“Sesungguhnya mereka itu tidak lain adalah setan dengan kawan-kawannya yang menakut-nakuti kamu, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar beriman.”
-(Ali Imran: 175)-
~~~~~~~
SIANG telah berganti jadi malam. Detik telah berganti menjadi menit. Dan menit telah berganti menjadi jam. Betapa singkatnya waktu, berjalan sendiri tanpa memperdulikan keadaan, berjalan terlalu cepat tanpa memikirkan orang-orang yang masih stuck di satu tempat. Andai saja hidup bisa seperti itu, berjalan sendiri tanpa memerlukan orang lain, melakukan semuanya sendiri tanpa di perintah oleh orang. Ah, pasti hidup tidak akan serumit ini.
Sama halnya seperi Gina, gadis itu kini tengah duduk di depan meja rias. Menatap pantulan wajahnya di cermin. Kusut. Seperti itulah wajahnya saat ini.
Matanya beralih menatap sebuah gaun tanpa lengan yang telah di siapakan orang tuanya sejak siang. Air mata Gina menetes dengan sendirinya, isakan tangisnya terdengar memenuhi isi kamar.
"Kenapa? Kenapa harus aku?" teriaknya. Ia menjambak rambutnya sendiri, menampari wajahnya, bahkan menggrauk setiap inci tubuhnya.
Selalu saja begitu. Melukai diri sendiri, berharap wajahnya yang mulus terlihat buruk. Untuk apa? Sederhana saja, agar orang-orang tidak memperjual belikan wajahnya atau lebih baik agar orang-orang tidak mendambakannya. Ya, lebih baik seperti itu.
Suara ketukan pintu dari luar membuatnya mengalihkan pandangan.
"Gina, kamu sudah siap? Arya sudah datang, loh." suara itu, Gina mengenalinya. Seketika raut wajahnya bertambah marah, jemari tangannya meremas sebuah bedak yang berada di meja.
Suara ketukan berbunyi lagi.
"Gina, kamu di dalam, kan? Buka pintunya."
Gina menarik napas, lalu membuangnya kasar. "Iya, sebentar lagi, Ma." teriaknya. Jujur saja, dia ingin marah. Marah kepada takdirnya. Takdir yang menyiksa dirinya. Takdir yang tidak berpihak kepadanya.
"Cepat, ya. Kasihan Arya kalau nunggu lama." ucap Mamanya lagi dari luar kamar.
Gina tidak menjawabnya. Ingin menjawab, tapi lidahnya keluh. Seperti orang bisu yang sangat ingin mengungkpakan semuanya, tapi tidak bisa.
Gina beranjak dari tempatnya, tangannya mengambil kasar gaun yang masih ada di tempat tidur. Dengan separuh hati, Gina melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Ya, mau tidak mau ia harus memakai gaun itu.
Tak perlu waktu lama untuk memakainya. Beberapa menit setelahnya, Gina telah keluar dari kamar mandi.
Gaun tadi telah terpasang di tubuh indahnya, Gina tampak risih mengenakan gaun tersebut, lantaran gaun itu sangat ketat dan berada tepat di atas lututnya.
Kakinya melangkah lagi menuju meja rias. Ia memakai bedak sedikit, memoles bibirnya dengan lipstick, dan menggerai rambutnya. Tak perlu banyak memakai make up wajah Gina sudah terlihat cantik.
Ia mengambil highheels yang senada dengan warna gaunnya, kemudian memakainya.
Lagi-lagi Gina menarik napas lalu membuangnya. Ia berharap malam ini bukanlah malam yang buruk. Hanya sekedar menemani Arya makan— lelaki yang di jodohkan orang tuanya dan setelah itu selesai. Ya, ia harap hanya itu.
Kakinya melangkah menuju pintu dan setelahnya ia keluar dari kamar. Pandangan Gina tertuju dengan seorang lelaki yang tengah duduk di ruang tamu bersama Mamanya.
Lelaki itu tersenyum melihat Gina. Senyum licik yang sangat di benci gadis itu.
Kini Gina telah berada tepat di depan mereka.
"Udah siap?" tanya lelaki yang bernama Arya itu.
Gina mengangguk malas. Setelahnya ia melangkah terlebih dahulu, meninggalkan Arya yang kini menatapnya dengan tatapan tak suka.
Gina masuk ke dalam mobil setelah pintu di bukakan oleh Arya. Begitu pun dengan Arya, ia juga masuk dan duduk di bangku kemudi. Sebelum menyalakan mesin, ia menatap Gina sebentar.
"Mau kemana?" tanyanya.
"Terserah," jawab Gina tak acuh.
Arya tersenyum licik. "oke." jawabnya.
Mobil melaju meninggalkan pekarangan rumah Gina. Gina tidak tahu kemana Arya membawanya, karena saat ini ia sama sekali tak bisa berpikir.
Gina melihat jalanan dari kaca pintu mobil. Jalanan malam yang sepi di tambah rintik hujan dari luar membuat Gina semakin mudah terbawa akan alam sadarnya.
Mobil berhenti tepat di depan sebuah gedung, Gina tidak tahu gedung apa itu. Yang jelas gedung itu tampak sepi.
Gina melirik Arya, alisnya terangkat seolah bertanya mereka 'sedang berada di mana.' Arya tersenyum licik. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Gina.
"Gak usah sok jual mahal sama gue." tiba-tiba Arya mencengkram lengan Gina. Rahangnya mengeras, menunjukan bahwa ia sedang marah.
Gina bergedik ngeri. Ia berusaha melepaskan cengkraman lenganya dari Arya. Tapi percuma, tenaga Arya lebih kuat darinya.
"Setelah malam ini lo gak akan bisa nolak gue." ucapnya. Ia mendorong tubuh Gina keluar, sehingga membuat gadis itu terjatuh. Dan setelahnya, Arya menarik kasar Gina, memaksa Gina agar segera masuk ke gedung sepi itu bersamanya.
Gina berusaha memberontak dengan mendorong Arya agar menjauh darinya, tetapi lelaki itu malah semakin kasar. Ia menarik kasat rambut Gina, lalu menampar gadis itu.
Gina berusaha untuk kuat walau rasanya sangat sakit, ia tidak ingin menyerah begitu saja. Ia tidak ingin menyerahkan dirinya untuk lelaki b******k itu.
Entah untuk ke berapa kalinya, Gina mencoba menendang Arya dan untungnya percobaan kali ini berhasil. Arya tersungkur ke tanah, Gina langsung menginjak tangannya dengan sepatu high heels yang tumitnya sangat tajam sehingga membuat Arya meringis kesakitan. Tidak hanya itu, Gina juga menendang alat kelamin Arya lalu segera pergi dari sana.
Gina tahu Arya pasti tidak akan menyerah, jadi dari pada ia tertangkap lebih baik ia pergi dari sana.
***
Alya menutup Al-Qur'an yang baru saja di bacanya. Ia melirik jam yang tertempel di dinding kamar. Jam menunjukkan pukul sembilan malam.
Alya beranjak menuju tempat tidur. Ia melirik jendela kamar yang belum tertutup sempurna. Rintik hujan terlihat dari luar jendela dan sepertinya malam ini akan di penuhi hujan deras.
Alya langsung menutup jendela kamar. Jujur saja ia takut. Takut jika hujan semakin deras dan Alya tidur sendiri di kamarnya.
Alya takut masa lalunya kembali hadir di hidupnya. Masa lalu yang sudah berusaha ia tutup jauh-jauh hari. Tapi sayangnya tak pernah tertutupi dengan sempurna. Jika hujan datang, apalagi di saat malam hari, semua kenangan masa lalu itu perlahan akan kembali menghantuinya.
Hujan terdengar semakin deras. Muka Alya semakin pucat. Orang tuanya tidak ada di rumah— sedang belanja kebutuhan keluarga, dan Bang Ilham belum pulang kuliah.
Tubuh Alya begetar dengan sendirinya. Mata Alya merah berusaha menahan tangis. Dengan kekuatannya yang masih tersisa, ia melangkahkan kakinya ke tempat tidur. Menyelimuti seluruh tubuhnya, dan menutupi telinganya dengan bantal— berharap suara hujan tak terdengar di telinganya.
Tapi percuma, bantal itu tak berhasil menghilangkan suara hujan dari luar. Handphone Alya berbunyi, ia meraba untuk mencari benda tersebut— tanpa mengubah posisinya.
Ketemu. Tanpa melihat nama orang yang menelponnya, Alya langsung mengangkat dan mengarahkannya tepat di telinga.
"Hallo, Al. Alya please tolong gue. Gue gak tau ada dimana, yang jelas disini sepi. Gue takut, Al."
Alya semakin mendekatkan ponselnya ke telinga. Seketika rasa takutnya hilang, di ganti dengan rasa cemas.
"Gin, kamu kenapa? Kamu ada dimana?"
"Hiks... Al, gue gak tau ada dimana. Gue takut, Al. Please bantu gue."
"Gimana aku bisa bantu kamu, kalau aku gak tahu kamu ada dimana."
"Gue share lokasi sekarang. Al, please gue butuh lo."
Panggilan terputus bersamaan dengan suara petir dari luar. Alya menjerit kaget. Air matanya keluar. Ia tidak tahu harus apa.
Handphone Alya berbunyi lagi. Gina telah menshare lokasinya saat ini. Alya tidak tahu jalan itu. Ia mencoba menghubungi Gina lagi, tapi tak terhubung. Handphone Gina bahkan sudah tidak aktif.
Tangan Alya semakin begetar. Wajahnya pucat. Orang tuanya juga tak kunjung pulang.
Alya tidak tahu harus melakukan apa, bagaimana cara ia menolong Gina sementara ia saja takut dengan hujan. Alya semakin kalut, namun tiba-tiba sebuah nama terlintas di pikirannya. Zikri. Ya, nama lelaki itu muncul begitu saja di otak Alya.
Suara hujan semakin terdengar deras. Di barengi petir yang tak kalah kerasnya. Hal itu membuat Alya semakin ketakutan. Untuk beberapa saat Alya mencoba menenangkan diri, ia manarik napas pelan lalu membuangnya, kini ia harus bisa berpikir jernih dan keluar dari rasa takutnya.
Dengan sisa-sisa tenaganya, Alya mencoba mengumpulkan segela keberaniannya. Tangannya yang begetar mencoba mengetikkan sebuah nama di handphonenya. Setelah ketemu ia langsung menelpon nomor tersebut, kini bukan saatnya lagi untuk berlama-lama. Ya, malam ini Alya harus melawan segala ketakutannya. Ketakutan yang sudah bersemayam selama bertahun-tahun di dirinya, ini semua Demi Gina, sahabat sejatinya.
[]