "Honey, Kau sudah sadar?" tanya Maya, yang masih menyisakan nada khawatir pada pertanyaannya. Bagaimana Maya tidak khawatir, kalau tadi ada seseorang yang menghubunginya dan mengatakan kalau Bianca pingsan dipinggir trotoar kantor 'Angara Company'. Kalau Maya memiliki penyakit jantung maka, bisa dipastikan kalau saat ini dia sudah ikut tepar di samping Bianca. Dia begitu menyayangi Bianca maka tak heran kalau dia begitu khawatir dengan keadaan Bianca. "Aku dimana May?" tanya Bianca dengan suara lemah. Kepalanya benar-benar pusing. Ditambah perutnya yang sedikit terasa nyeri. "Kau dirumah sakit Hon, kau tadi pingsan di trotoar kantor Arwanda." Jawab Maya. Dia menggenggam tangan Bianca. "Tadi aku sudah mencoba menghubungi Arwanda tapi kekasih kurang ajarmu itu tidak bisa dihubungi sama sekali." dengus Maya kesal. Setelah ia mengetahui Bianca berada dirumah sakit. Orang yang pertama dia hubungi adalah Arwanda, mengingat pria itu adalah kekasih Bianca. Namun nihil, pria itu sama sekali tidak bisa dihubungi bahkan Maya sampai menghubungi kantor Arwanda namun kata sekretarisnya Arwanda tidak masuk kantor hari ini. Mendengar nama Arwanda, air mata Bianca kembali menetes. "Hei kau kenapa menangis? Tenanglah hon, mungkin Arwanda sedang ada pekerjaan makanya dia tidak bisa dihubungi." hibur Maya, yang mengira bahwa Bianca menangis karena Arwanda tidak ada di sini. Bianca menghiraukan ucapan Maya, dia lebih memilih memutar badannya memunggungi Maya. Maya mengernyit bingung melihat tingkah aneh Bianca. "Apa kau tidak mau mengetahui, kau sakit apa Hon?" tanya Maya. Yang bibirnya begitu gatal ingin memberitahu Bianca apa yang dikatakan dokter kepadanya beberapa jam yang lalu. "Aku tidak peduli, malahan aku berharap kalau aku segera mati May." lirih Bianca semakin terisak. Maya memutar tubuh Bianca agar berhadapan dengannya. "Apa yang kau bicarakan hon? Kalau kau memiliki masalah kau bisa berbagi denganku." ucap Maya tulus. "Di sini." Maya menyentuh perut datar Bianca. "Ada kehidupan hon." Bianca mengernyit bingung. "Apa yang kau katakan?" tanya Bianca. Maya tersenyum. "Kau hamil, jadi kau akan segera jadi ibu. Maka dari itu jangan pernah berpikiran yang aneh-aneh lagi." jelas Maya. Jantung Bianca bergetar cepat. Hamil? Anak Arwanda-kah? "Berapa bulan?" tanya Bianca. "5 minggu, dan kau tau hon? Aku begitu senang mendengar kabar bahwa kau hamil dan itu artinya aku bakal jadi paman." ucap Maya dengan mata berbinar. Dia begitu tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya ketika mengetahui kalau Bianca sedang mengandung calon ponakannya. "Apa yang kau katakan May, anak ini tidak akan pernah lahir." Mata Maya terbelalak kaget, apa maksud ucapan Bianca? Bukankah selama ini dia begitu menyukai anak kecil. Maya pikir Bianca akan sama senangnya dengan dirinya. "Apa yang kau katakan? Jangan berpikir yang macam-macam hon, kau tau kalau Arwanda tau kau berkata seperti ini dia bisa marah besar kepadamu." ucap Maya jengkel. Mendengar nama Arwanda, hati Bianca kembali nyeri. Air matanya kembali menetes membasahi pipinya. Dia tidak tau kenapa akhir-akhir ini dia begitu cengeng. Berbagai pertanyaan, berputar indah dikepalanya. Apa Arwanda akan menerima anak ini? Apa Arwanda akan mengakui ini anaknya atau tidak? Apa Arwanda akan memaafkannya dan