Cinta yang tulus tidak akan pernah ragu untuk memaafkan. Walaupun kesalahan itu besar.
***
Arwanda menggenggam erat ponselnya, pikirannya berkelana membayangkan kemungkinan buruk yang akan terjadi pada hubungannya dan Bianca. Ada apa sebenarnya? Kenapa rasanya dia ingin semakin dan menghancurkan setiap benda yang ada didepannya? Kenapa? Ada apa dengannya sebenarnya?
Arwanda melangkah hilir mudik didepan meja kerjanya, wajahnya memerah nafasnya memburu dan pikirannya masih berkelana kepada Bianca. Dengan tidak sabaran Arwanda meraih kunci mobilnya dan melangkah keluar menuju bagasi.
Dia tidak boleh hanya diam di sini dengan pemikiran yang berkecamuk kemana-mana, dia harus segera menyusul wanitanya untuk memastikan kalau Bianca baik-baik saja.
Hanya butuh waktu limas belas menit bagi Arwanda untuk tiba diapartement milik Bianca, dengan akses yang dia miliki Arwanda bisa masuk dengan leluasa di sini. Dengan langkah cepat dia melangkah kearah kamar Bianca.
Brak.
“Aargggghhhhhh..."
Erangan penuh kenikmatan adalah hal yang pertama kali dijumpai Arwanda ketika ia membuka kamar Bianca, matanya terbelalak, nafasnya memburu melihat apa yang ada didepannya.
Disana, diatas ranjang tempat dimana dia dan Bianca selalu menghabiskan waktu bersama kini terlihat kotor dengan Bianca terbaring lemah di bawah tindihan pria asing.
“b******k kalian!!!” Arwanda memaki membabi buta, dia melangkah menarik tubuh pria itu dan melemparkannya ke lantai. Dengan amarah yang memuncak Arwanda menghajar dan menghujani pria itu dengan pukulannya. Dia menghiraukan teriakan dan jeritan Bianca.
“KITA SELESAI JALANG!” ujar Arwanda final sebelum dia melangkah pergi meninggalkan Bianca yang menangis histeris.
“tidak, kau tidak bisa begini.” Bianca meraih pergelangan tangan Arwanda.
“Jangan sentuh aku Jalang!!” maki Arwanda menghempaskan tangan Bianca.
Dia melangkah cepat meninggalkan kamar Bianca, setitik air mata menetes membasahi pipinya. Lagi dan lagi dia kembali merasakan yang namanya pengkhianatan.
***
"Hahaha... Semua perempuan itu sama saja, menjijikkan." cerocos Arwanda, saat ini dia sedang berada disalah satu klub malam tempatnya selalu nongkrong sebelum ia mengenal Bianca.
Sial! wanita itu benar-benar membawa pengaruh besar kepada Arwanda Anggara. Dia berhasil membuat Arwanda bertekuk lutut kepadanya dalam waktu sesingkat ini.
"Kau sudah terlalu banyak minum malam ini." Arwanda memicingkan matanya, melihat siapa yang berani- beraninya mengganggu kesenangannya. "Kau!!! Pergilah." usir Arwanda ketus ketika mengetahui Axel-lah yang mengganggu kesenangannya.
Axel Raimond, pria muda yang merupakan sepupu sekaligus sahabatnya. "Ckckck kau masih belum berubah. Kau masih saja melampiaskan amarahmu dengan meminum minuman sialan ini."
Arwanda terkekeh." seperti kau tidak saja."
“Haha dia selingkuh dariku. Wanita itu selingku. Hahaha." Axel meringis ngeri melihat Arwanda seperti orang gila. Terakhir dia melihat Arwanda terpuruk seperti ini 5 tahun lalu. Dimana ketika Callysta pergi meninggalkannya demi pria lain.
Axel masih mengingat jelas bagaimana hancurnya Arwanda saat itu. Arwanda seperti mayat hidup, dia hanya bisa melamun, menangis dan tertawa dalam selang waktu bersamaan. Ia begitu terpukul saat itu. Mengingat Callysta adalah cinta pertamanya, mereka telah menjalin hubungan hampir delapan tahun.
Sejauh hubungan Arwanda dan Callysta tidak pernah ada masalah sama sekali. Semuanya berjalan dengan lancar bahkan tak jarang beberapa orang mengungkapkan rasa iri dengan kemesraan yang mereka umbar di publik. Hal itulah yang membuat Arwanda begitu terpuruk ketika Callysta pergi meninggalkannya.
Sampai dengan dua tahun yang lalu, Arwanda memutuskan untuk bangkit dari keterpurukannya ketika Ruth-ibunya meninggal dunia. Dan sesaat sebelum Ruth pergi, ia sempat berpesan kepada Arwanda agar mau melanjutkan hidupnya dan menjadi CEO dari perusahaan yang telah dibangun dari nol oleh kakeknya.
Dan semenjak itu Arwanda mulai meyakinkan dirinya agar mau kembali lagi seperti dulu. Namun sepertinya Arwanda akan kembali lagi pada masa-masa menyeramkan itu.
"Bianca..." lirih Arwanda, sebelum kesadarannya hilang. Axel berdecap kesal. Ia menopang tubuh Arwanda untuk dibawa pulang.
***
Bianca menggigit bibirnya, saat ini dia benar-benar gugup. Saat ini dia telah berada tepat berada didepan gedung besar menjulang tinggi 'Anggara Company.' terakhir dia datang ke gedung ini kurang lebih dua bulan yang lalu untuk melabrak Arwanda. Namun kali ini dia datang untuk menjelaskan semua kejadian kemarin dan berharap Arwanda mau mendengarkannya.
Bianca tidak berharap kalau Arwanda akan menerimanya kembali, tapi setidaknya dia sudah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Dia benar-benar mencintai pria itu, dia mengaku salah kalau kemarin dia sempat meragukan apa dia mencintai Arwanda apa tidak, namun sekarang dia benar-benar mengaku bahwa hanya Arwanda-lah pria yang ia cintai saat ini.
Lalu bagaimana dengan perasaannya saat ini kepada Arka?
Bianca hanya menganggap Arka sahabat, tak lebih. Dan getaran yang ia rasakan kepada Arwanda tidak ia rasakan saat ia bersama dengan Arka.
"Permisi mbak, apa saya bisa ketemu dengan Mr.Arwanda Anggara?" tanya Bianca sopan, kepada resepsionis wanita yang wajahnya masih Bianca kenal dengan jelas, ya siapa lagi kalau bukan Winda. Resepsionis yang sama ketika ia datang kesini.
"Maaf bu, tapi saat ini Mr.Arwanda sedang tidak masuk kerja. "Jawab Winda sopan. Sontak membuat wajah Bianca menjadi murung.
Dia menatap Winda dengan tatapan sendunya. "Kalau begitu saya pamit dulu."
Winda mengangguk. Dia tak mengerti mengapa Bianca memasang mimik wajah menyedihkan seperti itu. Bahkan ia juga merasa kalau Bianca Zamora yang ia temui beberapa bulan yang lalau jauh berbeda dengan yang sekarang.
"Sudahlah, tak penting juga." lirih Winda sebelum kembali memfokuskan dirinya pada perkerjaannya.
***
Bianca mendudukkan dirinya di trotoar didepan kantor Arwanda. Hatinya masih terasa nyeri mengingat tatapan Sendu Arwanda semalam.
"Ehemm..." deheman itu, membuyarkan lamunan Bianca. Ia mendongakkan wajahnya menatap tepat ke dalam manik mata seorang pria yang berdiri didepannya dengan setelan kerja formal.
"Kau menyakitinya."
Bianca mengernyit bingung. "Apa maksudmu?"
"Oh, sebelumnya perkenalkan namaku Axel Raimond, sepupu sekaligus sahabat Arwanda." jelas Axel. Ia begitu geram dengan wanita didepannya ini. Setelah dia berhasil menyakiti Arwanda dan sekarang dengan tak tau malunya ia ingin menemui Arwanda. Dia tadi tidak sengaja melihat Bianca duduk menunduk di trotoar. "Apa yang sedang kau lakukan di sini? Apa belum puas kau menyakiti sahabatku?" tanya Axel dengan nada sinis.
Bianca menggeleng, air mantan ya kembali mengalir. "Aku hanya ingin meminta maaf." lirih Bianca tulus. Ia menatap tepat dimanik mata Axel, berharap pria itu mengerti apa yang dia rasakan saat ini, dan betapa tersiksa nya dia saat ini.
Axel tersenyum miring. "Maaf? Apa dengan kata maafmu maka semuanya akan kembali normal?" Tanya Axel geram. Gimanapun butuh waktu lama untuk bisa membuat sahabatnya itu kembali seperti semula.
Saat ini Arwanda masih tampak murung. Tadi ketika Arwanda bangun, pria itu hanya diam dan menatap nanar ke depan, sama seperti saat ia ditinggal pergi oleh Callysta demi pria lain.
Bianca semakin terisak. "Aku mohon pertemukan aku dengannya. Aku sungguh sangat menyesal."
"Simpan saja penyesalanmu itu, karena saat ini Arwanda sudah tak ingin menemuimu." ucap Axel dengan nada dingin. Lalu ia melangkah pergi meninggalkan Bianca yang semakin terisak.
Sebenarnya dia sedikit kasihan melihat Bianca yang menangis terisak seperti itu. Tapi mengingat apa yang sudah dia lakukan terhadap Arwanda, membuatnya berpikir bahwa Bianca pantas mendapatkan itu.
***