11. Ketulusan Hati

1999 Kata
Kali ini Azlan dan adik-adiknya benar-benar di lingkupi perasaan bingung. Keputusan apa yang akan mereka ambil sekarang. Apa yang akan mereka lakukan untuk Faza, setelah mereka tahu siapa Faza sebenarnya. Azlan pun tidak tahu harus bahagia atau kecewa dengan kenyataan yang menyatakan kalau ternyata Faza adalah adik kandungnya. Dan beberapa hari setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya Azlan belum berani mengambil keputusan. “ Pak.” Panggil Yusuf saat tiba-tiba masuk kedalam ruangan Azlan. Namun panggilannya, masih belum dibelum direspon oleh Azlan. Dia masih asyik dengan lamunannya. “ Pak Azlan.” Ucapnya lagi sambil mengetuk meja kerja Azlan. “ Astagfirullah, ada apa suf.” Balas Azlan yang langsung menghapus air matanya yang tiba-tiba mengalir begitu saja. “ Apa bapak baik-baik saja pak.” Tanya Yusuf yang jadi khawatir melihat air mata Azlan. “ Saya baik-baik saja kok suf. Ada apa kamu menemui saya.” Tanya Azlan. “ Sebelumnya saya minta maaf, karena mengganggu waktu pak Azlan. Tapi saya datang kemari pun karena tadi dari pihak panti asuhan menelfon saya. Katanya dia berkali-kali menghubungi pak Azlan namun tidak diangkat. Makannya, pihak panti langsung menghubungi saya. Mereka hanya ingin mengabari kalau semua berkas adopsi Faza sudah selesai, dan dalam beberapa hari ini mereka akan langsung membawa Faza dari panti asuhan.” Jawab Yusuf. Mendengar kabar tersebut membuat hati Azlan semakin berkecamuk, terlebih lagi setelah dirinya tahu kalau Faza adalah adik kandungnya yang memang dari awal sudah menjadi tanggung jawabnya. Azlan langsung mengusap wajahnya, karena bingung dengan apa yang harus dia lakukan sekarang. “ Apa yang harus saya lakukan suf, apa yang harus saya lakukan.” Ucapnya yang begitu frustasi dan bingung. Dia mondar mandir berusaha mencari petunjuk. Yusuf yang belum tahu apapun, jadi bingung melihat bosnya yang seperti sekarang. Karena jika, Azlan sudah seperti ini, maka dia benar-benar bingung dalam mengambil keputusan. “ Ada masalah apa pak, apa ada yang salah dengan ucapan saya.” Tanya Yusuf. Dan Azlan hanya menggeleng sambil memikirkan untuk langkah yang akan diambil kedepannya. Dan tiba-tiba ponselnya berdering, dia langsung melihat siapa yang menelfonnya dan disana tertera nama Alea. “ Halo, Assallamualaikum le.” “ Waalaikumsalam kak, kak Azlan kenapa belum bertindak apapun.” Balas Alea dengan suara yang terlihat panik. “ Apa maksudmu.” “ Sekarang Alea dan bi Arum ada di panti asuhan buat ngajak Faza pulang, tapi ternyata Faza sudah benar-benar di adopsi orang lain. Kenapa kakak ngga bertindak apapun untuk membawa Faza kembali kak, apa kakak akan benar-benar membiarkan Faza hidup dengan orang lain.” Bentak Alea yang kesal karena dia pikir, Azlan sudah membatalkan pengadopsian Faza, tapi ternyata kakaknya itu belum bertindak apapun. Mendengar hal itu pun membuat hati Azlan semakin bersalah, apa iya dirinya akan benar-benar bisa melepas tanggung jawabnya ini pada orang lain. “ Sekarang apa kamu bersama Faza.” Tanya Azlan. “ Faza sedang pergi bersama orang tua angkatnya, dan kata pihak panti ada kemungkinan mereka akan menginap di rumah orang tua angkatnya. Alea ngga mau tahu, apapun caranya kak Azlan harus bawa Faza kembali ke kita. Alea ngga mau lagi mengecewakan mama kak.” Pintanya. “ Kamu tenang aja, kakak akan mengurus semuanya.” Balas Azlan yang langsung menutup telfonnya. “ Apa ada masalah pak.” Tanya Yusuf yang melihat raut wajah bosnya begitu panik. “ Apa kamu tahu alamat orang tua angkat Faza suf.” “ Tahu pak.” “ Antarkan saya kesana, saya harus bertemu dengan mereka.” “ Apa ada masalah pak.” “ Saya akan membatalkan hak asuh mereka atas Faza suf, saya akan membawa Faza kembali ke keluarga saya. Dia tanggung jawab saya.” “ Tapi kenapa pak, apa ada masalah.” Nati saya ceritakan di jalan, sekarang kita harus cepat kesana sebelum semuanya benar-benar terlambat suf.” Ajak Azlan yang bergegas meninggalkan kantor untuk datang ke rumah orang tua baru Faza. *** Selama dalam perjalanan menuju rumah orang tua angkat Faza, Azlan pun menceritakan masalah yang saat ini sedang melandanya. Dibandingkan dengan teman-temannya, Azlan lebih mempercayai Yusuf untuk menjadi teman bertukar pikiran. Azlan pun jauh lebih percaya Yusuf dibandingkan dengan siapapun. Karena Yusuf sudah menjadi orang kepercayaannya. “ Ya Allah, saya tidak menyangka kalau ternyata masalahnya serumit ini pak.” “ Saya tahu apa yang akan saya lakukan ini mungkin konyol dan sulit untuk dilakukan. Tapi saya benar-benar tidak bisa melepaskan tanggung jawab saya begitu saja suf, mau bagaimanapun hubungan orang tuaku dan Faza tetap saja dia adikku suf, dan dia belum mengerti dengan keadaan ini.” “ Ya pak saya mengerti, pasti akan sulit untuk bisa kembali mengambil Faza pak. Terlebih lagi sekarang dia sudah diadopsi orang lain, tapi saya akan benar-benar membantu pak supaya Faza bisa kembali ke keluarga pak Azlan.” “ Terimakasih suf.” Saat telah sampai di rumah bapak Abimanyu, Azlan pun langsung ingin bertemu dengan pemilik rumah tersebut. Tapi ternyata hasilnya nihil, karena di rumah itu hanya ada pembantunya. Dan pembantu pak Abimanyu pun tidak mau memberitahukan keberadaan pak Abimanyu. Ketika Azlan dan Yusuf akan pergi tiba-tiba ada seseorang yang terlihat berlari menghampiri pembantu tadi. “ Bi cepat bi ambilkan kunci mobil, saya terburu-buru bi.” “ Ada apa mang.” “ Itu bi, anak pak Abimanyu kecelakaan. Dan sekarang bapak nyuruh saya untuk menyusulnya ke rumah sakit.” DEG. Langkah Azlan langsung terhenti, apalagi saat mendengar anak pak Abimanyu mengalami kecelakaan. Azlan buru-buru berbalik dan akan bertanya. “ Siapa yang mengalami kecelakaan.” Tanya Azlan yang begitu panik. “ Anda siapa.” “ Itu tidak penting siapa saya. Jawab saja, siapa yang kecelakaan” Tanya Azlan yang tidak sabar lagi. “ Pak Azlan.” Panggil Yusuf yang langsung menjauhkan bosnya dari supir tadi. “ Ada telfon dari non Alea pak.” Ucapnya. “ Nanti saja suf, saya harus bertanya dulu padanya.” “ Tapi katanya ini menyangkut non Faza pak.” Balas Yusuf, dengan cepat Azlan langsung mengambil ponsel Yusuf. “ Halo le, ada apa le. Kenapa sama Faza.” “ Kak, sekarang kakak ada dimana. Sebaiknya sekarang kakak ke rumah sakit kak. Tadi pihak panti dapat kabar kalau Faza mengalami kecelakaan kak.” Ucap Alea dengan suaranya yang parau dan panik. “ Apa kamu serius.” “ Iya kak, Alea sama kak Azzam pun akan langsung menuju rumah sakit.” “ Ok, kita ketemu disana. Kakak akan langsung kesana.” Jawab Azlan yang langsung menutup telfonnya dan berlari ke mobil. Yusuf pun langsung mengikuti Azlan. Dia tidak lagi memperdulikkan jalanan yang ramai, bahkan Yusuf menasehatinya untuk tetap hati-hati dalam menyetir. Namun sekarang pikiran Azlan hanya ingin segera sampai dan tahu bagaimana keadaan Faza. Setibanya di rumah sakit, Azlan langsung berlari menuju IGD dan disana dia bertemu dengan kedua adiknya yang juga baru sampai. “ Kak Azlan.” “ Dimana Faza.” “ Ngga tahu kak, kita juga baru sampai.” Tak lama kemudian pandangan Azlan tertuju pada suami isteri yang berdiri tidak jauh darinya. Dengan langkah cepat Azlan langsung menghampiri mereka. “ Apa anda yang bernama pak Abimanyu.” “ Iya saya, ada apa ya.” BUGH. “ Astagfirullah.” Ucap semua yang melihat kejadian itu. Tiba-tiba Azlan dengan begitu emosi langsung memukul pak Abimanyu. Semua yang ada disana terkejut dengan apa yang Azlan lakukan. Yusuf dan Azzam langsung menjauhkan kakaknya. “ Ada apa ini, siapa kalian. Kenapa tiba-tiba anda memukul saya. Apa masalah anda.” Tanya pak Abimanyu yang tidak terima akan perlakuan Azlan padanya. “ Kenapa Faza bisa sampai kecelakaan, apa yang terjadi padanya. Kenapa kalian ngga bisa menjaga dia dengan baik.” Teriak Azlan. Ucapan Azlan membuat pak Abimanyu dan isterinya tahu alasan Azlan memukul, tapi mereka pun penasaran hubungan apa yang dimiliki Azlan sampai dia sbegitu marahnya padanya. “ Apa anda sudah gila, tiba-tiba memukul suami saya.  Siapa anda, apa hubungannya dengan anda. Faza itu anak kami.” Ucap isteri pak Abimanyu “ Jangan pernah kalian sebut Faza itu anak kalian kalau kalian sampai membuat Faza mengalami kecelakaan seperti ini.” Bentak Azlan dan akhirnya pak Abimanyu pun ikut emosi melihat sikap Azlan pada isterinya. BUGH. “ Jaga mulut anda, tidak pantas anak muda seperti anda berkata kasar pada isteri saya.” Bentaknya. “ Cukup pak, tolong pak. Kita ada di rumah sakit. Jangan buat keadaan semakin sulit. Kita tunggu sampai dokter keluar ya pak.” Ucap Yusuf yang mencoba menenangkan Azlan. “ Benar yang kak Yusuf bilang kak, kakak jangan memperburuk keadaan.” Balas Alea yang ikut menenangkan Azlan. Akhirnya mereka membawa, Azlan menjauh dari pak Abimanyu dan isterinya, sambil menunggu Faza selesai di periksa. Sedangkan Yusuf tetap disana untuk meminta maaf pada pak Yusuf atas apa yang sudah terjadi tadi. “ Saya mewakili bos saya untuk mengatakan permintaan maaf yang sebesar-besarnya pak, bu. Dia hanya reflek dan panik saat tahu kalau adiknya masuk rumah sakit karena kecelakaan.” “ ADIK ! Apa maksud anda, memang siapa adiknya.” “ Faza pak, bu.” “ Faza, apa maksud anda Faza anak kami.” “ Benar sekali pak, ada hal yang tidak bisa dijelaskan sekarang. Tapi bapak dan ibu tenang saja. Kami akan menjelaskan semuanya pada kalian disaat keadaan sudah tenang dan Faza semakin membaik.” Balas Yusuf dan akhirnya  mereka harus menahan rasa penasaran tentang hubungan apa yang Faza dan anak-anak muda itu miliki. *** Setelah beberapa