menerima penjelasannya? Dia begitu takut Arwanda akan menolak kehadiran anak ini, karena Bianca yakin 100% kalau anak ini adalah buah cinta nya dan Arwanda. Namun mengingat kejadian kemarin Bianca takut kalau Arwanda akan berpikir yang aneh-aneh tentang dirinya. "Hei, kenapa kau menangis hon?" "Aku takut May, kalau Arwanda tidak akan menerima anak ini." jelas Bianca dengan leher tercekat. Tangannya terulur mengelus perut datarnya. Ia bisa merasakan bahwa saat ini di dalam perutnya ada kehidupan. "Apa maksudmu? Bukankah kalian saling mencintai? Jadi apa alasannya kau punya pemikiran kalau Arwanda akan menolak Baby ini." tanya Maya ikut mengelus perut datar Bianca. "Aku melakukan kesalahan besar May, dan mungkin Arwanda tidak akan memaafkanku sampai kapanpun." jelas Bianca. "Kesalahan? Kesalahan apa maksudmu? Setauku selama ini hubungan kalian baik-baik saja." tanya Maya bingung. Setaunya selama ini hubungan Bianca dan Arwanda baik-baik saja. Bahkan kemarin ia masih mengingat jelas mimik wajah Bianca ketika ia menunggu telepon dari Arwanda. Lalu kenapa saat ini Bianca mengatakan kalau Arwanda tidak akan menerima Baby ini. "Semalam Arwanda melihat aku melakukan hubungan badan dengan Arka. Hiks.." isak Bianca menjelaskan perihal kejadian kemarin. "Sumpah May, aku tidak ada sedikitpun berniat untuk mengkhianati Arwanda. Tapi Arka tidak terima ketika aku menolak ajakannya untuk menikah." tambah Bianca. Bianca menantikan reaksi apa yang ditunjukkan Maya ketika mendengar penjelasannya. Tapi Maya hanya memasang wajah datarnya. Wajah pria blasteran itu hanya menatap nanar kearah perut Bianca. Seketika rasa cemas menghantuinya, ia takut kalau Maya juga akan marah kepadanya. "May..." lirih Bianca menggenggam tangan Maya. Ia berharap Maya mengerti apa yang ia rasakan saat ini. "Kau marah May, aku tau pasti saat ini kau sangat marah kepadaku." Maya menggeleng. "Aku tidak marah, ya walau aku sedikit kecewa." jawab Maya jujur dan tangannya bergerak mengusap air mata Bianca. "Udah nggak usah nangis, ntar aku yang bicara sama Arwanda." "Nggak May, aku sendiri yang akan membuat Arwanda yakin kalau ini anaknya dan aku akan jelaskan apa yang terjadi kepadaku malam itu." ucap Bianca yakin. Kali ini dia akan memperjuangkan hubungannya dengan Arwanda demi anaknya. Dia berjanji apapun yang akan terjadi anaknya harus tetap lahir ke dunia ini. "Hhh, baiklah. Kau urus si Arwanda biar aku yang mengurus Si Arka. Awas saja kalau aku ketemu dengannya." geram Maya mengepal kedua tangannya. Bianca bergidik ngeri. Walau Bianca memiliki hati sama lembutnya dengan wanita pada umumnya, tapi Maya juga mempunyai kekuatan sama dengan pria pada umumnya. Dia jago bela diri walau itu ia tunjukkan disaat-saat yang benar-benar genting. "Sudah hon, kamu istirahat dulu ya. Love you hon" Bisik Maya mengelus pucuk kepala Bianca dengan sayang. Bianca tersenyum. "Me to" balas Bianca lalu memejamkan matanya. *** Bugh..bugh.. Maya menghantam wajah dan perut Arka berkali-kali. Bekas pukulan yang diberikan Arwanda belum kering, namun sekarang Maya datang menemuinya di hotel tempat dia menginap dan memukulnya dengan membabi buta. "Hhh, mati saja kau b*****t!!!" emosi Maya benar-benar sudah memuncak. Kakinya ia pergunakan untuk menginjak perut Arka yang sudah tepar tak berdaya diatas