Semalaman Azlan menunggu di rumah sakit, walaupun orang tua Faza tidak memperbolehkan dirinya masuk untuk menemui Faza, tapi tetap saja Azlan menunggu Faza walau di luar ruangan. Azlan harus benar-benar memastikan sendiri kalau keadaan Faza semakin membaik. Awalnya Alea dan Azzam pun menemaninya, mereka pun tidak ingin pulang. Tapi Azlan menyuruh mereka untuk pulang dan bergantian besok.
Saat shalat subuh di rumah sakit, tidak sengaja Azlan berpas-pasan dengan pak Abimanyu. Dari wajahnya begitu terlihat kalau dia masih marah pada Azlan atas kejadian kemarin. Azlan Dan seusai shalat Azlan langsung menghampirinya untuk meminta maaf dan tetap mengizinkan dirinya berjumpa dengan Faza.
“ Tunggu pak.”
“ Ada apa lagi, saya tidak ada urusan dengan anda.” Jawab pak Abimanyu yang berjalan terus, namun Azlan tidak diam saja. Dia pun mengejarnya.
“ Saya tahu bapak marah pada saya atas apa yang sudah saya lakukan kemarin pak. Tapi saya benar-benar minta maaf dan menyesal karena sudah tidak sopan pada bapak.”
Akhirnya pak Abimanyu menghentikan langkahnya berbalik menatap Azlan. “ Saya benar-benar tidak mengerti dengan apa yang anda lakukan. Mungkin memang anda dulu ada hubungannya dengan anak saya, tapi sekarang Faza sudah sah menjadi anak saya. Jadi saya benar-benar memohon untuk tidak lagi mengganggu keluarga saya. Dan jangan pernah datang lagi kemari.” Pinta pak Abimanyu.
“ Ngga mungkin pak, saya ngga mungkin pergi begitu saja tanpa tahu bagaimana keadaan Faza sekarang. Saya harus benar-benar memastikan keadaannya.”
“ Kamu memang keras kepala. Asal kamu tahu, mudah saja untuk saya melaporkan kamu karena kamu sudah memukul dan mengganggu ketenangan keluarga saya. Tapi saya masih berbaik hati, jadi sebaiknya sebelum saya bertindak lebih jauh, kamu pergi dari sini.” Balas pak Abimanyu.
“ Saya ngga akan mundur sedikitpun pak, saya pernah membuat kesalahan. Dan kali ini saya tidak mau mengulangi kesalahan yang kedua. Apapun caranya saya akan membuat adik saya kembali ke keluarga saya.”
“ Apa maksud kamu.” Ucap pak Abimanyu yang langsung emosi dan langsung mencengkram kerah baju Azlan.
“ Anak yang baru saja pak Abimanyu angkat, dia sebenarnya adik kandung saya. Dan saya berharap bapak bisa mengembalikkannya pada kami. Karena mau bagaimanapun Faza harus tetap tinggal bersama keluarga aslinya.
BUGH.
“ Saya bukan orang yang suka bermain-main. Kamu sudah benar-benar mengusik keluarga saya. Faza anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan, jadi ngga mungkin kalau dia adikmu.” Balas pak Abimanyu.
“ Memang benar orang tua kami sudah meninggal, tapi bukan berarti saya berbohong. Faza punya tiga kakak.”
“ Terserah, tapi saya akan pertahankan anak saya.”
“ Saya pun akan memperjuangkan hak asuh adik saya.”
Pak Abimanyu langsung meninggalkan Azlan dengan keadaan yang masih begitu emosi. Sedangkan Azlan yang hamoir saja terpancing pun mencoba menenangkan dirinya. Karena dia tahu kalau masalah bukan masalah yang mudah untuk diselesaikan. Apalagi menyangkut hal asuh anak. Azlan harus benar-benar berpikir dengan kepala dingin tidak dengan emosi.
Karena Azlan masih tidak di perbolehkan menemui Faza, maka dia putuskan untuk menemui dokter yang menangani Faza. Terlebih lagi saat dia tahu Faza sudah sadarkan diri, dia benar-benar lega dan bahagia mendengarnya.
“ Dokter.”
“ Iya ada apa ya mas.”
“ Maaf mengganggu waktu dokter, perkenalkan saya Azlan. Kakak dari pasien bernama Faza.”
“ Owh ya, gimana mas. Apa ada yang perlu saya bantu.”
“ Saya ingin menanyakan keadaan adik saya dok.”
“ Owh begitu, tadi saya pun sudah bicara dengan orang tuanya. Kenapa mas tidak tanyakan langsung saja ke mereka.”
“ Saya hanya ingin tahu lewat dokter langsung saja.”
“ OK baik. Alhamdulillahnya Faza sekarang sudah sadar. Tapi tetap dia masih harus di rawat sampai keadaannya benar-benar sembuh total Terlebih lagi ada bagian dalam yang terbentur cukup keras. Tapi tenang saja, Insyaallah benturan itu tidak berpengaruh pada organ yang lainnya, hanya sedikit memar saja.”
“ Syukurlah dok.”
“ Namun ada hal lain yang menurut saya sangat perlu di perhatikan mas.”
“ Apa itu dok.”
“ Keadaan mental atau psikisnya. Melihat tatapan dan keadaannya sekarang. Dia seperti anak yang mengalami tekanan dalam dirinya. Dan itu akan berpengaruh juga pada penyembuhannya. Jadi saya sangat menyarankan untuk membuat dia nyaman dan tenang dengan keadaannya sekarang, jangan menambah tekanan lagi ya.” Saran dokter.
“ Ya Allah.” Hati Azlan langsung sakit mendengar kalau Faza mengalami banyak tekanan. Dia langsung menyalahkan dirinya sendiri, karena dia yakin kalau semua ini terjadi sebab dia membawa Faza ke panti asuhan. “ Baik dok, kami akan berusaha tidak lagi memberikan tekanan pada dirinya. Kalau begitu saya permisi dok. Assallamualaikum.”
“ Waalaikumsalam.”
Azlan pun langsung keluar ruangan dokter, dan ternyata kedua adiknya dan Yusuf sudah ada di depan ruangan dokter menunggu dirinya.
“ Kak, gimana keadaan Faza.” Tanya Alea.
“ Alhamdulillah Faza udah sadar le, tapi ya tetap dia harus di rawat sampai kondisinya benar-benar pulih.”
“ Tapi ngga ada yang parah kan kak.”
“ Ngga le, Faza baik-baik aja. Terus kenapa kalian ada disini.” Tanya Azlan.
“ Tadi kita mau masuk ke ruangan Faza, tapi mereka langsung melarangnya kak. Kita Cuma mau liat keadaan Faza aja.” Rengek Alea yang terlihat sedih dan kecewa.
Azlan terlihat kesal, namun dia pun sekarang tidak bisa berbuat apapun. “ Suf, atur pertemuan saya dengan om Aldi. Kita harus mencari cara untuk membuat Faza kembali pada kita.” Balas Azlan.
“ Baik pak.” Ucap Yusuf yang langsung menjauh untuk menelfon pak Aldi.
“ Apa mereka sudah tahu siapa kita kak.” Tanya Azzam dan Azlan pun langsung mengangguk.
“ Ya mereka tahu, makannya mereka langsung melarang kita bertemu dengan Faza. Mereka pasti takut kalau kita akan merebut Faza. Tapi mau bagaimanapun caranya Faza harus kembali pada kita.” Balas Azlan yang terlihat yakin.
“ Terus sekarang kita harus gimana kak. Alea ingin ngliat Faza.”
“ Ngga sekarang le, kakak janji akan mencari cara supaya kita bisa bertemu dengan Faza.”
“ Janji ya kak.”
“ Kakak janji le, jadi sebaiknya kita pulang.”
“ Pak saya sudah mengabari pak Aldi. Katanya sekarang bapak bisa langsung menemuinya.”
“ Ok kalau gitu kita langsung kesana. Dan kamu zam, bawa Alea pulang.”
“ Ya.” Mereka pun keluar bersamaan dengan tempat tujuan yang berbeda.
***
Azlan benar-benar belum bisa tenang selama dirinya belum melihat sendiri keadaan Faza. Ketika Azlan menemui om Aldi, dan menceritakan semuanya, membuat om Aldi langsung ingin bertindak. Dan om Aldi pun langsung menemui pak Abimanyu. Tapi ternyata, setelah om Aldi menceritakan semuanya pada pak Abimanyu tidak membuat dia menyerah akan Faza. Sama halnya dengan Azlan yang ingin memperjuangkan hak asuh Faza.
Bahkan mereka masih saja bersikekuh tidak mengizinkan Azlan dan yang lainnya menjenguk Faza. Hal itu pun membuat Azlan benar-benar mencari cara supaya dirinya bisa masuk kedalam ruangan Faza. Untung saja, Azlan memiliki dokter kenalan dirumah sakit itu. Dan dia meminta bantuan pada temannya tersebut.
Akhirnya, dokter tersebut pun berusaha mengalihkan isteri pak Abimanyu yang terus terusan ada di ruangan Faza supaya keluar. Sehingga Azlan bisa masuk kedalam, walau sebentar Azlan sudah sangat bersyukur. Dan dengan perlahan serta menyamar sebagai perawat, Azlan berhasil masuk ke ruangan Faza.
Disana terlihat Faza yang sedang tertidur, mata Azlan kembali berkaca-kaca melihat wajah anak kecil yang pernah dia sia-siakan ternyata dia adalah adiknya sendiri. Langkah Azlan terus mendekat kearah ranjang Faza. Tangannya pun menggenggam tangan Faza.
“ Faza, ini kakak.” Ucap Azlan dengan suara yang sangat lirih. “ Maafin kakak ya karena kakak baru datang sekarang, kakak minta maaf.” Ucapnya yang langsung menundukkan kepalanya karena menyesal atas perbuatannya pada Faza.
Ternyata suara Azlan sudah membuat Faza terbagun dari tidurnya. Tangan yang di genggam Azlan pun langsung terlepas. Mengetahui hal itu Azlan langsung menatap wajah Faza, yang sudah menangis.
“ dek, kamu bangun. Alhamdulillah.” Ucapnya dan langsung berniat memeluk Faza, namun tanpa pernah di duga oleh Azlan, Faza langsung menolak dan dengan keadaan yang lemah dia berusaha mendorong Azlan. “ De.”
“ Kakak jahat, kakak jahat sama Faza. Kakak tinggalin Faza. Kakak bohongin Faza.” Ucapnya yang ternyata kecewa dengan Azlan. Mendengar rengekan Faza membuat Azlan menyesal dan bersalah. Azlan berusaha kembali meraih tangan Faza.
“ Kakak tahu kakak salah, kakak tahu Faza marah sama kakak. Kakak minta maaf ya, kakak janji kakak akan bawa Faza pulang. Kita akan berkumpul sama-sama lagi.” Ucap Azlan yang terus meyakinkan Faza. Tapi Faza terus saja berucap dan tidak percaya lagi dengan ucapan kakaknya.
“ Bohong … kakak bohong. Kakak pembohong.” Ucapnya.
Saat Azlan berusha menenangkan Faza, tiba-tiba ponselnya berdering dan tertera nama temannya yang saat ini sedang membantunya. Teman Azlan bilang kalau sampai dia menelfon Azlan itu tandanya waktu Azlan sudah habis.
“ Kali ini kakak janji kakak ngga akan bohong, kakak akan kembali dan bawa Faza tinggal lagi sama kakak. Tapi kakak mohon untuk kali ini Faza sabar dulu ya. Sekarang kakak harus pergi, kakak ngga bisa karena mama baru Faza mau datang. Besok kakak akan datang lagi ya de.” Ucapnya yang langsung mengecup kening Faza, sebelum dia pergi.
“ Kakak… kak Azlan.” Panggil Faza yang tidak mau melepaskan genggaman tangannya dari Azlan. Sebenarnya, Azlan tidak tega.Tapi kalau sampai dirinya ketahuan maka akan membuat situasinya semakin sulit untuk bisa mendapatkan Faza lagi.
Dan saat mama baru Faza masuk, dia melihat Faza menangis histeris. Melihat itu membuatnya bingung dan langsung berusaha menenangkan Faza.
“ Faza kamu kenapa nak, Faza kenapa.” Tanya mamanya.
“ Kakak …. Kakak jangan tinggalin Faza lagi. Faza mau ikut. Tante bawa Faza ke kakak.” Rengeknya.
“ Disini hanya ada mama sayang, pasti Faza mimpi buruk ya kan. Faza tenang aja, mama ngga akan kemana-mana lagi kok.” Ucapnya yang langsung memeluk Faza untuk menanangkannya.
Sedangkan Azlan yang ada di balik pintu, hanya bisa menangis melihat adiknya terus merengek seperti sekarang. Namun dia tidak boleh bertindak gegabah, karena dia tidak mau kalau sampai apa yang akan dilakukannya membutnya sulit mendapatkan Faza lagi.
“ Maafkan kakak za, tunggu sebentar lagi. Kakak janji kalau kakak akan bawa kamu kembali.” Batinnya.
***
Sampai malam, Azlan benar-benar belum bisa tenang, apalagi jika teringat keadaan Faza saat dirinya pergi. Dia jadi ingin tahu apa yang terjadi pada Faza sekarang. Saat sedang memikirkan hal itu, tiba-tiba Azzam masuk kedalam rumah. Azlan langsung melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 10 malam.
“ Kamu habis dari mana, kenapa jam segini baru pulang. Kakak perhatikan semakin hari kamu semakin susah diatur ya zam.”
Mendengar omelan kakaknya Azzam mencoba acuh dan tidak peduli, dirinya langsung saja kembali berjalan menuju kamarnya.
“ AZZAM.” Teriak Azlan yang jadi emosi karena diacuhkan oleh Azzam.
“ Apalagi sih kak, Azzam udah dewasa. Azzam tahu apa yang Azzam lakukan. Jadi kakak ngga perlu terlalu ikut campur dengan apa yang Azzam lakukan. Dan kakak tenang aja, Azzam ngga akan mempermalukan keluarga ini.” Balasnya.
“ Hebat banget kamu ya, udah merasa benar sendiri. Keluarga kita lagi banyak masalah seperti ini. Tapi kamu yang merasa udah dewasa ngga bisa membantu apapun untuk menyelesaikan masalah kita.” Sindir Azlan.
“ Wah, masalah ini kakak yang membuatnya dan aku pun harus ikut menanggungnya.” Bantah Azzam
PLAK
Azlan langsung saja menampar Azzam karena emosi mengatakan kalau dirinya yang membuat masalah ini terjadi.
“ Kak Azlan, apa yang kak Azlan lakukan.” Ucap Alea yang melihat Azlan menampar Azzam.
“ Diam kamu le, Jadi seperti itu jalan pikiranmu zam, jadi kamu mau menumpahkan semua kesalahan itu pada kakak. Ok… ok kalau itu memang mau kamu. Disini kakak memang yang salah dan menyebabkan semua masalah di keluarga ini terjadi.” Balas Azlan yang langsung melangkah pergi. Azzam jadi merasa bersalah karena mengucapkan hal itu, padahal dia pun setuju juga. Saat Azlan menjauh, tiba-tiba ponselnya berdering.
“ Halo, Assallamualaikum. Ini siapa ya.”
“ Waalaikumsalam. Saya Abimanyu.”
“ Pak Abimanyu, ada apa pak.”
“ Apa anda bisa datang ke rumah sakit sekarang.”
“ Ada apa pak, kenapa dengan Faza.” Tanya Azlan yang sangat khawatir. Mendengar nama Faza, Azzam dan Alea langsung mendekat karena mereka pun khawatir.
“ Keadaan Faza kritis, dia terus memanggil-manggil anda. Jadi saya harap anda bisa datang kemari.”
“ Baik pak, saya pasti akan datang, saya akan segera kesana.” Ucap Azlan yang langsung menutup telfonnya dan bergegas menuju rumah sakit.
“ Ada apa kak, Faza kenapa.”
“ Keadaan Faza kritis. Dan kakak mau kesana.”
“ Alea ikut.”
“ Kamu besok aja.”
“ Ngga, Alea harus ikut.”
“ Azzam pun ikut.” Ucap Azzam, Dan Azlan hanya melirik tanpa ingin berdebat lagi dengan Azzam. Akhirnya Azlan dan kedua adiknya langsung pergi ke rumah sakit untuk melihat langsung keadaan Faza yang saat ini sedang kritis.