15. Ketulusan Hati

2162 Kata
Mendengar jawaban dari Mila membuat Hulya tidak bisa tenang, pikirannya benar-benar melayang kemana-mana dan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar sendiri. Sedangkan Mila yang melihat Hulya seperti orang bingung pun ingin menenangkannya, namun saat dia melihat tatapan Hulya padanya pun membuat dia mengurungkan niatnya. Kali ini Hulya menatap Mila seolah sudah siap untuk mendengarkan semua penjelasan Mila, karena dialah yang paling tahu apa yang terjadi pada Halwa selama dia dalam penjara. “ Jelaskan semuanya dari awal Mil, aku yakin kamu tahu semua yang terjadi dengan Halwa. Dia ngga mungkin akan menikah dengan laki-laki yang sudah beristeri Mil, Halwa bukan orang yang seperti itu Mil.” Ucap Hulya yang tahu kalau saudaranya tidak mungkin merusak hubungan orang lain. “ Halwa sama sekali ngga ada niatan buat merusak rumah tangga orang Hul, bahkan isteri dari suami Hulya sendiri yang menyarankan tentang pernikahan ini, Hul.” “ Tapi kenapa Mil, kenapa. Apa alasan Halwa menikah dengan dengan laki-laki yang umurnya terpaut jauh sekali dengannya.” Tanya Hulya yang benar-benar tidak bisa berpikir jauh. “ Kamu tunggu sini ya Hul.” Ucap Mila yang langsung masuk kedalam kamar Halwa untuk mengambil sesuatu. “ Kamu mau ngapain.” Tanya Hulya, namun belum sempat dia menyusul Mila, Mila pun sudah kembali dengan membawa sebuah box sedang. Hulya hanya mengeryitkan dahinya, dia penasaran dengan box yang di bawa oleh Mila. “ Apa itu Mil.” “ Semua rahasia yang Halwa punya ada di box ini Hul.” Jawabnya. Tanpa menunggu lama, Hulya langsung meraih box tersebut dan membukanya. Dia mengambil barang-barang yang ada di dalam, dan dia baru percaya setelah melihat salah satu foto yang menunjukkan tentang pernikahan Halwa. “ Kasih tahu aku tentang semuanya Mil, apa yang membuat Halwa sampai melakukan hal sejauh ini Mil.” “ Aku tahu kamu sedih, terluka dan kecewa mengetahui semua ini Hul. Tapi aku mohon Hul, kalau kamu tahu apa yang terjadi pada Halwa, jangan sampai kamu menyalahkan dirimu sendiri Hul, karena Halwa ikhlas melakukan semua ini, dia sangat menyayangi kamu Hul.” “ Apa maksud kamu Mil, apa ini ada hubungannya dengan masalahku di masa lalu.” Tebak Hulya yang langsung berpikir kearah sana. Dengan berat Mila pun mengangguk. “ Astagfirullah, ya Allah. Jadi semua ini karena aku.” “ Ngga Hul, ini bukan karena kamu. Ini pilihan yang Halwa ambil Hul.” “ Tapi kalau aku ngga menyebabkan banyak masalah, Halwa ngga akan pernah mengalami kesulitan Mil, dia ngga akan pernah sakit-sakitan, dia akan hidup bahagia.” Ucapnya dengan penuh penyesalan. “ Please Hul, jangan bicara begitu. Dengarkan dulu apa yang mau aku katakan. Jangan seperti ini, kalau Halwa melihatmu seperti ini dia akan jauh lebih sedih Hul.” “ Semua karena aku Mil, karena aku.” “ Ngga Hul, ini bukan karena kamu. Ini memang sudah jadi takdir Halwa, Allah yang lebih tahu apa yang terbaik untuk Halwa, Hul. Dia wanita yang baik, kita harus percaya dia sudah bahagia disana.” Balas Mila yang mencoba menenangkan Hulya dengan memeluk sahabatnya itu. Dan ini pertama kalinya Hulya yang terlihat kuat menangis dan rapuh seperti sekarang. Dia pun menunggu sampai Hulya kembali tenang, baru dirinya akan menceritakan apa yang selama ini Halwa alami. “ Siapa laki-laki yang menikahi Halwa Mil.” “ Dia laki-laki yang baik Hul, dialah yang menolong Halwa, saat Halwa sedang di kejar-kejar orang-orang yang menagih hutangmu dan keluargamu. Kamu tahu sendiri