lantai. Arka tersenyum mengejek kearah Maya yang membuat emosi Maya semakin memuncak. Bugh...bugh..bugh.. Maya kembali melayangkan pukulan nya ke wajah Arka. Ia benar-benar muak dengan pria di hadapannya. Setaunya Arka dan Bianca adalah seorang sahabat yang begitu dekat, namun kenapa bisa dia membuat sahabat sekaligus orang yang dia cintai menangis? Entahlah, mungkin Arka memiliki kelainan dalam saraf otaknya. "Sekali lagi kau menyentuh Bianca, maka akan kupastikan kau mati mengenaskan." ancam Maya dan berlalu meninggalkan Arka yang mulai kehilangan kesadaran. *** Setelah merasa Maya telah pergi meninggalkannya, maka secepat kilat Bianca turun dari examination bed. Aku harus segera menemui Arwanda. Gimanapun caranya. Bianca berjalan keluar dari rumah sakit dan ia segera menyetop angkutan NYCTA. Tak butuh lama kini ia telah sampai di mansion keluarga Anggara. Bianca dapat melihat dari sela-sela pagar bahwa Mansion itu benar-benar besar dan mewah, dengan halaman luas yang ditumbuhi berbagai macam jenis tanam-tanaman, dengan sedikit gemetar tangan Bianca terukur menekan tombol bel yang berada didepan samping pagar mansion keluarga Anggara. Tak lama layar diatas tombol bel itu terlihat menyala, memperlihatkan berbagai data yang sepertinya harus diisi oleh Bianca. Dengan tangan yang masih gemetar Bianca menjawab setiap pertanyaan yang ada dilayar itu. Nama... -)Bianca zamora Pekerjaan... -)mantan model 'Anggara Company' Urusan.. -)ingin menemui tuan Arwanda Anggara. Setelah mengisi semua data yang diminta, kini Bianca diperintahkan memasukkan sidik jari. Dan tak lama kemudian pagar itu terbuka dan memperlihatkan dengan jelas mansion keluarga Anggara. Bianca perlahan melangkah dan mengedarkan penglihatannya ke seluruh wilayah mansion ini. Namun Bianca sedikit heran karena Mansion ini sedikit berbeda dari mansion lainnya. Mansion keluarga Anggara terlihat begitu sepi dan Bianca tidak menemui pengawal atau satpam yang berlalu-lalang di mansion ini. Langkah Bianca berhenti ketika matanya terpaku menatap sosok pria yang membelakanginya duduk diatas gazebo taman samping mansion. Melihat dari postur tubuhnya, Bianca yakin kalau itu adalah Arwanda-nya. Pria yang berhasil memporak porandakan hidupnya. Dengan langkah gemetar Bianca melangkahkan kakinya kearah Arwanda yang sedang terlihat termenung. Arwanda sepertinya tidak sadar ketika Bianca kini telah duduk di sampingnya. "Hai.." Arwanda tersentak kaget mendengar suara yang begitu dia rindukan. Tapi sedetik kemudian dia menggeleng, ia yakin bahwa itu hanya imajinasinya. "Aku minta maaf." ucap Bianca menyentuh telapak tangan Arwanda. Arwanda tersentak lalu menoleh dan menatap benci kearah Bianca. "Ngapain kau kesini. Pergilah!!! Jangan pernah kembali lagi!!" bentak Arwanda menghempaskan genggaman Bianca dan berlalu masuk ke dalam mansion nya meninggalkan Bianca yang menangis terisak. Apa sebenci itu kamu kepadaku Wan? Apa tidak ada kesempatan lagi? Aku dan anak kita butuh kamu. Batin Bianca menyentuh perut datarnya. Dia belum sempat memberitahu Arwanda perihal kehamilannya. Pria itu telah lebih dulu menolaknya tanpa mau mendengar penjelasannya. Apa ini akhir dari semuanya? Kalau ia maka Bianca belum siap untuk berpisah dari Arwanda. *** #tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN