14. Ketulusan Hati

2068 Kata
Selama perjalanan ke rumah Faza benar-benar sangat bahagia. Karena akhirnya dia bisa kembali ke rumah, namun sebelum dia kembali ke rumah Faza ingin mengunjungi mamanya. Dia sangat merindukan mamanya. Azlan pun mengizinkannya, karena mereka bertiga pun sudah lama tidak mengunjungi makam kedua orang tuanya. “ Assallamualaikum ma.” Salam Faza yang langsung mencium batu nisan milik mamanya. “ Mama… Faza datang buat nengokin mama, Faza kangen sama Faza. Faza ingin ketemu sama mama, apa mama disana juga kangen sama Faza.” Tanyanya yang sudah tidak lagi bisa membendung air matanya. Ketiga kakaknya yang melihat itu pun mulai merasakan kesedihan dan kerinduannya. “ Kak Alea yakin, kalau mama pun disana sangat merindukan Faza.” “ Kakak apa mama benar-benar ngga akan kembali lagi, apa walaupun Faza terus jadi anak baik, mama ngga akan kembali ke kita lagi.” Tanyanya. “ Mama memang ngga akan bisa kembali sama kita. Tapi Faza ngga boleh berubah, Faza harus tetap jadi anak baik, biar nanti kita bisa ketemu mama disana. Apa Faza mau.” Tanya Alea dan Faza langsung mengangguk. “ Apa didalam sana mama ngga kedinginan.” Tanya Faza. “ Mama ngga akan kedinginan sayang, kana da Allah yang selelu melidungi mama disana. Sekarang kita doain mama ya.” Ajak Alea. Kemudian, Azlan dan Azzam pun jongkok disamping Faza dan Alea untuk bersama-sama mendoakan papa dan mama mereka. Selesai berdoa saat Faza akan berpamitan, dia kembali mencium batu nisan mamanya dan berkata. “ Mama, mama jangan khawatir ya. Disini Faza sudah bahagia kok. Karena Faza bisa berkumpul lagi sama kakak. Faza yakin kakak ngga akan pernah ninggalin Faza lagi, kakak pasti akan selalu jagain Faza.” Ucapnya sambil menatap ketiga kakaknya dengan tersenyum. Dan mereka pun membalas dengan senyuman. “ Apa kita bisa pulang sekarang.” Tanya Azlan. Dan Faza mengangguk dengan semangat serta langsung menggenggam jari jemari Azlan. *** Sesampainya di rumah, bi Arum yang sudah mendapatkan kabar kalau Faza akan kembali pun menyambut dengan penuh kebahagiaan. Hari ini pun dirinya memasak makanan khusus kesukaan Faza untuk merayakan kembalinya Faza kedalam rumah ini. “ Assallamualaikum nona cantik.” “ Waalaikumsalam bibi.” Ucapnya yang langsung berlari dan memeluk bi Arum dengan begitu semangat karena bisa kembali lagi ke rumah yang begitu dia rindukan. “ Bibi seneng banget non Faza kembali ke rumah ini.” “ Faza juga seneng.” Kemdudian Faza langsung menarik tangan bi Arum untuk masuk kedalam. Sedangkan Azlan yang sengaja mengundang Yusuf ke rumahnya pun langsung mengajak Yusuf ke ruang kerjanya. Karena dia memiliki sesuatu yang penting yang akan dia bicarakan dengan Yusuf. Dan hal itu pun tidak jauh dengan masalah yang sedang terjadi di dalam keluarganya. “ Bagaimana suf, apa kamu sudah membawa semua berkas yang saya minta.” Tanya Azlan. “ Sudah pak, Tapi setelah kami selidiki tentang isteri kedua pak Ibrahim dia tidak tinggal di rumah kedua orang tuanya lagi pak. Bahkan kedua orang tuanya sudah lama meninggal sebelum pernikahan ini berlangsung.” “ Lalu apalagi yang kamu dapatkan tentangnya.” “ Saya mendapatkan info kalau selama menjauh dari pak Ibrahim, dia tinggal di sebuah rumah. Rumah itu memang terlihat di rawat pak. Tapi