jam menunggu penanganan Faza, akhirnya dokter pun keluar untuk memberitahukan keadaan Faza sekarang. Keluarga Azlan dan Abimanyu pun sama-sama datang menghampiri dokter. “ Bagaimana keadaan Faza dok.” “ Saat ini keadaannya masih belum stabil. Karena kondisi fisiknya pun sangat lemah. Tapi Luka yang dimilikinya tidak terlalu parah, namun tetap saja kita akan melakukan tindak lanjut untuk memeriksa kondisi bagian dalam tubuh. Takutnya ada luka yang belum diketahui, dan untuk sekarang dia belum sadarkan diri. Kita tunggu beberapa hari.” Jawab dokter. Mendengar kondisi Faza membuat kekhawatiran mereka belum berhenti. Karena dokter sendiri belum bisa memastikan kondisi Faza sekarang. Bahkan Faza belum sadarkan diri. Azlan dan adiknya pun benar-benar menyesal dengan keadaan Faza sekarang. Sedangkan keluarga Abimanyu langsung menghampiri ruangan Faza, disana Faza terbaring lemah dan tidak sadarkan diri. Hati Azlan sakit saat melihat adik bungsunya. “ Maafkan kakak za, semua ini gara-gara kakak. Maaf za. Kakak minta maaf.” Ucapnya dengan penuh penyesalan. Sedangkan Alea hanya bisa menangis dalam pelukan Azzam, dia tidak sanggup melihat Faza dalam kondisi sekarang. Azlan dan kedua adiknya terus menunggu sampai dokter mengizinkan Faza di pindahan ke ruang inap. Dan akhirnya setelah beberapa jam, Faza di pindahkan juga ke ruang inap. Namun saat mereka bertiga akan mengikuti Faza, langsung saja pak Abimanyu menghentikan mereka. “ STOP.” “ Ada apa, apa masalah anda. Kenapa anda menghentikan kita.” Tanya Azzam yang tidak terima saat di hentikan begitu saja. “ Saya benar-benar tidak ingin membuat masalah disini. Terlebih lagi saya tidak tahu siapa anda da nada hubungan apa anda dengan Faza. Tapi saya benar-benar berharap kalau kalian tidak ikut campur urusan keluarga saya, sebaiknya kalian pergi.” Ucap pak Abimanyu. “ Ngga bisa begitu dong, kita juga berhak atas Faza. Kita juga khawatir sama keadaan Faza sekarang.” Balas Azzam yang bertambah emosi. Sebenarnya Azlan pun emosi, namun sekarang dia jauh lebih bisa mengontrol diri dibandingkan tadi. Dia tahu kalau sampai emosinya terlepas, akan membuat dirinya semakin sulit mengambil hak asuh Faza dari orang tua angkatnya. “ Cukup zam, kali ini kita mengalah dulu. Biarkan malam ini mereka yang menjaga Faza.” Ucap Azlan. “ Tapi kak, ngga bisa begitu dong.” Balas Alea yang juga tidak terima. Namun dengan cepat Azlan menarik kedua tangan adiknya. “ Kakak ini kenapa sih.” “ Kakak sudah sangat menyesal karena memukul dia zam, jadi jangan buat dia semakin emosi lagi. Hal itu bisa jadi mempersulit kita untuk mendapatkan hak asuh Faza lagi zam, le.” Ujar Azlan yang menjelaskan maksudnya berbuat seperti ini. Azzam dan Alea pun jadi berpikir, dan benar yang dikatakan Azlan. Kalau sampai mereka tidak terima, maka akan semakin sulit mendapatkan Faza kembali pada mereka. “ Apapun caranya kakak akan berusaha membuat Faza kembali pada kita, kakak ngga akan pernah melepaskan lagi tanggung jawab ini, dia amanah dari papa dan mama yang harus kakak jaga.” Ucap Azlan sambil membayangkan wajah Faza yang tadi belum sadarkan diri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN