Ketika Azlan dan adik-adiknya sampai rumah sakit, mereka melihat dokter yang baru saja keluar dari ruangan Faza. Pak Abimanyu pun berusaha tenang, dia tidak ingin membuat masalah. Yang ada di pikirannya sekarang hanya keadaan Faza. Saat dokter ingin menjelaskan keadaan Faza sekarang, Azlan dan adik-adiknya pun ikut mendengarkan.
“ Bagaimana keadaan Faza dok.” Tanya pak Abimanyu
“ Sudah saya tekankan berapa kali, kalau bukan hanya luka fisik yang Faza miliki. Saat ini jiwanya pun akan sangat mempengaruhi keadaannya. Jangan lagi menambah tekanan padanya, buat dia semakin nyaman dan tenang. Dan melihat kondisinya sekarang, itu adalah salah satu dari dampak keadaan mentalnya, yang berpengaruh besar pada kondisi kesehatannya. Kalau sampai Faza seperti ini lagi, maka keadaannya akan lebih buruk lagi. Jadi saya mohon untuk saat ini untuk benar-benar menjaga psikisnya.”
“ Baik dok, kami minta maaf.” Ucap pak Abimanyu. Dan setelah mengatakan keadaan Faza dokter pun pergi.
“ Pak, apa kami boleh bertemu dengan Faza.” Izin Azlan yang begitu ingin melihat keadaan Faza.
“ Tunggu.” Ucap pak Abimanyu. “ Kenapa anda tadi pagi datang kemari, kenapa anda membuat keadaan Faza seperti sekarang.” Bentak pak Abimanyu yang tahu kalau ternyata Azlan datang kemari untuk menemui Faza secara diam-diam.
“ Maaf, tapi larangan andalah yang membuat saya melakukan hal ini. Dan saya tidak pernah menyangka kalau apa yang terjadi akan membuat keadaan Faza seperti sekarang.” Jawab Azlan.
“ Saya melarang anda pun karena ada alasannya. Saya tidak ingin kalau sampai saya kehilangan Faza. Saya dan isteri saya sudah sangat menyayangi Faza. Saya tidak ingin Faza kembali bergantung pada kalian.” Balas pak Abimanyu yang mengungkapkan ketakutannya.
“ Saya pernah melakukan kesalahan dengan menjauhkan Faza dari saya. Saya pikir dia akan menemukan kebahagiaan yang lebih baik. Tapi sekarang saya sangat menyesal dan bersalah, terlebih lagi saat saya tahu siapa Faza. Dia sangat berarti untuk keluarga kita. Kita hanya ingin Faza mendapatkan yang terbaik dan hidup bahagia.” Ungkap Azlan. Adik-adiknya dan pak Abimanyu terkejut saat melihat Azlan berlutut di hadapannya.
“ Kakak, apa yang kakak lakukan.” Ucap Azzam yang menyuruh kakaknya untuk bangun.
“ Saya tahu, Faza sudah diangkat menjadi anak bapak. Dan itu pun terjadi karena kesalahan saya. Tapi saya saat ini benar-benar meninta tolong pada bapak untuk tidak melarang kami bertemu dan bersama Faza sampai dia benar-benar sembuh. Saya janji kalau Faza sudah sembuh saya akan terima apapun keputusannya, saya akan merelakan apapun yang terbaik untuk Faza. Tapi saya mohon dengan sangat untuk kali ini saja, ijinkan kami menemaninya.” Pinta Azlan tanpa keraguan sedikitpun.
Pak Abimanyu pun dapat melihat ketulusan dan kesungguhan Azlan. Dirinya pun tidak mau keadaan Faza semakin memburuk. Akhirnya dia pun mengizinkan Azlan dan adik-adiknya bertemu dengan Faza.
“ Masuklah, Faza pun adik kalian. Saat ini dia lebih membutuhkan kalian.” Balas pak Abimanyu.
Mendengar jawaban tersebut membuat Azlan dan adik-adiknya sangat bahagia dan lega. Mereka akhirnya masuk kedalam ruangan Faza. Isteri pak Abimanyu pun tersenyum ramah saat melihat mereka. Tanpa berpikir lagi, Alea langsung mendekati Faza. Mereka benar-benar sedih melihat kondisi Faza sekarang.
Akhirnya pak Abimanyu dan istrinya pun memberikan waktu untuk mereka bisa bertemu dengan Faza. Mereka pun memilih pulang dan membiarkan Azlan dan adiknya yang menjaga Faza.
***
Saat terdengar suara adzan subuh, Azlan membangunkan Azzam dan Alea untuk melaksanakan shalat subuh. Dia menyuruh mereka berdua untuk lebih dulu shalat di mushola, karena mereka semalam tidak membawa apapun. Azlan masih setia duduk disamping Faza, dia masih berharap kalau Faza segera bangun. Ketika tangan Azlan menggenggam erat sambil memandangi wajah Faza, tangan Faza tiba-tiba menggenggam erat jari jemari Azlan, bibir Faza pun memanggil seseorang dengan sangat lirih.
“ Mama…. Ma…ma” Panggilnya berulang-ulang. Azlan pun langsung berusaha membangunkan Faza.
“ Faza… za. Ini kakak za. Kak Azlan ada disini. Apa Faza bisa denger kakak.” Panggilnya yang begitu lega akhirnya dengan sangat perlahan Faza berusaha membuka matanya.
“ Ka…kak. Kak Az…lan.” Panggilnya
“ Iya ini kakak, kakak ada disini sama Faza.” Ucapnya.
Namun Faza tidak mengatakan apapun lagi, dia justru langsung menangis. Tanpa mau mengatakan apapun lagi, Azlan berusaha merengkuh tubuh mungil Faza kedalam dekapannya.
“ Kakak disini za.”
“ FAZA.” Panggil Alea yang melihat kakaknya sedang memeluk Faza. Sambil berlari, Alea langsung bergantian memeluk Faza. Dan tangisan Faza bukannya mereda justru bertambah keras. “ Maafin kakak ya, kakak baru datang. Kakak janji ngga akan ninggalin Faza lagi. Kita akan sama-sama sayang.” Ucapnya yang akhirnya bisa meluapkan rasa rindu pada adik kecilnya ini. Dan Azzam pun ikut memeluk kedua adiknya. Tapi ternyata tangan Faza belum terlepas dari genggaman tangan Azlan.
“ Kalau gitu kakak mau panggil dokter dulu buat mengontrol keadaan Faza.” Pamitnya, namun genggaman itu bukannya mengendor justru semakin kuat. “ Kakak keluarnya ngga lama kok za.” Namun tetap saja Faza tidak ingin melepaskannya lagi, dia khawatir kalau Azlan akan pergi lagi.
“ Ok … kakak ngga akan pergi. Kakak akan nemenin Faza disini.” Balas Azlan yang akhirnya mengalah.
***
Setelah ditemani oleh kakak-kakaknya membuat Faza tidak ingin sedetik pun ditinggal oleh mereka bertiga. Padahal, Alea harus tetap sekolah, Azzam kuliah dan Azlan pun harus masuk kantor. Jadi mereka bertiga terkadang bergantian menjaga Faza. Walaupun sudah ada isteri dari pak Abimanyu tetap saja Faza menginginkan kakaknya ada disana. Akhirnya Azlan pun sering mengalah, karena tidak mungkin membiarkan adik-adiknya bolos. Namun kalau memang dirinya sedang benar-benar tidak bisa, maka dia akan meminta bantuan bi Arum untuk menemani Faza di rumah sakit.
Seperti hari ini, Azlan sebenarnya ada rapat penting, namun tidak mungkin dia meninggalkan Faza. Jadi dia meminta bantuan bi Arum untuk datang menggantikannya.
“ Halo, Assallamualaikum.”
“ Waalaikumsalam.”
Azan bangkit dan berniat keluar kamar untuk mengangkat telfon, namun Faza melarangnya.
“ Kakak Cuma mau angkat telfon kok, kakak ngga kemana-mana.” Jawabnya, namun rasa trauma yang dimiliki Faza seperti belum bisa sembuh. Dia benar-benar tidak bisa jauh dari kakaknya. Akhirnya Azlan mengalah. “ Ok, kakak ngga kemana-mana.”
Setelah menutup telfonnya, Azlan terus memandangi jam tangannya. Karena waktu rapat sebentar lagi dan dirinya belum sampai disana.
“ Assallamualaikum.”
“ Waalaikumsalam, Ya Allah bi lama banget sih.”
“ Maaf mas, tadi dijalan macet.”
“ Ya udah bibi disini dulu sampai saya atau yang lain datang ya.”
“ Siap mas.”
Azlan pun langsung berpamitan pada Faza, raut wajah Faza langsung berubah. “ Kakak ngga lama kok za, kamu sama bi Arum dulu ya. Kakak janji kalau urusan kakak udah selesai kakak akan langsung kemari nemenin Faza lagi.” Pamitnya dan Faza pun setuju. Azlan langsung mengusap rambut adiknya, dan Faza kembali menarik tangan Azlan supaya tubuh Azlan mendekat dan dengan manisnya, Faza mengecup pipi kakaknya. Azlan pun hanya tersenyum.
“ Kakak pergi dulu ya. Assallamualaikum.”
“ Waalaikumsalam.”