beberapa kali saya datang kesana pasti selalu kosong.” “ Orang seperti apa wanita yang sudah masuk kedalam keluargaku ini suf.” “ Setelah saya bertanya-tanya tentang dia, banyak orang yang mengatakan kalau Halwa gadis yang sangat baik, berbanding terbalik dengan kembarannya.” “ Kembaran.” “ Benar pak, Halwa memliki kembaran, namun kembarannya itu sudah lama menghilang, bahkan ada yang mengatakan kalau dia sudah meninggal.” Jawab Yusuf, “ Ok, untuk masalah itu tidak penting. Sesegera mungkin kita harus menemuinya. Aku harus menyelesaikan masalah ini, aku tidak ingin keinginan terakhir mama tidak terlaksana. Aku pun ingin tahu wanita seperti apa dia, sampai mama begitu ingin mencarinya.” Ucap Azlan yang bertanya-tanya dan penasaran dengan isteri kedua papanya. Sampai mamanya sendiri menyayanginya. ***  Dengan langkah yang pelan seorang wanita berjalan menuju pintu kebebasan, namun sebelum itu senyuman pun ia berikan pada teman-temannya yang mengantarkannya untuk keluar dari tempat tersebut. “ Semoga kali ini kebebasanku benar-benar bebas, sebebas bebasnya. Ngga ada lagi yang bisa menganggu kehidupanku.” Batin Hulya sambil memandangi ke sekeliling tempat yang sudah beberapa tahun ini ia tinggali. Dan hari ini adalah hari dimana dia di bebaskan karena masa hukumannya telah selesai. “ HULYA” Panggil seseorang yang langsung berlari kearah wanita yang masih berdiri di depan pintu rumah tahanan.  Wanita itu hanya bisa menghela nafas dan terlihat acuh. “ Alhamdulillah Hul, akhirnya aku bisa ngliat kamu keluar, aku bahagia banget.” “ Mil, kamu tahu ngga kalau aku sebenarnya ngantuk banget, karena semalaman aku ngga bisa tidur karena satu tahanan nyeramahi aku terus saat mereka tahu kalau pagi ini aku keluar. Mereka ngga kasih aku kesempatan buat istirahat, jadi hari ini aku mautidur sepuasku.” “ Ok … ok sekarang kita pulang, dan aku akan pesenin makanan yang enak-enak buat kamu.” “ Nah gitu dong, ngga percuma aku telfon kamu buat jemput aku hari ini.” Mereka berdua pun langsung menaiki taksi untuk menuju rumah, dan selama perjalanan itu pun Hulya hanya bisa tidur. Dia tidak peduli dengan segala ucapan yang keluar dari mulut Mila. “ Hul, kita udah sampai.” Ucap Mila yang langsung keluar dari taksi. Dan Hulya pun langsung membuka matanya, dia langsung menatap kearah rumah yang masih asing baginya. “  Sebenarnya kamu bawa aku ke rumah apa ke pemukiman pemulung sih.” Tanya Hulya yang benar-benar merasa menjijikan berada di tempat ini. “ Kok kamu bilang begitu sih Hul.” “ Ya abisnya ini kumuh banget Mil, kamu seriusan nyuruh aku tinggal di tempat seperti ini.” “ Yam au gimana lagi Hul, ngga mungkin dong aku bawa kamu ke rumah orang tuamu yang sudah di jual dan di gunakan untuk membayar hutang-hutangmu itu.” “ Ngga perlu ngungkit, aku ingat. Terus yang mana rumah Halwa.” Tanya Hulya dan Mila langsung menunjukkan tempat Hawal tinggal. Hulya kembali bengong saat mengetahui tempat tinggal Halwa benar-benar sangat sederhana. “ Kamu serius itu rumah Halwa.” Tanya Hulya untuk meyakinkan dirinya atas apa yang dilihatnya ini. “ Jangan gitu dong Hul, terus sekarang kamu mau ngga tinggal disana.” Tanya Mila, karena melihat keraguan di wajah Hulya. Tanpa mengatakan apapun Hulya langsung saja berjalan menuju rumah tersebut. Dan Mila hanya tersenyum lega. “ Terpaksa deh tinggal di tempat beginian, kalau bukan karena aku ngga punya uang, males banget tinggal disini. Dan akan aku pastikan kalau aku akan tinggalkan rumah kumuh ini.” “ Iya … iya deh Hul. Terserah kamu aja, aku Cuma ikutin katamu aja.” “ Aku aja selalu bersihin rumah ini Hul, apalagi waktu aku tahu kamu mau pulang.” Ucap Mila, sedangkan Hulya yang baru pertama kalinya masuk ke rumah ini pun hanya memandangi sekeliling isi rumah ini. Dan dia hanya tersenyum sinis. “ Halwa banget.” Ucapnya, karena dia paham kalau Halwa akan selalu mendesain ruangan yang dia miliki dengan begitu elegan. “ Kamu bener Hul, rumah ini dari penataannya udah keliatan Halwanya. Andai Halwa ada disini ya Hul, kita pasti bahagia banget, bisa berkumpul bertiga. Hul kamu jaji ya sama aku, janji sama kedua orang tuamu dan juga Halwa, kalau kamu ngga akan pernah lagi masuk kedalam penjara lagi, kamu ngga akan pernah lagi mengulangi kesalahan yang sama lagi. Aku ngga mau kamu kembali seperti dulu lagi.” Ucap Mila yang masih begitu khawatir. “ Ya Allah Mil, aku aja sampai bosan dengernya. Ngga di penjara, ngga disini omongannya sama semua. Iya… iya aku janji ngga akan ngulangin lagi. Aku sendiri aja cape, hidup disana terus. Bosan tahu.” Jawabnya. “ Syukurlah kalau kamu sadar Hul, aku benar-benar ngga mau kamu kembali mengecewakan orang-orang yang begitu sangat menyayangi Hul.” “ Stop Mil, aku ngga mau bahas masalah ini. Katanya kamu mau pesen makanan, kenapa belum datang juga.” “ Oh iya Hul, aku lupa. Kalau gitu aku langsung keluar aja nyari sendiri ya Hul. Biar lebih cepet.” Ucap Mila yang akhirnya keluar dari rumah Halwa. Setelah Mila keluar, Hulya pun langsung masuk ke kamar untuk istirahat. Dia yang benar-benar mengantuk dan lapar pun akhirnya membaringkan tubuhnya di ranjang sembari menungu Mila datang lagi. *** TOK … TOK … TOK… Ketukan pintu rumah pun terus terdengar, dan suara itu pun akhirnya membangunkan Hulya yang sedang tidur dengan nyeyak. “ Ya Allah, ngapain sih si Mila ketuk pintu segala. Emangnya dia ngga bawa kunci apa. Sampai manja banget minta di bukain segala.” Ucap Hulya yang terus ngedumel karena kesal dengan Mila. Dengan langkah gontai, Hulya pun langsung berjalan kearah pintu untuk membukakan pintu untuk Mila. Saat dirinya membuka pintu sambiil menguap dan garuk-garuk rambut pun langsung diam dalam keadaan tersebut karena ternyata orang yang ada didepannya bukanlah Mila, melainkan beberapa laki-laki yang berpakaian rapi, Hulya pun tidak pernah melihat mereka sebelumnya. Tapi karena ketakutan mereka adalah orang-orang jahat yang akan menjebloskan Hulya ke penjara lagi, maka Hulya langsung berusapa menutup pintunya. “ Tunggu.” Ucap salah satu laki-laki yang menaham pintu suapaya tidak tertutup. “ Siapa kalian, ngapain kalian kesini. Aku sudah tidak ada hutang lagi dengan bos kalian. Jadi jangan ganggu hidup saya lagi.” Ucap Hulya yang masih berusaha medorong pintu supaya tertutup. Namun ternyata tenaga yang dia miliki masih jauh dibandingkan dengan beberapa laki-laki yang juga mendorongnya dari luar. “ Saya kesini tidak mau menagih hutang pada anda, saya disini karena ada yang ingin saya bicarakan tentang Faza.” “ Siapa Faza, saya ngga kenal, kalian salah orang.” Bantah Hulya. “ Saya tahu anda sedang berpura-pura Halwa.” Ucapan laki-laki itu pun mengendorkan tenaga Hulya, sehingga membuat para lelaki berhasi mendorong Hulya dan hampir saja jatuh kalau saja Hulya tidak menjaga kesseimbangannya. “ Darimana anda tahu nama Halwa. Ada urusan apa Halwa dengan anda.” Tanya Hulya yang benar-benar tidak mengerti apapun. Tanpa meminta izin, Azlan dan yang lainnya pun masuk ke dalam rumah, dan tatapan Azlan langsung tertuju pada sekeliling rumah wanita yang sekarang ada di depannya. Hulya sebenarnya sangat kesal, karena laki-laki yang ada di depannya ini benar-benar sombong. Tanpa berbasa basi, Azlan pun langsung mengutarakan niatnya datang kemari. “ Saya mau anda sekarang ikut saya ke rumah untuk tinggal bersama dengan kami.” Ucap Azlan tanpa berbasa basi. Sedangkan Hulya langsung tertawa terbaha-bahak saat mendengar permintaan Azlan yang baginya begitu konyol. Azlan pun hanya menatap Yusuf. “ Apa anda sedang mengejek saya.” “ Ya ampun mas, siapa yang ngga menertawakan kalau anda tiba-tiba datang ke rumah saya dan mengajak saya tinggal bersama anda. Bisa-bisa anda benaran bibawa ke rumah sakit gila kalau setiap ke rumah cewek ngajak tinggal bareng.” Ejek Hulya. Ucapan tersebut sudah membuat Azlan emosi. “ Apa anda pikir saya sedang bermain-main. Anda sudah masuk kedalam keluarga saya dan merobak rabik keluarga saya Jadi anda harus tanggung jawab penuh, terutama kepada darah daging anda sendiri.” Ucap Azlan. “ Apa maksud anda dengan darah daging, menikah saja saya belum pernah apalagi punya anak.” “ Mazana Halwa Aisyah, saya benar-benar tidak tahu kalau anda jago sekali beraktingnya, kalau tahu seperti itu, kenapa anda tidak menjadi pemain sinetron saja di bandingkan menjadi pengganggu rumah tangga orang tua saya.” “ CUKUP, CUKUP ANDA MENCELA SAYA…. SAYA INI.” Ucapan Hulya terhenti saat ada suara yang memanggilnya. “ HALWA.” Panggil Mila, hal itu langsung membuat Hulya mengerutkan dahinya. Mendengar panggilan itu, Azlan hanya tersenyum mengejek. “ Sudah cukup acting anda untuk hari ini, ini alamat serta kartu nama saya, saya berharap anda tidak akan kabur lagi dan secepatnya datang ke rumah saya, untuk menanggungjawabkan perbuatan anda, jangan pernah melepaskan tanggung jawab anda sebagai seorang ibu pada Faza.” Ucap Azlan yang langsung keluar dari rumah tersebut. Setelah kepergian Azlan dan anak buahnya, Mila langsung menghampiri Hulya yang masih saja terbengong. “ Hul kamu ngga apa-apa kan.” “ Siapa mereka Mil.” “ Aku ngga tahu Hul, aku pikir mereka orang-orang yang mau jahatin kamu, makannya aku panggil kamu Halwa, biar mereka pergi.” “ Kenapa mereka mengatakan tentang Halwa, Mil. Apa benar Halwa sudah menikah dan memiliki anak.” Tanya Hulya yang langsung menatap Mila, sedangkan Mila langsung terlihat bingung dengan pertanyaan yang Hulya lontarkan. “ Kenapa kamu diam Mil, jawab pertanyaanku Mil.” “ Se… sebelum Halwa meninggal status dia memang masih menjadi isteri orang Hul. Dan sebelum dia meninggal, dia juga meninggalkan seorang bayi perempuan yang di rawat oleh keluarga suaminya.” Ungkap Mila. Tubuh Hulya benar-benar lemas setelah mengetahui tentang kenyataan dari saudara kembarnya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN