Setelah beberapa kali bermain ke panti asuhan, Faza pun mulai banyak bercerita pada bi Arum. Kalau dirinya senang karena punya banyak teman disana, bahkan dia bercerita seperti itu seakan melupakan kesedihannya saat kehilangan mamanya. Azlan memang sengaja membuat Faza lebih nyaman di panti asuhan, setelah pulang dari sekolah Azlan menyuruh pak Andri untuk mengantarkan Faza main kesana.
Melihat keadaan Faza yang semakin membaik membuat Azlan lega. Bahkan dia semakin yakin dengan keputusannya.
TOK … TOK … TOK…
“ Masuk.”
“ Apa mas Azlan sedang sibuk.” Tanya bi Arum yang masuk ke ruang kerja Azlan.
“ Ngga kok bi, masuk aja. Ada apa bi.” Tanya Azlan.
“ Ada yang mau bibi bicarakan dengan mas Azlan.”
“ Masalah apa.”
“ Ini menyangkut tentang Faza, mas.”
“ Kenapa sama dia.”
“ Apa benar kalau mas Azlan akan benar-benar membawa Faza kembali ke panti asuhan.” Tanya bi Arum yang terlihat sedih saat melontarkan pertanyaan itu. Karena mau bagaimanapun selama ini dia yang membantu majikannya merawat Faza. Dia sudah menyayangi Faza.
Sebelum menjawab pertanyaan bi Arum, Azlan pun meyakinkan dirinya kalau kali ini sudah saatnya untuk bi Arum tahu semuanya.
“ Masalah itu memang benar bi, Saya sudah memutuskan untuk membawa Faza kembali ke panti asuhan.”
“ Tapi kenapa mas, kenapa harus membawa Faza kesana lagi. Dia disini pun baik-baik saja. Bibi pun mampu untuk merawatnya mas.” Tanya bi Arum yang tidak rela untuk membiarkan Faza dibawa ke panti asuhan.
“ Saya tahu bibi bisa melakukannya. Bukan hanya masalah itu yang Azlan pikirkan. Banyak pertimbangan yang sudah Azlan pikirkan matang-matang. Dan keputusan Azlan tetap sama, kalau Faza akan tetap Azlan bawa ke panti asuhan. Dia berhak bahagia bi.”
“ Apa maksud mas Azlan, non Faza pun bahagia hidup disini mas. Tolong mas, jangan lakukan itu. Bibi sayang sama non Faza. Kalau ibu tahu, dia pasti sedih mas.”
“ Cukup bi, tolong jangan bawa-bawa mama dalam masalah ini. Apa bibi pikir Azlan melakukan ini untuk keuntungan Azlan. Ngga bi, justru Azlan seperti ini karena Azlan memikirkan masa depan Faza. Dia masih terlalu kecil untuk menerima keadaan ini, Faza masih kecil dan dia berhak untuk mendapatkan orang tua baru yang bisa menyayanginya. Masa depannya masih sangat panjang bi. Dan hal itu ngga bisa dia dapatkan disini, apalagi hanya tinggal dengan tiga kakak angkatnya yang ngga punya waktu untuknya.”
“ Tapi mas.”
“ Bibi ngga perlu khawatir, saat nanti Faza tinggal disana, Azlan ngga akan lepas tangan. Azlan akan benar-benar memastikan semua kebutuhannya sampai dia benar-benar mendapatkan orang tua yang bisa menerimanya.” Balas Azlan yang membuat bi Arum menerima keputusannya ini.
“ Akan sulit untuk non Faza beradaptasi disana mas.”
“ Maka dari itu selama beberapa hari ini Azlan sering membawanya kesana, biar dia mulai terbiasa bi. Jadi tolong bibi jangan mempermasalahkan hal ini lagi. Azlan, Azzam dan Alea pun sudah sepakat bi. Kalau ngga ada hal lain yang mau bibi katakan, sebaiknya bibi keluar karena Azlan masih ada pekerjaan.” Suruh Azlan, karena dirinya tidak ingin melihat rengekan bi Arum yang pastinya akan membujuk dirinya terus sampai dia membatalkan niatnya.
***
Hari ini adalah hari dimana Faza akan diantarkan ke panti asuhan. Wajah cerianya tiba-tiba pudar saat dia tahu kalau dia akan menginap disana sendiri tanpa bi Arum ataupun kakak-kakaknya.
“ Kenapa bibi ngga ikut nginap disana.” Tanya Faza saat melihat bi Arum sedang mengemas barang-barang milik Faza.
“ Maafin bibi ya non, disini kan masih banyak kerjaan jadi bibi ngga bisa ikut tidur disana.” Jawab bi Arum yang sebenarnya sangat sedih mendengar pertanyaan Faza yang masih belum tahu apapun.
“ Apa Faza bisa kalau ngga nginap disana. Faza memang senang bisa bersama dengan teman-teman Faza. Tapi Faza juga ngga mau jauh dari bibi dan kakak. Faza ngga mau sendirian.” Pintanya yang mulai ragu. Bi Arum pun langsung memeluk Faza dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“ Bibi juga sayang sama non Faza. Tapi non Faza kan harus dengerin kata-kata kak Azlan.”
“ Apa kalau Faza nolak, kak Azlan akan marah ke Faza bi.” Tanyanya dan bi Arum pun terdiam. Dirinya tidak tahu harus menjawab apalagi.
Tiba-tiba Azlan masuk ke kamar Faza dan melihat adegan bi Arum dan Faza. “ Apa semua barang-barang Faza udah siap bi.” Tanyanya.
“ Sudah mas.” Ucap bi Arum yang langsung membawa barang-barang Faza keluar.
“ Ok, Ayo za, om Yusuf udah siap di depan buat nganterin kamu.” Ajak Azlan yang langsung mengulurkan tangannya pada Faza. Dengan ragu, Faza pun menggapainya.
“ Kakak.” Panggilnya dengan suara lirih.
“ Ada apalagi, apa masih ada yang tertinggal.” Tanya Azlan, namun bukannya menjawab tiba-tiba Faza langsung memeluk Azlan. “ Kamu kenapa.”
“ Kakak, apa bisa kalau Faza ngga kesana.” Tanyanya tanpa berani memandang Azlan.
Mendengar pertanyaan Faza membuat Azlan langsung berjongkok dan mensejajarkan tubuhnya dengan Faza. “ Kakak tahu pasti Faza masih berat untuk meninggalkan kakak dan bi Arum. Tapi kakak melakukan ini pun untuk masa depan dan kebahagiaan Faza, Faza percaya kan sama kak Azlan.” Ucapnya yang meyakinkan Faza, dengan ragu Faza pun mengangguk.
“ Tapi kakak akan jemput Faza kan.” Pertanyaan itu pun membuat Azlan hanya membalas dengan senyuman.
“ Kakak yakin disana Faza pasti akan bahagia. Dan disana juga banyak yang sayang ke Faza. Jadi Faza ngga perlu mengkhawatirkan apapun lagi ya.” Ucapnya yang langsung bangkit dan menggenggam tangan Faza untuk keluar dari kamar.
Alea tidak berani keluar dari kamarnya, dia takut karena mau tidak mau perginya Faza ke panti asuhan pun atas persetujuannya. Walaupun Faza bukan adik kandungnya, tetap saja Alea merasa kalau ada hal yang mungkin akan hilang karena ketidakadaan Faza dirumah ini. Dia pun hanya berani melihat kepergian Faza dari balik jendela kamarnya. Matanya mulai berkaca-kaca saat menatap Faza yang terlihat sedih dan sayu.
“ Maafin kakak ya za, kakak hanya berharap kamu akan bahagia. Karena kakak tahu baik kakak, kak Azlan dan kak Azzam hanya bisa terus menyakitimu. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk kamu mendapatkan kebahagiaan.” Ucap Alea sebelum menatap Faza masuk kedalam mobil.
Azlan sadar kalau hatinya sakit saat melihat mobil yang membawa Faza semakin jauh dari pandangannya dan sudah keluar dari rumah ini. Terlebih lagi saat tadi Faza menangis dalam pelukkannya sebelum dia masuk kedalam mobil. Tiba-tiba dia berat untuk membiarkan Faza pergi, namun hatinya terus berkata kalau keputusannya ini adalah yang terbaik untuk semuanya.
“ Sadar atau tidak, kakak rasa kalau kamu sudah masuk kedalam hati kakak za. Maaf karena kakak sudah membuat keputusan ini, sekali lagi kakak minta maaf za. Walaupun ragamu pergi kamu akan selalu kakak ingat dengan baik.” Batin Azlan yang terus mencoba menenangkan hatinya sekarang.
***
Sudah lebih dari sebulan Faza tinggal di panti asuhan. Dan dalam waktu itu pun Azlan sering mendapatkan kabar dari panti asuhan mengenai Faza. Hampir setiap hari Faza merengek dan meminta untuk pulang, namun pengurus panti terus saja membujuk dan menenangkan Faza supaya dia bisa berhenti mengingat keluarganya dulu.
Bahkan saat pengurus panti mengatakan kalau Faza ingin bicara dengan kakaknya, Azlan pun dia langsung menolak. Karena Azlan tahu kalau hal itu nantinya akan membuat Faza semakin sulit untuk beradaptasi di panti asuhan. Azlan pun melarang keluarganya ataupun bi Arum datang menengok ataupun menghubungi Faza. Biarlah sekarang Faza menganggap kalau keluarganya itu jahat karena membiarkan dirinya sendirian disana, namun kelak lama kelamaan pun dia akan terbiasa dan mengerti dengan keadaannya sekarang.
“ Ada apa suf.” Tanya Azlan saat Yusuf masuk ke ruangannya dengan memberikan berkas.
“ Ini berkas yang pak Azlan minta ke saya beberapa hari yang lalu. Saya sudah menyelediki calon orang tua yang ingin mengangkat Faza sebagai anak mereka pak.” Jawab Yusuf.
Baru sebulan Faza disana, ternyata sudah ada yang menginginkan Faza untuk menjadi anak mereka. Beberapa hari yang lalu dari pihak panti asuhan memberitahukan perihal tersebut, dan Azlan pun langsung menyuruh Yusuf untuk mencari tahu orang yang ingin mengadopsi Faza. Mau bagaimanapun Azlan tidak mau kalau Faza diangkat oleh orang yang salah.
Azlan membaca dengan cermat tentang calon orang tua baru Faza. “ Abimanyu Saputra.” Ucap Azlan saat mengetahui nama calon papa baru Faza. “ Apa tidak ada informasi yang terlewatkan suf.”
“ Insyaallah tidak pak. Saya sudah menyuruh beberapa orang untuk mencari tahu semuanya. Termasuk saya sendiri terjun langsung pak. Dan bisa dipastikan kalau mereka orang baik-baik dan cukup berada. Jadi saya pikir mereka layak pak.” Balas Yusuf.
“ Saya benar-benar tidak mau salah ambil keputusan suf.”
“ Saya melihat langsung kedekatannya dengan Faza pak. Mereka terlihat bisa menenangkan dan mudah akrab dengan Faza pak. Bahkan beberapa hari ini istri dari pak Abimanyu terus mengunjungi Faza di panti asuhan. Kata pihak panti, Faza sudah mulai bisa dekat juga dengan istri dari pak Abimanyu. Bahkan dia seperti sudah melupakan kesedihannya pak.” Jawab Yusuf. Dan hati Azlan tiba-tiba perih saat mendengar Yusuf mengatakan kalau Faza sudah mulai bisa melupakan kesedihannya, yang artinya Faza sudah mulai bisa melupakan keluarga lamanya.
“ Pak… pak Azlan.” Panggil Yusuf karena melihat Azlan langsung terbengong. Dan tak lama kemudian, Azlan pun tersadar. “ Apa pak Azlan baik-baik saja.” Tanya Yusuf yang langsung menyadari perubahan suasana hati dan raut wajah Azlan.
“ Baik kok suf, makasih ya karena kamu sudah mau mencari tahu masalah ini. Kalau memang semua informasi darimu ini benar, tidak ada alasan untukku menolak orang ini menjadi orang tua baru Faza. Biar nanti saya yang langsung menghubungi pihak panti.” Balas Azlan yang akhirnya akan benar-benar merelakkan Faza menjadi keluarga orang lain.
“ Baik pak, kalau begitu saya permisi.” Ucap Yusuf yang langsung pergi.
“ Ma, Azlan sudah menemukan orang tua baru untuk Faza, Azlan harap mereka benar-benar akan menyayangi Faza seperti mama memberikan kasih sayang mama untuknya.” Batin Azlan yang langsung teringat akan mamanya.
***
Hari ini Azlan sengaja mengajak Azzam dan Alea untuk makan malam bersama di rumah. Dia pun ingin memberitahukan pada mereka tentang orang tua angkat baru Faza. Saat kedua adiknya sudah menunggu Azlan, Azlan pun langsung meletakkan sebuah map diatas meja makan. Azzam dan Alea hanya saling pandang.
“ Apa ini kak.” Tanya Alea.
“ Ini profil calon orang tua baru Faza.” Jawab Azlan
“ APA.” Alea pun terkejut karena tidak menyangka kalau secepat ini sudah ada yang mau mengadopsi Faza di panti asuhan.
“ Kakak sudah mencaritahu tentang orang itu, dan menurut pihak panti serta latar belakangnya maka dia pantas menjadi orang tua baru Faza.”
“ Kenapa secepat ini kak, Faza di sana baru sebulan lebih. Dan sudah ada yang langsung mengadopsinya. Terus gimana sama Faza kak.” Tanya Alea yang terlihat terkejut dan belum sepenuhnya terima kalau Faza akan kembali di adopsi.
“ Menurut pihak panti, Faza sudah mulai bisa menerima mereka. Bahkan calon orang tua Faza mampu membuat Faza jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Faza yang dulunya selalu menangis disana sekarang sudah mulai bisa beraktivitas seperti anak-anak yang lain.” Jawab Azlan.
“ Maksud kak Azlan, Faza pun mau menerima orang tua angkatnya yang baru.” Tanya Alea yang sedih mendengar hal tersebut.
“ Ya, dan bukankan ini kabar yang baik. Karena baru satu bulan lebih Faza tinggal disana sudah ada orang yang mau mengangkatnya.”
“ Tapi kak… apa kakak sudah benar-benar meneliti orang yang akan mengadopsi Faza. Siapa tahu masih ada yang belum kakak ketahui tentang mereka, siapa tahu mereka sebenarnya orang-orang jahat yang suka menjual anak kecil dan pura-pura baik.” Pikir Alea dan hal itu membuat Azlan dan Azzam menertwakan ucapan Alea. “ Kok kalian malah ketawa, Alea serius karena sekarang kan sedang marak-maraknya masalah seperti ini kak.”
“ Jangan terlalu berpikir sejauh itu le, kamu tenang aja orang-orang yang kakak suruh mereka orang-orang yang professional dan informasi yang mereka dapat bisa dipercaya.” Balas Azlan.
“ Bilang aja kalau kamu belum rela, Faza mau diadopsi.” Sindir Azzam.
“ Ngga kok, Alea bilang seperti itu ya karena ngga mau aja Faza mendapatkan keluarga yang salah. Kalau sampai hal itu terjadi kan keluarga kita juga yang susah kak. Justru Alea seneng kalau Faza dapat orang tua baru, itu tandanya tanggung jawab keluarga ini kan sudah benar-benar lepas darinya.” Elak Alea yang tidak ingin kedua kakaknya mengetahui kekhawatirannya.
Tiba-tiba ponsel Azlan berdering.
“ Halo, Assallamualaikum.”
“ Waalaikumsalam.”
“ Iya om, ada apa om.”
“………………………”
“ Belum tahu sih om, biar nanti Azlan lihat jadwal Azlan dulu. Memangnya ada apa ya om.”
“ ………………………………”
“ Oh gitu, ok. Azlan akan usahakan untuk meluangkan waktu untuk bisa bertemu dengan om. Ok. “
“ Assallamualaikum.”
“ Waalaikumsalam.”
Azlan menutup telfonnya sambil mengerutkan dahinya. Kedua adiknya penasaran saat menatap wajah Azlan yang langsung berubah setelah medapatkan telfon.
“ Siapa kak.” Tanya Alea.
“ Om Aldi.” Jawab Azlan.
“ Bukannya om Aldi itu pengacara papa dan mama, untuk apa dia nelfon kakak.”
“ Ngga tahu, yang jelas minggu depan dia mau bertemu dengan kita bertiga.” Jawaban Azlan membuat kedua adiknya pun ikut berpikir.
***