***
Hari ini adalah hari dimana Faza sudah diperbolehkan untuk pulang. Namun hari ini pun menjadi penentu, siapa yang akan Faza pilih. Walaupun Azlan dan adik-adiknya sudah bisa dekat dengan Faza tidak berarti juga Faza akan memilih mereka. Karena mau bagaimanapun Faza juga sangat dekat dengan pak Abimanyu dan isterinya.
Tapi tetap dari kedua belah pihak akan tetap menerima apapun keputusannya. Dan keputusan itu ada di tangan Faza. Dia berhak memilih dengan siapa dirinya akan tinggal. Karena jika salah satu dari mereka memaksa Faza, itu akan bisa berpengaruh pada psikologisnya. Dan itu pun sudah menjadi pertimbangan diantara pengacara kedua belah pihak dan dokter.
“ Lan.” Panggil om Aldi saat Azlan masih berdiri di depan pintu ruangan Faza.
“ Iya om.”
“ Om tahu kamu sedang khawatir dan panik. Tapi kamu harus tetap yakin, ada ikatan yang kuat antara kamu dan Faza,yaitu darah.”
“ Tapi tetap saja om Azlan ragu kalau Faza akan memilih kita. Walaupun Azlan kakaknya, perbuatan kita ke Faza sejak dulu sudah keterlaluan.”
“ Kalau masalah itu, om pun tidak membenarkan. Pokoknya kamu harus terus berdoa apapun hasilnya, kamu harus yakin kalau semuanya demi kebahagiaan Faza.” Ajak om Aldi.
Di ruangan Faza, pun semuanya sudah berkumpul. Walau sebenarnya situasinya sekarang tegang tetap saja mereka tidak menunjukkannya di depan Faza. Bahkan mereka terlihat begitu dekat antar satu sama lain.
“ Assallamualaikum Faza.” Salam om Aldi yang mencoba mendekati Faza. Sedangkan semuanya pun menjauh. Karena sekaranglah saatnya bagi Faza menentukan.
“ Waalaikumsalam, om.”
“ Hari ini Faza seneng karena Faza udah sembuh, bisa pulang ke rumah lagi.” Tanya om Aldi. Dan Faza pun langsung mengangguk dengan begitu semangat.
“ Iya dong. Faza bosen ada di rumah sakit terus. Makanannya ngga ada yang enak.” Bisiknya membuat semua yang ada disana tersenyum.
“ Ok sebelum kita pulang, om ada beberapa pertanyaan buat Faza. Apa Faza mau jawab pertanyaan om Aldi.” Tanyanya dengan hati-hati dan Faza pun langsung mengangguk. “ Faza seneng ngga tinggal di panti asuhan sayang.” Pertanyaan itu pun langsung membuat raut wajah Faza yang tadinya ceria berubah menjadi murung. Dengan pelan sambil menunduk, Faza pun menggeleng.
“ Berarti Faza ngga mau dong tinggal disana lagi.” Tanya om Aldi dan Faza kembali menggeleng. “ Berarti Faza mau pulang ke rumah dong.” Dia langsung mengangguk.
“ Ok, kalau gitu semua yang disini janji ngga akan pernah lagi nyuruh Faza nginep di panti asuhan, setuju kan.” Faza pun mengangguk. “ Nah, sekarang Faza liat kan orang-orang yang ada di depan Faza. Faza kenal mereka semua kan.” Faza kembali mengangguk saat memandang ke semua orang di depannya. “ Mereka semua disini sangat… sangat sayang ke Faza. Dan mereka juga pingin sekali Faza tinggal sama mereka, tapi kan Faza ngga bisa di bagi ya, terus gimana dong. Berarti Faza harus pilih salah satu dari mereka. Kalau disuruh milih. Faza mau tinggal sama siapa, sayang.” Tanya om Aldi. Dan pertanyaan itu membuat Faza memandangi mereka, wajahnya pun terlihat bingung. Namun semua yang ada di depan pun mencoba tenang dan tidak menanpakkan wajah khawatirnya.
Faza pun langsung turun dari ranjangnya dengan di bantu oleh om Aldi. Langkahnya pun langsung menuju pak Abimanyu dan isterinya, mereka langsung memeluk Faza saat Faza ada di depan mereka. Sedangkan Azlan dan kedua adiknya pun langsung lemas dan putus asa saat Faza lebih memilih mendekat ke pak Abimanyu.
“ Tante, om.” Panggil Faza saat masih ada di pelukkan mereka.
“ Iya sayang.” Jawab mereka yang langsung melepaskan pelukannya dari Faza.
“ Makasih karena udah nemenin Faza di panti asuhan, karena om dan tante, Faza ngga kesepian lagi. Faza sayang om sama tante, om sama tante baik sekali ke Faza.” Ucapnya sambil menghapus air mata isteri pak Abimanya yang keluar.
“ Ya sayang, Faza sudah mama anggap seperti anak mama dan papa sendiri. Kita berdua pun sayang ke Faza.”
“ Faza memang sayang sama tante da nom, tapi Faza ngga bisa tinggal sama om dan tante. Karena mama pernah bilang ke Faza, kalau Faza ngga boleh jauh dari mama, dan kakak. Faza harus selalu ada di pandangan mereka. Kalau Faza melakukan itu, mama ngga akan khawatir. Faza ngga mau mama khawatir sama Faza, karena kalau mama khawatir ke Faza mama akan nangis.” Ucapan Faza membuat Azlan, Azzam dan Alea pun langsung terkejut. Mereka tidak pernah menyangka kalau Faza akan mengucapkan hal itu dan selalu mengingat pesan dari mamanya. Air mata kesedihan pun berubah menjadi kebahagiaan.
“ Apa itu tandanya, Faza ngga mau tinggal sama mama dan papa.” Tanya isteri pak Abimanyu yang begitu kecewa dan sedih mendengar keputusan akhir yang Faza buat. Sambil memeluk isteri pak Abimanya, Faza pun berucap.
“ Tante jangan nangis, Faza sayang tante. Faza akan doa dan minta sama Allah, supaya tante dan om bisa cepet dapat dede bayi. Biar om sama tante ngga kesepian lagi.” Ungkapnya.
Setelah isteri pak Abimanyu, bisa sedikit tenang, dengan sangat terpaksa dirinya melepaskan Faza dari genggaman dan pelukannya. Setelah itu Alea langsung saja meraih Faza dan memeluknya, dia menangis bahagia dengan keputusan yang sudah Faza ambil. Mereka tidak akan pernah kehilangan Faza lagi. Azzam dan Azlan pun ikut memeluknya.
Kemudian, Azlan pun bertanya pada Faza supaya Faza benar-benar yakin dengan keputusannya.
“ Faza.” Panggil Azlan.
“ Iya.”
“ Apa Faza yakin akan tetap tinggal dengan kita.” Tanya Azlan dan Faza mengangguk dengan penuh keyakinan. Azlan langsung mengelus wajah adik kecilnya itu. “ Apa Faza mau memaafkan kesalahan kak Azlan, kak Azzam dan kak Alea yang selama ini udah jahat sama Faza.” Tanya Azlan.
“ Kata mama, kakak selalu marah-marah ke Faza karena kak Azlan, kak Azzzam dan kak Alea sayang ke Faza. Kata mama, walaupun kita sering marah-marah tapi kita ngga boleh berpisah. Kakak, kakak janji kan ngga akan bawa Faza ke panti asuhan lagi, kakak janji kan ngga akan marah-marah lagi ke Faza.” Tanya Faza.
Azlan kembali memeluk Faza. “ Kakak janji, kakak ngga akan marah-marah lagi, kakak janji ngga akan tinggalin Faza di panti asuhan lagi, Kita akan selalu sama-sama seperti yang mama minta.” Ucap Azlan.
“ Faza sayang kakak.” Ucapnya yang langsung mengecup ketiga kakaknya dan mereka berempat kembali berpelukan.
Walaupun pak Abimanyu dan isterinya sedih dan terluka, tapi tetap saja inilah keputusan akhirnya. Mereka harus benar-benar merelakan Faza demi kebahagiaan gadis kecil itu. Saat pak Abimanyu dan isterinya akan berpamitan, Azlan pun mendekati mereka.
“ Maafkan saya pak.” Ucapnya yang merasa tidak enak hati.
“ Ngga perlu minta maaf lan, mungkin awalnya berat untuk kita terima. Tapi kami percaya inilah kebahagiaan Faza. Dan kita akan bahagia jika Faza pun bahagia. Dan saya sangat memohon pada kalian bertiga, jangan pernah mengulangi kesalahan ini lagi.”
“ Iya pak, kami janji tidak akan mengulanginya. Terima kasih pa katas segala, waktu dan perhatian yang telah bapak dan ibu berikan untuk Faza,” Ucapnya yang langsung menjabat tangan pak Abimanyu. Sedangkan isteri pak Abimanyu kembali memeluk Faza sebelum mereka berpisah.
“ Faza janji, Faza akan sering main ke rumah tante da nom, iya kan kak.” Tanya Faza yang menatap dan meminta persetujuan pada Azlan.
“ Pasti.”
“ Pintu rumah tante, akan selalu terbuka untuk Faza.”
Walaupun salah satu dari mereka harus ada yang kecew, tapi tetap semua untuk kebahagiaan Faza.