kan seperti apa Bang Fendi, sejak dulu dia begitu terobsesi pada Halwa, bahkan sampai dia mengancam kalau sampai Halwa tidak melunasi hutang-hutangnya maka Halwa harus menjadi miliknya. Setelah rumah ayahmu terjual pun itu tidak cukup untuk melunasi hutang-hutang itu. Sampai Halwa harus berpindah-pindah rumah karena terus-terusan di kejar bang Fendi. Sampai suatu hari, Halwa yang sedang di kejar oleh bang Fendi dan di paksa untuk menikah dengannya pun tidak sengaja bertemu dengan pak Ibrahim. Dia menyelamatkan Halwa dari bang Fendi. Namun ternyata, pertolongan itu bukanlah yang pertama. Allah seperti sudah menakdirrkan pertemuan Halwa dengan pak Ibrahim Hul. Beberapa kali dia kembali menolong Halwa, sampai pak Ibrahim tidak tega dan bertanya apa yang menyebabkan Halwa terus di kejar-kejar oleh anak buah bang Fendi. Mengetahui cerita Halwa, pak Ibrahim pun langsung menawarkan diri untuk membantu Halwa dengan melunasi hutang-hutangnya. Awalnya Halwa menolak, namun dia kembali berpikir apa salahnya jika dia menerima bantuan pak Ibrahim. Setelah itu dia rela bekerja untuk pak Ibrahim dan membayar hutangnya nanti pada pak Ibrahim. Hutang pun terlunasi Hul, tapi ternyata kelicikan bang Fendi untuk menganggu Halwa tidak berhenti begitu saja. Dia masih terus mengganggu Halwa, bahkan dia sampai mau berniat tidak baik pada Halwa. Untung pak Ibrahin datang tepat waktu, sebelum Halwa diapa-apakan oleh bang Fendi. Pak Ibrahim berhasil menolong Halwa, Hul. Dia seperti pahlawan bagi Halwa. Sampai suatu hari, pak Ibrahim dan isterinya datang menemui Halwa dan menyuruh Halwa untuk menikah dengan pak Ibrahim, hal itu demi keselamatan Halwa. Karena dia yakin kalau Halwa menikah dengan pak Ibrahim, tidak akan ada yang bisa menganggu Halwa, hidupnya pun lebih baik. Awalnya Halwa ragu, terlebih lagi saat tahu isterinya yang begitu baik. Namun isteri pak Ibrahim pun terus membujuk Halwa, sampai akhirnya Halwa setuju untuk menikah dengan pak Ibrahim, ini pun untuk keamanan dirinya sendiri.” “ Kenapa harus dengan menikah Mil, kenapa mereka ngga angkat Halwa sebagai anak aja.” Pikir Hulya. “ Apa kamu pikir itu mudah, gimana kalau Halwa tidak diterima oleh anak-anak pak Ibrahim.” “ Terus apa bedanya dengan pernikahan mereka, pasti anak-anak dari laki-laki itu tidak merestuinya.” “ Pernikahan ini tidak ada yang tahu kecuali, aku, isteri pak Ibrahim dan pengacaranya.” “ Jadi ini pernikahan rahasia Mil.” “ Iya Hul. Dan setelah menikah, bu Hazna yang tidak lain adalah isteri pak Ibrahim sering bertemu dengan Halwa, dia sangat baik dan terlihat tulus pada Halwa. Sampai dimana Halwa merasa tidak enak hati pada Bu hazna, dia merasa seperti orang ketiga diantara pernikahan pak Ibrahim dan bu Hazna. Akhirnya Halwa meminta bercerai, tapi Bu Hazna melarangnya, kalau pak Ibrahim pun ikhlas menikah dengan Halwa, apalagi pernikahan ini bukanlan permainan. Namun perasaan Halwa benar-benar tidak nyaman, terlebih lagi kalau dirinya sudah mulai memiliki perasaan pada pak Ibrahim. Sampai akhirnya Halwa memutuskan untuk pergi dari kehidupan keluarga pak Ibrahim. Dia tidak ingin perasaannya membawa masalah baru dalam kehidupan orang yang sudah begitu baik padanya.” “ Aku pikir selama ini Halwa di luar sana hidup bahagia, aku bahkan sampai di penjara terus memikirkan dan iri dengan kehidupan Halwa di luar sana tanpa tahu masalah yang Halwa hadapi. Karena Halwa ngga pernah menunjukkan kesedihannya padaku Hul, dia selalu tersenyum, dan seolah berkata kalau semuanya baik-baik saja.” “ Itulah Halwa, Hul. Dia sangat menyayangi kamu, dia ngga pernah ninggalin kamu Hul. Halwa selalu ada buat kamu.” “ Kamu benar Mil, justru aku yang ngga pernah ada untuknya. Aku bukan saudara yang baik Mil.” “ Jangan bicara seperti itu Hul, aku tahu kalau dalam hatimu pun sangat menyayangi Halwa, hanya saja kamu ngga bisa mengungkapkannya dan memperlihatkannya.” “ Lalu apa ang terjadi pada Halwa setelah dia kabur Mil.” “ Aku membantu Halwa mencari tempat yang aman, tempat dimana semua orang ngga akan bisa menemukannya. Dan disinilah akhirnya Halwa tinggal Hul. Dia membeli rumah ini dengan tabungannya, karena pak Ibrahim selalu memberikan Halwa uang, namun Halwa tidak pernah memakainya, karena dia merasa dengan apa yang sudah pak Ibrahim berikan untuknya itu sudah lebih dari cukup. Dan beberapa bulan Halwa kabur dia baru tahu kalau dirinya sedang mengandung, itu pun karena dia tiba-tiba pingsan Hul. Aku khawatir dan langsung membawanya ke rumah sakit. Dan dari sana kita tahu kalau ternyata Halwa mengalami masalah dengan rahimnya. Dokter menyarankan kalau kandungan Halwa harus diangkat. Namun Halwa menolak, dia akan tetap mempertahankan anak ini. Dia tidak ingin membunuh anak yang tidak berdosa. Jadi dengan keras kepalanya, akhirnya Halwa berhasil mengandung anak itu selama Sembilan bulan. Dan beberapa hari setelah melahirkan putrinya, Halwa pun meninggal dunia Hul.” “ Jadi maksud kamu sampai Halwa meninggal, suaminya ngga tahu apapun tentang anak itu dan kematian Halwa.” “ Ada kemungkinan pak Ibrahim dan isterinya belum tahu Halwa meninggal, namun ternyata sebelum Halwa meninggal pak Ibrahim telah meninggal duluan Hul. Sebelum Halwa meninggal dia menyuruhku untuk menelfon bu Hazna. Dia menyuruhku menitipakan anaknya di panti asuhan, dan setelah itu anak itu akan diambil dan di rawat oleh bu Hazna. Setelah kejadian itu aku ngga tahu apa-apa lagi tentang anak Halwa, Hul.” Kemudian Hulya kembali melihat-lihat barang-barang milik Halwa dengan berlinang air mata. Sampai matanya tertuju pada amplop yang disana tertulis “ Untuk Hulya ”. Tatapan Hulya langsung beralih pada Mila. “ Halwa menuliskan sesuatu untukmu Hul.” Ucap Mila Mendengar hal itu, Hulya langsung membuka amplop tersebut. Di sana ada sebuah kertas berisi surat dan beberapa foto Halwa sedang menggendong bayi yang baru lahir. “ Ini.” “ Itu anak Halwa, Hul. Namanya Faza. Aku yang memotretnya saat Halwa baru lahiran.” Setelah itu, Hula pun langsung membuka isi surat yang Halwa tuliskan untuknya. Untuk Hulya. Assallamualaikum Hulya. Maaf ya, Halwa ngga ada di hari dimana Hulya sudah bisa bebas. Tapi Halwa saat membayangkan itu pun sangat bahagia. Kalau surat ini ada di tangan Hulya, itu tandanya Halwa sudah ngga ada lagi,maaf karena Halwa meninggalkan Hulya sendirian di dunia ini. Tapi Hulya tenang, ibu, ayah dan Halwa akan selalu menunggu Hulya dengan penuh kerinduan. Hul, mungkin saat Hulya baca surat dari Halwa, Hulya sudah tahu tentang semua yang terjadi pada Halwa dari Mila. Halwa mohon sama Hulya, jangan sedih dan jangan pernah rapuh walaupun kita ngga ada. Tetaplah menjadi Hulya yang kuatnya tiada tanding. Halwa pun mau minta maaf karena belum bisa menjadi saudara yang baik buat Hulya. Hul, sekali lagi Halwa minta maaf, karena Halwa ada permintaan yang ingin Halwa sampaikan pada Hulya. Halwa tahu kalau sekarang anak Halwa ada di tangan yang benar, dia sudah bersama dengan keluarga yang baik dan menyayanginya. Namun, tetap hati Halwa takut, gelisah saat membayangkan Faza Hul. Halwa ingin sekali Hulya bisa melihat tumbuh kembang Faza untuk menggantikan Halwa yang ngga bisa melihatnya secara langsung. Membanyangkan Hulya ada bersama Faza benar-benar membuat Halwa tenang. Mungkin permintaan Halwa ini terlalu berat buat Hulya, tapi hanya itu yang Halwa inginkan Hul. Setelah menjadi seorang ibu, Halwa jadi mengerti betapa besarnya kasih sayang ibu pada anaknya. Seperti kasih sayang yang ibu berikan buat kita berdua. Sampai Halwa merasa berdosa sekali, karena sudah mempertahakan Faza dan setelah itu meninggalkan Faza sendirian di duani ini tanpa ada Halwa. Hati Halwa benar-benar sakit Hul membayangkan hal itu. Hul, Halwa mohon jadilah salah satu sumber kebahagiaan Faza, tetaplah bersamanya menggantikan Halwa yang ngga bisa menemaninya. Dan terima kasih karena sudah menjadi saudara Halwa. Mungkin orang di luar sana mengira kalau Hulya gadis yang ngga baik, namun bagi Halwa, Hulya adalah yang terbaik. Mereka berkata seperti itu karena mereka belum mengenal Hulya luar dan dalamnya. Ibu, ayah dan Halwa akan selalu sayang Hulya. Dan jangan pernah berpikir kalau Hulya sendiri, karena kita selalu bersama dengan Hulya. Salam sayang dari Halwa. Waalaikumsalam. Hulya. Setelah membaca surat yang Halwa tulis, tangisan Hulya semakin deras. Dia terus memukuli dadanya yang begitu sakit, karena harus kembali mengikhlaskan orang yang sangat ia sayangi dan menyanyanginya. Foto Halwa dengan bayinya pun langsung Hulya genggam dengan begitu erat.  “ Apa yang harus aku lakukan sekarang Mil, apa yang harus aku lakukan sekarang Mil, aku udah ngga punya siapa-siapa lagi, semua orang yang aku sayangi sudah tiada, aku selalu mengecewakan dan membuat sedih mereka Mil. Aku belum pernah menjadi anak dan saudara yang baik untuk ayah, ibu dan Halwa, Mil.” Tanyanya. “ Tenang Hul jangan bilang seperti itu, aku selalu bersama denganmu. Aku ngga akan pernah ninggalin kamu sendiri. Aku yakin kamu mampu dan kuat Hul.” “ Aku selalu iri saat ayah dan ibu membanding-bandingkan aku dengan Halwa. Sampai aku memilih terjerumus dan bergaul dengan teman-teman yang gila dan ngga ada yang bener. Aku selalu lebih mementingkan teman-temanku dibandingkan keluargaku. Belum pernah sekalipun aku membuat mereka bangga dan bahagia karena memilikiku Mil. Aku sendiri yang menjauhkan diri dari mereka, tapi dengan ngga tahu malunya aku justru menyalahkan mereka yang seolah membuagku dari kehidupan mereka. Aku memang anak kurang ajar Mil, belum pernah aku berbakti atau membuat ayah dan ibu bahagia. Aku selalu menyusahkan mereka dan mempermalukan mereka dengan keluar masuk penjara. Aku malu Mil, aku malu.” “ Sudah Hul, terkadang apa yang terjadi dalam hidup kita memang membuat kita bisa belajar dan bahkan sampai menyesalinya. Lalu kita berpikir andai waktu bisa terulang, aku pasti ngga akan pernah melakukannya. Tapi semua itu sudah terjadi Hul, ngga mungkin bisa terulang lagi. Kita hanya bisa menjadikannya pelajaran supaya kedepannya bisa menjadi lebih baik dalam menatap masa depan.” “ Mil. Aku membutuhkan bantuamu Mil.” “ Aku akan siap membantumu Hul.” Tangan Hulya langsung meraih kartu nama yang masih tergeletak di meja. “ MUHAMMAD AZLAN RAFFASYA. Aku harus memenuhi permintaan Halwa, Mil. Aku akan melakukannya demi Halwa Mi, aku akan menjaga anak Halwa.” Ucap Hulya yang terlihat begitu yakin dengan ucapannya. Namun Mila ragu dengan ucapan Hulya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN